NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Priscilla Salim berdiri di dekat meja registrasi sebelum Alexander sempat mengambil kartu nama.

"Alexander."

Satu kata itu cukup membuat tiga pengacara muda di dekat mereka menoleh.

Acara networking hukum Kota Cahaya baru dimulai sepuluh menit. Ruang pertemuan hotel dipenuhi meja bundar, papan nama firma, dan suara percakapan rendah antaradvokat, konsultan, akademisi, serta beberapa perwakilan asosiasi profesi.

Tidak ada panggung hiburan.

Tidak ada kamera siaran.

Hanya dunia hukum yang sedang mengukur siapa naik, siapa jatuh, dan siapa tiba-tiba tidak bisa diabaikan.

Malam itu, Alexander datang sebagai Advokat Tetap Kantor Hukum Adiwangsa.

Priscilla datang dengan gaun gelap, senyum tenang, dan mata yang terlalu terlatih untuk terlihat menyesal.

Alexander mengambil kartu namanya dari panitia.

"Malam, Priscilla."

Sapaan itu pendek, bersih, tanpa gemetar.

Priscilla menatap pin nama di jasnya.

Alexander Wijaya

Advokat Tetap

Kantor Hukum Adiwangsa

Jari Priscilla berhenti sepersekian detik di gelas air mineral yang ia pegang.

"Aku membaca berita tentang MakanYuk," katanya. "Selamat."

"Terima kasih."

"Kau benar-benar berubah."

"Tidak terlalu. Hanya lebih sibuk."

Senyum Priscilla melebar sedikit. Beberapa orang masih memperhatikan dari jarak aman. Nama Alexander setelah putusan MakanYuk cukup hangat untuk membuat percakapan kecil berubah menjadi bahan bisik-bisik.

Priscilla tampaknya tahu itu.

Ia menurunkan suara, tetapi tidak cukup rendah untuk membuat orang terdekat gagal mendengar.

"Alexander, aku ingin meminta maaf."

Percakapan di meja registrasi melambat.

Alexander tidak menjawab.

Priscilla menarik napas. Wajahnya tepat pada sudut yang baik: cukup rapuh untuk dilihat, cukup kuat untuk tidak tampak hancur.

"Tentang malam itu. Tentang restoran. Tentang cek itu. Tentang lencana ayahmu." Ia menunduk singkat. "Aku tidak seharusnya memperlakukanmu seperti itu."

Seseorang di belakang Alexander berbisik, "Itu mantan pacarnya?"

Bisikan lain menjawab, "Yang kasus cek palsu itu?"

Alexander mendengar semuanya.

Dulu, bisikan seperti itu bisa membuat dadanya terbakar.

Sekarang, ia hanya merasa ruangan itu sempit.

"Permintaan maafmu saya dengar," kata Alexander.

Priscilla mengangkat kepala.

Mungkin ia menunggu kalimat kedua.

Tidak ada.

"Hanya itu?" tanyanya pelan.

"Apa yang kamu harapkan?"

"Aku tidak tahu. Mungkin... kesempatan untuk bicara lebih baik. Kita pernah dekat, Alex."

Panggilan lama itu jatuh di antara mereka seperti kunci yang sudah tidak cocok dengan pintu mana pun.

Alexander meletakkan kartu nama ke saku jas.

"Kita pernah dekat. Lalu kamu memilih mempermalukan saya di depan orang banyak, menyeret nama ayah saya, dan memakai dokumen palsu untuk menutup hubungan seolah harga diri bisa dibayar dengan kertas."

Wajah Priscilla menegang.

Alexander tidak menaikkan suara. Itu justru membuat setiap kata lebih sulit disela.

"Saya menerima bahwa kamu meminta maaf. Tetapi menerima permintaan maaf tidak sama dengan membuka kembali akses."

Beberapa pengacara muda yang tadi menoleh kini pura-pura sibuk membaca brosur acara.

Priscilla tersenyum tipis, mencoba menyelamatkan bentuk percakapan.

"Kau sekarang bicara seperti orang penting."

"Tidak. Saya bicara seperti orang yang akhirnya belajar batas."

"Batas?"

"Ya. Batas antara sopan dan bodoh."

Senyum Priscilla hilang.

Malam itu, wajah terlatihnya retak sedikit.

Lalu ia tertawa kecil.

"Kau masih marah."

"Tidak sebesar dulu."

"Tapi masih."

"Cukup untuk ingat. Tidak cukup untuk hidup di sana."

Kalimat itu membuat Priscilla terdiam.

Di sisi ruangan, seorang pengurus asosiasi memanggil para peserta untuk sesi perkenalan singkat. Orang-orang mulai bergerak. Percakapan mereka seharusnya selesai di sana.

Tetapi Priscilla mengambil satu langkah lebih dekat.

"Alexander, dunia profesi ini kecil. Kita akan sering bertemu. Aku tidak ingin kita terlihat seperti musuh."

"Kita tidak perlu terlihat seperti apa pun."

"Kau tidak takut orang mengira kau pendendam?"

Alexander menatapnya.

Dulu Priscilla selalu pandai memakai kata "orang" untuk menekan.

Orang akan melihat.

Orang akan menertawakan.

Orang akan menilai.

Sekarang, kata itu tidak punya gigi.

"Kalau orang menilai saya dari cara saya tidak kembali kepada orang yang pernah menghina keluarga saya, biarkan mereka menilai."

Priscilla menggenggam gelasnya lebih kuat.

"Aku sudah bilang aku minta maaf."

"Dan saya sudah bilang saya dengar."

"Kau tidak akan memberiku apa pun?"

"Saya memberimu jawaban yang jujur."

Di depan ruangan, pembawa acara menyebut nama beberapa advokat muda yang baru menonjol tahun itu. Nama Alexander termasuk di antaranya.

Beberapa tepuk tangan terdengar.

Priscilla menoleh ke arah sumber suara, lalu kembali menatap Alexander.

Di matanya, sesuatu bergerak cepat: malu, iri, marah, lalu tertutup lagi oleh senyum.

"Kalau begitu, selamat menikmati malam ini, Advokat Wijaya."

"Terima kasih, Priscilla."

Ia berbalik duluan.

Alexander tidak mengejarnya.

Ia berjalan ke meja KH Adiwangsa, menyapa beberapa rekan profesi dengan sopan, bertukar kartu nama dengan seorang dosen hukum ketenagakerjaan, dan berbicara singkat dengan pengurus asosiasi tentang bantuan hukum bagi pekerja rentan.

Malam itu, ia tidak menjadi pusat panggung.

Ia hanya tidak lagi menjadi orang yang bisa disingkirkan dari ruangan.

Dari sudut dekat jendela, Priscilla memperhatikannya.

Seorang rekannya mendekat. "Jadi? Sudah bicara?"

"Sudah."

"Dia memaafkan?"

Priscilla menyesap air mineral, lalu tersenyum.

"Dia pikir dia menang."

Rekannya tertawa canggung, tidak yakin harus menanggapi.

Priscilla menatap nama Alexander di papan peserta kehormatan.

Senyumnya tetap ada.

Matanya tidak.

"Biarkan saja dulu," katanya pelan. "Orang yang baru naik biasanya lupa melihat tangga di belakangnya."

Di seberang ruangan, Alexander menerima satu kartu nama lagi.

Ia tidak menoleh.

Tetapi dalam saku jasnya, lencana Herman Wijaya terasa dingin.

Seolah mengingatkan bahwa tidak semua pintu lama terbuka untuk pulang.

Sebagian terbuka untuk memperlihatkan siapa yang masih menunggu di baliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!