NovelToon NovelToon
Monica'S Magic!

Monica'S Magic!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Akademi Sihir
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bintang star_nrl22

​Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

​Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Kegelapan dan Jebakan Nyawa

Suara gemuruh reruntuhan engsel tulang raksasa masih bergema nyaring saat Tim Vanguard melangkah masuk melewati garis batas Benteng Tengkorak Merah. Begitu orang terakhir menyeberangi ambang pintu, pintu gerbang tulang raksasa setinggi tiga puluh meter di belakang mereka menutup kembali secara otomatis dengan dentuman keras yang menggetarkan seluruh fondasi bumi.

Mekanisme pengunci kuno meletus memancarkan segel sihir hitam, mengisolasi mereka secara total dari badai pasir Karimata di luar.

Suasana di dalam benteng berbalik seratus delapan puluh derajat dari kondisi gurun. Koridor luas yang terbuat dari susunan batu obsidian hitam membentang tanpa batas, dipayungi oleh langit-langit tinggi berhiaskan kristal-kristal Miasma yang memancarkan pendaran cahaya keunguan yang dingin dan mencekam.

Udara di dalam ruangan terasa sangat pekat, lembap, dan dipenuhi bau mineral kuno yang membakar tenggorokan.

Kazuma melangkah perlahan di samping Monica, membetulkan posisi kacamatanya yang berembun akibat perubahan suhu yang drastis. Ia merapal sihir penerang kecil di ujung jarinya, namun percikan api keemasan itu justru meredup dan tampak tertekan oleh atmosfer ruangan.

"Sirkulasi udara dan mana di tempat ini terasa sangat janggal," bisik Kazuma dengan raut wajah amat serius. Tangannya menyapu permukaan dinding batu obsidian di sampingnya. "Dinding-dinding ini dilapisi oleh ukiran Runa Penyerap Mana. Setiap mantra yang kita pancarkan di dalam benteng ini akan terpotong efektivitasnya hingga tiga puluh persen karena diserap langsung oleh bangunan ini."

"Itu artinya kita tidak bisa bertarung secara brutal dan membuang-buang mana seperti saat di luar," sahut Monica tenang namun tegas. Kuncir kuda rambut hitamnya merapat perlahan diterpa hembusan angin dingin koridor. Ia menggenggam tongkat safirnya dengan kedua tangan, membiarkan aura emas sejuk dari Soul Aegis tetap melingkupi kelima anggota tim agar saluran mana mereka tidak tersumbat.

"Tetap dalam formasi rapat. Reno di depan, Elena dan Kazuma jaga jarak tengah, Danis amankan pergerakan di langit-langit."

Danis melangkah tanpa suara di atas lantai batu yang licin.

Tubuhnya meluncur dari bayangan pilar ke pilar lainnya via Shadow Walk. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut gelap di langit-langit benteng.

"Ada ribuan sirkulasi Miasma kecil yang bergerak cepat di atas kita..." tegur Danis dari balik kegelapan pilar. "Bukan sekadar hiasan batu... ini adalah sarang mahluk nokturnal ciptaan Ordo Umbra!"

Belum sempat Danis menyelesaikan peringatannya, ubin-ubin obsidian di bawah kaki mereka mendadak berpendar warna merah darah!

CRAAAACK!

Lantai koridor membelah secara mendadak. Puluhan tombak besi beracun yang terukir simbol Miasma melesat naik dari dasar tanah, mencoba menembus kaki dan tubuh para anggota tim. Di saat yang sama, dari kegelapan langit-langit yang tinggi, ratusan Gargoyle Miasma—makhluk batu bersayap dengan cakar-cakar hitam berkilat racun—meluncur turun serempak dengan suara lengkingan yang memekakkan telinga!

"Reno, pasang benteng!" perintah Monica cepat.

"Serahkan padaku!" seru Reno mantap.

"Aegis of the Iron Titan: Bastion Wall!"

