NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: ChatGPT Jadi Senjata Rahasiaku

Terlahir Kembali: ChatGPT Jadi Senjata Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Elang

Arka Wicaksono, 28 tahun, programmer lulusan bootcamp. Hidupnya habis di depan layar komputer — lembur tanpa akhir, gaji pas-pasan, dan mimpi yang sudah lama mati. Sampai suatu malam, jantungnya berhenti di tengah shift ketiga berturut-turut. Mati. Tamat.

Atau begitulah seharusnya.

Arka membuka mata di kamar kos-nya di Bandung. Tahun 2018. Usia 20 tahun. Mahasiswa ITB semester 5.

Dan di saku celananya — sebuah smartphone dari tahun 2026 dengan satu aplikasi yang tidak seharusnya ada: ChatGPT.

AI yang bisa menulis kode sempurna dalam hitungan detik. Merancang produk yang belum pernah dilihat dunia. Menganalisis pasar dengan ketepatan yang melampaui konsultan manapun.

Dengan ingatan masa depan di kepalanya dan AI tercanggih di tangannya, Arka memulai dari nol: menyelamatkan pabrik ayahnya yang hampir bangkrut, membangun platform teknologi yang mengguncang industri, dan diam-diam menyiapkan strategi yang akan membuat dunia berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Birokrat Penghalang

Mei 2019. ITB Gedung Rektorat.

Arka datang sebagai mahasiswa.

Kaos polos, celana jeans, ransel—tampilan yang sama dengan ratusan mahasiswa lain yang melewati lobi gedung rektorat setiap hari. Tidak ada jejak CEO perusahaan triliunan.

"Permisi, saya ingin bertemu Pak Ir. Gunawan. Ada yang ingin saya tanyakan soal peraturan kampus."

Pak Hartono—sekretaris Gunawan, pria empat puluh tahunan dengan kumis tipis dan sikap yang mengatakan *kamu tidak cukup penting*—melirik Arka dari balik meja.

"Soal apa?"

"SuryaTech. Perusahaan yang kantornya di dekat kampus. Saya dengar ada masalah perizinan, dan sebagai mahasiswa Teknik Informatika, saya tertarik tahu apakah itu berpengaruh ke kegiatan akademis kami."

Alasan yang cukup valid untuk masuk. Pak Hartono mengangkat telepon, bicara sebentar, lalu mengangguk.

"Silakan masuk. Sepuluh menit."

---

Ruang kerja Ir. Gunawan. Lantai dua. AC terlalu dingin—sama seperti setiap ruang pejabat di Indonesia, seolah suhu rendah adalah simbol kekuasaan. Foto Presiden dan Wakil Presiden di dinding. Piagam-piagam penghargaan—kebanyakan untuk "kontribusi terhadap digitalisasi pendidikan tinggi." Ironis, mengingat digitalisasi kampus ITB di bawah pengawasannya dikerjakan oleh perusahaan keluarganya sendiri.

Gunawan duduk di balik meja kayu besar. Enam puluh tahun, rambut hitam yang terlalu hitam untuk usia segitu—semir rambut—, kacamata bingkai emas, setelan batik yang dipesan khusus. Di jari manis: cincin batu akik merah.

"Duduk, duduk." Senyum profesional. "Jadi kamu mahasiswa TI yang ingin tahu soal peraturan kampus?"

"Ya, Pak. Saya dengar ada surat resmi terkait SuryaTech. Sebagai mahasiswa yang menggunakan beberapa produk mereka untuk riset, saya khawatir ini berdampak pada akses kami ke resource teknologi."

Gunawan mengangguk—gerakan yang terlalu empatik, terlalu rehearsed. "Begini ya, nak. Kampus adalah lingkungan akademis. Kita harus menjaga agar kegiatan komersial tidak mengganggu proses belajar mengajar. SuryaTech adalah perusahaan yang bagus—saya yakin—tapi kehadiran mereka di kawasan kampus tanpa izin yang tepat itu..."

"Tapi SuryaTech kan di BSD, Pak. Bukan di dalam kampus."

Jeda satu detik. Arka menangkapnya—gerakan mata Gunawan ke kiri. Tell klasik seseorang yang sedang merekalibrasi narasinya.

"Kawasan sekitar kampus juga termasuk dalam yurisdiksi pengaruh lingkungan akademik." Jawaban yang tidak bermakna apa-apa tapi terdengar resmi. Seni birokrasi.

Arka mengangguk—pura-pura menerima. Lalu melempar umpan.

"Saya paham, Pak. Tapi sebenarnya—ini ide saya pribadi sih—mungkin SuryaTech justru bisa jadi partner ITB? Kalau mereka punya teknologi AI dan keamanan siber yang kuat, kolaborasi riset bisa menguntungkan kampus."

Dan di sana—dalam sepersekian detik—wajah Gunawan berubah. Marah terlalu kasar untuk menyebutnya. Yang muncul adalah ketakutan seseorang yang mendengar bahwa pesaingnya mungkin masuk ke wilayahnya.

"Itu... perlu kajian yang mendalam," kata Gunawan. Suaranya satu nada lebih rendah. "Kita tidak bisa sembarangan membawa entitas komersial ke lingkungan akademik."

Arka tersenyum sopan. "Tentu, Pak. Terima kasih waktunya."

Sepuluh menit. Cukup.

---

SuryaTech BSD. Dua jam kemudian.

BIN dossier sudah tiba—file digital terenkripsi yang dikirim melalui channel khusus. Arka membukanya bersama Kevin di ruang meeting tertutup.

Ir. Gunawan bin Slamet. 58 tahun. Dosen ITB sejak 1989. Jabatan struktural sejak 2005. Wakil Rektor Bidang Administrasi sejak 2016.

Aset yang terdaftar: rumah di Dago Atas (estimasi 4,5 miliar), apartemen di Jakarta Selatan (3,2 miliar), dua mobil (Fortuner dan Pajero Sport).

Tapi bagian yang menarik ada di halaman empat.

PT Indo Digital Solusi. Didirikan 2014. Pemegang saham: Haryanto Gunawan (75%), Siti Dewi (25%—nama lain istri Gunawan). Alamat kantor terdaftar: ruko di Antapani yang, menurut catatan Google Maps, juga merupakan toko ban bekas.

Kontrak-kontrak dengan ITB:

- 2016: "Pengembangan Portal Akademik ITB" — 180 miliar IDR

- 2017: "Digitalisasi Perpustakaan dan Arsip Kampus" — 290 miliar IDR

- 2018: "Sistem Informasi Terpadu ITB" — 350 miliar IDR

- 2019 (sedang berjalan): "Upgrade Infrastruktur Jaringan Kampus" — 380 miliar IDR

Total: 1.200 miliar rupiah. Satu koma dua triliun.

Kevin bersiul. "Portal akademik 180 miliar? Gue bisa bikin yang lebih bagus dengan budget 2 miliar."

"Aku tahu."

"Dan liat ini—" Kevin menunjuk laporan kualitas yang Fajar siapkan "—website perpustakaan yang mereka bangun pakai WordPress. WordPress! Untuk perpustakaan universitas teknik top-3 Indonesia. Dan mereka charge 290 miliar."

Arka membaca halaman terakhir dossier. Track record pribadi Gunawan: dua kali dilaporkan ke komite etik universitas, dua kali tidak terbukti karena "kurang bukti." Pola yang familiar—pelaku yang cukup licin untuk membersihkan jejak, tapi tidak cukup licin untuk menghilangkan aroma busuk sepenuhnya.

"Kevin."

"Ya?"

"Siapkan proposal. SuryaTech-ITB Strategic Technology Partnership. Comprehensive. AI lab, cybersecurity training center, student internship program, dan—yang paling penting—complete campus digital infrastructure overhaul."

"Budget?"

"Lima ratus miliar per tahun. Ongoing partnership."

Kevin menatapnya. "500 miliar... versus 380 miliar Indo Digital. Kita ngasih lebih banyak?"

"Kita ngasih value yang infinitely lebih banyak. Infrastructure mereka: WordPress dan website loading tiga puluh detik. Infrastructure kita: enterprise-grade cloud architecture, AI-powered analytics, dan real-time security monitoring. Apples and rockets, Kevin."

"Dan implikasinya..."

"Implikasinya, kalau Rektor melihat apa yang dia bisa dapatkan dari kita versus apa yang dia selama ini bayar ke Indo Digital—Gunawan kehilangan segalanya."

Kevin tersenyum—senyum yang mengatakan *aku suka rencana ini*.

"Kapan?"

"Kamu masuk ke kantor Rektor besok pagi. Sebagai COO SuryaTech."

---

Sore itu, Gunawan bergerak lebih dulu.

Email internal ITB—yang Fajar sadap melalui portal akademik yang ironisnya dibangun oleh Indo Digital dengan keamanan selemah kertas tisu—berisi memo dari Gunawan ke Biro Kemahasiswaan:

*"Diminta untuk melakukan peninjauan status akademik terhadap mahasiswa-mahasiswa yang diduga memiliki afiliasi tidak wajar dengan entitas komersial di luar kampus. Peninjauan difokuskan pada mahasiswa program Teknik Informatika angkatan 2017-2018 yang menunjukkan pola ketidakhadiran abnormal."*

Tidak menyebut nama Arka. Tidak perlu. Kriteria-nya sudah cukup spesifik untuk menunjuk satu orang.

Arka membaca memo itu. Menghela napas.

Gunawan tidak bodoh. Dia tahu ada ancaman, meskipun belum tahu dari mana. Dan dia menyerang duluan—mengancam satu hal yang bisa menyakiti Arka lebih dari apapun: status mahasiswanya.

Dicabut status mahasiswa berarti identitas publik "Arka Wicaksono, mahasiswa ITB" runtuh. Dan kalau identitas itu runtuh, pertanyaan "lalu dia siapa sebenarnya?" akan meledak lebih keras dari thread Bayu yang sudah viral.

Tapi Gunawan melakukan satu kesalahan: dia mengira lawannya hanya mahasiswa biasa.

Besok Kevin akan masuk ke kantor Rektor. Dan Ir. Gunawan akan belajar bahwa ada jarak yang sangat besar antara birokrat kecil dan perusahaan yang dilindungi BIN.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!