Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegundahan di bawah ancaman
Meskipun unggahan foto intim di balkon kamar sukses membungkam kejaran jurnalis dan mengubah narasi publik menjadi pujian tentang betapa manisnya hubungan pengantin baru itu, hal tersebut sama sekali tidak berlaku bagi Gilang Arghantara.
Bagi pria paruh baya yang berwatak keras dan memegang tampuk kekuasaan tertinggi di keluarga Arghantara tersebut, sandiwara manis di media sosial hanyalah sebuah trik murah untuk menutupi kecerobohan fatal sang putra.
Pagi-pagi sekali, sebuah panggilan telepon bernada dingin dari kediaman utama Arghantara memaksa Alfa dan Senja untuk segera datang.
Kini, di dalam ruang kerja berpanel kayu jati yang dingin dan bernuansa gelap itu, atmosfer terasa begitu mencekam. Bau asap cerutu yang pekat memenuhi ruangan.
Brak...!!!!
Gilang melemparkan beberapa lembar cetakan artikel berita online dan tangkapan layar komentar netizen yang memuji keharmonisan Alfa dan Senja ke atas meja kaca. Wajahnya yang dihiasi garis-garis usia tampak merah padam oleh emosi yang tertahan.
"Kalian pikir Papa bisa dibodohi dengan foto picisan seperti ini, Alfa?!" Suara Gilang menggelegar, memecah keheningan ruangan. Matanya yang tajam bak elang tertuju lurus pada putra sulungnya itu.
"Kamu bisa membodohi media, kamu bisa membodohi publik sampai mereka memuji-muji kepintaranmu! Tapi Papa tahu betul ke mana kamu pergi di malam penting itu!"
Alfa berdiri tegap di depan meja kerja ayahnya dengan wajah mengeras, namun jemari tangannya terkepal rapat di samping tubuhnya.
"Dila sedang kritis, Pa. Kondisinya drop parah dan aku tidak punya pilihan...."
"Cukup!" Potong Gilang seraya berdiri dari kursinya, menunjuk wajah Alfa dengan penuh penekanan.
"Jangan pernah sebut nama wanita itu lagi di rumah ini! Kamu sudah berjanji saat menikahi Senja untuk fokus pada keluarga dan bisnismu! Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu hampir menghancurkan reputasi dua keluarga besar hanya demi seorang wanita dari masa lalumu!"
Gilang mengalihkan pandangannya pada Senja yang berdiri anggun di samping Alfa. Raut wajah pria paruh baya itu sedikit melunak, namun amarahnya masih terpancar jelas.
"Dan kamu, Senja... Papa sangat menghargai usahamu menutupi kekacauan ini di depan publik" Ujar Gilang dengan nada suara yang memendam kekecewaan.
"Tapi kamu tidak seharusnya terus-menerus melindungi kecerobohan Alfa. Kebijaksanaanmu ini justru membuat dia makin melunjak!"
Senja melangkah maju setengah tapak. Dengan gestur yang teramat tenang dan pandangan mata yang jujur, wanita itu menatap sang mertua tanpa ada raut ketakutan sedikit pun.
"Papa, mohon maafkan kami jika keputusan kami semalam mengecewakan Papa" Tutur Senja dengan suara yang teratur, halus, namun sarat akan ketegasan yang menenangkan.
"Apa yang terjadi semalam adalah keputusan yang kami ambil bersama untuk mengatasi situasi darurat. Mas Alfa sudah menyadari kesalahannya, dan kami berjanji hal seperti ini tidak akan pernah terulang lagi di masa mendatang. Saat ini, yang terpenting adalah stabilitas perusahaan dan reputasi keluarga yang sudah kembali pulih."
Gilang menatap menantunya itu dalam-dalam. Keanggunan, ketenangan, dan kecerdasan Senja dalam meredam suasana selalu berhasil meluluhkan kerasnya sikap pria tua itu.
Gilang menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara kasar seraya menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi kebesarannya.
"Baiklah. Kali ini Papa lepaskan kalian karena Senja yang meminta" Kata Gilang, keputusannya terdengar mutlak dan tak dapat diganggu gugat.
"Tapi ingat kata-kata Papa, Alfa. Ini peringatan terakhir."
Gilang menatap Alfa dengan tatapan menakutkan.
"Hari ini juga, suruh wanita itu keluar dari rumah sakit itu! Pindahkan dia ke tempat lain dan pastikan keberadaannya tidak pernah terendus lagi oleh Papa. Jika sampai Papa menemukan kamu masih menemuinya atau tempat persembunyiannya teracak oleh orang-orang Papa... Papa sendiri yang akan menerbangkan wanita itu ke luar negeri secara paksa, ke tempat yang sangat jauh sampai kamu tidak akan pernah bisa menyentuh atau menemukannya lagi selamanya!"
