Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb3
Dan disinilah Ryn berdiri. Di dalam lift berkaca transparan bersama asisten Jun yang menatap lurus ke depan. Memegangi kotak makan dengan hati-hati setelah tahu itu milik siapa.
"Apa ini sengaja?" Tanya Ryn tiba-tiba penasaran. Pasalnya Jun maupun Sian tahu hari ini Ryn mulai training di Le Dinning.
"Tidak, setiap hari tuan Lee memang memesan makan siang di sana. Biasanya kepala koki langsung yang memasak." Jelas Jun panjang lebar. Sian juga pasti terkejut jika tahu Ryn yang memasak bahkan mengantarnya langsung.
"Kalau begitu, bisakah aku tidak menemuinya? Pak Jun saja yang berikan." Ryn menyodorkan kotak empat susun tersebut ke arah Jun.
"Sebaiknya jangan. Karena Kepala koki juga selalu menata langsung sekalian menunggu hal apa yang perlu dievaluasi." Tentu saja Jun menolak, selain peraturan dia juga berharap tuannya bisa melihat Ryn. Gadis yang berhasil mengganggu konsentrasi seorang Sian Lee dalam waktu singkat.
Jun membukakan pintu dan mempersilahkan Ryn masuk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sian tampak masih fokus membaca dokumen padahal sudah waktunya istirahat. Ryn mengenyahkan perasaan canggung sisa semalam, dia bersikap profesional karena Ryn sangat membutuhkan pekerjaan itu.
"Silahkan tuan." Baru setelah mendengar suara yang mulai ia kenali akibat terngiang-ngiang, Sian memutus perhatiannya dari pekerjaan. Melayangkan tatapan menghunus seakan berkata 'kenapa harus kau yang datang? '
"Kepala koki terlalu sibuk membuat menu VIP." Ryn menjelaskan asal.
"Jun, kau bisa beristirahat." Perintah Sian pada Jun yang langsung mengangguk mengerti. Pria jangkis itu keluar meninggalkan keduanya.
Sian bangkit dari kursi kebesarannya, berjalan dengan gagah menuju sofa dimana di atas meja sudah tertata begitu rapi makan siang miliknya. Ryn berdiri tak jauh dari Sian, menurutnya Ryn terlalu tenang bagi pemimpin perusahaan yang kini mulai mencicipi masakan Ryn.
"Apa aku harus memujimu di depan mereka?" Tanya Sian tanpa menoleh sekalipun.
"Tidak perlu jika memang masakanku buruk." Balas Ryn tak kalah dingin.
"Bukankah kau butuh pekerjaan ini... "
"Tuan, sebaiknya aku menunggu di luar saja." Potong Ryn cepat enggan berlama-lama berduaan bersama Sian. Atau dia akan semakin mengagumi pria itu.
Tak...
Suara sumpit diletakkan kasar oleh Sian membuat Ryn menoleh.
"Bersihkan mejanya." Entah apa yang membuat Sian marah Ryn tidak perduli. Dia hanya perlu melakukan pekerjaannya dengan baik. Untuk masakan Ryn yakin Sian pasti menyukainya. Ryn tahu Sian masih kesal padanya karena kejadian di klub.
Meski ragu Ryn tetap mengemas kembali sisa makan siang Sian, pria itu tetap betah duduk di tempat mengamati setiap gerak-gerik Ryn. Saat hendak pergi Sian mencekal lengan Ryn dan menariknya hingga mendarat di pangkuan pria itu.
"Kau bisa menjadi staf baru kitchen jika bisa memuaskanku di sini." Kata Sian memberi tantangan untuk Ryn. Dia memang tergoda oleh kecantikan gadis muda yang sedang menatapnya intens.
"Anda tidak menyukai barang bekas, kau akan kotor tuan Sian." Dalam hati Ryn begitu merasa terhina setiap mengingat perkataan Sian semalam. Ingin rasanya Ryn berteriak memaki Sian.
"Keluar! " Titah Sian kesal mendapat penolakan dari Ryn. Padahal dirinya sudah memberi kesempatan bagus.
