Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pola yang Tidak Disadari
Ruang meeting hotel itu punya sepuluh kursi mengelilingi meja oval, dan entah bagaimana caranya, Madoc selalu berakhir duduk di kursi yang sama—tepat di sebelah kanan Gwen.
Hari pertama retreat, itu masih bisa dianggap kebetulan. Kursi kosong yang tersisa waktu dia masuk ruangan memang cuma ada di sana, dan tidak ada yang aneh soal CEO mengambil tempat duduk yang tersedia.
Tapi ini hari kedua, sesi pagi, dan kursi kosong ada di mana-mana—di seberang meja, di ujung yang jauh, di dekat jendela. Madoc tetap berjalan langsung ke kursi di sebelah Gwen, menariknya keluar, duduk tanpa berpikir dua kali.
"Pagi," katanya, singkat, membuka laptopnya.
"Pagi, Pak," jawab Gwen, tidak mengangkat kepala dari catatannya, sedang meninjau ulang poin-poin yang akan dia sampaikan untuk sesi strategi hari itu.
Dia tidak memperhatikan pola apa pun. Baginya, kursi cuma kursi—posisi duduk di rapat tidak pernah jadi sesuatu yang dia analisis, karena yang penting cuma seberapa jelas dia bisa melihat layar presentasi dan seberapa dekat dengan colokan listrik untuk laptopnya.
---
Sesi pagi dimulai dengan pembahasan strategi ekspansi kuartal kedua, dipimpin oleh Reza dengan slide yang cukup padat, membahas target-target baru yang harus dikejar tim di enam bulan mendatang.
Madoc duduk diam, mendengarkan, tapi separuh perhatiannya tertuju ke sisi kanannya sendiri—cara Gwen mencatat dengan pulpen biru yang sama seperti biasa, cara dia sesekali menggarisbawahi poin tertentu dengan tegas, cara dia mengetuk-ngetuk ujung pulpen ke meja setiap kali sedang berpikir keras soal sesuatu.
Dia sudah menghafal kebiasaan itu tanpa berusaha.
"Pak Kane," suara Reza memanggilnya, membuyarkan perhatiannya, "menurut Bapak, target ekspansi ke kota keempat ini realistis gak buat kuartal depan?"
Madoc mengedip sekali, mengumpulkan kembali fokusnya. "Realistis," katanya, "asalkan resource-nya gak dibagi terlalu tipis sama Meridian yang masih jalan."
"Setuju," kata Reza, melanjutkan presentasinya.
Gwen menatap sebentar ke arahnya, sedikit heran dengan jeda kecil sebelum jawaban itu keluar—tapi dia tidak menganggapnya lebih dari sekadar Madoc yang sedang mempertimbangkan pertanyaan dengan hati-hati, sesuatu yang wajar untuk seorang CEO yang harus berpikir matang sebelum menjawab.
---
Sesi berlanjut ke diskusi kelompok kecil, di mana setiap peserta dibagi jadi tiga tim untuk membahas skenario berbeda—satu tim fokus ke risiko finansial, satu ke operasional, satu lagi ke marketing.
Fasilitator eksternal yang disewa untuk memandu retreat itu membagi kelompok secara acak, menempelkan nama-nama di papan tulis besar. Ketika giliran menempel nama Gwen dan Madoc, keduanya kebetulan masuk ke kelompok yang sama—kelompok operasional, sesuai bidang keahlian masing-masing.
"Silakan pindah ke meja masing-masing," kata fasilitator itu.
Tim operasional terdiri dari Gwen, Madoc, Bas, dan satu peserta lain dari divisi logistik. Mereka pindah ke meja kecil di sudut ruangan, dan begitu semua duduk, Madoc lagi-lagi mengambil kursi tepat di sebelah Gwen—kali ini bahkan lebih jelas kesengajaannya, karena ada empat kursi yang tersedia dan dia memilih yang paling dekat.
Bas, yang duduk di seberang mereka, melirik ke arah rekan sebelahnya dari divisi logistik. Tidak ada yang diucapkan, tapi tatapan itu cukup untuk saling mengonfirmasi bahwa mereka berdua memperhatikan hal yang sama.
---
Diskusi kelompok berjalan produktif—Gwen memimpin sebagian besar arah pembicaraan, menawarkan analisis yang tajam soal bagaimana operasional bisa mendukung ekspansi tanpa membebani sumber daya yang sudah terpakai untuk Meridian.
"Kalau kita alokasi resource secara bertahap," katanya, menggambar diagram sederhana di kertas flipchart, "bukan sekaligus semua ke kota keempat, kita bisa jaga stabilitas Meridian sambil tetap mulai persiapan awal buat ekspansi."
"Setuju," kata Madoc, cepat, hampir sebelum Gwen selesai bicara.
Bas mengangkat alis, agak geli. "Pak Kane selalu setuju sama ide Gwen, ya."
Itu diucapkan setengah bercanda, nada ringan yang biasa dipakai untuk mengisi suasana diskusi kerja. Tapi begitu kalimat itu keluar, Madoc merasakan sesuatu yang aneh—kesadaran mendadak bahwa dia memang jarang membantah apa pun yang Gwen sampaikan, entah karena idenya memang selalu solid, atau karena ada alasan lain yang tidak sepenuhnya dia mau akui pada diri sendiri.
"Karena analisisnya emang tepat," katanya, mencoba terdengar sewajar mungkin, "bukan soal siapa yang ngomong."
"Iya sih," kata Bas, mengangkat bahu, tidak berniat mendorong topik itu lebih jauh, tapi tetap melirik ke rekan divisi logistik di sampingnya dengan senyum kecil yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.
