Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Bab 26: Bayangan di Takhta Rubah dan Kehangatan Cinta yang Menanti
Bagian 1: Pesona Sang Dewi Rubah dan Benih Ketertarikan
Jauh di puncak Istana Kristal Es yang berdiri megah di atas Gunung Seribu Kabut—wilayah kekuasaan tertinggi Ras Kitsune yang legendaris—suasana malam itu diselimuti hening yang mencekam namun begitu anggun. Cahaya rembulan memantul di atas pilar-pilar batu pualam putih, menciptakan kilauan berkilau yang menari-nari di atas karpet beludru merah darah.
Di atas sebuah takhta ukiran kayu cendana yang dilapisi emas purba, bersandar sesosok wanita dengan keindahan paras yang begitu absolut. Parasnya sempurna tanpa cela; kulitnya seputih salju paling murni, bibirnya merah menyala bagaikan kelopak bunga mawar terlarang, dan matanya yang berbentuk almond memancarkan pendar emas kemerahan yang sanggup meremukkan jiwa pria manapun hanya dengan satu kerlingan.
Tubuhnya memiliki kurva yang teramat sangat seksi dan anggun, terbalut dalam gaun sutra tipis berwarna ungu tua yang terbelah hingga ke pangkal paha. Dan yang paling menakjubkan dari sosoknya adalah sepasang telinga rubah berbulu halus berwarna perak di atas kepalanya, serta tujuh ekor rubah megah yang mengembang lembut di belakang tubuhnya, mengibaskan gelombang aura spiritual yang teramat masif.
Dia adalah Nona Kitsune, keturunan langsung dari Dewi Rubah Ekor Sembilan Purba. Di usianya yang masih sangat muda dalam hitungan eksistensi makhluk abadi, kekuatan jiwanya telah mencapai Tingkat Mythic Tingkat ke-13! Suatu tingkatan legenda yang membuat para kaisar benua dan para penatua ras tertinggi harus membungkuk hormat di hadapannya.
Di depan takhta, sebuah proyeksi sihir berbentuk cermin air melayang di udara. Cermin air itu merekam dan memutar ulang adegan pertarungan brutal yang baru saja terjadi di Mortal Blood Arena beberapa jam lalu di perbatasan Aethelgard.
Di dalam rekaman cermin air tersebut, sosok pemuda dari Ras Manusia murni yang mengenakan Topeng Bertanduk—Ren—sedang mengamuk gila. Aura iblis ungu-hitam membumbung tinggi, pembuluh darahnya berevolusi paksa, dan pedangnya memenggal kepala petarung serigala Level 18 tanpa ampun di tengah hujan darah.
Nona Kitsune menyandarkan dagunya pada jemari lentiknya yang berkulit mulus. Tujuh ekor peraknya bergetar pelan, memancarkan rasa penasaran yang teramat dalam. Mata emas kemerahannya berbinar-binar memantulkan bayangan Ren.
"Kegigihan yang sangat indah..." gumam Nona Kitsune dengan suara merdu bagaikan alunan harpa surga, namun memilik tekstur godaan yang sanggup menyihir pikiran.
"Dia hanyalah seorang Manusia murni berada di Level 15... namun dia menahan celaan rasial, menyimpan amarahnya bagai gunung berapi, dan saat batasnya dilalui... Pop! Hati Iblis di dadanya meledak dan membakar seluruh batasan fisiknya."
Nona Kitsune menjilat bibir bawahnya yang ranum dengan ujung lidahnya yang merah muda, menyunggingkan senyuman penuh pesona yang teramat berbahaya.
"Tekadnya untuk bertahan hidup... matanya yang berubah menjadi mata iblis ungu saat memenggal musuhnya... Sungguh pria yang sangat langka dan memesona. Sudah ribuan tahun aku tidak melihat keindahan jiwa yang sebegitu pekat dan murni di dalam diri seorang pria."
Sesosok prajurit bayangan Kitsune berzirah hitam mendadak berlutut di hadapan takhta, membungkuk dalam-dalam hingga dahinya menyentuh lantai pualam.
"Hamba menyembah Anda, Yang Mulia Nona Kitsune," ucap prajurit bayangan itu penuh hormat dan ketakutan.
