"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Dua jam berlalu. Keheningan merayap masuk menggantikan desah napas dan pergulatan panas di dalam kabin SUV yang tertutup rapat.
Clara terkulai lemas di atas dada bidang Elzio. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang merona, sementara napasnya mulai teratur dan halus. Efek alkohol bercampur kelelahan fisik luar biasa membuat benteng pertahanannya runtuh total, membawanya jatuh ke alam mimpi.
Elzio menatap wanita di pelukannya dengan mata yang meremang hangat. Kelembutan yang sangat asing membanjiri dadanya. Dia membelai lembut punggung telanjang Clara, lalu mengambil selimut tebal yang selalu tersedia di bagasi belakang dan membalut tubuh mulus itu dengan sangat protektif.
Elzio mengetuk kaca pembatas kemudi. Pak Anton, pengemudi pribadinya yang sudah berjaga di luar sejak tadi, segera mengerti dan membawa mobil melaju tenang menuju vila pribadi Elzio yang terisolasi di tebing Uluwatu.
Sesampainya di vila, Elzio menggendong Clara yang terlelap ke dalam kamar utama. Dengan sangat hati-hati, dia membasuh tubuh Clara menggunakan handuk hangat, menggantikan pakaiannya dengan piyama sutra yang longgar, lalu membaringkannya di tengah ranjang king size.
Saat memindahkan tangan kanan Clara, rahang Elzio mengeras. Pergelangan tangan mulus itu memerah akibat gesekan borgol logam tadi. Rasa bersalah menghujam dadanya.
Dengan sangat posesif, Elzio mengambil salep obat dari laci, mengoleskannya perlahan sambil mengecup pergelangan tangan itu berulang kali.
"Maafkan saya, sweetheart," bisik Elzio rendah.
Dia kemudian menyusup ke bawah selimut, menarik tubuh hangat Clara ke dalam pelukannya, melingkarkan lengan berototnya di pinggang wanita itu, dan ikut memejamkan mata dalam kedamaian yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden tinggi, menyiram wajah Clara.
Saat matanya terbuka, hal pertama yang dia rasakan adalah tubuhnya yang pegal luar biasa dan sebuah lengan kokoh yang mengunci pinggangnya erat-erat. Pria di sampingnya tidur bertelanjang dada, memancarkan aura dominan yang membakar memori malam tadi di kepala Clara.
"Astaga..." bisik Clara panik. Kepalanya berdenyut nyeri.
Ingatan tentang apa yang dia lakukan di dalam mobil—bagaimana dia bertindak liar di atas pangkuan Elzio—menghantam kesadarannya sekaligus. Rasa malu yang amat sangat membakar pipinya.
Dengan mengendap-endap, Clara mencoba mengangkat lengan Elzio dari pinggangnya. Dia berniat kabur lagi sebelum pria itu terbangun.
Namun, baru saja kakinya menyentuh lantai—
SRET!
Sebuah cengkeraman sigap mendarat di pergelangan tangannya. Dalam satu tarikan mudah, Elzio menarik Clara kembali jatuh ke atas kasur, tepat di bawah kungkungan tubuhnya.
"Mau kabur ke mana lagi, hum?" suara bariton khas bangun tidur Elzio terdengar berat dan seksi di dekat telinga Clara.
"Lepas, brengsek!" bentak Clara, refleks memberontak. Tangan kirinya memukul-mukul dada bidang Elzio secara brutal. "Ngapain lu tahan-tahan gue?! Lepasin!"
Elzio tidak meringis. Dia justru menahan kedua tangan Clara di atas kepala dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain merapikan poni Clara yang berantakan. Senyum tipis terukir di bibirnya. Melihat Clara yang galak dan penuh duri ini kembali bernapas di bawahnya justru membuat dadanya bergetar gemas.
"Lepasin nggak?!" teriak Clara lagi, matanya menyala marah. "Gue mau cari Anya! Sahabat gue tertinggal di club gara-gara lu! Kalau dia diculik cowok nakal gimana, bodoh?!"
Elzio terkekeh pelan. "Tenang, Clara. Sahabat kamu tidak diculik. Dia aman."
"Aman dari mana?!"
"Dia sedang memadu kasih dengan Arka, asisten pribadi saya. Di kamar hotel bintang lima, dan sepertinya mereka baru selesai dua jam yang lalu," jawab Elzio santai, menatap bibir cemberut Clara dengan gemas.