***
Hari terakhir masa percobaan Ryn dan Glenn masih melakukan yang terbaik. Selama itu juga Ryn tidak pernah bertemu Sian lagi. Dari kabar yang beredar tuan muda sedang pergi ke negara Eropa hanya untuk kencan buta.
Ryn merasa tenang tidak ada Sian di sekeliling, dunia begitu tentram walau hatinya berbisik rindu melihat wajah maskulinnya. (Pret)
"Kau tersenyum, memikirkan apa?" Glenn tiba-tiba duduk di samping Ryn, mengejutkannya.
"Bukan hal penting." Sahut Ryn asal. Mereka tengah bersantai di jam istirahat di taman belakang dapur.
"Ryn, aku tidak masalah jika kau yang terpilih. Semoga kita masih bisa berteman kedepannya." Tiba-tiba Glenn membahas hal serius membuat Ryn menoleh kesamping.
"Kau juga membutuhkannya Glenn. Sepertinya mereka akan memilihmu." Pikir Ryn, pasalnya Sian menunjukkan sikap tak suka pada Ryn semenjak kejadian di klub.
"Haha aku harap kita berdua bisa bekerja bersama terus-menerus." Karena Glenn mulai menyukai Ryn, sikapnya yang cuek tak pernah mempermasalahkan omelan atasan mereka. Tetap bekerja dengan tenang juga masakannya memang terbukti enak.
"Semoga saja Glenn. Ayo masuk." Ajak Ryn menyudahi sesi ngobrol santai keduanya.
Di jam pulang kerja Ryn dan Glenn dipanggil ke ruang menejer untuk mendapatkan hasil masa uji coba. Tanpa mereka ketahui, sang penerus hotel Le Star generasi ketiga sudah tiba dan sedang menikmati teh di ruangan tersebut. Hanya saja terhalang partisi di belakang kursi kerja menejer sehingga Ryn tidak bisa melihatnya.
"Selamat Glenn, kau berhasil menjadi crew baru dapur Le Star Hotel." Akhirnya keputusan diumumkan sesuai perkiraan Ryn. Dirinya telah gagal. Entah kemana harus mencari pekerjaan lain sementara hanya di hotel itu yang memberi gaji tinggi.
"Tapi pak, bukankah masakan Ryn lebih enak daripada milikku?" Dengan polos Glenn menyeruakan isi pikirannya.
"Ya betul, tapi Ryn memiliki fisik yang lemah. Di dapur sudah ada dua wanita berpengalaman, dan itu cukup. Seharusnya kau senang Glenn." Heran menejer, menjelaskan apa yang menjadi pertimbangan.
"Terima kasih pak." Ucap Glenn hampir lupa.
"Kalau begitu permisi, juga terima kasih." Kemudian Ryn memilih pamit meninggalkan ruangan. Karena Glenn harus mengurus kontrak kerja jadi Ryn memutuskan pergi lebih dulu.
Setelah mendengar pintu tertutup Sian mematikan rokok di atas asbak lalu keluar dari persembunyian. Glenn cukup terkejut melihat kemunculan bosnya.
"Katakan padanya, jika memang membutuhkan pekerjaan masih ada lowongan dibagian lain." Ucap Sian memberitahu Glenn sekaligus memberikan sebuah kartu nama.
Belum sempat Glenn bertanya Sian langsung pergi meninggalkan ruangan. Glennpun mengambil kartu nama yang ternyata milik kepala personalia Lee Group. Setidaknya masih ada harapan bagi Glenn jika Sian tidak tertarik pada Ryn, melihat pria itu cukup dermawan memberi Ryn kesempatan lain.
Ryn langsung kembali ke unit apartemen menjelang matahari terbenam. Sudah ada Yuni dan satu pengawal menunggunya di depan pintu, menambah kesialan Ryn dalam sehari.
"Ikut aku atau kau lawan dia." Ryn hanya bisa menghela nafas pasrah, gila jika dia memilih babak belur ditangan pengawal klub.
Perginya Ryn bersama dua orang itu ternyata dilihat oleh Sian yang sengaja pergi sendiri demi mengikuti Ryn. Rupanya masih cukup penasaran bagaimana kehidupan Ryn. Sejauh mana gadis itu melakukan pekerjaannya di dunia malam.
