Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Akan Menjemputmu.
Sore hari akhirnya tiba. Cahaya matahari yang mulai meredup menyelimuti langit Seoul dengan warna keemasan yang hangat.
Hari ini, Seolhwa memutuskan untuk menepati tekadnya. Ia tidak ingin terus hidup dalam kebingungan. Apa pun yang terjadi, ia harus menemukan alasan di balik sikap Eun Dam yang tiba-tiba menjauhinya.
Kini, ia berdiri di depan apartemen pria itu.
Jantungnya berdebar tak menentu. Berkali-kali ia ingin melangkah masuk, tetapi kakinya seolah kehilangan keberanian. Pada akhirnya, Seolhwa hanya berdiri di balik sebuah pohon besar yang berada tidak jauh dari pintu masuk apartemen.
Angin sore berembus pelan, memainkan helaian rambutnya. Namun, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Sekitar sepuluh menit berlalu.
Tiba-tiba pintu utama apartemen terbuka.
Seolhwa langsung menegakkan tubuhnya.
Eun Dam keluar dari gedung itu dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya tampak serius, seolah sedang memikirkan sesuatu yang penting.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.
Beberapa pria yang berada di dalam mobil segera membukakan pintu untuknya.
Seolhwa mengernyit.
"Siapa mereka? Teman-teman Eun Dam?" tanyanya dalam hati.
Wajah-wajah asing itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Rasa penasaran yang selama ini dipendam semakin membesar.
Tanpa berpikir panjang, Seolhwa berlari menuju jalan raya di ujung blok apartemen. Beruntung, sebuah taksi baru saja melintas.
Ia segera membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Pak, tolong ikuti mobil hitam yang ada di depan itu. Tapi jangan sampai mereka menyadari kita mengikuti mereka," ucapnya dengan nada cemas.
Supir taksi itu melirik ke arah mobil yang dimaksud melalui kaca depan.
"Baik, Nona," jawabnya singkat sebelum menginjak pedal gas.
Taksi pun melaju membelah jalanan Seoul yang mulai dipenuhi lampu-lampu malam.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil hitam yang mereka ikuti akhirnya berhenti di sebuah kawasan yang jauh dari keramaian kota.
Seolhwa tertegun saat melihat tujuan mereka.
Di hadapannya berdiri sebuah gedung tua yang tampak usang dan tak terurus. Cat dindingnya mengelupas di berbagai sisi, sementara sebagian jendelanya terlihat pecah. Bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan.
Perlahan, Seolhwa turun dari taksi.
Ia segera membayar ongkos perjalanan, lalu bergegas mencari tempat persembunyian.
Tak jauh dari lokasi tersebut, terdapat sebuah tiang beton besar yang cukup untuk menutupi tubuhnya.
Dengan napas tertahan, Seolhwa mengintip dari balik tiang itu.
Tatapannya tak pernah lepas dari Eun Dam dan para pria misterius yang kini berjalan memasuki gedung tua tersebut.
Perasaan tidak nyaman mulai merayapi hatinya.
Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Eun Dam di tempat seperti itu.
Namun satu hal yang pasti.
Pria itu sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Namun, saat Seolhwa hendak melangkah memasuki gedung tua itu, seseorang tiba-tiba muncul dari belakang.
Sebelum sempat bereaksi, sebuah kain menutupi mulut dan hidungnya.
Mata Seolhwa membelalak.
Ia berusaha memberontak. Kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan orang yang membekapnya, mencoba melepaskan diri.
Namun, aroma menyengat dari kain tersebut perlahan membuat pandangannya kabur.
Tubuhnya mulai kehilangan tenaga.
"Tidak..." gumamnya lemah.
Ia terus berusaha melawan, tetapi efek obat itu bekerja jauh lebih cepat daripada kekuatan yang dimilikinya.
Cengkeramannya perlahan mengendur.
Kelopak matanya terasa semakin berat.
Dalam hitungan detik, kesadarannya menghilang sepenuhnya.
Tubuh Seolhwa terkulai tak berdaya.
Di sisi lain.
"Di mana Seolhwa?! Cepat katakan padaku!"
Suara Eun Dam menggema di dalam gedung tua yang dipenuhi debu dan bau lembap.
Rahangnya mengeras menahan amarah yang selama ini dipendam.
Beberapa anak buah Tuan Seok yang berdiri di hadapannya justru tertawa mengejek.
"Hahaha... dasar bodoh. Kau benar-benar percaya pada kami?" ujar salah seorang pria sambil menyeringai.