Gwen sendiri tidak menangkap nuansa apa pun dari pertukaran itu. Dia sibuk menyempurnakan diagramnya, memikirkan detail teknis lain yang perlu dimasukkan, sepenuhnya fokus ke materi kerja tanpa sadar ada percakapan kecil yang barusan berlangsung tepat di dekatnya.
---
Makan siang hari itu diadakan di ruang terbuka hotel, meja panjang untuk semua peserta retreat, dengan kursi yang bisa dipilih bebas tanpa aturan tempat duduk tertentu.
Gwen mengambil piringnya, berjalan ke meja, dan duduk di kursi kosong yang kebetulan paling dekat dengan pintu masuk—posisi acak, tanpa pertimbangan khusus. Beberapa menit kemudian, Madoc masuk ke ruangan, matanya menyapu cepat ke seluruh meja, dan berjalan langsung ke kursi kosong di sebelah Gwen, melewati setidaknya empat kursi kosong lain yang jauh lebih dekat dengan pintu masuknya sendiri.
Reza, yang duduk di ujung meja bersama beberapa anggota tim lain, memperhatikan itu dengan seksama.
"Lo notice gak," bisiknya ke salah satu rekan di sebelahnya, "dari kemarin, Pak Kane selalu duduk deket Gwen. Di rapat, di diskusi kelompok, sekarang di makan siang juga."
"Gue notice dari kemarin," bisik rekan itu balik, menahan senyum. "Kebetulan mulu."
"Kebetulan yang aneh."
Mereka berdua tidak melanjutkan obrolan itu, cukup sadar diri untuk tidak membicarakannya lebih keras di ruangan yang sama dengan orang yang mereka bicarakan. Tapi bisik-bisik serupa mulai menyebar pelan-pelan di antara peserta lain—tidak ada yang mengatakannya lantang, tapi cukup banyak yang mulai saling lirik setiap kali Madoc, tanpa sadar, mengarahkan langkahnya ke arah yang sama lagi dan lagi.
---
Sore itu, sesi terakhir hari kedua membahas evaluasi menyeluruh dari diskusi kelompok pagi tadi, kembali dalam format meja besar seperti sesi pertama.
Madoc, sekali lagi, duduk di sebelah Gwen—kali ini bahkan tanpa jeda berpikir sama sekali, seolah kakinya sendiri sudah otomatis membawanya ke posisi yang sama tanpa perlu perintah sadar dari kepalanya.
Elias, yang berdiri di belakang ruangan mengatur logistik untuk sesi berikutnya, memperhatikan itu dari jauh dengan ekspresi yang campuran antara geli dan pasrah.
Bahkan dia sendiri gak sadar, pikirnya, menggeleng pelan.
Dia sudah melihat banyak tanda selama beberapa minggu terakhir, tapi yang barusan terjadi sepanjang hari ini terasa berbeda—bukan lagi soal alasan yang dicari-cari untuk melakukan sesuatu yang spesifik, tapi soal pola bawah sadar yang sudah terbentuk begitu kuat sampai Madoc sendiri tidak lagi perlu berpikir untuk melakukannya.
Sesi sore berjalan lancar, Gwen memberikan beberapa masukan tambahan soal rencana yang sudah disusun tadi pagi, dan Madoc mendengarkan dengan seksama seperti biasa, sesekali mengangguk setuju, tanpa sekali pun sadar bahwa hampir seluruh ruangan sekarang memperhatikan pola duduknya dengan rasa penasaran yang mulai sulit disembunyikan.
Ketika sesi berakhir dan semua orang mulai berkemas untuk istirahat sebelum makan malam, Bas menghampiri Gwen yang sedang menyimpan laptopnya ke tas.
"Eh, Gwen," katanya, nadanya santai tapi ada nada penasaran yang tidak sepenuhnya tersembunyi, "lo sadar gak sih, dari kemarin Pak Kane selalu duduk di sebelah lo?"
Gwen berpikir sebentar, mencoba mengingat kembali posisi duduk sepanjang hari itu. "Emang iya, ya?"
"Iya. Dari sesi pagi, diskusi kelompok, makan siang, sampai sesi sore ini. Selalu di sebelah lo."
"Mungkin kebetulan aja," kata Gwen, mengangkat bahu, melanjutkan mengemas barangnya. "Lagian kan gue emang PIC Meridian, mungkin dia mau gampang diskusi kalau ada yang perlu ditanya langsung soal proyek."
"Sepanjang hari? Bahkan pas makan siang?"
"Mungkin biar bisa lanjut ngobrol kerjaan sambil makan," jawab Gwen, tidak sedikit pun ragu dengan penjelasannya sendiri. "Standar kerjanya emang tinggi kali, Bas. Udah biasa kan dia gitu."
Bas menatapnya lama, ekspresinya jelas tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu, tapi dia memilih untuk tidak mendorong lebih jauh—cukup sadar bahwa apa pun yang dia katakan sekarang tidak akan mengubah cara Gwen melihat situasi ini.
"Terserah lo deh," katanya akhirnya, tersenyum kecil, mengikuti langkah Gwen keluar ruangan.
Di belakang mereka, beberapa peserta lain masih berdiri berkelompok kecil, berbisik-bisik pelan sambil sesekali melirik ke arah pintu yang baru saja dilewati Gwen dan Bas—dan ke arah Madoc, yang berjalan sendirian beberapa langkah di belakang mereka, tampak sama sekali tidak menyadari betapa jelasnya pola yang baru saja dia ciptakan sepanjang hari, di depan mata semua orang kecuali satu orang yang seharusnya paling menyadarinya.