BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 Lei ting yang misterius
Melihat pertempuran nya perlahan di dominasi yefan, Yulin Zou akhirnya menyadari kenyataan pahit: dirinya sedang dijadikan batu asah oleh Yefan.
Kesadaran tersebut semakin memicu amarah dan niat membunuhnya. Namun, segalanya sudah terlambat. Ia yang semula berada di atas angin kini justru digebuk habis-habisan, tak ubahnya samsak hidup di hadapan Yefan.
BOOM!
Sebuah hantaman telak Yefan menghantam dada Yulin Zou, membuat tubuhnya terdorong mundur berkali-kali.
Sebelum sempat memulihkan pijakannya, satu tendangan keras Yefan mendarat tepat di wajahnya, menghempaskan tubuh Yulin Zou hingga melayang sejauh sepuluh meter.
“Uhuk! Uhuk!”
Yulin Zou berusaha bangkit sembari terbatuk-batuk. Darah segar dimuntahkannya bersama beberapa gigi yang copot akibat hantaman kaki yang begitu keras.
Ini... mengapa bisa seperti ini?! Tidak! Seharusnya tak begini!
Yulin Zou menatap tubuhnya yang babak belur dengan tatapan tak percaya.
Dikalahkan oleh teknik beladiri keluarganya sendiri yang baru saja ditiru musuh membuat jiwanya meraung histeris. Ia yang tadinya berdiri bak seorang penguasa kini direndahkan tak ubahnya seekor semut di hadapan Yefan.
Yulin Zou tak sanggup menerima kenyataan ini!
“Tidak mungkin! Kau harus mati! Rakyat jelata sepertimu tak layak memiliki kejeniusan semacam ini!” raung Yulin Zou sembari menerjang gila ke arah Yefan.
Sorot mata Yefan berkilat dingin, dipenuhi aura membunuh yang menusuk saat melihat musuhnya masih saja dikuasai hasrat untuk mencabut nyawanya.
“Jika begitu, lebih baik aku kirim kau ke neraka!” teriak Yefan dingin.
WUSSS!
Yefan melesat menyamping, menyelinap dari jangkauan tebasan Yulin Zou.
BOOM!
Tanduk hitam di tangan Yefan meluncur deras, membelah diri menjadi tiga bayangan mematikan yang langsung menyasar kepala Yulin Zou.
Kecepatan serangan Yefan telah melampaui tingkat penguasaan Pedang Bayangan milik Yulin Zou sendiri, membuatnya sama sekali tak memiliki celah untuk menghindar.
Untuk pertama kalinya, Yulin Zou merasakan ketakutan luar biasa.
Pemuda yang baru saja meniru teknik miliknya itu ternyata jauh lebih lihai dibandingkan dirinya yang telah berlatih keras selama tiga tahun!
Yulin Zou hendak berteriak memohon ampun.
Namun, belum sempat sepatah kata pun keluar dari tenggorokannya—
CRASH!
Tanduk hitam Yefan menghantam kepalanya hingga meledak bagaikan semangka yang dihancurkan.
Akan tetapi, pertempuran belum sepenuhnya usai.
SYUT!
Yefan melontarkan tanduk hitamnya sekuat tenaga ke udara.
Senjata itu melesat deras, meninggalkan bayangan sisa yang saling mengejar, lalu meluncur lurus ke arah Lei Ting yang tengah bertarung melawan Xifeng dan Fanyun.
Melihat serangan Yefan yang sarat akan niat membunuh, bibir tipis Lei Ting justru menyunggingkan senyum samar.
BOOM!
Dengan menggunakan sebuah teknik asing yang amat aneh, Lei Ting menghantam dada Xifeng dan Fanyun hingga keduanya terpental sejauh dua puluh meter!
Tepat setelah itu, tubuhnya bergeser secara tak masuk akal, menghindari lontaran tanduk hitam Yefan dengan sangat mudah.
Anehnya, alih-alih murka atau mencoba membalas dendam atas kematian majikannya, Lei Ting tanpa ragu memutar tubuh dan melesat pergi menggunakan teknik pelarian yang sangat cepat.
Sebelum menghilang di balik pepohonan, ia sempat menoleh ke arah Yefan sembari melemparkan senyum meremehkan—seolah-olah seluruh kekacauan ini berada di bawah kendalinya.
Yefan tak mencoba mengejar.
Ia sadar betul bahwa dirinya tak memiliki kemampuan untuk mengimbangi kecepatan teknik pelarian Lei Ting. Lagi pula, sekalipun ia sanggup mengejarnya bersama Xifeng, Fanyun, dan Yunlan, belum tentu mereka mampu membunuh pria itu.
