Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13- DMAM
Aisyah yang berada di bawah kungkungan Dimas tidak lagi mampu membedakan realita. Kesadaran rasionalnya telah terkikis habis oleh zat kimia yang meracuni sistem sarafnya.
Yang dirasakannya hanyalah gelombang panas luar biasa yang membuanya sangat bergairah, dan keberadaan Dimas di atasnya terasa seperti satu-satunya tumpuan dingin di tengah lautan api yang membakar tubuhnya.
"Ahhh..."
Aisyah merintih halus, gerakan leher dan tubuhnya kian memburu, seolah secara tidak sadar menuntut Dimas agar merespons dan membalas gerakannya.
"Aisyah, jangan seperti ini..." bisik Dimas dengan suara yang serak.
Dimas berusaha keras menegakkan lengannya, dan berniat memutus kontak fisik itu dan menarik diri. Namun, dorongan naluri alami seorang pria dewasa yang dihadapkan pada wanita yang sangat dicintainya dalam jarak sedekat ini membuat seluruh pertahanan mental Dimas goyah hebat.
Selama bertahun-tahun ia mengejar Aisyah, mendambakan kasih sayangnya, dan kini Aisyah berada tepat di dalam pelukannya dan merangkul lehernya dengan begitu erat.
Pikiran Dimas berubah menjadi medan perang yang sangat hebat. Di satu sisi, nuraninya berteriak bahwa Aisyah tidak dalam keadaan sadar penuh dan memanfaatkan kondisi ini adalah tindakan yang sama jahatnya dengan Jaka.
Namun di sisi lain, sentuhan hangat jemari Aisyah di tengkuknya dan hembusan napas yang melilit otaknya membuat pertahanan rasional Dimas runtuh berkeping-keping.
"Maafkan aku, Aisyah..." bisik Dimas lirih dalam desakan napasnya yang tak lagi terkontrol.
Dimas kemudian memejamkan matanya rapat-rapat, dan menyerah pada pergolakan batin yang membakarnya. Ia membiarkan wujud pertahanannya runtuh sepenuhnya. Dan...
Cup.
Dimas menundukkan wajahnya dan menyatukan bibirnya di atas bibir Aisyah.
Sensasi sentuhan itu menyengat seluruh saraf di tubuh Dimas. Ciuman yang bermula dari keputusasaan dan dorongan impulsif itu perlahan berubah menjadi luapan emosi yang terendam selama bertahun-tahun, rasa cinta, kepemilikan, ketakutan akan kehilangan, dan hasrat yang membara.
Dimas memperdalam ciumannya dan semakin terbawa emosi dan melumat bibir Aisyah yang ranum itu.
Aisyah yang menerima sentuhan itu merespons dengan rintihan halus dari celah bibirnya. "Ahh.. emmh..."
Efek zat kimia di dalam darahnya membuat sentuhan fisik itu terasa bagai siraman air segar di tengah dahaga, dan mendorongnya untuk makin merapatkan pelukannya pada leher Dimas.
Dimas pun makin tenggelam dalam pusaran rasa yang menguasai akal sehatnya. Tangannya yang semula bertumpu kuat di atas kasur perlahan bergeser, hingga jemarinya menyelusup ke sisi kepala Aisyah, dan menggenggam lembut helai kain jilbabnya untuk memperdalam ciuman tersebut.
Detik demi detik berlalu di dalam kamar yang temaram itu. Suara embusan napas yang berat dan serak memenuhi setiap sudut ruangan.
Dimas merasa seolah-olah dunia di luar kamar ini telah menguap, tidak ada lagi rasa sakit pada fisiknya yang memar dan berdarah yang ada hanya fokusnya pada Aisyah yang berada di dalam dekapannya.
Namun, di tengah gelombang hasrat yang hampir menelan seluruh kesadarannya, mata Dimas tak sengaja terbuka sedikit.
Melalui remang cahaya lampu kamar, Dimas melihat setetes air mata bening meluncur dari sudut mata Aisyah yang terpejam rapat.
Wajah Aisyah tampak kesakitan, alisnya bertaut rapat, dan rintihan yang keluar dari mulutnya bukanlah rintihan kenikmatan, melainkan rintihan penderitaan dari seorang wanita yang tubuhnya sedang dikuasai secara paksa oleh zat racun jahat.
Setetes air mata Aisyah itu bagaikan sebongkah es batu raksasa yang dihantamkan tepat ke muka Dimas.
BUMM!
Jantung Dimas terhentak hebat. Sanubarinya yang paling dalam tersengat oleh rasa bersalah yang sangat besar.
"Apa yang sedang gue lakukan?!" batin Dimas yang lalu teringat tawa licik Jaka, teringat wajah ibunya yang dingin, dan teringat raut wajah Aisyah yang selalu menatapnya dengan penuh kehormatan dan kesucian selama ini.
