Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.
Satu Hati Dia Rasa
Setelah semua anggota kelompok berpamitan dan pulang duluan, tersisa Dimas, Arga, dan Bima yang berjalan santai menuju gerbang sekolah. Langit sore mulai berwarna jingga, dan suasana koridor sudah mulai sepi dari siswa lain.
Arga menyenggol lengan Dimas dengan siku, wajahnya penuh selidik dan senyum jahil. Bima yang berjalan di sebelah kiri ikut menatap sahabatnya itu sambil menahan tawa.
"Dim, Dim..." panggil Arga pelan. "Boleh tanya sesuatu nggak? Jujur ya, di antara Rara sama Laras, sebenernya lo lebih condong ke siapa sih?"
Bima menimpali sambil mengangkat bahu. "Iya nih. Jujur aja, kita udah temenan lama. Jangan-jangan lo bingung karena dua-duanya sama-sama perhatiin lo terus?"
Dimas seketika berhenti melangkah. Ia menatap kedua sahabatnya itu bergantian, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah tak percaya.
"Kok bisa-bisanya sih kalian? Tiba-tiba nanya hal yang kayak gitu," keluhnya sambil tersenyum tipis, merasa gemas sekaligus heran. "Kalian berdua ini kok kompor banget sih hari ini? Belum apa-apa udah nebak-nebak macam-macam."
Arga tertawa lebar, lalu melingkarkan lengannya di bahu Dimas. "Yaelah, wajar aja dong kita nanya. Emang susah sih jadi cowok ganteng kayak lo, pasti deh mesti direbutin cewek-cewek di sekolah. Lihat aja tadi, mata mereka berdua nggak lepas dari lo."
Wajah Dimas perlahan memerah, ia membuang muka ke arah taman sekolah sejenak. "Ya ampun kalian tuh kenapa sih ngomong begitu? Gue jadi salting kayak begini nih dibilangin kayak gitu," ucapnya sambil memukul pelan bahu Arga.
Bima ikut tertawa pelan, lalu menambahkan dengan nada santai. "Ya nggak kenapa-napa dong. Lagian kan kita udah SMA, ini nggak kenapa-napa juga kalau kita kenal sama cewek, kan? Yang penting tetep jaga sikap dan fokus sekolah dulu."
Dimas menghela napas panjang, lalu kembali melangkah menyusuri jalan setapak. "Gitu dong ngomongnya. Gue cuma mau berteman baik sama siapa saja tanpa membeda-bedakan. Rara rajin dan tegas, Laras juga sebenernya baik, cuma mungkin caranya aja yang masih perlu dibenahi. Buat gue, semuanya cuma teman sekelas dan teman kerja kelompok. Belum kepikiran yang lain-lain."
Arga dan Bima saling berpandangan, lalu mengangguk setuju. "Oke deh, kalau itu maunya lo. Kita cuma iseng tanya aja kok," ucap Arga sambil tersenyum.
Mereka pun bertiga berjalan terus dengan tawa yang pecah, membiarkan angin sore membawa pergi segala keraguan dan pertanyaan yang belum tentu ada jawabannya itu.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat melihat sosok Rara yang ternyata belum pergi, sedang berdiri di halte depan sekolah sambil menunggu jemputan. Ia tanpa sengaja mendengar sebagian percakapan terakhir Dimas. Pipi Rara seketika terasa panas, ia buru-buru memalingkan wajah pura-pura melihat ke arah jalan raya, berharap tidak ada yang menyadari keberadaannya.
Namun Arga yang paling dulu melihatnya. "Eh, itu bukan Rara kan?" bisiknya pelan sambil menunjuk ke arah halte.
Dimas ikut menoleh, lalu tersenyum ramah dan melambaikan tangan. "Hai Rara! Belum pulang?" sapaannya terdengar tulus dan biasa saja, persis seperti sikapnya kepada teman lain.
Rara terpaksa menoleh, menyunggingkan senyum canggung. "Hai... iya, masih nunggu jemputan sebentar," jawabnya pelan, hatinya berdegup kencang karena baru saja mendengar Dimas menyebut namanya dengan baik.
"Lo hati-hati ya nanti," pesan Dimas singkat, lalu melanjutkan langkah bersama kedua sahabatnya.
Setelah menjauh, Arga kembali menyenggol lengan Dimas. "Nah lho, kebetulan banget ketemu. Tadi lo bilang cuma teman, tapi kok senyumnya beda banget sih?" godanya lagi.
