Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Pemutusan Hubungan Tanpa Sisa
Suasana di lorong VIP Grand Ballroom Palace terasa begitu menekan. Cahaya lampu keemasan memantul di atas lantai marmer yang dingin, menyoroti dua sosok yang berlutut pasrah di hadapan Alya dan Reno. Maya dan Hendra menatap Alya dengan mata sembab, berharap ada secercah keajaiban dari putri kandung yang selama ini selalu menuruti kemauan mereka.
"Alya..." bisik Maya dengan suara serak, mencoba menggapai ujung gaun malam merah marun milik Alya dengan jemarinya yang gemetar. "Kamu anak kandung Ibu, Nak... Kamu tidak boleh tega melihat orang tuamu hidup menderita. Katakan pada Reno untuk merestui hubungan kalian lagi, nikah kembali secara megah di ibu kota ini! Kita bisa hidup bahagia bersama sebagai keluarga penguasa Naga Hitam!"
Alya menarik kakinya ke belakang secara halus, menolak sentuhan jemari ibunya. Ditatapnya wajah Maya dan Hendra bergantian. Rasa sakit, kekecewaan, dan trauma akibat penindasan bertahun-tahun seolah membumbung tinggi, namun kini diimbangi oleh rasa kedewasaan yang utuh.
Alya mengembuskan napas panjang. Tatapan matanya yang jernih memancarkan keberanian yang luar biasa.
"Nikah kembali secara megah?" Alya tersenyum tipis—sebuah senyuman getir yang sarat akan kepedihan mendalam. "Ibu masih saja memikirkan pesta, kemewahan, dan status sosial? Bahkan di saat Ibu berlutut di sini, yang ada di dalam kepala Ibu hanyalah bagaimana caranya memanfaatkan kekuasaan Reno demi memuaskan keserakahan Ibu sendiri."
"Alya, kami ini orang tuamu!" potong Hendra seraya menengadah, mencoba menggunakan kewibawaan seorang ayah yang sebenarnya sudah lama sirna. "Tanpa kami, kamu tidak akan pernah lahir ke dunia ini! Apakah kamu tega membiarkan Ayah dan Ibu menjadi gelandangan setelah semua yang kami berikan padamu?!"
"Apa yang Ayah dan Ibu berikan padaku?" tanya Alya dengan suara yang bergetar namun terdengar sangat tegas di sepanjang lorong. "Sejak kecil, aku diatur bagaikan barang dagangan. Saat aku menikah dengan Reno, Ibu dan Ayah menghina pria yang tulus mencintaiku hanya karena dia tidak membawa harta. Saat Keluarga Pratama datang membawa uang, Ibu memaksa aku bercerai dan melempar surat cerai itu tepat ke wajah Reno!"
Alya mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, air mata bening menetes menyusuri pipinya yang mulus. "Kemarin di pesta kota asal kita, saat Randy Surya mempermalukanku dan menyebutku wanita murah, di mana perlindungan dari Ayah? Ayah dan Ibu justru berdiri di samping Randy, menjilat dan menyalahkanku demi mendapatkan selembar cek!"
Kata-kata Alya bagaikan dentuman meriam yang menghantam kesadaran Maya dan Hendra. Kedua orang tua itu mematung, tak sanggup menyanggah satu kalimat pun karena tahu seluruh tuduhan itu adalah kebenaran yang telanjang.
Alya menyapu sisa air matanya dengan gerakan anggun. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, lalu menatap orang tuanya dengan ketetapan hati yang tak dapat diganggu gugat.
"Mulai detik ini," suara Alya terdengar jernih, bergema penuh kepastian, "aku resmi memutus seluruh ikatan finansial dan pemanfaatan nama atas diriku oleh Ibu dan Ayah. Aku tidak akan lagi menjadi alat pemuas keserakahan kalian."
Maya melotot lebar, panik luar biasa. "Alya! Kamu tidak bisa melakukan ini! Kamu anak durhaka!"
"Aku tidak durhaka, Ibu," jawab Alya pelan namun tajam. "Sebagai seorang anak, aku akan tetap mengirimkan biaya hidup bulanan secukupnya—cukup untuk makan sederhana dan menyewa rumah kecil yang layak di kota asal kita. Tapi tidak ada lagi barang mewah, tidak ada lagi perhiasan mahal, dan tidak ada lagi uang untuk menutupi utang gaya hidup kalian!"
Alya melangkah mundur satu pukulan, berdiri sejajar di samping Reno. Tangannya secara alami menyertakan genggaman hangat jemari Reno, menunjukkan secara mutlak di mana posisi hatinya berlabuh.
"Jika kalian ingin hidup berkecukupan, hiduplah dengan jujur dan bekerja keras sesuai kemampuan kalian sendiri," pungkasan Alya. "Jangan pernah lagi menjual namaku atau memohon-mohon pada Reno demi fasilitas Naga Hitam."