"Gue sama aja kayak si Jaka kalau gue terusin ini! Gue bukan menyelamatkan Aisyah, gue cuma memanfaatkan penderitaan dia!"
Suara batin itu bergaung nyaring bagai cambuk yang memukul kesadaran Dimas. Rasa cinta murni yang terkubur di balik sifat egois dan manjanya selama ini meledak keluar dan mengalahkan dorongan hasrat biologisnya.
Dengan napas terengah-engah dan seluruh daya upaya yang tersisa, Dimas menarik kepalanya mundur secara mendadak.
"Hah... hah... hah..."
Dimas memutus ciuman itu secara paksa. Ia kemudian menarik dadanya menjauh, dan melepaskan cengkraman tangan Aisyah dari lehernya meski Aisyah sempat mengerang protes akibat dorongan obat yang masih membakar tubuhnya.
"Gak... Gak boleh! Aku gak boleh ngerusak kamu, Aisyah!" jerit Dimas pada dirinya sendiri.
Dimas terduduk di tepi kasur dengan napas yang memburu hebat. Seluruh tubuhnya bergetar, keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya.
Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan yang gemetar, lalu menatap jemarinya sendiri dengan rasa jijik atas apa yang hampir saja ia lakukan beberapa detik yang lalu.
Sementara itu, Aisyah yang berada di atas kasur kembali bergerak dengan gelisah, rintihannya terdengar semakin pilu karena suhu tubuhnya yang tidak kunjung turun.
"Panas... Mas... tolong..." gumam Aisyah terputus-putus.
Dimas menoleh dan menatap Aisyah dengan rasa penyesalan. Kemudian ia berpikir, jika membiarkan Aisyah dalam kondisi terkunci oleh reaksi obat perangsang tanpa penanganan medis, itu hanya akan menyiksa fisik dan mental gadis itu.
"Tahan, Aisyah. Aku mohon tahan..." kata Dimas.
Dimas lalu berdiri dari kasur dengan kaki yang masih agak lemas. Ia berlari cepat menuju kamar mandi di bagian belakang rumah, dan mengambil sebuah baskom plastik kecil, lalu mengisinya dengan air dingin dari kran, dan menyambar sebuah handuk kecil yang bersih.
Dengan memikul baskom berisi air dingin, Dimas kembali berlari ke dalam kamar.
Ia meletakkan baskom tersebut di atas meja kecil di samping kasur, kemudian memeras handuk basah itu hingga tidak terlalu menetes, lalu dengan tangan yang berusaha sebisa mungkin bersikap sopan dan tidak berniat melanggar norma, ia menempelkan handuk dingin itu ke dahi dan leher Aisyah secara perlahan.
"Dingin..." bisik Aisyah pelan saat kain basah itu menyentuh kulit lehernya. Beberapa saat kemudian, tubuhnya yang tegang pun sedikit merileks.
"Iya, ini air dingin. Kamu harus bertahan, Aisyah," tutur Dimas sambil mengusap pelipis Aisyah dengan handuk dingin secara berulang kali. "Maafkan aku... Maafkan aku yang tadi hampir kekhilafan. Aku janji gak akan sentuh kamu lagi selain buat nolongin kamu."
Dimas terus membasahi handuk dan mengompres dahi, leher, serta kedua telapak tangan Aisyah untuk menurunkan suhu tubuhnya yang abnormal.
Setiap kali Aisyah mulai mengerang gelisah atau bergerak melampaui batas, Dimas menahan tangan Aisyah lembut dan mengalihkan perhatiannya dengan mengompres bagian kulit yang terbuka.
Di tengah kesadarannya yang sangat tipis dan sayu, Aisyah merasakan sensasi dingin mengalir perlahan mengikis lautan api di dalam dadanya. Ia membuka matanya sedikit dan menatap bayangan Dimas yang duduk berlutut di samping kasurnya.
Dalam pandangannya yang masih kabur, Aisyah tidak melihat lagi sosok Dimas yang biasa bersikap angkuh, kaya raya, dan menyebalkan.
Yang ada di depannya saat ini adalah seorang pria dengan kemeja robek, lengan berdarah, pipi memar, dan mata yang meneteskan air mata tulus sambil sibuk memeras kain basah demi kenyataannya.
"M-mas... Dimas..." panggil Aisyah sangat pelan.
Dimas langsung menghentikan gerakannya dan menunduk menatap Aisyah. "Iya, Aisyah? Aku di sini. Kamu aman. Si Jaka udah kabur, gak akan ada yang bisa celakain kamu lagi."
"Terima... kasih..." bisik Aisyah.
Akhirnya rasa lelah luar biasa dan reaksi obat yang mulai mereda akibat kompres air dingin membuat kelopak mata Aisyah tertutup rapat. Aisyah pun tertidur lelap dalam kondisi pingsan yang stabil.
Bersambung...