Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
2 bulan berlalu...
Mau sakit atau tidak kewajiban Akila adalah melayani William.
Memang semakin waktu terus berjalan William tak lagi sekasar yang pertama. Namun yang Akila rasakan semuanya mati. Apa yang ia lakukan adalah kewajiban tidak ada kenikmatan sama sekali.
Begitulah Akila menjalani hidupnya.
Ia bahkan terkurung dalam Markas besar milik William, ia juga selalu menyaksikan saat William membunuh banyak orang di hadapannya. Ibaratnya mental Akila sudah rusak total.
"Makanlah yang banyak, aku tak suka dengan perempuan yang kurus. Wajah tirusmu membuatku..."
"Aku berharap aku mati saja. Kau harusnya sangat bahagia kalau aku mati. Bukankah ini tujuanmu?" Tanya Akila menoleh pada William yang kini duduk menatapnya.
William menarik rambut Akila, tidak kasar lalu ia menghirup wanginya.
"Dua bulan terakhir ini aku mulai sadar, alih-alih kau mati cepat lebih baik kau jadi boneka ranjangku sampai aku muak." Ucap William.
Akila menepis tangan William.
"Apa kau ingin aku bunuh diri saja?" Tanya Akila.
William terkehek mendengar ucapan Akila.
"Aku tahu kau sangat dekat dengan Sari, kau bahkan sering berinteraksi dengannya. Coba saja bunuh diri maka aku akan membuat Sari mati sebelum kau. Dan sangat jelas bahwa Sari mati karena kau mencoba bunuh diri. Kau akan bertanggung jawab atas kematian Sari." Ucap William membuat air mata Akila jatuh.
Dengan cepat William mengusapnya lembut.
"Jangan menangis. Kau hanya boleh menangis saat aku memintamu menangis." Ucap William.
Akila menepis tangan William lagi.
"Kau akan menyesal, percayalah. Kau adalah pria terbodoh yang pernah aku temui! Tidak seharusnya kau percaya pada semua bukti bahwa aku yang membuat kecelakaan itu terjadi! Asal kau tahu... aku," Akila menggigit bibirnya, ia tak bisa melanjutkan ucapannya mengenai status dirinya.
Apa yang terjadi pada sahabat terbaiknya jika Akila mengungkapkan jati dirinya? Setidaknya mengatakan banyak hal tentang statusnya pada orang asing jelas akan membuat Ben bertindak hal jahat pada Monica.
"Lanjutkan ucapannya Akila." Ucap William tampak tak suka.
Akila malah membuang tatapannya.
"Aku lelah." Ucap Akila singkat.
Perempuan itu akan pergi tapi William malah menahan tangan Akila.
"Masuk ke kamar." Ucap William.
Akila tahu saat pria itu mulai melepaskan kancing kemeja miliknya. Jika diteruskan seperti ini maka Akila yakin bahwa ia tak akan pernah menemukan yang namanya kebahagiaan.
Sangat lelah hidup jadi Akila. Sungguh.
---
Malam itu
Sari berjalan dengan pelan lalu mendekati Akila yang duduk diam di ruang makan.
"Nona Akila." Panggil Sari membuat Akila terkejut.
"Sari, apa yang kau lakukan? Kenapa kau masuk ke daerah ruang makan?" Tanya Akila cemas.
Sari tersenyum ia memberikan sebuah kunci pada Akila.
"Nona harus pergi dari Markas ini, setidaknya Nona harus keluar dari kota ini. Pergi yang jauh dari Tuan William, saya selalu mencoba percaya bahwa Nona bukanlah pembunuh. Tuan William hanya melampiaskan kebenciannya terhadap anda atas kepergian Nyonya Natalie. Saya harap Nona menemukan kebahagiaan. Saya rela mati untuk anda, tolong..."
Akila menggeleng dengan cepat.
"Tidak! Aku tidak mau membuat orang lain mati karena aku. Lebih baik aku yang mati." Ucap Akila membuat Sari terperangah kaget.
Sari sudah menduga kalau Akila adalah sosok yang baik.
"Nona rapat akan berakhir dan semua orang akan tertidur karena meminum wine yang saya sediakan termasuk Tuan William. Tolong Nona pergilah, saya akan menanggung derita Nona. Saya rela jadi pelampiasan kebencian Tuan William, sudah terlalu lama bagi Nona menerima siksaan batin dan fisik dari Tuan William. Pergilah Nona dan temukan kebahagiaan Nona." Pinta Sari.
Akila tetap menggeleng, ia tiba-tiba menggenggam tangan Sari.
"Ikutlah denganku Sari. Jika kau memang ingin aku pergi maka ikutlah denganku, temani aku pergi agar kau dan aku terbebas dari tempat ini. Aku akan lebih merasa lega jika kau bersamaku." Ucap Akila.
Sari ragu tapi ucapan Akila ada benarnya. Itu bahkan menjadi hal baik bagi keduanya.
"Tapi Nona..."
"Jika kau tak mau ikut maka lupakan saja rencanamu. Aku akan tetap menerima siksaan William sampai aku mati." Ucap Akila.
Sari menggeleng dengan cepat.
"Mari Nona, kita pergi saja." Ajak Sari dengan keputusan miliknya itu.
---
Malam itu Akila dan Sari benar-benar pergi dari kota X.
"Nona, saya berbekal uang yang tersimpan dalam saldo ATM saya." Ucap Sari.
Akila menatap wajah Sari, wanita berumur itu tampak baik dan tulus pada Akila.
"Kenapa membantuku sampai sejauh ini Sari?" Tanya Akila.
Sari tersenyum.
"Aku pernah kehilangan Anak perempuan di masa lalu. Menatap Nona mengingat saya padanya, mungkin dia akan secantik Nona." Jawab Sari seadanya.
Sepertinya Sari tak berniat melanjutkan ucapannya.
Tangan Akila menggenggam tangan Sari.
"Aku berjanji akan melindungimu Sari. Aku juga akan mengganti uangmu. Aku bersumpah untuk itu." Ucap Akila yakin.
Sari mengangguk, ia tersenyum tulus pada Akila.
Mereka berakhir ke tujuan akhir yaitu halte bus. Tujuan keduanya adalah kota Y.
'Terima kasih Tuhan, ini adalah kebebasan yang benar-benar aku impikan. Aku melepas semua beban dan masa laluku di kota X. Selamat tinggal kota X.' ucap Akila membatin.
Akila memejamkan matanya, tangannya menggenggam pergelangan tangannya yang satu. Ingatan seluruh kejahatan William padanya berputar begitu saja.
"Aku berharap dia tak akan pernah menemukanku lagi. Aku tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak aku perbuat, rasanya ini sudah cukup." Gumam Akila sangat kecil.
Akila memejamkan matanya, ia berusaha untuk kuat tapi air mata itu selalu saja mengalir belakangan ini.
Hati Akila mudah rapuh, biasanya ia kuat tapi hari-hari ini perasaannya selalu saja mudah terusik.
'Aku harap sahabatku akan baik-baik saja diluar sana, semoga Ben tidak melukainya.' ucap Akila membatin.
Sari menatap wajah Akila, perempuan itu memang pada dasarnya cantik bahkan Sari mengakui hal itu. Akila punya kecantikan diatas rata-rata.
Mereka berdua sungguh meninggalkan kota X.
---
Bersambung
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .