Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Ada yang Disembunyikan
Tidak sampai tiga puluh menit...
Ruang rapat utama mulai dipenuhi beberapa kepala divisi dan beberapa staf senior juga ikut hadir.
Adrian duduk di ujung meja. Clara berdiri di sampingnya membawa dokumen.
"Terima kasih sudah datang," ujar Adrian.
Semua orang mengangguk.
"Saya ingin melakukan pemeriksaan internal terhadap seluruh transaksi perusahaan selama tiga bulan terakhir."
Beberapa orang mulai saling berpandangan.
Adrian memperhatikan reaksi mereka, ada yang terlihat tenang, ada yang tampak bingung. Namun satu orang justru terlihat terlalu tenang.
Pria yang sejak tadi duduk di ujung meja. Anton, pria yang tadi pagi dilihat Adrian di lobi. Anton bersandar santai di kursinya.
Adrian memperhatikannya beberapa detik. "Anda dari divisi apa?"
Anton mengangkat wajah. "Logistik, Pak."
"Jabatan?"
"Manajer operasional."
Adrian mengangguk. "Sudah berapa lama?"
"Empat tahun."
Adrian membuka sebuah dokumen. "Kalau begitu, Anda pasti mengetahui alur pengiriman perusahaan."
"Tentu."
"Termasuk transaksi dengan perusahaan luar negeri?"
Anton tersenyum tipis. "Hanya sebagian."
"Sebagian?"
"Transaksi luar negeri ditangani oleh beberapa divisi."
Adrian mengangguk perlahan. "Lalu siapa yang memiliki kewenangan terakhir untuk menyetujui pengiriman?"
Anton menjawab tanpa ragu. "Direktur operasional."
Adrian menatapnya. "Dan siapa direktur operasional sebelum saya?"
Anton terdiam sepersekian detik. "Pak Daren."
Adrian mencatat nama itu. "Di mana beliau sekarang?"
"Sudah mengundurkan diri."
"Sejak kapan?"
"Empat bulan lalu."
Adrian mengangkat wajah. "Tepat sebelum transaksi mencurigakan ini dimulai?"
Suasana ruang rapat mendadak hening.
Anton tidak langsung menjawab. Clara yang berdiri di samping Adrian mulai memperhatikan perubahan ekspresi pria itu.
Akhirnya Anton berkata, "Saya rasa itu hanya kebetulan."
Adrian tersenyum tipis. "Mungkin." Ia menutup dokumen. "Karena itu kita akan memeriksanya."
Adrian kemudian menatap semua orang. "Mulai hari ini, tidak ada dokumen yang boleh dihapus, dipindahkan, atau dimusnahkan tanpa sepengetahuan saya."
Beberapa kepala divisi mengangguk.
"Semua komputer yang berhubungan dengan keuangan dan logistik akan diperiksa."
Anton terlihat sedikit menegang.
Adrian menangkap perubahan kecil itu. "Dan satu lagi."
Semua mata tertuju kepadanya.
"Saya ingin seluruh riwayat transaksi perusahaan selama enam bulan terakhir."
Clara mencatat perintah tersebut.
Anton akhirnya bertanya, "Pak Adrian."
Adrian menoleh.
"Apakah audit ini memang diperlukan? Bukankah perusahaan selama ini berjalan dengan baik?"
Adrian tersenyum. "Justru karena perusahaan terlihat baik, saya ingin memastikan semuanya memang baik.
Anton tidak menjawab.
Adrian kemudian berdiri. "Rapat selesai."
Semua orang mulai berdiri.
Namun sebelum Anton keluar, Adrian memanggilnya.
"Anton."
Pria itu berhenti. "Ya, Pak?"
"Jangan pergi dulu." Adrian menunjuk kursi di depannya. "Duduk."
Wajah Anton berubah sedikit. Clara memandang Adrian, tetapi memilih diam. Pintu ruang rapat perlahan tertutup setelah seluruh orang keluar. Kini hanya tersisa Adrian, Clara, dan Anton.
Adrian mengambil satu berkas. "Ini tanda terima pengiriman."
Anton melihatnya. "Ya."
"Kenapa tanda tangan penerima berbeda dengan tanda tangan yang ada di sistem?"
Anton mengerutkan kening. "Mungkin kesalahan staf."
"Apa semua selalu kesalahan staf?"
Anton terdiam.
Adrian menggeser berkas lainnya. "Dan ini." Ia menunjukkan laporan gudang. "Jumlah barang yang keluar berbeda dengan jumlah yang diterima."
Anton menarik napas. "Pak Adrian, saya baru menjabat sebagai manajer operasional. Saya tidak tahu detail semua transaksi lama."
Adrian menatapnya tajam. "Tapi Anda mengatakan tadi sudah bekerja selama empat tahun." Adrian bersandar. "Jadi Anda pasti tahu."
Anton menatap berkas di hadapannya dengan wajah yang mulai terlihat tidak nyaman. "Pak Adrian," katanya akhirnya, "saya memang sudah bekerja di perusahaan ini selama empat tahun. Tapi bukan berarti saya harus mengetahui semua transaksi yang terjadi di setiap divisi." Nada suaranya terdengar sedikit ketus.