"Kael," sapa Nona Kitsune tanpa mengalihkan pandangannya dari bayangan Ren di cermin air. "Kau sudah melihat pertarungan petarung bertopeng bernama 'Darkness' ini?"
"Hamba telah melihatnya melalui mata sihir pengintai, Yang Mulia," jawab Kael cepat. "Pemuda itu bertarung secara nekat dan memicu evolusi organ iblis terlarang. Perbuatannya di Koloseum Aethelgard telah menciptakan kegemparan di antara suku-suku Beastkin."
Nona Kitsune terkekeh pelan. Tawa renyahnya bergema di seluruh aula istana, membuat udara dingin terasa menjadi begitu hangat dan memabukkan.
"Suku-suku Beastkin itu hanyalah kawanan binatang pemikir dangkal yang membanggakan otot lunak mereka," cemooh Nona Kitsune dingin. "Mereka tidak mengerti nilai sejati dari jiwa pria ini. Kael... aku menginginkan pria bertopeng ini."
Prajurit Kael tertegun sejenak. "Maksud Anda, Yang Mulia...?"
Nona Kitsune berdiri melangkah turun dari takhtanya. Setiap langkah kakinya yang bertelanjang tanpa alas memancarkan riak bunga teratai sihir di lantai pualam. Ekor-ekor peraknya mengembang indah, menciptakan pesona abadi yang tak tertandingi.
"Pergilah ke perbatasan Aethelgard secara rahasia," perintah Nona Kitsune dengan nada manja namun mengandung otoritas mutlak Tingkat Mythic. "Cari tahu siapa sebenarnya pria bernama 'Darkness' itu. Dari mana dia berasal, siapa keluarganya, dan ke mana dia akan melangkah. Pastikan tidak ada satu pun fraksi lain yang menyentuhnya atau mencelakainya sebelum aku menemukannya."
Nona Kitsune memegang cermin air, meremas bayangan Ren di dalam genggamannya seraya menyunggingkan senyuman pemikat.
"Pria dengan jiwa sekuat dan sekeras dia... harus menjadi milikku. Aku ingin melihat bagaimana wajahnya di balik topeng itu... dan aku ingin berlutut di bawah kakiku."
"Hamba melaksanakan perintah Anda tanpa cela, Yang Mulia!" ucap Kael tegas sebelum melenyap menjadi gumpalan asap hitam.
Nona Kitsune berdiri menyendiri di tepi jendela istana, memandangi rembulan malam yang bersinar terang. Tangannya mengelus salah satu ekor peraknya yang lembut seraya berbisik pelan pada angin malam:
"Tunggulah aku, Darkness... Kau tidak akan bisa lari dari cengkeraman keturunan Dewi Rubah ini..."
Bagian 2: Kedamaian di Benua Lain dan Kehangatan Ibu
Sementara badai ketertarikan mulai berhembus di Benua Luar tempat Ren berada, di Benua Eldoria—di dalam dimensi rahasia yang tersembunyi dari hiruk-pikuk dunia luar—suasana yang teramat sangat berbeda sedang berlangsung.
Suara gemericik air terjun buatan yang jernih bersahut-sahutan dengan kicauan burung-burung sihir berwarna emas. Udara di dalam dimensi rahasia ini terasa begitu hangat, segar, dan dipenuhi oleh aroma bunga lavender dan kayu manis yang menenangkan hati.
Di sebuah teras rumah kayu yang megah di tepi padang rumput hijau, tampak seorang wanita berparas sangat cantik dengan rambut silver yang terurai lembut di punggungnya. Mata abu kebiruan nya memancarkan kasih sayang yang begitu dalam dan teduh.
Dia adalah Anya, istri terkasih dari Ren (Wiliam).
Di pangkuan dan di samping Anya, terdapat dua tempat tidur bayi terbuat dari anyaman rotan halus yang dilapisi kain beludru lembut. Di dalam tempat tidur bayi tersebut, terbaring dua bayi mungil yang baru berusia beberapa bulan—buah hati tercinta hasil ikatan cinta Anya dan Ren.
Bayi pertama adalah seorang anak laki-laki dengan helai rambut hitam kelabu tipis yang sangat mirip dengan Ren, bernama Lucien. Sedangkan bayi kedua adalah seorang anak perempuan mungil berambut pirang keemasan bagaikan Anya, dengan mata bulat bening yang indah bernama Aria.
