NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Datangnya Sang Pelindung

Mobil hitam melesat bagaikan anak panah yang melesat dari busur, membelah jalanan kota yang sepi menuju kawasan pelabuhan tua yang sudah lama ditinggalkan. Cahaya matahari sore yang mulai merunduk menyinari tubuh mobil itu seketika, lalu hilang kembali saat melaju melewati lorong-lorong gelap di antara bangunan tua yang berdiri suram dan dingin. Tangan Mo Han mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, urat-urat di lehernya menonjol hebat, dan sepasang matanya yang biasanya tenang kini menyala dengan api amarah yang membakar seluruh kesadarannya. Di dadanya, rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya berputar bagaikan badai — bukan takut akan kematiannya sendiri, melainkan takut kehilangan satu-satunya alasan yang membuatnya tetap hidup selama sepuluh tahun terakhir.

"Tahanlah sebentar lagi, Yi..." Mo Han berbisik parau, suaranya bergetar di antara deru napasnya yang memburu. "Aku datang. Aku pasti datang. Tunggu aku... tolong tunggu aku sedikit lagi."

Di dalam gudang tua yang gelap dan berbau lembap itu, Su Yi terikat erat pada tiang besi dingin yang berkarat di sudut ruangan. Mulutnya disumpal kain tebal, sehingga ia tak mampu berteriak atau mengucapkan apa pun selain suara rintihan yang tertahan di tenggorokan. Matanya yang basah menatap pintu besar gudang itu dengan tatapan penuh doa dan harapan — harapan agar pria yang dicintainya tidak datang ke jebakan ini, sekaligus harapan agar ia segera datang menyelamatkannya. Dua perasaan yang saling bertentangan mengoyak hatinya hingga terasa perih dan nyeri.

Jiang Chen berjalan mondar-mandir di tengah ruangan luas itu dengan senyum kemenangan yang tak pernah lepas dari wajahnya. Di sampingnya, Tuan Jiang duduk di atas kursi kayu tua yang diduduki anak buahnya, menatap pintu masuk dengan tatapan dingin dan penuh perhitungan.

"Sudah hampir waktunya." Tuan Jiang berucap pelan namun tegas, suaranya berat dan mengerikan. "Mo Han pasti datang. Dia tidak akan membiarkan wanita ini terluka. Dan saat dia melangkah masuk ke sini... dia sudah masuk ke dalam kubur yang kami siapkan untuknya."

Jiang Chen tertawa pelan, matanya melirik ke arah Su Yi yang terikat di sudut ruangan. "Kau dengar itu, Nyonya Mo? Demi dirimu... pria terkuat di kota ini akan datang menyerahkan nyawanya sendiri. Sungguh menyentuh hati, bukan? Sayang sekali... cinta kalian akan berakhir di sini, di tempat yang gelap dan berdebu ini."

Su Yi menatapnya dengan mata yang berapi-api meski tubuhnya gemetar menahan dingin dan ketakutan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar Mo Han tidak datang, namun tak ada siapa pun yang memperhatikannya. Tak ada yang mendengar suaranya yang tertahan.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dari luar gudang, memecah keheningan yang mencekam itu. Semua orang di dalam gudang menegang seketika. Jiang Chen berjalan cepat menuju celah pintu yang sedikit terbuka, mengintip ke luar dengan mata yang berbinar penuh kegembiraan.

"Dia datang!" Jiang Chen berbisik tajam, lalu berbalik memberi isyarat kepada anak buahnya yang bersembunyi di balik tiang-tiang besar dan di atas balkon gudang itu. "Bersiap! Jangan bertindak sebelum aku memberi perintah! Biarkan dia masuk lebih dulu! Saat dia sudah berada di tengah ruangan... baru serang dari segala arah! Pastikan dia tidak berdaya!"

Su Yi menahan napas saat pintu besar gudang itu terbuka perlahan. Cahaya matahari sore yang kemerahan menyusup masuk, menciptakan garis terang di ambang pintu. Dan di sana... sosok itu berdiri tegak bagaikan gunung yang tak tergoyahkan.

Mo Han melangkah masuk perlahan. Tidak ada senjata di tangannya. Tidak ada pengawal di belakangnya. Hanya dia sendiri, berdiri di ambang pintu yang terang benderang, siluet tubuhnya menjulang tinggi dan gagah, memancarkan aura kekuatan yang begitu kuat hingga membuat udara di dalam gudang itu seketika berubah menjadi berat dan menyesakkan. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan dalam sekejap, dan saat pandangannya jatuh pada sosok Su Yi yang terikat di sudut ruangan... seakan seluruh dunia berhenti berputar.

Wajah Mo Han pucat seketika. Matanya melebar penuh rasa sakit yang luar biasa, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia melihat wajah pucat kekasihnya, matanya yang basah oleh air mata, tubuhnya yang gemetar menahan dingin dan ikatan yang melukainya. Rasa sakit itu melukai hatinya jauh lebih parah daripada luka apa pun di tubuhnya.

"Yi..." Mo Han memanggil pelan, suaranya bergetar penuh rasa sakit dan kasih sayang yang tak terlukiskan. Ia melangkah maju hendak mendekati gadis itu, namun suara Jiang Chen yang terdengar keras dan penuh ancaman menghentikan langkahnya seketika.

"Berhenti di sana! Jangan melangkah maju selangkah lagi!" Jiang Chen berteriak sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi, di mana sepasang senjata tajam berkilauan di tangannya, tepat di leher Su Yi. "Satu langkah maju... dan nyawanya melayang!"

Mo Han membeku di tempat. Kedua tangannya terangkat perlahan ke udara, tanda bahwa ia tidak akan melawan. Matanya menatap lekat-lekat wajah Su Yi, mencoba menenangkannya dengan tatapan itu, lalu perlahan menoleh menatap Tuan Jiang dan Jiang Chen dengan tatapan yang begitu dingin, begitu tajam, dan begitu mengerikan hingga membuat kedua pria itu ikut menahan napas.

