"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25: "Kembalilah dan Minta Maaf pada Ibuku"
Kehangatan yang tercipta di kamar lantai dua malam itu mengkristal menjadi kekuatan baru bagi Viona.
Deklarasi Oliver yang menegaskan bahwa nilainya sebagai wanita tidak pernah diukur dari kemampuan biologis, melainkan dari ketulusan jiwanya, telah menyapu bersih sisa-sisa racun verbal Adrian Lin.
Pagi harinya, Viona terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Rona merah segar kembali menghiasi pipinya yang putih, dan matanya yang jernih memancarkan binar ketetapan hati yang belum pernah ada sebelumnya.
Namun, sisa-sisa kehancuran keluarga Lin
tampaknya masih menolak untuk tenggelam dengan tenang ke dasar sejarah.
Selasa siang, tepat pukul satu, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel pribadi Viona.
Nomornya tidak dikenal, tetapi karena mengira itu adalah kurir mainan edukatif Yoyo yang ia pesan kemarin, Viona menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, dengan Viona di sini."
Hening sejenak di ujung sana, sebelum suara seorang wanita paruh baya yang terdengar serak, gemetar, namun masih menyimpan sisa-sisa keangkuhan masa lalu yang kental, terdengar memenuhi speaker ponsel.
"Viona... ini Ibu."
"Deg."
Jantung Viona berdegup kencang, bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena rasa muak yang mendadak bangkit.
Suara itu milik Nyonya Widya Lin, mantan ibu mertuanya.
Wanita yang selama tiga tahun pernikahan toxic-nya dulu selalu memperlakukannya bagaikan pelayan kasta rendah, yang melarangnya memeriksakan kesuburan, dan yang dengan kejam mengusirnya dari rumah keluarga Lin hanya dengan membawa satu koper pakaian bekas.
"Nyonya Widya,"
jawab Viona, suaranya terdengar sangat datar, dingin, dan tenang. Ia sengaja tidak memanggilnya dengan sebutan 'Ibu' lagi.
"Ada perlu apa Anda menghubungi saya? Hubungan kita sudah selesai sejak ketukan palu pengadilan."
Mendengar nada dingin Viona, Widya Lin di ujung telepon terdengar menarik napas tajam, menahan amarahnya yang kini tidak lagi memiliki taring.
"Viona, beraninya kau berbicara sedingin itu pada orang tua!" ucap Widya dengan nada menuntut yang dipaksakan.
"Apakah setelah kau merangkak naik ke tempat tidur Oliver, kau langsung melupakan sopan santun? Dengar, Viona. Gara-gara ulahmu yang mengadu pada Oliver kemarin di mall, aset pribadi Adrian dan apartemen sewaan kami disita sore ini! Kami diusir ke jalanan! Ibu sekarang harus tinggal di losmen murah yang kotor!"
Suara Widya mulai terisak dramatis, sebuah taktik manipulasi klasik yang dulu selalu berhasil membuat Viona berlutut memohon ampun.
"Tega sekali kau, Viona. Ibu yang dulu menampungmu di rumah kami, sekarang kau biarkan terlantar di jalanan. Kembalilah kemari, temui Ibu di kafe dekat area losmen di Distrik Barat sekarang.
Kembalilah dan minta maaf pada Ibu! Minta maaf atas semua kekacauan ini, dan bujuk suamimu yang kejam itu untuk mengembalikan aset-aset kami!"
Mendengar tuntutan yang sangat tidak masuk akal tersebut—sebuah delusi keangkuhan dari seorang mantan nyonya besar yang sudah jatuh miskin namun masih merasa berkuasa—Viona hampir ingin tertawa.
Jiwanya yang sekarang, yang telah ditempa oleh terapi Dr. Elena dan dilindungi oleh cinta mutlak Oliver, tidak lagi bisa dimanipulasi oleh drama murahan seperti ini.
"Saya tidak memiliki utang maaf apa pun kepada Anda, Nyonya Widya,"
ucap Viona dengan tegas, setiap katanya diucapkan dengan artikulasi yang jernih dan tenang.
"Aset Anda disita karena tindakan ilegal putra Anda sendiri yang melecehkan saya di tempat umum. Jika Anda ingin menyalahkan seseorang, salahkan Adrian yang tidak bisa menjaga lidahnya. Dan jangan pernah bermimpi saya akan memohon pada Oliver untuk mengembalikan apa pun kepada kalian."
"Kau—! Dasar wanita tidak tahu diri! Berani-beraninya kau—"
Sebelum Widya sempat menyelesaikan makiannya, Viona langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Ia menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, lalu memblokir nomor tersebut. Tidak ada kepanikan. Tidak ada air mata.
Hanya ada ketetapan hati yang kokoh untuk menyelesaikan urusan ini secara jantan.