Anya sedang duduk bersimpuh di atas tikar rajut, dengan lembut menggendong Lucien di dada kirinya seraya mengayun-ayunkan tubuhnya pelan. Wajah Anya memancarkan kehangatan seorang ibu sejati yang begitu tulus.
"Ssst... Lucien sayang... Minum susunya pelan-pelan ya..." bisik Anya dengan suara yang teramat sangat lembut. Ujung jemari Anya mengusap pipi bayi Lucien yang halus dan tembam.
Lucien kecil menyesap asi ibunya dengan telaten, jemari tangan mungilnya mencengkeram kain gaun putih Anya dengan erat. Anya tersenyum manis, memiringkan kepalanya dan mencium dahi mungil Lucien dengan penuh kasih sayang.
"Anak pintar... Kau sangat mirip dengan ayahmu," gumam Anya pelan, matanya sedikit berkaca-kaca menyatukan memori wajah suaminya. "Garis alismu, cara jemarimu menggenggam erat... semuanya persis seperti Wiliam-ku..."
Di saat yang sama, bayi Aria di tempat tidur rotan mulai terbangun. Mengusap matanya dengan kedua tangan mungilnya, Aria melepaskan tawa kecil yang terdengar bagaikan denting lonceng perak.
Giggling... Pa-pa... Ma-ma...
"Ooh, putri cantik Ibu sudah bangun?" Anya terkekeh hangat. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati agar Lucien tidak terganggu, Anya membungkukkan tubuhnya, menyentuh hidung mungil Aria dengan ujung hidungnya sendiri.
"Selamat pagi, Aria sayang... Apakah mimpinya indah?"
Aria tertawa kegirangan, jemari kakinya menendang-nendang udara secara menggemaskan seraya berusaha menggapai helai rambut keemasan ibunya.
Mendadak, fluktuasi sihir emas yang sangat lembut muncul di udara teras. Lingkaran sihir teleportasi terbuka pelan, dan melangkah keluar sesosok wanita bertubuh anggun berambut merah membara yang mengenakan zirah emas megah.
Dia adalah Solaria, sahabat dekat sekaligus pelindung keluarga mereka.
"Anya!" sapa Solaria dengan senyuman hangat yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. Solaria melepas pelindung tangannya yang terbuat dari logam dan meletakkannya di sudut ruangan agar tidak dingin saat menyentuh bayi-bayi itu.
"Solaria!" Anya menyambutnya dengan binar mata bahagia. "Kau datang tepat waktu. Aria baru saja terbangun dan Lucien baru selesai menyusu."
Solaria melangkah mendekat dengan langkah perlahan, berlutut di samping tempat tidur rotan Aria. Pahlawan wanita bertubuh tegap yang ditakuti di medan perang itu kini menunjukkan sisi lembutnya yang teramat menghangatkan hati. Solaria mengulurkan satu jarinya yang tebal, dan Aria langsung menggenggam jari Solaria dengan kedua tangan mungilnya seraya tertawa.
"Lihat ini... genggaman Aria semakin kuat saja setiap harinya," puji Solaria dengan tawa pelan. Ia mengangkat Aria dari tempat tidurnya dengan sangat hati-hati, menimang bayi perempuan itu di dada zirahnya yang hangat. "Kau tumbuh dengan sangat sehat, Little Aria... Kau akan menjadi penyihir hebat atau prajurit tangguh seperti ayahmu kelak."
Anya menata posisi Lucien yang mulai mengantuk kembali di dalam pelukannya, lalu menatap Solaria dengan raut wajah yang mendadak berubah sedikit redup dan khawatir.
"Solaria..." panggil Anya pelan.
Solaria menoleh seraya mengusap punggung bayi Aria lembut. "Ada apa, Anya? Mengapa raut wajahmu mendadak lesu?"
Anya meremas ujung kain gaunnya. "Ini tentang Wiliam... Sudah setahun lebih sejak dia pergi menerobos benua luar... Hari ini, entah kenapa... dadaku terasa sangat sesak dan nyeri. Instingku sebagai seorang istri terus berdenyut..."