"Apa yang kalian inginkan?" Suara Mo Han terdengar rendah namun bergema di seluruh ruangan, berat dan penuh tekanan yang tak terlihat. "Kalian menginginkan hartaku? Proyek pengembangan tanah? Atau seluruh kekayaanku? Ambilah semuanya. Serahkan apa pun yang kalian minta. Tapi lepaskan dia. Lepaskan Su Yi sekarang juga."

Tuan Jiang berdiri perlahan dari kursinya, melangkah maju dengan senyum licik yang mengerikan di wajahnya yang keriput. "Kami menginginkan semuanya, Mo Han. Kekayaan, kekuasaan, dan nyawamu. Serahkan semua hak milikmu, tinggalkan kota ini selamanya, dan bunuh dirimu di depan mataku... maka mungkin aku akan membiarkan wanita ini hidup."

"Kalau begitu..." Mo Han melangkah maju selangkah perlahan, matanya tak lepas dari wajah Su Yi yang menangis menatapnya dengan tatapan penuh larangan. "...kalian tidak akan mendapatkan apa pun."

Belum selesai kata-kata itu terucap, Tuan Jiang berteriak keras. "Serang! Bunuh dia sekarang!"

Dari segala arah, dari balik tiang besar dan dari lantai atas, puluhan orang bersenjata melesat keluar menyerang Mo Han serentak. Su Yi menjerit tertahan di balik kain penutup mulutnya, air mata mengalir deras di pipinya, hatinya terasa seakan tercabik-cabik melihat sosok yang dicintainya dikepung sendirian oleh begitu banyak musuh.

Namun Mo Han tidak mundur. Ia tidak lari. Saat senjata-senjata tajam itu menghunjam ke arahnya dari segala sisi, ia bergerak dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat mata. Tubuhnya berputar menghindari serangan pertama, menangkis serangan kedua dengan pukulan yang begitu kuat hingga terdengar suara benturan keras, lalu melesat maju melewati barisan musuh bagaikan bayangan gelap yang tak tersentuh. Setiap gerakannya penuh kekuatan dan ketepatan yang mematikan, namun matanya tetap tertuju pada satu tujuan — melindungi Su Yi.

"Jangan menyentuhnya!" Mo Han meraung keras, suaranya menggelegar bagaikan guntur yang meledak di dalam ruangan tertutup itu. "Siapa pun yang berani melangkah lebih dekat kepadanya... akan kubinasakan saat itu juga!"

Jiang Chen melihat peluang itu. Saat Mo Han sedang sibuk melawan puluhan anak buahnya, ia perlahan mengangkat senjata tajam di tangannya dan bergerak diam-diam menuju arah Su Yi, berniat menjadikannya sandera sepenuhnya. Namun tepat saat ia melangkah maju, sepasang mata tajam itu menyadarinya. Mo Han menoleh seketika, dan saat melihat tangan Jiang Chen yang hendak menyentuh wajah Su Yi... sesuatu yang mengerikan meledak dari dalam dirinya.

Dengan satu gerakan yang begitu cepat dan begitu kuat, Mo Han melepaskan diri dari kepungan musuh yang melingkarinya, melesat bagaikan kilat menuju Jiang Chen sebelum pria itu sempat menyentuh sehelai rambut pun di kepala Su Yi. Tangan Mo Han mencengkeram kerah baju Jiang Chen dengan kekuatan yang luar biasa, mengangkat tubuh pria itu tinggi-tinggi dari lantai seolah-olah beratnya tak lebih dari selembar kertas.

"Kau berani menyentuhnya..." Mo Han berucap pelan namun suaranya begitu mengerikan hingga membuat Jiang Chen tersedak napasnya sendiri. Matanya menyala merah padam, penuh amarah yang tak terbendung lagi. "Kau berani mengangkat tangan terhadap wanita yang kucintai... maka bersiaplah untuk mati!"

Tuan Jiang berteriak histeris memerintahkan anak buahnya menyerang kembali, namun tidak ada yang berani melangkah maju. Mereka melihat tatapan mata pria itu — tatapan bukan milik manusia biasa, melainkan tatapan binatang buas yang telah kehilangan kewarasannya karena ancaman terhadap satu hal yang paling ia cintai di dunia ini.

"Lepaskan anakku!" Tuan Jiang berteriak gemetar. "Lepaskan dia... atau wanita itu tetap tidak akan selamat!"

Mo Han menatap pria tua itu dengan tatapan dingin yang membekukan darah. Tangan kirinya melingkar perlahan di leher Jiang Chen, semakin erat seiring detik yang berlalu. "Kalian mengancam nyawanya? Kalian berpikir aku tak berani menghancurkan segalanya demi dia? Dengarkan baik-baik... jika sehelai rambut pun jatuh dari kepalanya... aku akan menghancurkan seluruh keluargamu, namamu, kekayaanmu, hingga tak ada satu pun sisa yang tersisa. Aku Mo Han... dan aku tidak pernah bercanda ketika menyangkut nyawa wanitaku."

Su Yi yang selama ini diam menatap dengan air mata mengalir deras, tiba-tiba menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha memberi isyarat agar Mo Han tidak melakukan hal yang berbahaya demi dirinya. Namun saat mata Mo Han menatapnya sebentar, ia melihat sesuatu di sana — keteguhan hati yang tak tergoyahkan, cinta yang siap berkorban apa pun, dan janji yang tak akan pernah ia ingkari.

"Aku datang untuk membawamu pulang. Dan tidak ada siapa pun... tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini... yang bisa mencegahku melakukannya."

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!