Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal Dalam Kegelapan
Suara langkah kaki Zidan terdengar melangkah masuk kembali ke dalam kamar setelah mengantar Zahra hingga ke depan pintu rumah. Suasana kamar yang redup dan hening hanya dihiasi deru pendingin udara. Dengan amat hati-hati, Zidan mendekati ranjang, mencoba menarik dan merapikan selimut yang menutupi tubuh Amanda. Di matanya, sang istri hanyalah sosok malang yang rapuh, buta, dan linglung karena amnesia. Namun, tepat saat tangan Zidan menyentuh ujung kain selimut di sampingnya, Amanda perlahan membuka suara.
"Mas... aku boleh tidur sendiri?" ucap Amanda dengan suara lirih yang sengaja ia buat agak bergetar.
Gerakan tangan Zidan seketika terhenti di udara. Ia menatap Amanda yang masih berbaring membelakanginya, menyembunyikan tatapan dingin yang sebenarnya menyala di balik kegelapan.
"Aku rasa aku butuh rasa nyaman karena ingatanku belum sepenuhnya pulih. Aku butuh kesendirian," lanjut Amanda, menyusun kalimatnya dengan begitu tenang namun sarat penegasan yang tak bisa dibantah.
Zidan terdiam sejenak. Ada sedikit keraguan di raut wajahnya, namun ia segera mengartikannya sebagai hal wajar dari seorang penderita trauma otak yang sedang kebingungan. Bagi Zidan, memberi Amanda ruang justru memberinya kebebasan lebih untuk tidak perlu berpura-pura menjadi suami mesra sepanjang malam.
"Oh, baiklah. Aku akan tidur di kamar tamu," jawab Zidan dengan nada suara menenangkan yang dibuat-buat, menepuk pelan bahu Amanda sebelum melangkah keluar dan menutup pintu kamar rapat-rapt.
Begitu terdengar bunyi klik dari gagang pintu dan derap langkah Zidan menjauh menuju kamar tamu, ekspresi di wajah Amanda berubah drastis dalam sekejap. Kelembutan dan rasa takut palsunya meluap, berganti dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menusuk. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menyapu bersih sisa air mata yang sempat menetes.
Malam itu, Amanda tidak tidur sama sekali. Di balik pintu kamar yang terkunci rapi, ia memanfaatkan setiap detik kegelapan untuk merancang pembalasan dendamnya secara mendetail. Tanpa disadari oleh Zidan dan Zahra, kamar utama ini bukan lagi tempat perlindungan seorang wanita buta yang tak berdaya, melainkan markas rahasia tempat Amanda menyusun skenario kehancuran bagi dua orang pengkhianat di hidupnya.
Di dalam kegelapan kamar yang hampa dari jejak Zidan, Amanda menyalakan layar ponselnya. Cahaya biru memantul di wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Dengan jemari yang tangkas dan pasti, langkah pertamanya dimulai dari dunia maya. Amanda membuka aplikasi Instagram, menelusuri setiap unggahan lama yang menyimpan jejak kemesraan palsu bersama Zidan dan kebersamaan manis bersama Zahra. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengubah setelan akunnya menjadi privat, memutus akses publik dan membatasi pergerakan dua pengkhianat itu untuk memantau aktivitasnya secara tersembunyi.
Usai mengamankan privasinya, pikiran Amanda tertuju pada hal yang paling krusial: perpisahan secara hukum. Ia butuh seorang pengacara handal yang bisa dipercaya sepenuhnya tanpa membocorkan rencana ini kepada siapa pun. Sebuah nama tiba-tiba melintas di ingatannya—Arya. Pria itu adalah sosok yang pernah hadir di masa lalunya, seseorang yang pernah sangat dekat dengannya sebelum Zidan datang. Yang Amanda tahu, Arya kini telah tumbuh menjadi seorang pengacara muda yang sukses dan berintegritas tinggi.
"Oke, aku akan mulai mengirim permintaan pertemanan dan mengirim pesan," bisik Amanda lirih pada kegelapan malam. Dengan mantap, jemarinya mengetuk tombol follow pada akun Arya, lalu bersiap mengetikkan sebuah pesan yang akan mengubah arah jalannya permainan ini.
Di tempat lain, di sebuah ruang kerja yang tenang dengan tumpukan berkas hukum, ponsel di atas meja kerja Arya berbunyi pelan. Ting.
Satu notifikasi muncul di layar pintasnya: "Amandaa_ mulai mengikuti Anda."
Mata Arya seketika terbelalak menatap nama yang tertera di layarnya. Jantungnya berdesir hebat. Amanda—wanita yang pernah mengisi relung hatinya, wanita yang sangat ia cintai dan kagumi di masa lalu, namun belum sempat ia ungkapkan perasaannya karena terlanjur direbut oleh pria lain. Arya menarik napas panjang, menatap layar ponselnya dengan sejuta pertanyaan yang menari-nari di kepala, tak menyadari bahwa pintu takdir tengah membawanya kembali ke dalam kehidupan wanita itu.