Anya menatap lurus ke mata Solaria, matanya memancarkan rasa cemas yang dalam.
"Apakah Wiliam baik-baik saja di sana, Solaria? Apakah dia... apakah dia sedang mengalami bahaya atau terluka parah? Aku terus bermimpi buruk melihatnya bersimbah darah..."
Solaria menghela napas pelan. Ia mengerti betul ikatan batin yang sangat kuat antara Anya dan Wiliam. Insting seorang istri yang mencintai suaminya secara murni tidak pernah salah—pada kenyataannya, saat ini di Benua Luar, Ren memang sedang terbaring parah dan dirawat oleh Hephaestus akibat bertarung habis-habisan di Koloseum!
Namun, demi menjaga ketenangan jiwa Anya yang sedang menyusui kedua bayinya, Solaria berjalan mendekat dan duduk di samping Anya. Solaria merengkuh bahu Anya dengan tangan kirinya seraya menggendong Aria di tangan kanannya.
"Anya, dengarkan aku baik-baik," ucap Solaria dengan nada suara yang sangat mantap dan menenangkan. "Wiliam bukanlah pria biasa. Kau tahu betul seberapa kuat tekadnya, seberapa tinggi ketahanannya terhadap rasa sakit, dan seberapa besar cintanya pada kalian bertiga."
Solaria menatap kedua bayi yang ada di sekitar mereka.
"Pria yang memiliki alasan sekuat Lucien dan Aria untuk pulang... tidak akan pernah membiarkan dirinya hancur di benua luar. Wiliam mungkin menghadapi cobaan berat, pertarungan keras, atau luka-luka pertempuran... Tapi aku bersumpah demi namaku, dia akan selalu bangkit dan bertahan hidup demi kembali ke pelukanmu."
Anya menarik napas panjang, mendengarkan setiap patah kata Solaria. Perlahan-lahan, ketegangan di bahu Anya mengendur. Ia mengusap air mata tipis di sudut matanya seraya menatap wajah mungil Lucien yang tertidur lelap di dadanya.
"Kau benar, Solaria..." bisik Anya dengan nada tegar yang kembali mengisi suaranya. "Wiliam adalah pria paling tangguh yang pernah kukenal. Dia telah melewati neraka demi melindungiku dulu... Dia tidak akan kalah hanya karena cobaan di benua luar."
Anya meletakkan Lucien yang sudah tertidur lelap kembali ke dalam tempat tidur rotannya dengan sangat lembut, menyelimutinya dengan kain wol hangat.
Kemudian, Anya mengambil Aria dari pangkuan Solaria, mencium kedua pipi tembam Aria hingga bayi perempuan itu mengeluarkan suara tawa menggemaskan.
"Ibu di sini, sayang..." bisik Anya pada Aria seraya menimangnya. "Ibu akan selalu menjaga kalian... dan kita bersama-sama akan menunggu Ayah pulang, ya?"
Solaria tersenyum lega melihat ketegaran jiwa Anya. "Itulah Anya yang kukenal. Seorang Wanita Suci yang memiliki jiwa seluas samudera."
Bagian 3: Rencana Masa Depan dan Kembalinya Sang Wanita Suci
Waktu bergulir hingga malam hari. Rembulan keemasan menggantung tinggi di atas langit dimensi rahasia, memancarkan cahaya lembut yang menembus jendela kaca kamar tidur.
Di dalam kamar yang hangat dan dipenuhi aroma minyak kayu aromaterapi, kedua bayi mungil—Lucien dan Aria—telah tertidur lelap di dalam boks kayu mereka. Napas teratur kedua bayi itu terdengar bagaikan nada simfoni kedamaian yang teramat indah bagi seorang ibu.
Anya berdiri menyendiri di depan jendela kamar yang terbuka pelan. Angin malam yang sejuk mengibaskan helai rambut keemasannya yang panjang. Ia mengenakan gaun tidur sutra putih yang longgar, memandangi bintang-bintang di langit malam dengan pandangan mata yang penuh tekad dan kerinduan mendalam.
Anya menyentuh dadanya sendiri. Di bawah kulit mukanya, aliran mana suci berwarna emas terang mengalir dengan sangat deras dan murni.
