NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16_ Kuntilanak hitam part akhir.

Malam Terakhir di Rumah Tua (Bagian 3 - Tamat)

Jeritan itu mengguncang seluruh rumah tua.

"AKU DIBUNUH DI RUMAH INI!"

Suara itu menggema dari setiap sudut ruangan. Dinding tua bergetar. Debu-debu berjatuhan dari langit-langit.

Sinta menjerit histeris.

"Aaaah! Tolong... aku ingin pulang!" teriak Sinta sambil menangis. Wajahnya dipenuhi air mata, matanya membelalak, bibirnya gemetar hebat, dan tubuhnya terus bergetar ketakutan.

Raka memegang bahu Sinta.

"Tenang, Sinta! Jangan sampai kita terpisah!" kata Raka berusaha tegar. Wajahnya pucat pasi, napasnya memburu, tetapi ia berusaha tetap melindungi kedua sahabatnya.

Dimas masih terduduk di lantai.

"Ini... ini semua gara-gara keluargaku?" bisik Dimas. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah, kedua tangannya gemetar, dan air mata terus mengalir di pipinya.

Kuntilanak Hitam melayang perlahan mendekati mereka.

"Akhirnya... keturunan pembunuh itu datang juga..." ucapnya lirih. Senyumnya melebar hingga tampak tidak wajar, sementara matanya yang hitam pekat menatap tajam ke arah Dimas.

Dimas menundukkan kepala.

"Aku tidak tahu apa yang dilakukan kakekku..." ucap Dimas sambil menangis. Wajahnya dipenuhi penyesalan, bahunya bergetar, dan suaranya terdengar sangat lemah.

Kuntilanak Hitam tertawa panjang.

"Hihihihihi... semua keluarganya selalu berkata seperti itu..." katanya dingin. Tatapannya penuh kebencian, rambutnya melayang tanpa tertiup angin.

Tiba-tiba...

Tok... Tok... Tok...

Puluhan langkah kaki turun dari lantai atas.

Ketiganya menoleh bersamaan.

Di tangga berdiri belasan perempuan berwajah pucat. Leher mereka penuh luka, pakaian mereka berlumuran darah, dan mata mereka kosong.

Sinta menjerit keras.

"Mereka... mereka hantu semua!" teriak Sinta sambil memejamkan mata. Wajahnya benar-benar pucat, tubuhnya hampir kehilangan tenaga.

Salah satu arwah melangkah maju.

"Tolong kami..." bisiknya. Wajahnya dipenuhi luka sayatan, sementara air mata darah mengalir dari kedua matanya.

Raka memberanikan diri berbicara.

"Siapa kalian?" tanya Raka dengan suara bergetar. Tangannya menggenggam kamera erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Seorang perempuan menjawab.

"Kami semua dibunuh karena mengetahui rahasia keluarga itu..." katanya lirih. Senyumnya penuh kesedihan, sementara kepalanya perlahan miring hingga terdengar suara tulang retak.

Dimas langsung menangis.

"Ya Tuhan..." bisiknya. Matanya dipenuhi rasa bersalah yang semakin besar.

Kuntilanak Hitam menatap Dimas.

"Empat belas perempuan mati di rumah ini." katanya pelan. Suaranya kini terdengar penuh kesedihan, bukan kemarahan.

Raka terkejut.

"Empat belas orang?" tanyanya. Wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya.

Kuntilanak Hitam mengangguk perlahan.

"Kakekmu menjadi kepala keluarga yang disegani. Namun diam-diam ia menghabisi siapa pun yang mengetahui bisnis gelap keluarganya." ucapnya dingin. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit rumah.

Dimas menggeleng kuat.

"Tidak... tidak mungkin..." katanya lirih. Air matanya semakin deras, wajahnya dipenuhi rasa hancur.

Tiba-tiba...

Bruk!

Sebuah lemari tua roboh sendiri. Di balik lemari terdapat sebuah pintu rahasia.

Kuntilanak Hitam menunjuk ke arah pintu itu.

"Masuklah..." katanya pelan. Tatapannya berubah tajam.

Mereka bertiga saling berpandangan.