Reno menghantamkan perisai besinya ke lantai obsidian dengan kekuatan penuh. Dinding energi keemasan raksasa berbentuk kubah melingkar merekah seketika.

Hantaman tombak-tombak racun dari bawah tanah hanya mampu menabrak lantai perisai emas Reno hingga besi-besi racun itu membengkok dan hancur. Sementara itu, ratusan Gargoyle Miasma yang meluncur dari udara menghantam kubah atas perisai Reno, menghasilkan percikan api emas dan suara dentuman beruntun yang memenuhi koridor.

Di balik perlindungan kubah Reno, Elena bergerak dengan kelincahan yang luar biasa. Tali busur Celestial miliknya ditarik cepat dalam ritme konstan yang sangat presisi.

"Celestial Arrow: Multi-Shot!"

Tiga anak panah cahaya perak melesat bersamaan setiap kali tali busur dilepaskan. Berkas-berkas cahaya murni itu membelah udara koridor, menembus tepat di titik inti kristal merah di dada para Gargoyle hingga mahluk-mahluk batu itu meletus menjadi abu hitam sebelum sempat menyentuh tanah.

"Serangan Gargoyle ini terlalu teratur,"

kata Kazuma seraya mengamati pergerakan abu yang melayang di udara. Ia membuka gulungan peta sihirnya dan melihat garis-garis navigasi di dalamnya mulai terdistorsi hebat. "Mereka cuma pengalih perhatian untuk mendorong kita ke ujung koridor ini!"

Di ujung koridor obsidian tempat mereka berdiri, jalan lurus mendadak bercabang menjadi tujuh lorong identik yang membentang ke arah kegelapan. Di atas setiap mulut lorong, terukir simbol-simbol kuno yang terus berubah warna, membingungkan pandangan mata dan indra pemandu sihir biasa.

"Sistem benteng ini dirancang sebagai Labirin Ilusi Jiwa," seru Kazuma menunjuk ketujuh lorong tersebut. "Jika kita salah memilih satu lorong saja, jebakan ruang dimensi akan memisahkan kita secara terisolasi ke tempat yang berbeda!"

"Kita tidak boleh terpisah!" tegas Reno seraya menahan tebasan cakar Gargoyle raksasa yang mencoba menembus sudut perisainya.

Monica memejamkan mata birunya sejenak. Ia memusatkan pikiran, menyalakan gelombang Resonansi Mana yang telah menempa jiwa kelima anggota Tim Vanguard sejak di Menara Bayangan. Dalam kegelapan pikirannya, ia melihat benang-benang sihir emas yang menghubungkan otot dan detak jantung teman-temannya, lalu membandingkannya dengan getaran aliran Miasma subterranean di bawah benteng.

"Aku menemukannya," ucap Monica seraya membuka mata birunya yang kini memancarkan pendaran cahaya tajam dan berwibawa.

"Lorong ketiga dari kiri! Aliran Miasma di lorong itu memang paling pekat, tetapi di balik pekatnya racun itu, ada denyut jantung sihir utama yang terhubung langsung ke altar ritual Malakor!"

"Mengerti, Ketua! Ikuti aku!" seru Reno seraya mengayunkan gada besinya, menghempaskan gelombang Gargoyle yang tersisa.

Dengan komando tegas dari Monica, Tim Vanguard bergerak dalam satu kesatuan formasi yang rapat, melesat menembus lorong ketiga di dalam Labirin Ilusi Jiwa. Dinding-dinding obsidian di sekeliling mereka terus mencoba melancarkan jebakan ilusi dan suara bisikan ghaib, namun pendaran Celestial Sanctum milik Monica serta keteguhan ikatan tim membuat mereka tak tergoyahkan.

!

1
Al Dede
novel ini srru bsnget mencrtkn tentsng anak yang pantanv menyerah+akademi sihir,sihir dia terkuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!