Yefan menduga kuat bahwa Lei Ting masih menyimpan kartu truf yang belum di gunakan.
Pria itu rupanya selama ini sengaja menyembunyikan kekuatan aslinya.
Yefan memang sudah menaruh curiga sejak awal, tetapi ia tak menyangka bahwa Lei Ting bukan hanya cerdas, melainkan juga menyimpan kemampuan beladiri yang berada di luar prediksinya.
Tanpa membuang waktu, Yefan segera berlari menghampiri Xifeng dan Fanyun yang tergeletak sembari memuntahkan darah akibat pukulan Lei Ting.
“Sialan... ternyata si berengsek Lei Ting itu menyembunyikan kemampuan sebenarnya,” umpat Fanyun sembari meludahkan seteguk darah kental.
Sementara itu, melihat tewasnya Yulin Zou dan pengkhianatan Lei Ting yang melenggang pergi, sisa pelayan Yulin Zou ketakutan setengah mati saat menatap Yefan.
Mereka berulang kali membenturkan dahi ke tanah, melontarkan permohonan ampun secara histeris.
Namun, Yefan sama sekali tak tersentuh oleh ratapan musuh yang sebelumnya berniat membunuhnya.
Di balik wajahnya yang tenang, Yefan telah menyimpulkan sesuatu.
Kematian Yulin Zou di tangannya tak lepas dari konspirasi Lei Ting dan dalang di belakangnya. Besar kemungkinan, faksi-faksi internal di Keluarga Yujin tengah bersaing memperebutkan kekuasaan secara diam-diam.
Dan telah menyadari, kemungkinan besar diri nya telah dimanfaatkan Lei Ting sebagai “pisau eksekusi” sekaligus tumbal dalam rencana mereka.
Tentu saja, semua ini baru sebatas dugaan.
Memikirkan hal itu, Yefan mendengus dingin.
Ia menatap sisa pelayan Yulin Zou dengan kilatan cahaya aneh di matanya.
“Baiklah, aku akan mengampuni nyawa kalian,” ujar Yefan datar.
Mendengar hal itu, ketiga pelayan tersebut kembali bersujud berkali-kali, melontarkan rasa terima kasih.
“Tapi...” lanjut Yefan tanpa ekspresi. “Bisakah kalian berjanji untuk tidak membocorkan bahwa akulah yang membunuh Yulin Zou?”
“Bisa! Kami berjanji! Kami pasti bisa melakukannya!” sahut mereka serentak.
Bagi mereka, melarikan diri sejauh mungkin adalah satu-satunya pilihan.
Jika sampai tertangkap oleh patriak Keluarga Yujin, mereka dipastikan akan dieksekusi mati karena gagal melindungi sang Tuan Muda.
“Hmm, sebagai tanda terima kasih karena kalian bersedia menjaga rahasia ini, cakar besi gorila ini boleh kalian ambil,” ujar Yefan seraya menunjuk bangkai monster tersebut.
Mendengar tawaran itu, ketiganya saling pandang.
Mereka sangat membutuhkan modal dari cakar besi tersebut untuk biaya melarikan diri ke wilayah yang jauh.
Tanpa menyadari bahwa Yefan sedang menyusun skenario yang amat berbahaya, mereka menerima cakar gorila itu tanpa ragu.
“Satu hal lagi,” tambah Yefan dingin sembari menatap mereka tajam.
“Sebarkan berita secara diam-diam bahwa kematian Yulin Zou adalah ulah Lei Ting.”
“Ba... baik! Kami pasti melakukannya!” seru mereka ketakutan di bawah tatapan menusuk Yefan.
Yefan tahu mereka tak membohonginya.
Sebab, saat nama Lei Ting disebut, ia menangkap kilatan dendam dan niat membunuh di mata ketiga pelayan tersebut akibat pengkhianatan yang baru saja mereka alami.
“Sekarang, pergi.”
Tanpa membuang sedetik pun, ketiganya melesat sekencang mungkin meninggalkan lokasi itu, takut Yefan berubah pikiran.
“Ayo, kita juga harus segera meninggalkan tempat ini,” tegas Yefan kepada rekan-rekannya.
Xifeng, Fanyun, dan Yunlan sebenarnya hendak mempertanyakan keputusan Yefan yang melepaskan musuh serta memberikan cakar besi gorila yang mereka dapatkan dengan pertaruhan nyawa.
