Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Ardi memijit pelipisnya yang berdenyut hebat, bagaimana caranya dia bisa memberikan rumah bagus untuk ibunya jika gajinya saja sudah mereka kuasai hampir semuanya.
"Aku tidak punya uang Bu, gajiku ibu sudah kuasai semuanya, aku hanya mengambil 1/4 dari gajiku dan semuanya kuberikan pada ibu semua sedangkan biaya rumah bahkan semua yang kalian nikmati itu juga dari Rania". Ucapnya menunduk.
Akhirnya dia membongkar semua yang dia tutupi dari keluarganya selama ini, dia dengan sombong dan berbangga diri mengatakan jika gajinya besar tapi kenyataannya semua itu adalah milik Rania
Keluarganya langsung mendelik tidak percaya mendengar sendiri apa yang dia katakan barusan.
"Jadi benar yang dikatakan Rania jika kamu hanya staf biasa dengan gaji kecil dan semua ini adalah milik Rania?, kamu selama ini berbohong pada kami?". Bentak sang ibu dengan keras
Matanya memerah karena marah telah dibohongi oleh anak kebanggaannya bahkan dia mengatakan pada seluruh keluarganya betapa suksesnya sang anak tapi ternyata anaknya bukan apa-apa
Ardi hanya bisa mengangguk menelan mentah-mentah kekesalan sang ibu karena telah iya bohongi, dia merutuki sikap kurang ajar istrinya yang membuka aibnya sehingga ibunya begitu murka kepadanya.
"Jadi kak Rania itu memang dokter spesialis bukan seperti yang kakak katakan yaitu tenaga sukarela?". Ucap Adel dengan kesal
Lagi-lagi dia hanya bisa menunduk dan mengangguk mengiyakan semua yang dikatakan keluarganya itu.
"Maafkan aku Bu, yah, aku hanya ingin terlihat membanggakan pada kalian, aku sengaja mengatakannya dan meminta Rania merahasiakan semua itu dari kalian agar kalian bisa membanggakan aku dan tidak dihina oleh keluarga besar karena tidak memiliki apapun, maafkan aku".
Pengakuan yang jujur itu akhirnya dia utarakan, dia sudah tidak punya pilihan lain selain menjelaskan pada ibunya yang kini tengah memarahi dirinya karena murka
"Dasar anak bodoh, ngapain kamu bohong sampai seperti itu, andai kamu sudah bilang sejak awal kita bisa mengambil semua milik Rania bukan seperti ini". Bentaknya kepada sang anak bahkan dia memukulnya karena terlalu kesal
Ardi berusaha menjauhkan tubuhnya dari pukulan sang ibu , dia merasa sakit karena pukulan itu sedangkan sang ayah hanya bisa memijit pelipisnya karena pusing sedangkan adiknya hanya mematung melihat siapa yang datang membuka pintu kamar kakak ya itu.
"Jangan begitu Bu, Rania itu baik dan sangat mencintaiku, dia tidak akan mungkin meninggalkan aku sekalipun aku membalikkan nama berkas penting itu dan menipunya, dia sangat mencintaiku Bu, jadi dia tidak akan sanggup kehilangan aku". Ucapnya percaya diri.
"Prok..prok..suara tepuk tangan menggema membuat mereka semua menoleh
Disana Rania berdiri dengan tatapan tajam menghunus mereka semua, dia tadinya pulang untuk mengambil pakaian tapi mendengar perdebatan yang sempat dia rekam itu untuk nanti dijadikan bukti olehnya pada pengadilan karena dia akan mengurus gugatan perceraian.
"Sejak kapan kamu ada disana?". Tanya Ardi memucat, tubuhnya menegang seakan tidak memiliki darah.
Begitu juga dengan ketiga keluarganya yang langsung berdiam bak patung seperti melihat hantu wajah mereka bahkan seputih kertas.
Rencana yang mereka susun akhirnya terbongkar dan langsung didengar oleh Rania tanpa perantara dan itu akan menjadi masalah besar untuk mereka sebentar lagi
"Cukup lumayan untuk mendengar semua rencana hebat yang dirancang keluarga benalu yang tidak tahu diri". Ucapnya denga dingin.
