Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Jatuh Gaya Bebas dan Goa Rahasia yang Agak... Bau?
"WAAAAAA—MAMA! SAYA BELUM MENIKAH! SAYA BELUM KAYA! SAYA JUGA BELUM MINTA MAAF SAMA SI BELANG KARENA SERING NGASIH MAKANAN MEREK MURAHAN—WAAAAAA!"
Suara teriakan Raditya menggema membelah kabut tebal di Tebing Kabut Ratapan. Tubuhnya berputar-putar di udara seperti baling-baling bambu yang rusak. Angin kencang menghantam wajahnya, membuat pipinya bergetar konyol. Namun, entah karena keajaiban fiksi atau sisa energi 'Soto Aether' yang masih mengalir di darahnya, tangan kanannya masih memegang erat gagang panci aluminium dengan kain robekan kaus oblong.
Ding!
[Pemberitahuan Kondisi]: Anda sedang mengalami fenomena jatuh bebas. Kecepatan terminal Anda saat ini adalah 120 km/jam. Tubuh Anda akan menghantam dasar jurang dalam waktu 15 detik jika tidak ada intervensi.
"SISTEM! JANGAN CUMA JADI KOMENTATOR DI DALAM KEPALAKU! KASIH SOLUSI! BELI PARASUT DI TOKO! APA SAJA!" teriak Raditya panik, matanya berair karena terpaan angin.
Ding!
[Analisis Toko Survival v2.0]:
Item: Parasut Militer Bumi Standar – Harga: 500 Poin.
Kondisi Keuangan Anda: 10 Poin.
[Saran Sistem]: Uang Anda tidak cukup. Namun, Anda memiliki 10% peluang selamat jika menggunakan panci aluminium Anda sebagai helm darurat untuk melindungi tengkorak Anda saat benturan.
"PANCI INI TIDAK MUAT DI KEPALAKU, NYEMOT!" maki Raditya.
Lima detik sebelum benturan maut, kabut putih di bawahnya mendadak menipis. Raditya bisa melihat dasar jurang. Namun, alih-alih tanah berbatu yang keras, di bawah sana terdapat hamparan kanopi pohon raksasa yang daunnya berbentuk seperti bantal busa raksasa berwarna merah muda.
SREEEET! BRAK! DUBRAK! BOING!
Tubuh Raditya menghantam dedaunan merah muda tersebut. Daun-daun itu ternyata sangat elastis, bertindak seperti jaring pengaman alami. Tubuhnya membal ke atas berkali-kali, menembus ranting-ranting kecil, sebelum akhirnya...
PLOP!
Raditya jatuh telentang di atas tumpukan sesuatu yang sangat empuk, sangat hangat, tetapi memiliki aroma yang... luar biasa dahsyat. Bau busuk, kecut, dan aroma belerang berpadu menjadi satu, langsung menusuk hidungnya tanpa ampun.
"Uhuk! Uhuk! Bau apa ini?! Apa aku jatuh di TPA?" Raditya terbatuk-batuk, memegangi hidungnya dengan tangan yang bebas.
Dia membuka matanya yang berkaca-kaca karena bau tersebut. Dia melihat sekeliling. Tempat itu agak gelap, berupa sebuah goa batu yang sangat luas dengan pendaran kristal ungu redup di langit-langitnya. Dan di bawah tubuhnya... bukan tanah, melainkan tumpukan kotoran kering berwarna hijau lumut yang tingginya mencapai dua meter.
Ding!
[Pemberitahuan]: Selamat! Anda berhasil mendarat dengan selamat berkat kombinasi vegetasi 'Bouncing Leaf' dan tumpukan kotoran purba. Tingkat Kelangsungan Hidup Anda naik dari 5% menjadi 5,1%.
Lokasi Saat Ini: Goa Tidur Ogre Lumut (Sarang Domestik).
Status Lingkungan: Sangat Bau, Higienitas 0%.
Raditya langsung melompat berdiri dari tumpukan kotoran itu dengan wajah pucat dan ekspresi jijik yang mendalam. "J-jadi... aku jatuh langsung ke dalam toiletnya Ogre yang tadi ngejar aku?!"
[Jawaban]: Tepat sekali. Lebih spesifiknya, ini adalah goa tempat Ogre tersebut menimbun sisa makanan dan kotorannya selama beberapa dekade. Kabar baiknya: kotoran ini meredam efek jatuh Anda. Kabar buruknya: Anda sekarang berbau seperti limbah pabrik kimia.
Raditya buru-buru memeriksa dirinya. Bajunya penuh noda hijau berbau busuk. Namun, keajaiban dunia komedi kembali terjadi: panci aluminium di tangannya masih utuh, dan di dalamnya masih tersisa sekitar dua sendok makan kuah soto yang mengental.
"Setidaknya sotonya tidak tumpah semua," gumam Raditya, mencoba menghibur diri di tengah tragedi higienitas ini.
Tiba-tiba, jauh di dalam kegelapan goa tersebut, terdengar sebuah suara dengkur yang sangat keras. GROOOOK... GROOOOK... Suara itu begitu berat hingga membuat beberapa kerikil kecil jatuh dari langit-langit goa.
