Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Penuntun Di Tengah Kegelapan
Kekacauan yang meledak tak berbekas sisa keberanian kelompok Rio. Melihat pemimpin sekutu mereka terkapar tak bernyawa, dan amarah kelompok Danu yang meledak tanpa ampun, sebagian besar anak buah Rio ketakutan dan mundur kocar-kacir—mereka yang selama ini mengandalkan kekuatan dan kekejaman, ternyata rapuh saat menghadapi orang-orang yang tak lagi punya apa-apa untuk hilang. Rio sendiri terpaku, matanya memerah menatap mayat wanita yang berdiri di sampingnya sedari tadi, namun ia sadar sepenuhnya bahwa jika ia bertahan sedetik saja lagi, ia akan berakhir sama seperti temannya. Dengan sisa keberanian yang semu, ia mundur perlahan lalu melarikan diri ke arah lorong belakang, meninggalkan segalanya—termasuk tawanannya.
"Kita tidak punya banyak waktu!" bentak Danu, suaranya nyaring membelah kegemparan. "Mereka akan mengumpulkan pasukan lagi sebentar lagi! Kita harus keluar dari sini sekarang!"
Tak ada yang perlu ditanya lagi. Tanpa menoleh ke belakang, mereka bergerak serentak menuju pintu utama yang kini terbuka lebar. Hati mereka berdebar kencang—bukan lagi karena takut pada ancaman, melainkan karena tahu bahaya yang jauh lebih besar masih menanti di luar sana, dan mereka tak berdaya tanpa senjata. Langkah kaki mereka beradu cepat dengan lantai keramik, tergesa-gesa namun tetap waspada, memastikan tak ada jebakan yang tertinggal. Aldo berjalan paling belakang, matanya sesekali melirik ke arah Anna yang kini berdiri diam di sudut ruangan, namun ia tahu—saat ini, keselamatan teman-temannya jauh lebih penting daripada segala rasa sakit yang ia rasakan.
"Senjata kita..." bisik Mega saat mereka hampir mencapai ambang pintu. "Mereka mengambil semuanya. Kita tak akan bertahan lama jika bertemu mereka lagi tanpa perlengkapan."
Danu mengangguk tegas. "Kita akan mengambilnya kembali. Tidak ada yang dibiarkan di sini milik mereka."
Namun saat mereka hendak melangkah keluar menuju halaman yang remang, langkah kaki mereka terhenti mendadak. Di sana, berdiri tenang di tengah jalan yang sepi, sepasang sosok yang tak mereka duga—seorang wanita tua yang tubuhnya bungkuk namun matanya tajam menatap setiap sudut, dan seorang pria paruh baya yang memegang sebilah tongkat kayu, wajahnya penuh kerutan namun memancarkan ketenangan yang tak terbayangkan di tengah neraka ini. Mereka tak mengacungkan senjata, tak berteriak memanggil pasukan—hanya berdiri diam seolah sudah menunggu kehadiran mereka sejak lama.
"Kalian hendak pergi dari sini?" tanya pria tua itu pelan, suaranya serak namun tenang, seolah angin malam yang berhembus lembut.
Jodie maju selangkah, dadanya masih naik turun menahan amarah dan kewaspadaan, tangannya mengepal erat meski tak memegang apa-apa. "Ya, kami pergi. Kenapa? Apakah kalian juga akan mencegah kami?"
Pria tua itu menggeleng pelan, senyum tipis namun penuh kesedihan terukir di bibirnya. "Tidak... tenanglah. Kami tidak akan menyakiti kalian. Justru... kami akan menunjukkan di mana mereka menyimpan senjata kalian."
Satu per satu dari kelompok Danu saling berpandangan, keraguan masih membayangi raut wajah mereka. Bagaimana mungkin di tempat yang penuh kejahatan ini, ada orang yang menawarkan bantuan tanpa pamrih? Namun melihat tatapan jujur yang terpancar dari mata kedua orang itu, perlahan rasa curiga itu luntur sedikit demi sedikit. Tanpa banyak bicara, mereka mengikuti langkah pria paruh baya itu yang berjalan perlahan membelah lorong samping yang tak pernah mereka sadari sebelumnya—jalan setapak yang tersembunyi di balik tumpukan kayu dan tanaman liar yang sudah lama tak terawat.
"Jangan kalian berpikir aku berniat jahat," ucap wanita tua itu pelan dari belakang, suaranya bergetar namun tegas. "Aku sudah tua, untuk apa lagi aku melakukan kejahatan? Apalagi saat dunia ini sudah seperti kiamat, dipenuhi oleh para pendosa yang mati namun hidup kembali dengan wajah yang mengerikan. Segala nafsu dan keserakahan manusia kini terbalut dalam wujud yang paling mengerikan sekaligus paling jujur."
