Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26:
Hendra, Devan, dan anggota gengnya yang lain terus menunggu di dalam kegelapan gang. Waktu terus berjalan, membuat sebagian dari mereka mulai tidak sabar.
"Van, percuma kalau kita cuma nungguin dia hari ini. Mending kita nikmati malam ini sama pacarmu itu di hotel, haha!" celetuk Hendra sambil tertawa cabul.
"Sialan kamu! Tunggu saja sebentar lagi," balas Devan ketus.
Benar saja, tidak lama kemudian terdengar suara raungan mesin sepeda motor mendekat. Mereka melihat dari kejauhan, seorang anak punk sedang membonceng Arga.
"Woi, Dra! Tuh orangnya!" ujar salah satu teman mereka menunjuk ke arah jalan.
Devan mengernyit bingung. Kenapa bisa Arga pulang bersama anak punk? Apalagi dari gerak-geriknya, mereka berdua kelihatan sangat akrab.
"Ngelayapnya lama juga tuh anak. Langsung kejar saja! Mumpung jalanan lagi sepi!" perintah Devan.
Mereka langsung melancarkan aksi. Tanpa ragu, pengemudi mobil mewah itu langsung menginjak gas dan melesat maju untuk menghadang laju motor Arga.
Di sisi lain, Arga dan anak punk bernama Reza itu mendadak merasa seperti ada yang sedang mengawasi mereka sejak tadi.
"Perasaanku kok gak enak begini ya, Ga? Kamu ngerasain hal yang sama gak?" tanya Reza, mulai waswas.
Raut wajah Arga tampak cemas. Ia tidak tahu secara pasti apa yang akan terjadi, tetapi instingnya mengatakan ada sesuatu yang berbahaya di depan mereka. "Iya, Bang. Hati-hati saja."
Ciiiittt!
Sebuah mobil mewah mendadak bermanuver tajam dan berhenti tepat di depan motor mereka, menutup seluruh akses jalan. Beberapa orang bertubuh tegap dengan pakaian hitam dan masker penutup wajah langsung turun dari mobil sambil memegang pentungan besi.
Arga dan Reza terpaksa mengerem mendadak. Mereka terkejut sekaligus bingung melihat hadangan tersebut.
"Siapa kalian?! Mau apa nyegat kami?!" teriak Reza emosi.
Arga menepuk pundak Reza dengan tenang, berusaha meredam kepanikan temannya itu. "Santai, Bang. Kalau mereka begal beneran, gak mungkin pakai mobil mewah begini."
"Iya juga, ya. Terus siapa nih? Cari gara-gara banget nih orang-orang gila," gerutu Reza.
Hendra langsung memberikan kode kepada Devan dan anggota geng lainnya untuk bergerak maju menyerang. Mereka bahkan sudah menyiapkan selembar kain yang telah dibasahi dengan obat tidur untuk membekap target.
Arga dan Reza yang belum siap dengan serangan mendadak itu langsung dikerubungi.
Arga berusaha menarik Reza mundur menjauh. "Lari, Bang! Gak mungkin menang kita kalau dikeroyok begini!"
Namun, pergerakan Reza kalah cepat. Ia langsung ditarik, dihajar, dan dipukuli oleh beberapa orang sekaligus hingga tersungkur di aspal.
Melihat teman barunya digebuki tanpa ampun, mata Arga langsung menatap marah. "Bangsat banget! Kenapa masalah selalu datang sih?! Aku cuma ingin hidup damai!" umpatnya frustrasi.
Salah satu pelaku melayangkan tongkat besinya dengan keras ke arah kepala Arga. Untung saja refleks Arga cukup cepat sehingga ia berhasil menghindar ke samping.
Sadar situasi tidak menguntungkan dan mereka kalah jumlah, Arga langsung mengambil tindakan pragmatis. Sambil berlari menjauh, ia berteriak sekencang mungkin dengan suara melengking.
"TOLOOONG! MALING! ADA MALING DI SINI!!!"
Mendengar teriakan lantang Arga yang memecah kesunyian malam, Devan dan Hendra yang dasarnya pemula langsung panik setengah mati.
"Waduh! Gimana nih, Van?"
"Kabur, kabur! Berabe kalau kita sampai ketangkap warga!" seru Devan panik.
Geng itu langsung tunggang-langgang kembali ke dalam mobil.
Karena terlalu panik dan terburu-buru, salah satu dari mereka bahkan tidak sadar kalau ponselnya terjatuh di atas aspal. Mereka langsung tancap gas dan pergi dari lokasi kejadian.