Raditya membeku. Bulu kuduknya merinding sempurna. Sambil berjinjit di atas tumpukan kotoran, dia mengintip ke arah sudut goa yang lebih dalam.
Di sana, di atas ranjang yang terbuat dari tumpukan tulang belulang hewan purba, sedang tertidur seekor Ogre Lumut lain. Namun, ukuran yang satu ini jauh lebih besar daripada Ogre yang mengejarnya di atas tebing tadi. Jika Ogre di atas tebing setinggi tiga meter, yang satu ini mungkin mencapai lima meter dengan perut buncit yang bergerak naik turun laksana bukit kecil. Di lehernya, melingkar sebuah kalung yang terbuat dari tengkorak monster bertaring.
Ding!
[Pindai Target Otomatis]:
Nama Makhluk: Induk Ogre Lumut (Tingkat Bahaya: 95% - Bos Regional Amatir).
Kondisi: Tidur Nyenyak (Akibat kekenyangan setelah memakan satu kawanan Boarwolf).
Catatan Sistem: Detak jantung Anda yang panik berpotensi membangunkan makhluk ini dalam waktu 2 menit. Disarankan untuk menahan napas atau segera mencari jalan keluar alternatif.
"Bos Regional?! Kenapa aku selalu spawn di tempat yang salah!" batin Raditya histeris.
Dia melihat sekeliling goa dengan panik mencari jalan keluar. Sayangnya, satu-satunya jalan keluar yang terlihat adalah lubang besar di atas tebing tempat dia jatuh tadi—yang jelas mustahil untuk dipanjat kembali tanpa peralatan.
Namun, mata tajam Raditya (efek dari sisa ramuan soto) menangkap sesuatu yang berkilau di dekat ranjang tulang milik Induk Ogre tersebut. Di sana, tergeletak sebuah peti kayu tua yang sudah lapuk, setengah tertimbun tanah. Di atas peti itu, ada sebuah benda berbentuk bulat berwarna merah menyala dengan teks hologram kecil melayang di atasnya.
Ding!
[Deteksi Harta Karun Tersembunyi]:
Objek: Buah Cabai Aether Kuno (Ancient Fire Chili).
Nilai Sistem: 200 Poin Survival jika berhasil dijual ke Toko Sistem.
Efek jika Dikonsumsi: Memberikan efek 'Napas Naga' selama 10 detik, diikuti dengan sensasi terbakar di area sensitif belakang selama 24 jam.
Mata Raditya langsung berubah menjadi bentuk lambang dolar—atau lebih tepatnya, lambang Poin Survival. "Dua ratus poin?! Itu bisa buat beli makanan normal dan baju ganti di Toko!"
Rasa serakah dan insting bertahan hidup Raditya mendadak mengalahkan rasa takutnya. Dengan langkah seringan kapas, dia turun dari tumpukan kotoran hijau, berjalan mengitari tubuh raksasa Induk Ogre yang sedang mendengkur, menuju ke arah peti kayu tersebut.
Setiap kali Induk Ogre itu bergerak sedikit dalam tidurnya, Raditya langsung mematung dengan gaya "Mannequin Challenge", menahan napas sampai wajahnya memerah.
Setelah satu menit yang menegangkan, Raditya akhirnya sampai di depan peti kayu. Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, perlahan-lahan mengambil Cabai Aether Kuno yang berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa itu. Begitu jarinya menyentuh kulit cabai yang hangat, suara Sistem kembali berdentang di kepalanya.
Ding!
[Pencapaian Terbuka: Pencuri di Sarang Bos]
Selamat! Anda mendapatkan Gelar Absurd Ketiga Anda: [Gelar: Maling Sachet]
Efek Gelar: Kecepatan tangan saat mengambil barang berharga milik monster meningkat 20%. Namun, tingkat keberuntungan Anda akan berkurang 5% selama 1 jam berikutnya (Efek karma instan).
"Maling sachet... bener-bener gak ada keren-kerennya ini sistem," batin Raditya dongkol.
Namun, kegembiraannya runtuh seketika saat dia membaca bagian 'keberuntungan berkurang 5%'.
Tepat pada detik itu, dari arah lorong masuk goa yang lain, terdengar suara langkah kaki berat. DUG... DUG... DUG... Ogre Lumut berukuran tiga meter yang mengejarnya di atas tebing tadi berjalan masuk ke dalam goa dengan wajah cemberut karena gagal makan soto.
Dan tebak apa? Ogre itu langsung berjalan ke arah peti tempat Raditya berdiri, berniat untuk memeriksa tabungan buah cabainya.
Mata Ogre muda itu bertemu langsung dengan mata Raditya yang sedang memegang cabai merah besarnya.
Suasana goa mendadak menjadi hening sesaat, hanya menyisakan suara dengkur sang Induk.
"Gwah...?" Ogre muda itu mengerjapkan matanya, bingung melihat manusia bau kotoran sedang memegang hartanya.
Raditya tersenyum kaku, keringat dingin mengalir deras di antara noda kotoran di wajahnya. "Hai... bro. Mau soto?" ujarnya pelan sambil mengangkat panci aluminiumnya yang tinggal sisa dua sendok dengan tangan satunya.