Mega berani bertanya, suaranya masih bergetar namun penuh rasa ingin tahu. "Sebenarnya mereka itu siapa? Mengapa mereka ada, dan berani melakukan hal seburuk itu?"
"Mereka hanyalah sekumpulan orang dungu yang buta akan keabadian semu," jawab wanita itu perlahan. "Mereka percaya pada dongeng kehidupan abadi, pada mitos bahwa meminum darah manusia akan membuat mereka awet muda dan tak termakan usia. Padahal itu hanyalah kebohongan belaka. Hal itu hanya akan membuat Tuhan murka, melukai ciptaan-Nya dengan cara yang paling hina. Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali keadilan dan kebenaran—meski seringkali tertutup oleh kegelapan."
Pria tua itu menghela napas panjang, matanya menatap langit yang gelap pekat tanpa bintang. "Tuhan sudah murka, Dinda... Tuhan sudah memberi tanda kemarahan-Nya dengan wabah ini. Manusia yang melupakan kasih sayang, yang hanya mementingkan diri sendiri, yang saling mengkhianati demi harta dan kekuasaan—kini mereka mendapatkan apa yang mereka tabur. Kematian yang tak berkesudahan, dan kehidupan yang penuh dengan kebencian."
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah pintu besi yang kusam dan tertutup rapat, tersembunyi di balik bangunan samping yang sudah tak terpakai. "Kita sudah sampai di gudang," ucap kakek itu pelan sambil membuka gembok yang ternyata tak terkunci rapat. "Ayo masuk, ambil semua yang ada di dalam sini. Ambil kembali apa yang menjadi hak kalian, dan ambil apa saja yang bisa melindungi nyawa kalian."
Beberapa orang maju lebih dulu—Danu, Rafli, dan Jodie—mendorong pintu itu perlahan. Di dalamnya, berantakan namun lengkap, tersimpan senjata yang mereka cari: senapan, pistol yang masih berisi peluru, pisau lipat, golok tajam, kapak kayu yang gagangnya kokoh, hingga linggis besi yang berat namun mematikan jika digunakan dengan benar. Mereka segera mengambilnya kembali, merasakan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang saat senjata itu berpindah tangan kembali ke genggaman mereka.
Setelah semua perlengkapan terambil rapi dan terpasang kembali di tubuh masing-masing, pria tua itu kembali menatap mereka satu per satu dengan tatapan penuh harap.
"Kami ikut kalian," pinta lelaki itu pelan namun tegas. "Jika kalian tidak keberatan. Di sini tak ada lagi yang bisa kami perbuat, tak ada lagi yang bisa kami selamatkan. Mungkin bersama kalian, sisa umur kami bisa berguna untuk hal yang benar."
Danu menoleh sejenak ke arah pria tua itu, lalu menatap satu per satu anggota kelompoknya seakan meminta persetujuan tanpa kata. Rafli diam saja namun mengangguk pelan, matanya menyiratkan bahwa membawa mereka bukanlah beban, melainkan tanggung jawab sekaligus berkah yang tak boleh ditolak. Simon mengangguk mantap, begitu pula dengan yang lain—meski perjalanan masih panjang dan penuh bahaya, mereka tak akan membiarkan orang baik tertinggal sendirian di tengah kegelapan ini.
"Terima kasih," ucap Danu akhirnya, suaranya lembut namun penuh penghargaan. "Kalian diterima. Namun ingat, perjalanan ini tak akan mudah. Kami tak bisa menjamin keselamatan siapa pun, tapi kami berjanji—kami akan saling menjaga sekuat tenaga."
Wanita tua itu tersenyum haru, air mata menetes pelan di pipinya yang keriput. "Cukup kalian menerima kami, itu sudah lebih dari cukup. Selama kita berpegang pada kebenaran, Tuhan tak akan membiarkan kita binasa sia-sia."
Malam itu, di gudang tua yang remang, persekutuan yang lebih kuat terbentuk—bukan dari darah atau keserakahan, melainkan dari rasa kemanusiaan yang masih tersisa, dari tekad untuk melawan kejahatan sekecil apa pun wujudnya. Mereka kini tak hanya membawa senjata untuk melindungi diri, tapi juga membawa harapan bahwa di tengah dunia yang runtuh, masih ada hati yang tulus, masih ada tangan yang saling merangkul, dan masih ada jalan untuk pulang ke sisi yang benar.
bersambung