Selama beberapa bulan terakhir, setelah melahirkan dan mengasuh kedua buah hatinya, Anya tidak pernah berhenti mengasah kembali kekuatan sihir sucinya. Kekuatannya telah pulih sepenuhnya, bahkan berkembang jauh lebih pesat akibat dorongan cinta dan tekad melindungi keluarganya.
"Wiliam..." bisik Anya pada angin malam. "Aku tahu kau bertarung sendirian di sana... Aku tahu kau menanggung segala beban luka dan amarah demi membuka jalan bagi masa depan kita..."
Anya mengepalkan jemari tangannya di atas ambang jendela.
"Aku tidak akan membiarkan diriku hanya menjadi wanita lemah yang duduk berdiam diri menunggumu di rumah ini selamanya. Saat Lucien dan Aria sudah cukup besar nanti... saat mereka sudah mampu berdiri dan berjalan..."
Mata keemasan Anya menyala dengan pendar sihir suci yang teramat sangat anggun dan dominan!
"...Aku akan pergi melintasi dimensi. Aku akan menerobos benua luar dan menyusulmu, Wiliam! Aku akan berdiri di sampingmu sebagai istrimu, pendampingmu, dan perisai suci yang menyembuhkan setiap lukamu!"
Tekad Anya telah bulat. Ia tahu bahwa untuk melindung anak-anaknya dan membantu suaminya di masa depan, ia tidak boleh terisolasi selamanya dari dunia luar. Ia harus kembali memegang pengaruh dan kekuasaan!
Sejak beberapa minggu lalu, Anya telah mulai keluar-masuk dari dimensi rahasianya secara berkala, kembali melangkah ke panggung politik Benua Eldoria!
Anya kembali mengambil identitas resminya yang disegani di seluruh kerajaan: Sang Wanita Suci (The Holy Maiden of Light)!
Di siang hari saat anak-anaknya berada dalam penjagaan ketat Solaria dan susunan formasi pelindung sihir tingkat tinggi, Anya melangkah keluar ke Kuil Agung Cahaya. Dengan kecerdasan dan karisma sucinya yang tak tertandingi, Anya memimpin kembali fraksi-fraksi politik rasnya, menyingkirkan para bangsawan korup yang mencoba memanfaatkan ketidakhadiran Ren, dan mengonsolidasikan kekuatan militer serta sumber daya sihir di bawah genggamannya!
Sebagai Wanita Suci, Anya kini memegang otoritas atas ribuan Ksatria Suci dan Penyihir Tingkat Tinggi. Semua sumber daya, informasi jaringan intelijen benua, dan dana politik yang ia kumpulkan... semuanya diam-diam disiapkan oleh Anya untuk satu tujuan utama: Membangun fondasi armada dan kekuatan yang kelak akan dibawanya ke Benua Luar untuk menyusul dan menyokong Ren!
Anya berbalik melangkah mendekati boks tidur kedua buah hatinya.
Ia membungkukkan tubuhnya, menepuk-nepuk lembut dada Lucien dan mengusap dahi Aria dengan penuh rasa hangat.
"Tidurlah yang nyenyak, anak-anakku..." bisik Anya dengan senyuman paling manis yang pernah ada. "Tumbuhlah dengan sehat dan kuat. Ibu dan Ayah sangat mencintai kalian..."
Anya mencium dahi kedua bayinya secara bergantian, memberikan berkat sihir cahaya pelindung yang melingkupi tempat tidur mereka dengan pendar emas kehangatan.
Kemudian, Anya melangkah kembali ke meja kerjanya di sudut kamar. Di atas meja tersebut, terhampar peta sihir Benua Luar yang rumit beserta berkas-berkas dokumen politik Kuil Suci yang harus ia selesaikan.
Dengan pena bulu di tangannya dan pendar cahaya sihir suci di sekelilingnya, Sang Wanita Suci bekerja sepanjang malam dengan kegigihan luar biasa.
Di hatinya, tidak ada lagi rasa ragu atau ketakutan. Yang ada hanyalah kehangatan cinta seorang ibu yang mengasuh buah hatinya, serta kobaran tekad seorang istri tegar yang siap menembus batas dunia demi bersatu kembali dengan pria yang dicintainya.