Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
Suara jeritan Selfi terdengar begitu melengking, memantul di dinding-dinding rumah tua yang kosong. Siska yang masih berdiri terpaku di ambang pintu depan langsung tersadar. Dia membanting pintu hingga tertutup rapat, menguncinya dengan cepat, lalu berlari sekencang-kencangnya kembali ke ruang tengah.
Pemandangan di ruang tengah membuat jantung Siska seolah berhenti berdetak. Selfi tidak lagi duduk di atas sofa. Wanita hamil tua itu sudah merosot ke atas lantai semen yang dingin, bertumpu pada kedua lutut dan tangan kirinya. Wajahnya yang semula cerah kini berubah drastis menjadi seputih kertas, dibanjiri oleh keringat yang mengucur deras hingga membasahi rambutnya.
Kedua mata Selfi melotot lebar, menatap kosong ke arah lorong gelap yang menuju ke kamar utama mereka.
"Mbak! Mbak Selfi! Bertahan, Mbak!" teriak Siska panik. Dia berlutut di samping kakak iparnya, mencoba merangkul pundak Selfi yang terasa sangat kaku dan dingin, seperti memegang tubuh orang yang sudah meninggal.
"Sakit, Sis... di dalam... ada yang mau keluar... tapi bukan..." kalimat Selfi terputus oleh ringisan panjang yang menyakitkan.
Yang membuat Siska semakin ngeri adalah gerakan tangan kanan Selfi. Handuk kecil yang tadinya digunakan untuk menutupi tangan itu sudah terlempar ke lantai. Tangan kanan Selfi kini mencengkeram lantai semen dengan begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Di jari manisnya, permata merah pada cincin terkutuk itu tidak lagi sekadar berkilau, melainkan tampak meredup dan memancarkan warna merah gelap yang pekat, seolah-olah sedang mengisap sisa-sisa tenaga dari tubuh Selfi.
Urat-urat halus berwarna kehitaman mulai terlihat merayap naik dari pangkal jari manis Selfi, menjalar melewati pergelangan tangan, dan menghilang di balik lengan dasternya.
Siska gemetar hebat. Dengan tangan yang basah oleh keringat dingin, dia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas karpet. Dia segera mencari nama 'Mas Ferdi' dan menekan tombol telepon.
Tut... Tut... Tut...
Ponsel di seberang sana berdering, namun tidak ada jawaban. Siska mencoba lagi untuk kedua kalinya. Tetap sama. Ferdi mungkin sedang berada di tengah jalan atau sedang dalam rapat penting di kantornya sehingga tidak mendengar panggilan telepon darurat ini.
"Mas Ferdi, angkat dong... tolong..." bisik Siska sambil menangis frustrasi.
"Sis... bawa Mbak ke kamar... sekarang..." rintih Selfi. Suaranya mendadak berubah, tidak lagi melengking tinggi, melainkan terdengar sangat berat dan serak, hampir menyerupai suara orang lain.
Siska tidak punya pilihan lain. Dia meletakkan ponselnya, lalu sekuat tenaga memapah tubuh Selfi yang terasa sangat berat. Dengan langkah yang tertatih-tatih, mereka berdua bergerak perlahan menyusuri lorong menuju kamar utama di lantai bawah. Setiap kali Selfi melangkah, tetesan air ketuban bercampur darah terus berceceran di atas lantai, meninggalkan jejak yang mengerikan.
Begitu berhasil melewati pintu kamar utama, Selfi langsung menghempaskan dirinya ke atas ranjang. Kasur kapuk yang dilapisi sprei bermotif bunga itu seketika ternoda oleh cairan merah tua.
Suasana di dalam kamar utama terasa jauh lebih dingin daripada di ruang tengah. Meskipun semua jendela luar sudah ditutup rapat oleh Ferdi sebelum berangkat kerja, gorden-gorden tebal di kamar itu bergoyang-goyang pelan seolah ditiup oleh angin yang tidak kasat mata. Bau anyir yang busuk dan menyengat kembali memenuhi ruangan, jauh lebih pekat daripada malam sebelumnya.
Siska berlari ke arah lemari pakaian untuk mengambil beberapa lembar kain bersih. "Mbak, Siska coba telepon bidan desa atau ambulans ya, Mbak harus bertahan!"
Namun, belum sempat Siska berbalik, suara derit pintu terdengar dari belakangnya.
Kreeek...
Pintu kamar utama yang tadinya terbuka lebar, mendadak menutup dengan sendirinya dengan gerakan yang sangat lambat, lalu terdengar suara klik yang nyaring. Pintunya terkunci secara otomatis dari dalam.
Siska langsung berlari menerjang pintu, memutar-mutar gagangnya dengan panik. "Lho? Kok mengunci? Mas! Mbak! Kuncinya di mana?!" Siska menggedor-gedor pintu kayu itu, tetapi grendel di dalamnya sama sekali tidak bisa digerakkan, seolah-olah besi di dalam kunci itu sudah melekat mati dengan kusen pintu.
"Siska... sudah tidak usah..."
