SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata yang Mengawasi Langit
BAB 31: Mata yang Mengawasi Langit
Angin dingin menyapu Kota Laut Kabut.
Di dunia nyata, tubuh Ethan Mahendra masih berdiri tegak di atas kepala naga hitam raksasa. Cahaya hitam dan emas terus berputar di sekelilingnya, membentuk pusaran energi yang membuat seluruh kultivator di bawah tidak berani mendekat.
Jenderal Arga menggenggam pedangnya semakin erat.
"Apa yang sedang terjadi..."
Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab.
Bahkan para tetua keluarga kultivator yang baru tiba hanya bisa menatap dengan wajah pucat.
Mereka dapat merasakan dua aura yang saling bertabrakan di dalam tubuh Ethan.
Yang pertama terasa luas, tenang, dan dalam seperti lautan tanpa akhir.
Sedangkan yang kedua...
Dingin.
Asing.
Seolah bukan berasal dari dunia manusia.
Di dalam ruang jiwa naga.
Tatapan Ethan tetap tenang meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Bayangan masa lalu yang ditunjukkan Varkesh perlahan menghilang.
Jutaan naga.
Seorang pria berjubah hitam.
Aura yang bahkan melampaui Kaisar Abadi.
Namun Ethan tidak membiarkan emosinya menguasai pikirannya.
"Ilusi."
ucapnya datar.
"Atau potongan ingatan."
Varkesh tertawa pelan.
"Kau masih sama."
"Selalu memeriksa segala sesuatu sebelum mempercayainya."
"Itulah alasan mereka begitu takut kepadamu."
Ethan mengangkat pandangan.
"Mereka?"
"Sembilan Penguasa Kehampaan."
"Dan... orang-orang yang mengkhianatimu."
Tatapan Ethan berubah tajam.
Varkesh sengaja mengamati perubahan sekecil apa pun.
Namun wajah Ethan segera kembali tenang.
"Kalau kau ingin memancing emosiku, kau salah orang."
Varkesh menghela napas kecil.
"Sayang sekali."
"Aku lebih menyukai manusia yang mudah marah."
Di balik tubuh Varkesh, rantai emas yang mengikat naga mulai retak satu demi satu.
Setiap retakan membuat kabut hitam semakin tebal.
Jeritan naga menggema di seluruh ruang jiwa.
Ethan memperhatikan dengan saksama.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Rantai emas bukanlah penjara.
Justru rantai itu sedang melindungi jiwa naga.
Yang menghancurkannya...
Adalah energi kehampaan milik Varkesh.
"Jadi begitu."
gumam Ethan.
"Segel ini tidak dibuat untuk mengurung."
"Tetapi untuk menyelamatkan."
Varkesh tersenyum.
"Kau memang cepat."
"Tapi kau terlambat."
Retakan terakhir hampir pecah.
Begitu rantai itu hancur seluruhnya...
Jiwa naga akan sepenuhnya menjadi wadah Varkesh.
Tanpa membuang waktu, Ethan mengangkat tangan kanannya.
Puluhan simbol kuno muncul di ujung jarinya.
Simbol-simbol itu bukan teknik menyerang.
Melainkan teknik formasi jiwa.
Teknik yang ia pelajari ratusan tahun lalu dari seorang pertapa tua yang menghabiskan hidupnya menjaga makam para naga.
Varkesh langsung mengenalinya.
"Mengikat Langit Delapan Pilar?"
"Masih ada yang mewariskan teknik itu?"
Ethan tidak menjawab.
Ia terus menggambar simbol di udara.
Satu.
Dua.
Lima.
Delapan.
Setiap simbol berubah menjadi pilar cahaya yang menancap di ruang jiwa.
Seluruh ruang mulai bergetar.
Rantai emas yang hampir putus perlahan berhenti retak.
Wajah Varkesh akhirnya berubah.
"Menarik."
"Kalau begitu..."
"...aku sendiri yang akan menghancurkannya."
Ledakan!
Kabut hitam berubah menjadi ribuan tombak.
Seluruh tombak melesat menuju Ethan.
Tidak ada jalan menghindar.
Namun Ethan tidak bergerak sedikit pun.
Ia justru menutup mata.
Dalam benaknya muncul ribuan kemungkinan lintasan serangan.
Pengalaman bertempur selama lima abad membuat pikirannya bekerja jauh lebih cepat dibanding kultivator biasa.
Saat tombak pertama tiba...
Barulah ia bergerak.
Satu langkah.
Tubuhnya bergeser hanya beberapa sentimeter.
Tombak melintas di samping pipinya.
Langkah kedua.
Langkah ketiga.
Setiap gerakan sekecil mungkin.
Namun semua serangan meleset.
Varkesh mulai menyipitkan mata.
"Bukan kecepatan."
"Kau membaca aliran niat membunuh."
Ethan tetap diam.
Ia terus mendekat.
Di dunia nyata.
Tubuh Ethan tiba-tiba mengeluarkan darah dari sudut bibir.
"Komandan!"
teriak salah satu anggota Divisi Bayangan.
Arga mencoba maju.
Namun naga menggeram pelan.
Tidak menyerang.
Hanya memperingatkan.
Seolah naga itu tahu...
Tak seorang pun boleh mengganggu Ethan.
Sementara itu...
Di kejauhan.
Pria berjubah putih masih berdiri di atas menara.
Namun kali ini senyumnya menghilang.
