~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
***
Bulan-bulan berganti membawa berkah kemarau yang matang. Perbukitan yang semula diselimuti kabut basah kini menguning oleh hamparan padi yang siap tuai di bulak selatan dan barat. Bau harum jerami kering dan bulir padi yang ranum memenuhi udara, menandakan tibanya musim panen raya—momen paling sakral sekaligus meriah bagi seluruh jalma di bawah naungan rumah joglo Raden Mas Baskoro.
Sesuai adat turun-temurun, sebuah perayaan besar digelar di pendopo agung. Gamelan pelog salendro bertalu-talu sejak surya belum tegak lurus, mengalunkan gending-gending ucapan syukur yang megah. Ratusan warga desa, mulai dari kuli panggul, petani penggarap, hingga para mandor berpakaian beskap terbaik, telah memadati pelataran luas. Barisan tumpeng hasil bumi dan jajanan pasar tertata rapi di atas meja-meja jati panjang.
Namun, di balik riuhnya suara gending dan tawa sukacita rakyat, ada ketegangan tak kasat mata yang merayap di sela-sela tiang soko guru pendopo. Sore itu adalah kali pertama Nyai Larasati harus tampil sepenuhnya di depan publik sebagai permaisuri joglo yang sah.
Di dalam kamar utama, Larasati menatap pantulan dirinya di cermin marmer besar. Tubuhnya kini dibalut kebaya sutra berwarna hijau zamrud yang melekat indah, dipadukan dengan kain jarik batik tulis motif wahyu tumurun yang diwiru dengan sangat rapi oleh Mbok Sum. Rambut hitamnya yang panjang digelung konde tekuk khas ningrat, dihiasi ronce melati hidup yang menebarkan keharuman segar. Ia tidak lagi tampak seperti gadis belia yang lusuh; aura keanggunan seorang Nyai telah matang di wajahnya yang berseri.
Meskipun demikian, jemari tangan Larasati yang mengenakan gelang emas pahat melati tetap terasa dingin.
"Gusti Nyai, tidak perlu cemas," Mbok Sum berbisik lembut sambil membenarkan letak selendang sutra di bahu Larasati. "Anda begitu anggun. Masuklah dengan kepala tegak. Jagat ini sudah menjadi milik Anda."
Larasati menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debar jantungnya. "Mbok... mereka semua mengenalku sejak kecil sebagai Laras, anak perempuan Sastro Wignyo yang gubuknya hampir roboh. Hari ini aku harus berdiri di atas sana, memimpin mereka. Aku takut lidah mereka lebih tajam dari sembilu."
Sebelum Mbok Sum sempat menjawab, pintu jati kamar terbuka. Baskoro melangkah masuk dengan wibawa penuh. Ia mengenakan beskap komplit berwarna hitam dengan sulaman benang emas di kerahnya, serasi dengan jarik yang dikenakan Larasati. Keris pusaka berhulu gading terselip gagah di pinggang belakangnya. Tatapan matanya yang tajam seketika melembut saat memandang sang istri.
Baskoro berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangannya yang besar dan hangat untuk menggenggam jemari Larasati yang dingin. "Tanganmu sedingin es, Laras. Apakah kamu masih takut?"
Larasati mendongak, menatap mata suaminya. "Mas Baskoro... kulo hanya merasa sungkan. Di luar sana ada ratusan orang yang tahu betul dari mana kulo berasal."
Baskoro membawa tangan Larasati ke depan dadanya, menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya yang kokoh. "Mereka tahu dari mana kamu berasal, tetapi hari ini mereka harus tahu di mana tempatmu berdiri sekarang. Kamu adalah istriku, Laras. Hatiku dan seluruh joglo ini adalah bentengmu. Mari, mereka sudah menunggu."
Ketika Raden Mas Baskoro dan Nyai Larasati melangkah keluar menuju pendopo agung, suara gamelan mendadak merendah, digantikan oleh gumam takjub dan bisik-bisik yang menjalar cepat di antara kerumunan warga. Mereka berjalan beriringan dengan langkah yang selaras. Larasati menjaga punggungnya tetap tegak, melangkah anggun di sebelah suaminya yang tinggi besar.