Maya dan Hendra terkulai lemas di atas lantai marmer. Ratapan keputusasaan keluar dari tenggorokan Maya, namun kali ini tidak ada satu orang pun yang merasa iba padanya. Rasa serakah dan kejam yang mereka tanam selama tiga tahun kini membuahkan hasil penyesalan yang harus mereka telan seumur hidup. Mereka telah membuang menantu terkaya dan terkuat di dunia, sekaligus kehilangan penghormatan dari putri kandung mereka sendiri.
Reno menatap Alya dari samping. Di matanya, pendar rasa bangga memancar begitu kuat. Alya yang berdiri di sisinya saat ini bukanlah lagi wanita penakut yang mudah goyah oleh manipulasi emosional orang tuanya. Alya telah benar-benar tumbuh menjadi wanita yang mandiri, berani, dan bermartabat.
Reno kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Bagas yang berdiri tegap di belakang mereka.
"Bagas," perintah Reno dengan suara rendah yang dingin namun berwibawa.
"Petunjuk, Tuan Muda?" jawab Bagas seraya membungkuk hormat.
"Atur pengawalan. Bawa Nyonya Maya dan Tuan Hendra kembali ke kota asal mereka malam ini juga," kata Reno tegas. "Sediakan rumah sewa sederhana untuk mereka dan pastikan dana tunjangan bulanan dari Alya disalurkan melalui sistem pengawasan ketat, agar tidak bisa disalahgunakan untuk melunasi utang judi atau gaya hidup mewah."
"Baik, Tuan Muda. Pelaksanaan segera dijalankan," tegas Bagas.
Bagas memberi isyarat pelan pada dua pengawal bertubuh tinggi besar. Tanpa kekerasan berlebih, kedua pengawal itu memegang lengan Maya dan Hendra secara tegas, membimbing mereka berdua berdiri dan menuntun mereka melangkah keluar dari gedung.
"Alya! Reno! Maafkan kami! Jangan buang kami!" jerit Maya hysteria seraya menoleh ke belakang dengan derai air mata penyesalan. Namun, bayangan mereka perlahan-lahan menghilang di belokan lorong utama, menutup babak konflik toksik keluarga itu untuk selamanya.
Keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti lorong VIP. Suara riuh acara di aula utama telah mereda seiring selesainya penanganan oleh pihak otoritas penegak hukum.
Reno memutar tubuhnya, menghadap Alya sepenuhnya. Ditatapnya sepasang mata Alya yang masih sedikit basah oleh sisa air mata. Dengan gerakan yang sangat lembut, jemari tegap Reno mengusap pipi Alya, menyapu jejak air mata itu hingga bersih.
"Kamu melakukan hal yang benar, Alya," bisik Reno dengan nada suara yang begitu hangat dan sarat akan ketulusan. "Memberikan batasan tegas adalah satu-satunya cara agar mereka belajar memahami arti tanggung jawab."
Alya menyandarkan pipinya pada telapak tangan Reno yang hangat, mengulas senyum manis yang memikat. Rasa beban berat yang selama bertahun-tahun mengimpit dadanya mendadak menguap tanpa sisa, digantikan oleh kebebasan batin yang begitu murni.
"Terima kasih, Reno," jawab Alya pelan namun penuh kepastian. "Selama ini aku selalu ragu-ragu karena takut dianggap anak tidak berbakti. Tapi bersamamu, aku belajar bahwa ketulusan dan harga diri jauh lebih berharga daripada kepatuhan buta pada keserakahan."
Reno tersenyum tipis, merangkulkan lengan tegapnya ke pundak Alya, menarik wanita itu dengan lembut ke dalam dekapannya. Alya menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno, menghirup aroma maskulin yang menenangkan, merasakan detak jantung Reno yang teratur dan stabil.
Bagas kembali melangkah mendekat setelah memastikan Maya dan Hendra telah diamankan ke dalam kendaraan menuju kota asal. Tangan kanan Reno itu membungkuk sopan.
"Tuan Muda, seluruh proses penyitaan aset Klan Cendana di ibu kota telah berjalan lancar," laporan Bagas teratur. "Selain itu, Dewan Direksi Konsorsium Naga Hitam Pusat telah merancang acara penobatan resmi pimpinan tertinggi yang sempat tertunda selama masa penyamaran Anda."
Reno mengangkat alisnya sedikit. "Kapan penobatan itu dijadwalkan?"
Bagas mengulas senyum bangga. "Lusa malam, Tuan Muda. Bertempat di Istana Naga Hitam ibu kota. Seluruh pimpinan klan global, duta besar, dan mitra bisnis terbaik Konsorsium dari lima benua telah mengonfirmasi kehadiran mereka."
Reno menatap Alya yang berada di dalam dekapannya, lalu mengangguk mantap. "Siapkan segalanya dengan sempurna, Bagas. Kali ini, aku tidak akan melangkah ke panggung itu sendirian."