Pipi Clara makin memerah. Dia mendengus kasar, memalingkan wajahnya dari tatapan pekat Elzio. Rasa gengsi tinggi di dalam dirinya langsung mengambil alih. Clara tidak boleh terlihat lemah atau terpengaruh.
"Bagus kalau gitu," cetus Clara dingin. "Dan buat lu... lepasin gue sekarang. Malam tadi itu cuma kecelakaan akibat alkohol. Gue lagi stres, lu ada di sana, jadi gue cuma bersenang-senang sebentar. Anggap aja impas, dan tidak terjadi apa-apa!"
Tatapan mata Elzio mendadak berubah menjadi tajam dan pekat. "Bersenang-senang?"
"Iya! Cuma one night stand biasa! Jangan kebiasaan kepe-dean!" balas Clara ceplas-ceplos sambil berusaha mendorong tubuh tegap Elzio.
Elzio merendahkan posisinya, hingga napas hangatnya berembus tepat di atas bibir Clara. "Kalau begitu, mari kita buat ini bukan sekadar permainan."
"Maksud lu apa?"
"Menikahlah dengan saya, Clara."
Clara membeku seketika. Matanya membelalak lebar menatap Elzio. Detik berikutnya, tawa hambar dan sinis meledak dari mulut Clara.
"Menikah? Lu gila ya?!" Clara tertawa mengejek, menatap Elzio penuh cemoohan. "Pria kaya raya kaya lu, yang bisa beli wanita sewaan kapan aja, mendadak ngajak nikah cewek yang baru lu tiduri dua kali? Bukannya buat pria kaya kaya lu, bersenang-senang sama wanita itu cuma makanan sehari-hari?"
Clara memanfaatkan kelengahan Elzio untuk menyikut dadanya dan berdiri dengan cepat. Dia menyambar tas tangannya yang tergeletak di atas meja, membukanya dengan kasar, lalu menarik beberapa lembar uang seratus ribuan dan beberapa lembar lima puluh ribuan dari dompetnya.
Dia melangkah mendekati kasur, lalu PLAK!
Clara melemparkan uang cash senilai satu juta rupiah itu tepat ke atas dada telanjang Elzio.
"Nih! Buat bayar 'servis' lu semalam! Gue nggak sudi utang sama pria kaya arogan kaya lu!" tegas Clara dengan nada sangat menghina, meski dadanya bergemuruh hebat karena rasa malu dan campur aduk emosi.
Tanpa menunggu jawaban Elzio, Clara membalikkan badan dan melangkah lebar-lebar keluar dari kamar utama vila, membanting pintu dengan keras.
Elzio tetap terduduk di atas ranjang. Dia tidak marah. Dia hanya menatap lembaran uang satu juta rupiah di atas dadanya, lalu memegang uang itu perlahan. Sebuah seringai tipis yang sarat akan dominasi dan kegelapan terukir di wajah tampannya.
"Kamu pikir kamu bisa lari dengan membayar saya, Clara?" bisik Elzio rendah.
Dia meraih ponsel di meja nakas dan menekan tombol panggilan cepat.
"Arka," panggil Elzio dingin begitu sambungan terhubung.
"Ya, Pak Elzio?" suara Arka terdengar di ujung telepon.
"Bagaimana dengan berkas lamaran kerja yang masuk ke anak perusahaan media kita minggu ini?"
"Sesuai laporan sistem, Ibu Clara baru saja memasukkan CV ke tiga anak perusahaan Mahendra Group kategori skala menengah pagi ini, Pak. Sepertinya beliau sengaja memilih anak perusahaan kecil agar terhindar dari jangkauan keluarga utamanya."
Elzio bersandar di kepala ranjang, memutar uang kertas milik Clara di jemarinya.
Dia tahu Clara sangat membenci keluarganya yang toksik dan ingin memulai hidup baru secara independen lewat kemampuannya sendiri. Clara mengira anak perusahaan kecil itu aman dari jangkauannya.
"Terima semua lamarannya," perintah Elzio dengan nada mutlak. "Atur agar posisi Asisten Eksekutif di kantor pusat dipindahkan ke anak perusahaan itu, dan pastikan kontrak kerjanya memiliki pasal khusus yang mengikatnya langsung di bawah pengawasan saya."
"Baik, Pak. Akan segera saya proses."
Elzio mematikan telepon. Matanya menatap ke arah pintu kamar yang terbuka.
"Lari sesukamu, Clara... tapi kamu sudah masuk ke dalam jaring saya."