Tatapan Eun Dam berubah semakin tajam.
"Brengsek!"
Ia langsung menarik kerah baju pria itu dengan kasar.
"Aku sudah melakukan semua yang kalian inginkan! Sekarang katakan, di mana wanita yang kucintai!"
Pria itu tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Sebaliknya, senyumnya semakin lebar.
"Kalau kau ingin wanitamu tetap selamat..." ucapnya pelan. "Habisi kami terlebih dahulu."
Tatapan Eun Dam bergetar menahan emosi.
Namun, sebelum sempat melakukan apa pun—
Brak!
Sebuah hantaman keras menghantam bagian belakang kepalanya.
Pandangan Eun Dam langsung berkunang-kunang.
Tubuhnya terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh berlutut ke lantai yang dingin.
Ia memegang bagian belakang kepalanya yang terasa nyeri.
Suara tawa para pria itu kembali memenuhi ruangan.
Meski kepalanya berdenyut hebat, Eun Dam tetap mengangkat wajahnya.
Tatapannya dipenuhi kemarahan.
Karena saat itu ia sadar.
Semua ini hanyalah jebakan yang telah disiapkan untuknya sejak awal.
Eun Dam perlahan bangkit kembali. Napasnya memburu, sementara tubuhnya dipenuhi luka akibat pertarungan yang baru saja terjadi.
Namun, tekad di matanya tidak sedikit pun memudar.
"Baiklah," ucapnya dengan suara rendah. "Jika itu yang kalian inginkan, akan kutunjukkan bagaimana cara bertarung yang sebenarnya."
Begitu kalimat itu selesai, Eun Dam langsung bergerak.
Dengan kecepatan yang mengejutkan, ia menerobos kepungan para pria yang mengelilinginya. Suara benturan dan teriakan memenuhi ruangan tua tersebut.
Pertarungan berlangsung cukup lama.
Meski jumlah lawannya jauh lebih banyak, pengalaman dan ketangguhan Eun Dam membuat keadaan berbalik. Satu per satu anak buah Tuan Seok akhirnya tidak mampu lagi melanjutkan perlawanan.
Saat suasana mulai tenang, Eun Dam segera mengambil ponsel milik salah seorang dari mereka.
Tangannya bergerak cepat menelusuri berbagai pesan dan informasi yang tersimpan di dalamnya.
Beberapa saat kemudian, wajahnya menegang.
Ia akhirnya menemukan petunjuk mengenai keberadaan Seolhwa.
Tanpa membuang waktu, Eun Dam langsung berlari menuju pintu keluar.
Namun, tepat saat ia hendak meninggalkan gedung itu, sesuatu terjadi.
Salah seorang pria yang sebelumnya terkapar ternyata belum sepenuhnya kehilangan kesadaran.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, pria itu bangkit dan menyerang dari belakang.
Serangan mendadak itu membuat Eun Dam kehilangan keseimbangan.
Rasa nyeri yang selama ini ia tahan kembali menjalar dari kakinya yang masih dalam kondisi cedera.
"Akhh!"
Eun Dam mengerang sambil menahan rasa sakit.
Pria itu menatapnya dengan senyum penuh kebencian.
"Kau pikir semuanya akan berakhir semudah itu?" ejeknya.
Eun Dam mengepalkan kedua tangannya.
Pikirannya tidak tertuju pada rasa sakit yang sedang dirasakannya.
Hanya ada satu nama yang terus memenuhi benaknya.
Seolhwa.
Ia harus menemukannya.
Apa pun yang terjadi.
Dengan susah payah, Eun Dam kembali berdiri.
Melihat hal itu, pria di hadapannya tampak terkejut.
Bagaimana mungkin seseorang yang terluka masih mampu bangkit lagi?
Namun, bagi Eun Dam, menyerah bukanlah pilihan.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia kembali melawan.
Tatapan matanya dipenuhi tekad yang tidak tergoyahkan.
Beberapa saat kemudian, pria itu akhirnya tidak mampu lagi melanjutkan perlawanan.
Ruangan kembali sunyi.
Eun Dam berdiri seorang diri di tengah gedung tua itu.
Napasnya berat. Tubuhnya nyaris mencapai batas.
Tetapi ia tidak peduli.
Ia menatap ke arah pintu keluar.
"Seolhwa..."
Suara itu nyaris hanya berupa bisikan.
"Aku akan menjemputmu."
Tanpa menunggu lebih lama, Eun Dam kembali berlari meninggalkan gedung tersebut untuk menyelamatkan wanita yang paling berharga dalam hidupnya.