Viona menyadari satu hal: jika ia terus bersembunyi di balik punggung Oliver tanpa menghadapi sisa-sisa bayangan ini secara langsung, ia tidak akan pernah benar-benar merdeka.
Ia harus menemui Widya Lin, bukan untuk meminta maaf atau menyerah pada manipulasinya, melainkan untuk memberikan pukulan penutup yang akan memutuskan semua rantai masa lalu itu selamanya.
Satu jam kemudian, SUV hitam premium milik Viona melaju membelah jalanan Distrik Barat, wilayah pinggiran kota yang tampak agak kumuh dan padat.
Dua pengawal berbadan tegap yang ditugaskan Oliver tetap mengiringi dengan setia di belakang.
Viona sengaja tidak memberi tahu Oliver tentang kepergiannya ini, karena ia tahu jika sang CEO tahu, Oliver pasti akan langsung meratakan area tersebut dan melarangnya pergi demi keselamatannya. Ini adalah pertempuran pribadinya.
SUV hitam itu berhenti di depan sebuah kafe tua yang tampak usang. Viona turun dengan keanggunan yang mutlak.
Ia mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu gelap yang dipadukan dengan celana kulot hitam, memancarkan aura kelas atas yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.
Dua pengawalnya bersiap berjaga di dekat pintu masuk kafe, memberikan pengamanan radius dekat yang mutlak.
Begitu Viona melangkah masuk, ia langsung menemukan sosok Widya Lin yang duduk di sudut ruangan.
Mantan ibu mertuanya itu tampak sangat merosot.
Perhiasan emas dan berlian yang dulu selalu memenuhi jemari dan lehernya kini telah hilang disita, menyisakan kulit keriputnya yang tampak kusam.
Pakaian sutra mahalnya telah berganti dengan daster katun murah yang tertutup jaket usang.
Wajahnya yang dulu selalu dipoles riasan tebal kini tampak layu, dipenuhi oleh garis-garis kecemasan dan kemarahan yang mendalam.
"Viona!"
Widya bangkit berdiri begitu melihat Viona mendekat.
Matanya berkilat marah sekaligus serakah saat melihat tas tangan mewah dan pakaian berkelas yang dikenakan mantan menantunya.
"Akhirnya kau datang juga! Lihat diri ibu sekarang! Ini semua karena kau dan Oliver-mu yang berdarah dingin itu!"
Viona tidak duduk.
Ia berdiri tegak di depan meja, menatap Widya dengan pandangan dingin tak tersentuh dari balik sepasang matanya yang jernih.
"Saya datang ke sini bukan untuk mendengar keluhan Anda, Nyonya Widya,"
ucap Viona, suaranya yang tenang namun bertenaga terdengar mengintimidasi di dalam kafe yang sepi itu.
"Saya datang untuk menegaskan satu hal: ini adalah pertemuan terakhir kita. Jangan pernah lagi menghubungi saya, dan jangan pernah lagi berani menyebut nama saya atau nama Oliver."
Widya terbelalak, harga dirinya yang terluka membuatnya memukul meja dengan kasar.
"Kurang ajar! Kau pikir kau siapa sekarang?! Kau hanya wanita mandul yang beruntung bisa memanjat ke ranjang pria kaya! Kau lupa bagaimana dulu kau memohon-mohon ampun padaku saat kau memecahkan piring di rumahku?! Kau harus minta maaf padaku, Viona! Berlututlah dan minta maaf pada ibumu, lalu bawa cek uang dari Oliver untuk membayar sewa tempat tinggal kami!"
Mendengar kata-kata "berlutut" dan "minta maaf", Viona hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sangat mirip dengan senyuman sarkastis milik Oliver saat menghadapi musuh bisnisnya.
"Berlutut?"
tanya Viona lembut, namun nadanya membawa getaran ketegasan yang mutlak.
"Nyonya Widya, masa-masa di mana Anda bisa menginjak-injak harga diri saya telah berakhir dua tahun lalu.
Selama tiga tahun saya bertahan di rumah Anda, saya memperlakukan Anda dengan hormat bukan karena saya takut, melainkan karena saya menghargai pernikahan saya.
Namun kalian memperlakukan saya bagaikan pelayan kasta rendah, melarang saya memeriksakan kesehatan saya, dan menuduh saya mandul demi menutupi ketidakmampuan putra Anda sendiri."
Viona melangkah satu langkah lebih dekat, tatapannya begitu tajam hingga membuat Widya secara tidak sadar mundur satu langkah.
"Kenyataannya adalah, kalianlah yang sekarang berada di bawah. Kalian kehilangan segalanya karena keserakahan kalian sendiri. Dan hari ini, Anda meminta saya untuk
kembali dan meminta maaf?"
Viona menggelengkan kepalanya perlahan.