Dimas hanya mendengus kesal sambil tertawa. "Lo tuh ya, nggak ada habisnya. Itu namanya sopan santun sama teman. Lagian apa susahnya bersikap baik sama orang lain?"
Bima ikut menimpali sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Benar juga kata Dimas. Sikap kita ke semua orang memang harus sama. Tapi kalau ada yang berubah nanti, jangan lupa kasih tahu kita ya."
Mereka bertiga tertawa lagi, melanjutkan perjalanan pulang dengan hati yang ringan. Sementara Rara yang masih menunggu di halte, perlahan tersenyum lebar. Ia merasa lega sekaligus senang mendengar Dimas menilainya sebagai teman yang rajin dan tegas. Entah kenapa, rasa cemas yang selama ini ia rasakan perlahan hilang, berganti dengan semangat baru untuk menjadi lebih baik lagi di sekolah ini.
Sementara itu, di sisi lain gerbang sekolah, Laras baru saja selesai menelepon sopir pribadinya. Saat ia hendak menaiki mobil mewah yang terparkir rapi, matanya tak sengaja menangkap sosok Rara yang berdiri sendirian di halte. Tak jauh dari sana, punggung Dimas, Arga, dan Bima terlihat perlahan menghilang di tikungan jalan.
Laras mengerutkan kening curiga. Ia sempat melihat Dimas menyapa Rara, dan dari raut wajah mereka sepertinya sempat mengobrol sebentar. Rasa cemburu tiba-tiba menyelinap di hatinya. Ia membayangkan kemungkinan terburuk: apakah Rara sudah lebih dulu mendekati Dimas di belakang punggungnya? Apakah Dimas diam-diam menyukai Rara yang terlihat sederhana itu?
Dengan perasaan gelisah, Laras masuk ke dalam mobil, tapi pikirannya tak tenang sepanjang jalan. Ia semakin yakin harus berusaha lebih keras, tidak boleh membiarkan Rara mendahuluinya.
Sore harinya, saat Rara baru sampai di rumah, ponselnya berdering. Ternyata ada pesan masuk dari nomor tak dikenal di grup kelompok, yang ternyata dikirim oleh Laras.
"Ra, tadi gue lihat kamu ngobrol lama sama Dimas ya di depan gerbang? Kamu sengaja nunggu dia sampai yang lain pergi cuma buat ngobrol berdua kan? Jangan sok baik ya, gue tahu lo juga punya niat sama dia. Lebih baik jangan cari gara-gara, nanti kita sama-sama rugi," tulis Laras dengan nada menyindir dan menuduh tanpa bukti.
Rara tertegun membaca pesan itu, pipinya memerah karena kesal. Ia baru mau membalas, tiba-tiba muncul pesan lain dari Laras "Ingat ya, gue lebih dulu suka sama dia. Jangan harap lo bisa merebut perhatiannya dari gue."
Rara menarik napas panjang berusaha menahan emosi. Ia mengetik balasan dengan tenang namun tegas "Lo salah paham. Gue cuma nunggu jemputan, Dimas dan teman-temannya yang menyapa duluan. Gue tidak punya niat merebut siapa pun. Kita fokus saja selesaikan tugas kelompok dengan baik, urusan perasaan itu hak masing-masing orang, bukan untuk diperdebatkan seperti ini."
Tak lama kemudian, muncul balasan singkat dari Laras: "Bohong. Lo cuma takut ketahuan. Kita lihat saja nanti siapa yang akan jadi pemenangnya."
Rara meletakkan ponselnya dengan berat hati. Ia merasa lelah harus menghadapi kecurigaan yang tak berdasar ini. Namun ia teringat kata-kata Dimas yang tak sengaja ia dengar tadi—bahwa Laras sebenarnya baik, hanya caranya yang perlu dibenahi. Rara berharap suatu saat Laras bisa mengerti, bahwa untuk mendapatkan hati seseorang tidak bisa dengan rasa curiga dan saling menjatuhkan.
Di lain sisi, Laras setelah mengirim pesan itu justru merasa tidak tenang. Ia sadar ucapannya tadi berlebihan, tapi rasa takut tersaingi membuatnya bertindak tanpa pikir panjang. Malam itu, keduanya sama-sama belajar satu hal, persaingan yang tidak sehat hanya akan menyusahkan diri sendiri, dan masih banyak hal penting lain di sekolah ini selain memperebutkan perhatian satu orang.