Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pak Wira langsung mengembuskan napas kasar.
"Ammar." Nada suaranya berubah semakin rendah. "Jangan membuat Papa malu."
"Ammar bukan membuat Papa malu."
"Lalu?"
"Ammar hanya tidak ingin menyakiti hati Salsa."
Pak Wira mendekat satu langkah. Tatapannya tampak semakin tajam.
"Semua tamu sedang melihatmu. Apa kamu ingin mereka berpikir bahwa kamu tidak menerima Aisyah sebagai istrimu?"
Ammar terdiam.
"Papa..."
"Tidak ada lagi alasan." Pak Wira menekan setiap katanya. "Lakukan permintaan papa sekarang." Ammar tetap diam. Dadanya terasa sesak. Tidak, Ia benar-benar tidak sanggup. Melihat putranya masih membisu, suara Pak Wira terdengar semakin keras meski tetap dijaga agar tidak menarik perhatian tamu.
"Jangan buat keributan di hari pernikahanmu. Lakukan apa yang Papa minta."
Kalimat itu seperti sebuah perintah yang tak memberi ruang untuk menolak. Ammar menutup matanya. Rahangnya mengeras. Saat itulah ia merasakan sebuah sentuhan lembut di pundaknya yang membuatnya menoleh.
Salsa.
Perempuan itu berdiri di sampingnya. Matanya merah namun bibirnya tetap berusaha tersenyum.
"Mas..." Suara Salsa nyaris seperti bisikan. "Lakukan saja."
Ammar langsung menggeleng.
"Tidak."
Salsa mengangguk kecil.
"Lakukan mas. Mas tidak perlu memikirkan aku." Air matanya kembali menggenang. "Ini bagian dari prosesi akad. Aku akan baik-baik saja."
Kalimat terakhir itu justru semakin menghancurkan hati Ammar karena ia tahu, Salsa sedang berbohong. Ia mengenal istrinya jauh lebih baik daripada siapa pun. Tidak mungkin perempuan yang sangat mencintainya itu benar-benar baik-baik saja melihat suaminya melakukan semua ini. Namun, Salsa tetap tersenyum meski senyum itu nyaris jatuh bersama air matanya.
"Mas... Tolong. Jangan buat semuanya menjadi lebih sulit."
Ammar memejamkan kedua matanya. Beberapa saat kemudian perlahan ia membuka kembali matanya. Tatapannya kosong seolah baru saja menyerahkan seluruh kehendaknya kepada keadaan. Ia berbalik menghadap Aisyah. Perempuan itu masih berdiri dengan kepala tertunduk sementara tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya terdengar tidak teratur.
Ammar menarik napas panjang, dengan gerakan yang sangat hati-hati, Ia mendekat.
Begitu dekat hingga Aisyah dapat merasakan embusan napas suaminya dan membuat jantung Aisyah berdetak begitu cepat.
"Ya Allah, aku mohon tolong kuatkan hati kak Salsa. Jangan biarkan Kakak semakin terluka karena aku." Ucap Aisyah di dalam hatinya.
Pelan pelan Ammar menundukkan wajahnya lalu mengecup lembut kening Aisyah yang tertutup hijab. Hanya sesaat, begitu singkat.
Tidak ada kemesraan, tidak ada sentuhan yang berlama-lama, hanya sebuah kecupan ringan sebagai bagian dari prosesi yang diminta keluarganya. Namun bagi Salsa, hal itu terasa begitu panjang. Perlahan ia menundukkan wajahnya sementara air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Dadanya sesak dan perih.
Ia tahu, yang dicium Ammar adalah adiknya sendiri bukan perempuan asing. Namun tetap saja, yang dicium adalah perempuan lain dan laki-laki itu adalah suami yang sangat ia cintai. Salsa menggigit bibirnya kuat-kuat agar isaknya tidak terdengar. Sementara itu di balik cadarnya, Aisyah juga menangis. Saat kecupan itu mendarat di keningnya, yang pertama kali terlintas di dalam benaknya bukan dirinya sendiri, melainkan Salsa.
"Ya Allah..." batinnya lirih. "Tolong kuatkan hati Kak Salsa. Jangan biarkan Kakak semakin hancur karena aku. Aku mohon. Kalau ada luka hari ini, Biarlah aku yang menanggungnya. Aku rela... Asal Kak Salsa tetap kuat."