'Bagaimana rasanya mencicipi Ryn, apakah dia bisa memuaskan Sian? '
Mungkin dua hal itu yang selalu berputar dibenak Sian sampai-sampai melarang Jun untuk menemaninya.
"Tuan, pemimpin kedua meminta anda menghadap." Ujar Jun memberitahu setelah sambungan telepon Sian angkat.
"Ya, tiga puluh menit lagi." Balas Sian singkat. Tak ingin membuang waktu sibuknya Sian segera tancap gas melupakan Ryn.
Sementara Ryn kembali dipaksa mengenakan dress ketat oleh Yuni untuk menghibur tamu kalangan atas. Bukan sebagai pengantar minuman melainkan pemandu lagu.
Tanpa ekspresi, Ryn menuangkan minuman kedalam gelas dua pria berstelan jas. Dia ingat, salah satunya adalah Vick rekan bisnis Sian.
"Kita bertemu lagi nona seksi." Sapa Vick tersenyum meremehkan. Ryn hanya menunduk singkat tanda menghormati tamu.
"Aku penasaran, pelayanan seperti apa yang kau berikan pada tuan muda Lee sampai dia menunda kerja sama kami." Vick berdiri melepaskan rangkulan ladies club lainnya. Ryn tidak bertugas sendiri melainkan bertiga disana.
Vick memandangi wajah datar Ryn, keduanya sama-sama saling mengamati lalu tiba-tiba,,,
Plak...
Sebuah tamparan melayang di pipi mulus Ryn hingga wajahnya menoleh ke sisi kiri saking kerasnya. Terdapat jejak merah bekas tangan Vick. Dua rekan Ryn terperangah mendapat tontonan langsung.
"Aku membayar mahal tempat ini demi membuatnya senang, tapi kau malah menghancurkan rencanaku." Lanjut Vick menyuarakan kekesalan, dia bahkan sengaja kembali ke Paradise club hanya untuk mencari Ryn.
"Anda bisa meminta madam di sini mengembalikan uang milik anda. Karena aku tidak pernah menerima sepeserpun darinya." Ujar Ryn penuh penekanan.
"Diam sialan!" Teriak Vick menuding wajah Ryn tak Terima gadis itu berani melawannya.
Kesialan Ryn mungkin akan bertambah di penghujung hari. Vick yang dibutakan emosi malah menarik tengkuk Ryn kemudian membenturkan keningnya ke dinding.
"Kau tidak berhak membela diri, kau hanya wanita penghibur." Hina Vick, Ryn merasa sesuatu membasahi keningnya dan ia tebak itu darah segar.
"Vick hentikan, kau bisa dilaporkan ke polisi." Teman Vick mencoba memperingati.
"Haha, siapa yang akan membela dia? Aku gagal untung karena pelayanan jeleknya untuk Sian." Setelah puas Vick mendorong kasar tubuh Ryn hingga tersungkur.
Kedua rekan Ryn hanya bisa mengiba dalam hati tanpa berani menolong, atau mereka juga akan terkena imbasnya.
"Kau mau membawanya kemana Vick?" Semua orang di sana mulai heran saat Ryn diseret keluar oleh Vick secara kasar.
"Aku sudah membelinya dari madam Yuni, kau bersenang-senang saja biar aku yang bayar." Hal yang paling Ryn harap sekaligus takutkan akhirnya terjadi. Seseorang bisa membebaskan Ryn dari tempat terkutuk itu tetapi dia juga harus menjadi budaknya.
'Jika ada kehidupan lainnya, aku lebih baik menjadi seekor burung liar yang terbang bebas.' gumam Ryn memejamkan mata menghindari tetesan darah yang mengalir.
Sian dan Jun baru saja turun dari mobil bertepatan dengan munculnya Vick bersama Ryn. Sesaat mereka saling bertatap penuh makna.
"Tolong aku." Ucap Ryn tanpa suara meminta bantuan Sian, penuh harap semoga pria itu mau membantunya kali ini saja.