Dia melangkah masuk kemudian mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan kamarnya, senyum sinis terukir di bibirnya melihat keadaan kamarnya yang kacau itu.
Melihat ekspresi Rania Ardi langsung ingin mengatakan sesuatu agar istri nya itu bisa mengerti, dia yakin jika dia membujuk Rania, istrinya itu akan luluh sepi biasanya
Tapi sebelum mengatakan apapun Rania mengangkat tangannya untuk menyuruhnya diam, Rania mengambil handphonenya kemudian merekam semua keadaan kamar bahkan mereka semua terekam jelas, mereka tidak sempat memproses itu sehingga Rania menyimpan kembali handphonenya.
"Kuberi kalian waktu besok pagi, jika kalian tidak angkat kaki dari rumahku, maka polisi yang akan menjemput kalian dan memasukkan kalian penjara setelah rekaman suara kalian aku berikan".
Dia melangkahkan kakinya keluar sedangkan mereka semua mematung mendengar perkataan Rania
Terdengar suara pintu terbanting membuat mereka akhirnya sadar dari keterkejutan terutama Ardi, dia segera mengejar Rania tapi ternyata Rania sudah berada didalam mobil pribadinya itu dan bersiap mengeluarkannya.
"Aku mohon Rania, dengarkan penjelasanku dulu, jangan lakukan ini". Jerit Ardi berusaha menghadang Rania mengeluarkan mobil miliknya.
Rania tidak peduli bahkan ia nyaris menabrak suaminya itu karena tidak peduli, beruntung Ardi menghindar jika tidak dia akan terlindas mobil.
Rania membuka pintu mobil itu sedikit dan menatap tajam pada Ardi,
"Waktu kalian habis, besok pagi saat aku pulang pastikan kalian semua pergi dari sini karena aku akan membawa polisi kesini jika kalian tidak pergi, mereka akan menjemput kalian secara paksa, dan aku punya bukti kalian lakukan di rumahku dan bagaimana kalian berencana merampas semua milikku, jadi jadilah manusia tahu diri, kita akan bertemu di pengadilan".
Rania tidak menunggu jawaban dia langsung menjalankan mobilnya meninggalkan Ardi yang menjerit karena ketakutan
"Rania, aku mohon jangan lakukan itu, aku tidak mau masuk penjara". Jerit nya dengan frustasi.
Sedangkan ketiga keluarganya ikut berlari keluar menyusul dan mematung mendengar perkataan Rania tadi.
Ardi menatap sang ibu dengan emosi dan marah sekaligus, dia bangkit dan berjalan menuju ibunya dengan wajah memerah.
"Sekarang ibu puas, kalian semua puas". Bentaknya penuh emosi
Sang ibu langsung memundurkan tubuhnya karena ketakutan melihat amarah yang berkobar pada wajah putranya.
"Gara-gara ibu sekarang kita harus pergi dari sini, Rania akan melaporkan kita kepolisian jika kita tidak pergi sampai besok pagi, dia punya bukti percakapan kita dan keadaan kamar yang ibu acak-acak tadi dan dia akan membawa semuanya kekantor polisi dan parahnya lagi dia menggugat cerai aku ke pengadilan agama".
Suaranya menggelegar membuat ketiganya ketakutan setengah mati.
"Sekarang bereskan barang kita, aku tidak mau masuk penjara karena Rania tidak main-main dengan perkataannya
"Ibu tidak mau pergi dari sini, ini juga rumah kamu". Sang ibu menggelengkan kepalanya karena tidak ingin pergi dari sini.
"Terserah ibu, aku tidak mau masuk penjara, jika ibu mau tinggal silahkan berurusan dengan polisi dan Rania".
Ardi masuk kedalam rumah meninggalkan keluarganya yang ketakutan
Sang ayah akhirnya menghela nafas berat dan ikut masuk kedalam dan akan membereskan barangnya karena dia juga Tidka ingin dipenjara.
"Ayah ". Cicit keduanya.
Santoso menghela nafasnya kemudian berbalik memandang keduanya dengan lelah.
"Sudahlah, turuti perkataan Ardi, aku tidak mau kita berurusan dengan polisi, Rania sudah merekam pembicaraan kita".