Adrian tetap tenang. "Saya hanya bertanya."
"Dan saya sudah menjawab."
Clara yang berdiri di samping meja mulai memperhatikan keduanya. Ia bisa merasakan ketegangan yang perlahan meningkat.
Anton menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau memang sudah tidak ada lagi yang ingin Bapak tanyakan, saya ingin kembali ke ruangan saya. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."
Adrian menatapnya beberapa detik. "Silahkan."
Anton berdiri.
Namun sebelum pergi, ia menatap Adrian. "Saya harap audit ini tidak mengganggu pekerjaan orang-orang yang selama ini sudah bekerja keras untuk perusahaan."
Adrian tersenyum tipis. "Saya juga berharap begitu."
Anton kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.
Klik.
Pintu ruang rapat tertutup.
Adrian tidak langsung bergerak, tatapannya masih tertuju pada pintu itu.
Clara akhirnya bersuara. "Pak..."
"Menurutmu, bagaimana?"
Clara terdiam sejenak. "Dia menyembunyikan sesuatu."
Adrian menoleh. "Kamu juga menyadarinya?"
Clara mengangguk perlahan. "Saya sudah bekerja di sini hampir enam tahun. Anton memang terkenal tegas, tetapi biasanya dia tidak pernah berbicara seperti tadi."
Adrian mengambil kembali dokumen yang tadi diberikan kepada Anton. "Dia tidak marah ketika saya menanyakan transaksi."
Clara mengerutkan kening. "Lalu?"
"Dia gelisah ketika saya mulai membahas dokumen pengiriman."
Clara terdiam.
Adrian mengetuk meja dengan ujung jarinya. "Dan ketika saya menyebut perbedaan jumlah barang..." Ia berhenti. "Dia langsung mencari alasan."
Clara mulai memahami arah pembicaraan itu. "Jadi Bapak curiga transaksi mencurigakan itu berkaitan dengan divisi operasional?"
"Bukan hanya divisi operasional." Adrian membuka laporan lain. "Perhatikan ini."
Clara mendekat.
Adrian menunjuk beberapa angka pada laporan. "Barang keluar dari gudang selalu tercatat lengkap. Tetapi jumlah yang diterima perusahaan tujuan berbeda."
Clara mengamati dokumen tersebut. "Selisihnya kecil."
"Justru itu yang menarik."
Adrian menunjuk beberapa transaksi lain. "Selisihnya selalu berada di kisaran yang hampir sama."
Clara terdiam.
"Kalau hanya satu atau dua transaksi, mungkin kesalahan administrasi."Adrian menatapnya. "Tapi ini terjadi berulang kali selama berbulan-bulan."
Clara mulai merasa tidak nyaman. "Berarti ada yang sengaja mengaturnya."
"Belum tentu." Adrian menutup dokumen. "Tapi kita harus mencari tahu."
Clara mengangguk.
Adrian kemudian berdiri. "Mulai sekarang, jangan beri tahu siapa pun mengenai temuan ini."
Clara terkejut. "Termasuk kepala divisi?"
"Terutama mereka."
Clara menatap Adrian dengan serius.
"Kalau ada seseorang di dalam perusahaan yang bekerja untuk pihak luar, semakin sedikit orang yang tahu tentang audit ini, semakin baik."
Clara mengangguk. "Baik, Pak."
***
Di Rumah Sakit Jiwa Sumber Kasih, suasana pagi berjalan seperti biasa. Aktivitas para perawat mulai memenuhi koridor. Beberapa pasien sedang mengikuti kegiatan terapi, sementara sebagian lainnya masih berada di dalam kamar masing-masing.
Nadira duduk di meja administrasi sambil memeriksa data pasien. Tangannya sesekali mengetik sesuatu di komputer. "Pasien nomor dua puluh tiga... kondisi stabil," gumamnya pelan.
Tiba-tiba seorang suster datang menghampiri. "Suster Nadira."
Nadira mengangkat wajah. "Ya?"
Suster itu terlihat sedikit gugup. "Bisa bantu saya ke Bangsal Melati?"
Nadira langsung menutup berkas di tangannya. "Ada apa, Sus?"
"Ada pasien baru masuk, dan sepertinya cukup berbahaya. Saya harus melakukan pemeriksaan awal, tetapi saya takut kalau sendirian."
Nadira segera berdiri. "Baik, Suster. Saya temani."
"Terima kasih."
Mereka kemudian berjalan menyusuri koridor menuju Bangsal Melati. Semakin mendekati bangsal, suara langkah kaki mereka terdengar semakin jelas. Seorang petugas keamanan berdiri di depan pintu dengan wajah serius.
Nadira mengernyit. "Pasiennya sampai harus dijaga seperti ini?"
Suster tersebut mengangguk. "Sejak datang tadi pagi, dia hampir tidak berbicara. Tapi ketika petugas mencoba memeriksa barang bawaannya, dia tiba-tiba mengamuk."