Mereka duduk di kursi jati berukir kencana di tengah pendopo. Dari tempatnya tinggi, Larasati bisa melihat wajah-wajah yang sangat ia kenali di bawah sana. Di sudut dekat lumbung, ia melihat ayahnya, Sastro Wignyo, yang duduk bersila mengenakan blangkon lawasnya. Mata tua ayahnya berkaca-kaca menatap putrinya yang kini begitu mulia. Larasati melempar senyuman tipis yang dibalas ayahnya dengan anggukan takzim penuh rasa syukur.
Namun, tidak semua tatapan di pendopo itu sebersih tatapan Sastro.
Di barisan depan tempat para mandor perkebunan berkumpul, beberapa pria paruh baya tampak saling berbisik dengan senyum sinis. Salah satu dari mereka adalah Mandor Suro, seorang pria berwajah sangar yang terkenal culas dan kerap memeras para petani kecil. Suro sejak lama mengincar tanah milik Sastro Wignyo, dan ia merasa terhina karena rencananya digagalkan oleh perjodohan tebusan utang ini.
Pesta dimulai dengan ritual pemotongan tumpeng. Sebagai bagian dari adat, Baskoro berdiri, diikuti oleh Larasati yang membawa piring kuningan kecil untuk menerima potongan pertama.
Saat keheningan magis tercipta untuk mendengarkan doa, Mandor Suro yang tampaknya sudah menenggak sedikit tuak manis di luar, sengaja berbicara dengan suara yang agak keras kepada mandor di sebelahnya, cukup lantang hingga menggema di bawah atap pendopo yang sunyi.
"Jagad berputar aneh ya, Kang," cetus Mandor Suro dengan nada meremehkan yang sengaja dikeraskan. "Dulu kita harus menagih utang seratus ringgit ke gubuknya sampai mengemis-ngemis. Sekarang, anak perempuan yang dijadikan barang tebusan utang itu malah duduk di kursi kencana, memakai sutra dan wewangian melati seolah-olah berdarah biru. Murah sekali harga seorang Nyai zaman sekarang, hanya seharga sejumput tanah kering."
Deg.
Seketika itu juga, alunan gamelan terasa sumbang. Keheningan yang mencekam langsung menyergap pendopo agung. Para petani menahan napas, sementara beberapa abdi dalem wanita langsung menundukkan kepala dengan wajah pucat ketakutan.
Larasati membeku di tempatnya berdiri. Piring kuningan di tangannya sedikit bergetar. Kalimat "barang tebusan" dan "murah" itu menghantam ulu hatinya dengan telak, membangkitkan kembali luka lama yang telah susah payah ia sembuhkan di dalam kamar jati. Matanya mulai berkaca-kaca, merasakan ratusan pasang mata kini menatapnya dengan rasa kasihan sekaligus penghinaan.
Baskoro yang baru saja memegang pisau pemotong tumpeng mendadak menghentikan gerakannya. Wajah paruh bayanya seketika berubah menjadi sekeras batu karang. Urat-urat di lehernya menegang, dan manik matanya berkilat tajam memancarkan amarah yang luar biasa pekat—amarah seorang penguasa yang harga diri keluarganya baru saja diinjak-injak di depan publik.
Baskoro meletakkan pisau itu dengan hentakan keras ke atas meja. Ia tidak berteriak, namun aura tinggi besarnya yang mengintimidasi langsung mengurung seluruh pendopo.
"Suro."
Satu kata yang keluar dari bibir Baskoro bernada bariton, sangat rendah, namun sanggup membuat nyali siapa pun menciut. Mandor Suro yang semula congkak mendadak tersadar dari pengaruh tuaknya. Wajah sangar mandor itu seketika memucat saat menyadari seluruh pandangan mematikan Baskoro tertuju padanya.
