NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Pergi dari Desa

Sinar matahari siang itu terasa membakar kulit, seolah ikut menambah beban di pundak Bumi. Dengan langkah kaki yang gontai dan terseok-seok, ia menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah jalan besar, batas akhir dari wilayah Desa Sukamaju. Di tangannya, ia mencengkeram sebuah tas karung goni kecil. Beruntung, tas karung itu tersimpan di kandang ayam belakang rumahnya, sehingga selamat dari kobaran api yang menghanguskan gubuknya semalam. Isinya tidak banyak, hanya satu stel baju ganti yang sudah pudar dan sebotol air minum.

Dari kejauhan, beberapa warga desa berdiri di depan halaman rumah mereka. Mereka melipat tangan di dada, menatap Bumi dengan pandangan sinis, penuh kejengkelan dan cemoohan. Bumi memilih menunduk, tidak ingin membalas tatapan-tatapan tajam yang menghakimi tersebut.

"Bumi... Bumi, Le... Tunggu bentar, Le," sebuah suara bisikan yang serak dan gemetar tiba-tiba memanggilnya dari balik semak-semak pohon pisang di pinggir jalan.

Bumi menghentikan langkahnya, menoleh ke sekeliling dengan waspada. "Siapa ya?"

Dari balik rimbunnya pohon pisang, muncullah seorang wanita tua dengan kebaya loak yang sudah penuh tambalan. Itu Mak Sumi, seorang janda tua miskin yang rumahnya hanya berjarak beberapa puluh meter dari bekas gubuk Bumi. Mak Sumi berjalan tergesa-gesa sambil sesekali menengok ke belakang, takut kalau ada kaki tangan Doni yang melihatnya.

"Astaga, Mak Sumi? Kenapa Mak ada di sini? Bahaya Mak, kalau si Joni atau warga lain lihat Mak bicara sama saya, nanti Mak bisa kena masalah," kata Bumi setengah berbisik, raut wajahnya dipenuhi rasa khawatir.

Mak Sumi segera menggenggam tangan Bumi yang kasar dan penuh memar. Mata tua janda itu tampak berkaca-kaca, menatap sedih ke arah luka-luka di wajah pemuda itu.

"Mak gak peduli sama mereka, Bum. Mak tahu kamu anak baik. Mak gak percaya secuil pun kalau kamu yang maling di rumah Kepala Desa. Itu semua pasti akal-akalan mereka yang syirik sama kamu," ucap Mak Sumi dengan suara bergetar menahan tangis.

"Terima kasih banyak, Mak. Mendengar Mak percaya sama saya aja, itu sudah bikin hati saya tenang banget," balas Bumi sambil tersenyum tipis, mencoba menguatkan diri.

Mak Sumi buru-buru merogoh sesuatu dari dalam kemben kebayanya. Sebuah sapu tangan kain kusam yang diikat erat dengan karet gelang dikeluarkan dengan hati-hati. Ia membuka ikatan itu, memperlihatkan beberapa lembar uang kertas pecahan sepuluh ribu dan lima ribu rupiah yang sudah sangat lecek.

"Nih, Bum. Kamu bawa ini ya buat bekal kamu di jalan besar nanti. Mak cuma punya ini, tabungan Mak dari hasil jualan daun pisang selama beberapa bulan ini," kata Mak Sumi sambil memaksa memasukkan bungkusan uang itu ke dalam genggaman tangan Bumi.

Bumi terkejut, ia langsung menarik tangannya kembali dan menggelengkan kepala dengan cepat. "Loh, jangan, Mak! Enggak, saya gak bisa terima uang ini. Ini kan uang tabungan Mak buat makan sehari-hari. Hidup Mak sendiri aja sudah susah, saya gak mau makin ngebebanin Mak Sumi."

"Ambil, Bum! Jangan ditolak. Mak ikhlas lahir batin ngasih ini buat kamu," desak Mak Sumi, matanya mulai meneteskan air mata.

"Tapi, Mak... uang ini berharga banget buat Mak Sumi. Saya masih muda, masih punya tangan sama kaki buat nyari kerjaan lain di luar sana nanti. Mak lebih butuh uang ini di desa," tolak Bumi lagi dengan halus, mencoba mengembalikan sapu tangan itu.

"Bumi, dengerin Mak, Le," Mak Sumi memegang kedua pundak Bumi dengan erat, menatap mata pemuda itu dengan tatapan seorang ibu. "Dulu, waktu ibumu masih hidup, dia itu teman baik Mak. Waktu Mak kelaparan karena suami Mak baru meninggal, ibumu yang selalu diam-diam antar nasi sama lauk ke rumah Mak, padahal kehidupan kalian sendiri juga pas-pasan. Mak gak pernah lupa kebaikan ibumu, Bum. Sekarang, anak ibumu lagi kesusahan dan diusir secara zalim begini, masa Mak cuma diam aja? Tolong, terima uang ini sebagai bentuk bakti Mak sama almarhumah ibumu."