"Dia menggunakan teknik jiwa."
"Berarti lawannya bukan naga."
"Sesuatu berada di dalam tubuh naga itu."
Seorang wanita di sampingnya bertanya lirih.
"Apakah kita tetap menunggu?"
Pria itu menggeleng.
"Kirim tim kedua."
"Kalau dia gagal..."
"...Segel Pertama akan benar-benar terbuka."
Tidak jauh dari kota.
Sebuah helikopter hitam tanpa lambang melintasi lautan kabut.
Di dalamnya terdapat enam orang.
Seluruhnya mengenakan pakaian militer berwarna gelap.
Namun setiap orang membawa senjata yang dipenuhi ukiran spiritual.
Seorang wanita berambut pendek sedang membaca laporan.
"Konfirmasi."
"Anomali spiritual tingkat S."
"Lokasi sesuai prediksi."
Pria tua di sampingnya mengangguk.
"Perintah pusat?"
"Tidak boleh ada informasi bocor ke masyarakat."
"Bila perlu..."
"...seluruh pulau akan dihapus dari peta."
Semua orang terdiam.
Mereka berasal dari organisasi pemerintah yang keberadaannya bahkan tidak diketahui sebagian besar pejabat negara.
Divisi Khusus Fenomena Spiritual.
Di ruang jiwa.
Jarak Ethan dan Varkesh kini tinggal beberapa langkah.
Kabut hitam berubah menjadi pedang raksasa.
Varkesh mengayunkannya.
Ethan tidak menangkis.
Ia justru memukul salah satu pilar cahaya.
Pilar itu berpindah.
Membentuk formasi baru.
Pedang hitam menghantam pilar.
Bukannya menghancurkan...
Energi pedang justru terserap.
Varkesh mengernyit.
"Meminjam seranganku?"
Ethan akhirnya berbicara.
"Setiap energi memiliki arah."
"Kau terlalu terbiasa menghancurkan."
"Karena itu kau lupa..."
"...energi kehampaan juga bisa diarahkan."
Pilar-pilar cahaya tiba-tiba berubah warna.
Sebagian menjadi hitam.
Sebagian tetap emas.
Keduanya berputar.
Tidak saling menghancurkan.
Melainkan saling menyeimbangkan.
Wajah Varkesh perlahan berubah serius.
Untuk pertama kalinya...
Ia tidak lagi memandang Ethan sebagai manusia biasa.
"Siapa sebenarnya kau?"
tanya Varkesh.
Ethan mengangkat kepalanya.
"Aku juga sedang mencari jawabannya."
"Lalu kenapa kau melawanku?"
"Karena kau mengancam dunia ini."
Varkesh tertawa pelan.
"Dunia?"
"Dunia yang sama yang mengkhianatimu?"
"Dunia yang membunuhmu?"
"Dunia yang membuatmu lahir kembali sebagai manusia lemah?"
"Tidak."
jawab Ethan singkat.
"Mereka bukan dunia."
"Mereka hanya sebagian kecil penghuninya."
Kalimat itu membuat Varkesh terdiam.
Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.
"Jadi..."
"...kau masih seperti dulu."
Tiba-tiba mata raksasa di langit membuka lebih lebar.
Tekanan mengerikan turun dari langit.
Di dunia nyata.
Semua orang spontan berlutut.
Bahkan naga pun mengangkat kepalanya dengan penuh kewaspadaan.
Jenderal Arga sampai memuntahkan darah.
"Aura apa ini..."
Langit retak.
Dari celah ruang turun satu sinar hitam.
Namun sinar itu tidak menuju naga.
Tidak menuju kota.
Melainkan langsung menuju tubuh Ethan.
Di dalam ruang jiwa.
Varkesh tersenyum puas.
"Akhirnya."
"Dia melihatmu."
Ethan mengangkat kepala.
"Siapa?"
"Yang sejak awal menunggu kebangkitanmu."
"Penguasa kami."
Belum sempat Ethan bereaksi.
Sinar hitam menembus ruang jiwa.
Seluruh formasi delapan pilar hancur dalam sekejap.
Varkesh tertawa keras.
"Manusia..."
"Kau memang luar biasa."
"Tapi kau belum cukup kuat menghadapi-Nya."
Sesaat kemudian...
Sebuah suara yang begitu tua hingga seolah telah ada sebelum dunia tercipta bergema di seluruh ruang.
"Akhirnya... aku menemukanmu."
Suara itu tidak mengandung kemarahan.
Tidak pula kebencian.
Hanya kepastian mutlak.
"Pewaris Takdir Ketiga."
Mata Ethan menyipit.
Takdir Ketiga?
Sebelum ia sempat bertanya, sebuah simbol hitam berbentuk mata perlahan muncul di punggung tangan kirinya, memancarkan rasa dingin yang menembus jiwa.
Pada saat yang sama, jauh di tempat lain yang tak diketahui siapa pun, seorang pria tua yang telah tertidur di dalam peti batu selama ribuan tahun tiba-tiba membuka kedua matanya.
Ia tersenyum tipis.
"Jadi... anak itu akhirnya ditemukan."
Di belakang peti batu itu, sembilan pedang kuno bergetar bersamaan.
Dan di dinding gua tempat pria tua itu bersemayam, terukir satu kalimat yang telah lama dilupakan oleh sejarah:
"Ketika Mata Kehampaan menandai Pewaris Ketiga, perang terakhir para Kaisar akan dimulai."