Baskoro melangkah maju satu langkah ke tepi batas pendopo yang lebih tinggi, lalu tangan besarnya meraih tangan kanan Larasati. Di depan ratusan pasang mata warga desa, Baskoro menggenggam tangan istrinya dengan teramat erat, mengangkatnya sedikit agar seluruh jalma di sana bisa melihat dengan jelas jalinan jemari mereka.
"Buka telingamu baik-baik, Suro. Dan kalian semua yang berada di bawah atap pendopoku," ucap Baskoro, suaranya menggema tegas tanpa ada getaran ragu sedikit pun. "Wanita yang berdiri di sampingku ini adalah Nyai Larasati. Dia bukan barang tebusan, bukan pula pajangan yang bisa kalian nilai harganya dengan sekeping ringgit terkutuk!"
Baskoro menoleh ke arah Larasati, menatap istrinya dengan kelembutan yang sengaja ia tunjukkan di depan semua orang, sebelum kembali melempar pandangan sedingin es kepada Mandor Suro.
"Perjanjian utang masa lalu itu adalah caraku menyelamatkan kehormatan keluarga Sastro Wignyo dari orang-orang culas sepertimu. Tapi pernikahan ini? Ini adalah kehendakku yang mutlak. Larasati adalah satu-satunya wanita yang kupilih dengan kesadaran penuh untuk menjadi permaisuri di rumah joglo ini, yang menguasai lumbungku, dan yang memegang kunci hatiku!" Baskoro memberi penekanan tajam pada setiap kalimatnya.
Ratusan warga desa tertegun, terpaku tak percaya. Seorang Raden Mas Baskoro yang terkenal kaku dan dingin, yang menganggap senyuman dan perasaan sebagai kelemahan, kini baru saja mendeklarasikan rasa cintanya yang teramat besar kepada seorang gadis desa di depan khalayak ramai.
"Siapa pun di antara kalian," lanjut Baskoro, suaranya kian mendalam dan sarat ancaman mutlak. "Yang berani melontarkan satu kata penghinaan lagi kepada istriku, sama saja dengan menantang keris pusaka di pinggangku dan mengusir diri kalian sendiri secara tidak hormat dari tanah garapan joglo ini! Mandor Suro, angkat kakimu dari pelataran ini sekarang juga sebelum aku kehilangan kesabaranku!"
Mandor Suro gemetar hebat, tubuhnya nyaris luruh ke tanah. Tanpa berani mendongak lagi, ia bergegas mundur tergopoh-gopoh dan berlari meninggalkan halaman joglo diiringi pandangan sinis dari warga lainnya.
Larasati menatap suaminya dengan air mata yang kini menetes pelan melewati pipinya yang merona. Namun, air mata itu adalah air mata kebahagiaan dan kebanggaan yang tak terbendung. Rasa rendah diri dan bayang-bayang masa lalunya sebagai gadis miskin runtuh sepenuhnya malam itu. Pembelaan mutlak yang dilakukan Baskoro di depan publik telah menasbihkan dirinya bukan lagi sebagai barang gadaian, melainkan sebagai seorang permaisuri yang dicintai seutuhnya.
Baskoro berbalik menghadap Larasati. Di depan ratusan rakyatnya yang kini mulai bertepuk tangan dan bersorak penuh rasa hormat, ia menggunakan jemarinya untuk menyeka air mata di pipi Larasati dengan sangat lembut.
"Berdirilah dengan tegak, Nyai Larasati," bisik Baskoro dengan seulas senyuman tipis yang teramat langka terukir di bibirnya, khusus hanya untuk istrinya. "Jagat ini adalah milikmu sekarang. Dan suamimu akan selalu menjadi perisaimu."
Larasati mengangguk mantap, menggenggam balik tangan suaminya dengan erat. Di bawah naungan atap pendopo agung yang megah dan alunan gamelan yang kembali bertalu bertalu-talu dengan riang, Larasati akhirnya meletakkan mahkota melatinya dengan penuh kebanggaan, siap melangkah bersama Mas Baskoro menghadapi takdir apa pun yang menanti mereka di masa depan.
Bersambung
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
lanjut tor semangat