Kalimat ultimatum itu menghantam dada Alfa bagai pukulan godam. Napas Alfa tertahan seketika, dadanya bergemuruh hebat oleh rasa panik dan amarah yang tak berdaya.
"Sekarang, kalian berdua boleh pergi!" Usir Gilang dingin, memalingkan wajahnya menuju berkas-berkas di atas meja.
Perjalanan keluar dari kediaman utama Arghantara terasa begitu membebani. Suasana di dalam mobil SUV hitam yang dikendarai Alfa diselimuti keheningan yang mencekam.
Alfa mencengkeram lingkar kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke jalanan di depannya, namun pikirannya sepenuhnya berkecamuk hebat. Kebingungan, ketakutan, dan rasa frustrasi membakar kepalanya.
Bagaimana caranya ia memindahkan Dila dari rumah sakit terbaik itu dalam kondisi fisik yang baru saja stabil?
Ke mana ia harus menyembunyikan Dila agar tidak terjangkau oleh jaringan orang-orang suruhan ayahnya yang begitu luas dan tak terbatas?
Satu langkah salah saja, maka ayahnya akan benar-benar melenyapkan keberadaan Dila ke belahan bumi lain.
Senja, yang duduk di kursi penumpang di sampingnya, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah suaminya. Ia melihat bagaimana urat-urat di leher Alfa menegang dan bagaimana napas pria itu terdengar makin memburu.
Senja menghela napas pelan, berusaha membawa kedamaian di tengah badai pikiran yang sedang menguasai Alfa.
"Mas..." Panggil Senja lembut.
"Tenangkan dirimu dulu. Jangan memikirkan jalan keluar di saat pikiranmu sedang dikuasai oleh rasa takut."
Alfa tidak menjawab, hanya rahangnya yang makin mengeras. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan cara melindungi Dila dari ancaman sang ayah.
Melihat Alfa yang kian tenggelam dalam keputusasaan, Senja menggeser duduknya sedikit mendekat. Dengan gerakan penuh kehangatan dan tanpa keraguan, Senja mengulurkan tangannya, meraih jemari kiri Alfa yang sedang mencengkeram erat tuas transmisi mobil.
Senja menggenggam tangan Alfa, menyalurkan kehangatan dari telapak tangannya untuk meredakan ketegangan pria itu.
"Kita pikirkan caranya bersama-sama dengan kepala dingin, ya?" Bisik Senja penuh kesabaran.
"Selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah jika kita tidak panik."
Niat awal Senja hanyalah tindakan sederhana untuk menenangkan suaminya yang sedang berada di titik terendah. Namun, di luar dugaan Senja sama sekali...
Bukannya melepaskan atau mengabaikan sentuhan itu, Alfa justru perlahan memutar telapak tangannya. Pria itu membalas genggaman tangan Senja dengan teramat erat.
Sret....
Jemari Alfa menyusup di antara jemari Senja, menyatukan tangan mereka dalam sebuah genggaman yang rapat dan hangat. Alfa meremas lembut tangan istrinya, seolah-olah dari telapak tangan Senja itulah ia menemukan satu-satunya pijakan di tengah badai kehidupan yang siap meruntuhkannya.
Senja tersentak pelan. Matanya melebar halus saat merasakan respons spontan dari Alfa. Ada getaran aneh yang menjalar dari telapak tangan mereka, merambat naik menembus pembuluh darah hingga bermuara di balik dadanya.
Alfa mengalihkan pandangannya sejenak dari jalanan, menatap Senja dengan binar mata yang memancarkan rasa terima kasih, kepasrahan, sekaligus ketergantungan yang amat dalam.
"Terima kasih, Senja..." Suara Alfa terdengar serak dan dalam.
"Terima kasih karena selalu ada di sampingku... di saat aku sendiri tidak tahu harus melangkah ke mana."
Senja membalas tatapan itu. Di dalam keheningan mobil yang melaju di jalanan ibu kota, genggaman tangan mereka tidak terlepas sedikit pun. Tanpa disadari oleh keduanya, di tengah usaha mereka melindungi masa lalu Alfa, rasa percaya dan keterikatan emosional di antara Alfa dan Senja justru makin mengakar kuat, sebuah fondasi baru yang siap mengubah arah takdir pernikahan mereka selamanya.
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.