"Satu-satunya orang yang harus meminta maaf di sini adalah Anda dan Adrian. Minta maaflah pada diri kalian sendiri karena telah menyia-nyiakan wanita yang dulu tulus merawat kalian, dan sekarang harus menerima akibat dari karma yang kalian tanam sendiri."
"Kau... kau jalang kecil yang tidak tahu balas budi—"
Widya mengangkat tangannya, bersiap untuk melayangkan tamparan ke wajah Viona.
Namun, sebelum tangan keriput itu sempat bergerak lebih dari beberapa sentimeter, pergelangan tangan Widya Lin seketika ditangkap dengan cengkeraman yang teramat kuat dan kasar oleh tangan seseorang yang baru saja tiba di sana.
"Krak."
"Aaaakh!"
Widya menjerit kesakitan saat tulang pergelangan tangannya terasa nyaris remuk di bawah cengkeraman baja tersebut.
Viona tersentak, menoleh cepat.
Di sampingnya, berdiri sesosok pria bertubuh tegap dengan aura kemarahan yang begitu pekat dan mencekam, seolah-olah ia baru saja turun dari takhta iblis terdalam.
Oliver.
Sang CEO muda rupanya langsung melacak lokasi GPS mobil Viona begitu sekretarisnya melaporkan bahwa Viona pergi ke Distrik Barat tanpa pengawalan utama dari dirinya.
Oliver tiba dengan napas yang sedikit memburu, kemeja hitamnya sedikit berantakan di bagian kerah, dan sepasang mata elangnya berkilat merah oleh kemarahan yang luar biasa menyaksikan wanitanya nyaris diserang fisik.
Oliver mengempaskan tangan Widya Lin dengan kasar, membuat wanita paruh baya itu terjerembap jatuh kembali ke atas kursi kayunya dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Oliver..."
bisik Viona, setengah terkejut namun merasakan kehangatan yang luar biasa menyelimuti dadanya saat melihat pria itu berdiri di depannya bagaikan dinding pelindung yang kokoh.
Oliver tidak menoleh ke arah Viona terlebih dahulu.
Tatapan matanya yang sedingin es dan mematikan terkunci sepenuhnya pada Widya Lin yang kini meringkuk ketakutan di sudut kursi.
"Nyonya Lin,"
ucap Oliver, suaranya sangat rendah, berat, dan membawa getaran ancaman yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.
"Kau baru saja mencoba mengangkat tanganmu kepada Nyonya Oliver. Tindakan itu... adalah tiket satu arah untuk memastikan sisa hidupmu dan putramu berakhir di dalam sel tahanan bawah tanah paling dingin di kota ini."
"O-Oliver... saya... saya hanya—"
Widya terbata-bata, seluruh keangkuhan masa lalunya runtuh tak bersisa, menyisakan seorang wanita tua yang ketakutan setengah mati menghadapi sang penguasa bisnis kota.
"Satu kalimat lagi keluar dari mulut kotormu,"
potong Oliver dingin, auranya begitu mengintimidasi hingga atmosfer di dalam kafe usang itu terasa membeku.
"Maka besok pagi, aku akan memastikan tidak ada satu pun losmen atau bahkan kolong jembatan di kota ini yang diizinkan untuk menampungmu dan putramu. Kalian akan diusir dari kota ini sebagai gelandangan tanpa identitas."
Oliver tidak memberikan kesempatan bagi Widya untuk memohon.
Ia berbalik, merangkul bahu Viona dengan sangat lembut dan posesif, menarik tubuh ramping wanita itu merapat ke dalam dekapan hangatnya.
"Kita pulang, Viona. Tempat ini terlalu kotor untuk wanitaku,"
ucap Oliver dengan nada suara yang seketika berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhatian saat berbicara kepada Viona.
Viona menatap Oliver dengan mata jernih yang dipenuhi oleh rasa haru dan cinta yang mendalam.
Ia mengangguk patuh, melangkah bersama Oliver keluar dari kafe tersebut, meninggalkan Widya Lin yang terduduk lesu di lantai kafe yang kotor, menangisi kehancuran mutlak sisa hidupnya yang kini telah berakhir sepenuhnya akibat karma masa lalunya sendiri.
Di dalam mobil SUV yang bergerak meninggalkan Distrik Barat, Oliver menggenggam erat tangan Viona, membawanya ke depan bibirnya dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan kelembutan yang luar biasa.
"Jangan pernah menghadapi mereka sendirian lagi, Viona," bisik Oliver pelan namun posesif.
"Aku adalah ksatria pelindungmu. Tugas menghancurkan masa lalumu... adalah hak mutlakku."
Viona tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Oliver dengan kedamaian yang kini telah sempurna.
Pertemuan hari ini telah memutuskan semua rantai masa lalunya; ia tidak lagi memiliki utang maaf, dan kini, hidupnya telah seutuhnya aman di bawah naungan perlindungan abadi sang tirani dingin yang teramat mencintainya.