Kecupan itu pun akhirnya berakhir dan membuat Ammar segera mundur satu langkah. Ia sama sekali tidak berani melihat wajah Salsa. Tangannya kembali mengepal di balik jas yang dikenakannya sementara para tamu justru tersenyum bahagia.
"Masya Allah, Serasi sekali."
"Cocok sekali mereka."
"Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah."
"Aamiin..."
"Semoga cepat diberi momongan."
"Iya, semoga tahun depan sudah ada bayi kecil di keluarga Adhitama."
Ucapan demi ucapan terus terdengar. Doa demi doa terus dipanjatkan. Namun, setiap ucapan tentang "momongan" terasa seperti anak panah yang menghujam dada tiga orang sekaligus. Ammar perlahan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Ia tetap berdiri dengan kepala tegak, tetapi jauh di dalam hatinya, setiap doa yang dipanjatkan orang-orang itu justru mengingatkannya pada alasan paling menyakitkan mengapa pernikahan ini harus terjadi.
Waktu terus berjalan.
Suara musik gambus yang mengalun pelan memenuhi halaman rumah Pak Umar. Lampu-lampu gantung yang dipasang sejak pagi membuat suasana pesta terlihat hangat di mata para tamu. Di setiap sudut halaman, terdengar suara tawa, obrolan, dan ucapan selamat. Para tamu silih berganti memenuhi meja hidangan. Aroma sate, gulai, sop, dan berbagai makanan khas Nusantara memenuhi udara malam. Bagi semua orang hari itu adalah hari bahagia, hari pernikahan, gari penyatuan dua keluarga. Namun tidak bagi tiga orang yang duduk di tempat berbeda.
Aisyah masih duduk di kursi pelaminan. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak begitu indah. Cadar putih berhias polos menutupi sebagian wajahnya, sementara rangkaian bunga melati menjuntai lembut dari sisi hijabnya. Ia tampak seperti pengantin yang sangat bahagia. Padahal, tak ada seorang pun yang tahu bahwa sejak tadi kedua tangannya terus saling menggenggam di balik kain gaunnya agar tubuhnya tidak terlihat gemetar. Senyum tipis terus ia pertahankan, senyum yang terasa begitu melelahkan.
"Selamat ya, Nak. Semoga jadi keluarga sakinah dan cepat diberi momongan. Aamiin..."
Aisyah hanya menganggukkan kepala berkali-kali.
"Terima kasih, Iya, Bu. Mohon doanya."
Jawaban itu terus berulang, Namun ada satu hal yang mulai disadari para tamu.
"Mempelai prianya ke mana ya?"
"Iya ya... Kok pengantin wanitanya sendirian?"
Beberapa tamu mulai saling berpandangan karena sejak akad selesai, Ammar hampir tidak pernah berada di pelaminan. Di sudut halaman yang lain, Ammar justru sedang duduk bersama Salsa. Salsa masih mengenakan kebaya berwarna dusty pink yang sejak pagi ia pakai. Wajahnya masih terlihat pucat yang membuat Ammar sesekali menyodorkan segelas air.
"Minum dulu."
Salsa menggeleng pelan.
"Aku nggak haus, mas."
"Kalau nggak haus, minum sedikit saja."
Salsa akhirnya menerima gelas itu. Ammar memperhatikannya hingga Salsa benar-benar meminum air tersebut. Setelah itu baru ia sedikit merasa lega.
"Kamu capek?"
Salsa mengangguk kecil.
"Sedikit."
Ammar mengusap pelan punggung tangan istrinya.
"Kalau capek bilang."
Salsa menatap suaminya. Tatapan itu dipenuhi rasa bersalah.
"Harusnya Mas ada di pelaminan." Ammar hanya diam. "Kasihan Aisyah, dia sendirian menerima ucapan selamat dari para tamu."
Ammar masih tidak menjawab. Tatapannya justru mengarah ke pelaminan. Dilihatnya Aisyah sedang menerima ucapan selamat seorang diri. Namun, kakinya tetap tidak bergerak. Bukan karena membenci Aisyah, melainkan karena setiap kali ia melihat perempuan itu, Yang muncul di kepalanya justru bayangan Salsa yang menangis memintanya menikah lagi dan membuat hatinya terlalu lelah.