Suara Selfi terdengar lagi dari arah ranjang. Siska menoleh lambat-lambat. Kakak iparnya kini sudah berbaring terlentang. Kedua kakinya ditekuk terbuka, bersiap untuk proses persalinan. Namun, ekspresi wajah Selfi sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit lagi. Wajahnya sangat datar, matanya terbuka lebar menatap lurus ke langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Kedua tangan Selfi terentang di sisi tubuhnya. Tangan kanannya, yang dihiasi cincin permata merah, tampak bergerak-gerak aneh. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk kasur dengan ritme yang teratur. Tok... tok... tok...
Siska berjalan mendekati ranjang dengan kaki yang lemas. Rasa takutnya sudah mencapai ubun-ubun. Dia melihat selimut daster Selfi perlahan-lahan terangkat ke atas dari bagian tengah, seolah ada sesuatu yang sedang mendorong dari dalam perut buncitnya secara paksa.
Perut Selfi berguncang hebat. Siska bisa melihat bentuk tonjolan kecil dari balik kulit perut Selfi—namun bentuknya tidak menyerupai tangan atau kaki bayi normal yang menendang, melainkan seperti sesuatu yang tajam yang sedang mencakar dinding rahim dari dalam.
"Mbak Selfi..." Siska berbisik lirih, air matanya mengalir deras. Dia ingin menolong, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa di dalam kamar yang terkunci rapat ini.
Tiba-tiba, Selfi menarik napas panjang yang sangat dalam, lalu mengembuskannya dengan suara geraman yang keras.
Bersamaan dengan itu, mengalirlah darah segar yang sangat banyak dari balik daster Selfi, membanjiri seluruh permukaan kasur. Siska memekik kaget dan mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur lemari rias kuno di sudut kamar.
Di tengah genangan darah yang pekat itu, sebuah suara terdengar.
Bukan suara tangisan bayi yang melengking sehat seperti bayi-bayi baru lahir pada umumnya. Suara yang keluar dari balik selimut itu adalah suara tangisan yang sangat ganjil—suaranya serak, berat, dan diakhiri dengan suara kekehan kecil yang terdengar sangat menyeramkan di dalam keheningan kamar.
Oeeek... oeeek... kkkrrrssttt...
Siska menyandarkan tubuhnya erat-erat pada lemari rias, tangannya meraba-raba kayu jati di belakangnya untuk mencari pegangan. Matanya tidak bisa beralih dari sosok yang kini mulai bergerak di atas kasur di antara kedua kaki Selfi.
Selimut daster yang menutupi bagian bawah tubuh Selfi perlahan tersingkap. Dari balik kain yang basah oleh darah, muncullah sesosok makhluk kecil.
Makhluk itu adalah seorang bayi manusia. Kulitnya putih bersih, jari-jarinya lengkap, dan wajahnya tampak sangat tampan serta normal. Siska sempat mengembuskan napas lega selama satu detik, mengira bahwa ketakutannya semalam hanya berlebihan. Bayi itu tampak seperti bayi suci yang baru saja dilahirkan ke dunia.
Namun, kelegaan Siska langsung sirna dalam sekejap ketika bayi itu mulai menggerakkan tubuhnya.
Bayi kecil yang baru saja keluar dari rahim ibunya itu tidak berbaring lemah. Dia langsung membalikkan tubuhnya menjadi posisi telungkup dengan gerakan yang sangat cepat dan luwes—sesuatu yang mustahil bisa dilakukan oleh bayi yang baru berumur beberapa menit.
Saat bayi itu mencoba merangkak di atas kasur, Siska melihat sebuah pemandangan yang membuat perutnya mual karena ngeri.
Kedua kaki kecil bayi itu tidak lurus. Lututnya menekuk ke arah yang salah, patah ke dalam secara gaib seolah sengaja dihancurkan sejak di dalam kandungan. Bentuk kakinya membengkok menyerupai huruf 'C' yang cacat. Setiap kali bayi itu menggeser tubuhnya mendekati kepala Selfi, bagian tulangnya yang patah bergesekan dengan kasur, menciptakan suara yang sangat akrab di telinga Siska.
Srek... srek... srek...
Itu adalah suara seretan yang sama yang didengar Siska di atas plafon kamarnya semalam.
Bayi berkaki bengkok itu terus merangkak naik ke atas dada Selfi. Selfi sendiri masih diam tak bergerak, matanya tetap menatap kosong ke langit-langit, seolah-olah jiwanya sudah tidak lagi berada di dalam tubuh tersebut. Hanya tangan kanannya yang memakai cincin pesugihan yang terus mengetuk kasur dengan setia, menyambut kehadiran darah dagingnya sendiri.
Bayi itu berhenti tepat di depan wajah Selfi. Perlahan, makhluk kecil itu membuka kedua matanya yang semula terpejam.
Siska mendesah panik hingga hampir pingsan. Dua bola mata bayi itu tidak berwarna hitam atau cokelat, melainkan berwarna merah darah yang menyala terang di dalam kegelapan kamar, menatap ibunya dengan tatapan penuh rasa lapar yang amat sangat.