Mendengar nama ibunya disebut, runtuhlah pertahanan Bumi. Air matanya kembali mengalir melewati pipinya yang lebam. Ia melihat ketulusan yang luar biasa di mata keriput Mak Sumi. Di tengah kepungan warga desa yang membencinya tanpa alasan, ternyata masih ada malaikat tua yang peduli kepadanya.

"Mak..." Bumi terisak pelan, lalu perlahan menerima bungkusan uang tersebut. "Terima kasih banyak, Mak. Saya... saya gak tahu harus ngomong apa lagi. Kebaikan Mak Sumi ini bakal saya ingat seumur hidup saya."

"Iya, Bum. Simpan baik-baik uangnya di dalam karungmu. Jangan sampai kelihatan orang lain di jalan nanti," pesan Mak Sumi sambil menyeka air mata Bumi dengan ujung kebayanya. "Kamu harus kuat ya, Le. Pergilah ke kota atau ke mana pun kaki melangkah yang jauh dari desa ini. Mulai hidup baru di sana. Orang jujur dan tekun kayak kamu pasti bakal dilindungi sama Gusti Allah."

"Iya, Mak. Saya janji saya bakal jaga diri baik-baik. Saya gak akan lupain nasihat Mak," jawab Bumi sambil mengangguk mantap.

"Ya sudah, buruan jalan lagi sana sebelum si Joni lewat sini. Mak mau balik lewat jalan belakang biar gak curiga orang-orang," kata Mak Sumi sambil menepuk-nepuk lengan Bumi.

"Baik, Mak. Saya pamit ya. Assalamu’alaikum, Mak Sumi." Bumi membungkuk dalam, mencium punggung tangan janda tua itu dengan penuh rasa hormat.

"Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan, Bumi..." bisik Mak Sumi sebelum akhirnya melangkah mundur dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan pisang.

Bumi menarik napas dalam-dalam, mengencangkan ikatan tas karung goninya di pundak, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya yang berat. Langkah demi langkah ia ayunkan menuju gerbang perbatasan luar Desa Sukamaju. Sinar matahari terasa makin menyengat, membuat baju lusuhnya yang koyak makin basah oleh keringat baru yang bercampur debu jalanan.

Di dekat pos ronda perbatasan, tampak Doni, Joni, dan beberapa pemuda pro-Kepala Desa sudah berdiri menunggu dengan angkuh. Mereka memperhatikan gerak-gerik Bumi dengan senyuman puas yang menghina.

"Wah, akhirnya si sampah desa pergi juga!" teriak Joni dengan lantang saat Bumi berjalan melewati pos ronda.

"Ingat ya, Bum! Jangan pernah lu berani-berani nunjukkin muka dekil lu lagi di Desa Sukamaju ini! Kalau lu balik lagi, gua gak bakal segan-segan bikin lu masuk rumah sakit!" ancam Doni sambil meludah ke tanah, tepat di depan kaki Bumi.

Bumi tidak berhenti, tidak juga menoleh. Ia terus berjalan lurus ke depan, melewati tugu perbatasan desa yang terbuat dari semen. Tatapan matanya lurus menatap aspal jalan raya besar yang membentang luas di hadapannya. Telinganya ditutup rapat dari segala tawa ejekan dan sorakan kemenangan dari arah pos ronda di belakangnya.

Kini, kaki Bumi sudah resmi memijak jalan raya besar di luar wilayah administrasi Desa Sukamaju. Ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, menatap papan nama desa yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya. Desa tempat ia dilahirkan, tempat orang tuanya dimakamkan, dan tempat ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya sebagai kuli serabutan, kini telah menutup pintu rapat-rapat untuknya karena sebuah fitnah kejam.

Dengan baju compang-camping, tubuh yang dipenuhi rasa sakit akibat pukulan warga, dan hanya berbekal tas karung goni serta uang tabungan pas-pasan pemberian Mak Sumi, Bumi melangkah menyusuri tepian jalan besar. Ia tidak tahu bus atau kendaraan apa yang akan lewat, dan ia juga belum tahu kota mana yang akan menjadi tujuannya. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, sifat sabar dan ketekunan yang selama ini ia miliki tidak pernah padam. Bumi terus berjalan ke depan, siap menghadapi segala takdir baru yang menantinya di dunia luar yang asing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!