Namun, Yefan tak memberi mereka kesempatan untuk bersuara.
Melihat situasi yang tidak menentu, ketiga rekannya terpaksa menahan diri dan mengekor di belakang Yefan dengan seribu tanda tanya serta keterkejutan atas tindakan anehnya.
Yefan bukannya enggan menjelaskan.
Namun, area ini sama sekali tidak aman. Gemuruh pertempuran mereka sebelumnya pasti telah menarik perhatian pihak lain.
Setelah beberapa hari berlari tanpa henti hingga jarak mereka sudah terlampau jauh dari lokasi kejadian, Yefan akhirnya bisa sedikit bernapas lega.
Meski ia tak gentar menghadapi ancaman Keluarga Yujin atas kematian Yulin Zou, Yefan tahu diri bahwa secara kekuatan murni, ia tak akan sanggup berbuat apa-apa jika sampai berhadapan dengan para pakar dari keluarga besar tersebut.
“Yefan, mengapa kamu justru membebaskan mereka?” tanya Fanyun akhirnya membuka suara.
“Bukankah itu sama saja membiarkan serigala kembali ke gunung? Mengapa kita tidak membunuh mereka sekalian, lalu mengejar Lei Ting? Walau dia hebat, mustahil dia sanggup menahan gempuran kita berempat. Setelah itu, jejak kita akan bersih!”
Yunlan dan Xifeng mengangguk pelan, menyetujui pemikiran Fanyun.
“Kami memang tidak takut pada Keluarga Yujin, tapi bukan berarti kita bisa membiarkan musuh melenggang pergi begitu saja lalu kembali membawa pasukan yang lebih besar. Bukankah itu sama saja seperti menunggu kematian dalam diam?” tambah Xifeng.
“Dan cakar besi gorila itu... apa alasanmu menyerahkannya begitu saja kepada mereka?”
Yefan membuka mulut, hendak menjelaskan skenario besarnya.
Namun, sebelum satu kalimat pun terucap, Yunlan mendadak menyela sembari melemparkan isyarat mata penuh makna kepada Xifeng dan Fanyun.
“Sudah, cukup!” potong Yunlan tegas.
“Karena segalanya sudah terjadi, fokus utama kita sekarang adalah mendapatkan Teratai Hitam Tujuh Daun secepat mungkin sebelum para keluarga yujin mengetahui kematian pewaris mereka!”
Melihat isyarat tegas Yunlan, Fanyun dan Xifeng seolah mengerti sesuatu dan memilih membisu.
Mereka pun bergegas melanjutkan perjalanan menuju lokasi tempat tersembunyinya Teratai Hitam Tujuh Daun.
Yefan mengikuti di belakang dengan senyum tipis, sedikit tak berdaya melihat sikap protektif rekan-rekannya.
Sementara itu, di lokasi tewasnya Yulin Zou—yang kini mulai dikerumuni para pemuda dari berbagai faksi penjelajah—tampak seorang pria paruh baya sedang berlutut sembari menggendong jasad Yulin Zou yang telah kehilangan kepala.
Hawa membunuh yang amat pekat terpancar dari tubuh pria tersebut, memancarkan aura yang begitu dahsyat hingga menghancurkan pepohonan di sekitarnya hingga hancur berantakan.
Para penonton yang menyaksikan dari kejauhan lari berhamburan ketakutan, khawatir dijadikan pelampiasan murka.
Pria itu adalah Yan Feng, paman Yulin Zou—seorang kultivator.
“Cari tahu siapa yang memegang cakar besi gorila itu dan tangkap dia hidup-hidup! Aku akan mengulitinya sendiri demi membalas kematian keponakanku!” raung Yan Feng dengan mata memerah.
Tatapannya kemudian tertuju penuh kebencian pada bangkai gorila yang kedua lengannya telah terpotong.
Berdasarkan hasil pengamatan sementaranya, Yan Feng menyimpulkan bahwa para pelayan Yulin Zou telah bersekongkol dengan faksi internal klan yang mengincar posisi pewaris, lalu membantai Yulin Zou di tengah kekacauan saat mereka menghadapi Gorila Bercakar Besi.
“Baik, Tuan!” terdengar sahutan dingin dari balik bayangan.
Detik berikutnya, tubuh Yan Feng melesat ke udara dan terbang meninggalkan lokasi dengan kecepatan tinggi.
Ia sama sekali tak menyadari bahwa dirinya telah melangkah tepat ke dalam jebakan skenario gila yang dirancang oleh Yefan.
(Bersambung)
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