Raka menghela napas.

"Kita harus melihat semuanya..." ucap Raka dengan suara berat. Wajahnya masih ketakutan, tetapi kini dipenuhi tekad.

Dimas mengangguk pelan.

"Aku akan bertanggung jawab jika memang keluargaku yang bersalah." katanya lirih. Matanya memerah karena menangis.

Mereka bertiga masuk ke ruang bawah tanah.

Ruangan itu sangat gelap. Bau anyir darah masih terasa, seolah pembunuhan baru saja terjadi.

Di tengah ruangan terdapat sumur tua. Di sekelilingnya berserakan tulang-belulang manusia.

Sinta langsung muntah.

"Ya Tuhan..." ucapnya sambil terisak. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas, dan lututnya hampir tak mampu menopangnya.

Tiba-tiba terdengar suara laki-laki tua.

"Jangan buka sumur itu!" Suara tersebut menggema dari balik kegelapan.

Perlahan muncul sosok pria tua berpakaian zaman dahulu. Wajahnya penuh luka bakar.

Dimas langsung membeku.

"Itu..." bisiknya.

Pria itu menatap Dimas.

"Aku kakekmu..." katanya pelan. Wajahnya penuh penyesalan, matanya dipenuhi air mata.

Raka terkejut.

"Arwahmu masih di sini?" tanya Raka dengan napas memburu. Wajahnya dipenuhi rasa takut.

Pria tua itu mengangguk.

"Aku dikutuk... karena dosa-dosaku." katanya lirih. Bahunya merosot, wajahnya tampak sangat menderita.

Kuntilanak Hitam melayang mendekat.

"Kau pantas mendapatkannya!" bentaknya marah. Wajahnya berubah mengerikan, taringnya memanjang, dan matanya mengeluarkan darah hitam.

Pria tua itu menangis.

"Aku menyesal..." katanya lirih. Air mata bercampur darah mengalir dari kedua matanya.

Dimas berlutut.

"Kakek... kenapa?" tanyanya sambil menangis. Wajahnya dipenuhi rasa kecewa dan hancur.

Pria tua itu menjawab dengan suara lirih.

"Keserakahan... membuatku menjadi iblis." katanya penuh penyesalan. Kepalanya tertunduk dalam.

Kuntilanak Hitam berteriak.

"Penyesalanmu tidak akan menghidupkan kami kembali!" teriaknya penuh amarah. Rambutnya melayang liar, seluruh ruangan bergetar hebat.

Sumur tua tiba-tiba mengeluarkan suara. Dari dalamnya muncul tangan-tangan pucat. Puluhan tangan merayap keluar.

Sinta menjerit.

"Mereka keluar!" teriaknya histeris. Wajahnya dipenuhi ketakutan luar biasa.

Arwah-arwah korban mulai bermunculan. Mereka mengelilingi pria tua itu.

"Tolong..." ucap pria tua tersebut sambil gemetar. Wajahnya dipenuhi rasa takut yang selama puluhan tahun ia sembunyikan.

Para arwah berbicara bersamaan.

"Kami menunggumu..."

"Kami tidak pernah bisa tenang..."

"Kini giliranmu menerima hukuman..."

Suara mereka memenuhi ruangan.Puluhan tangan hantu menarik tubuh pria tua itu.

"Tidaaaak!" jeritnya sambil meronta. Matanya membelalak ketakutan, wajahnya dipenuhi penyesalan yang terlambat.

Dalam sekejap...

Tubuhnya diseret masuk ke dalam sumur. Jeritannya perlahan menghilang. Keadaan menjadi sunyi.

Kuntilanak Hitam perlahan menangis.

"Akhirnya..." bisiknya lirih. Air mata darah mengalir di pipinya, wajahnya kini tidak lagi dipenuhi amarah.

Dimas mendekatinya perlahan.

"Aku tidak bisa menghapus dosa keluargaku..." ucap Dimas dengan suara serak. Wajahnya penuh penyesalan dan rasa bersalah.

Kuntilanak Hitam menatap Dimas.

"Tapi kau bukan dia..." katanya pelan. Senyumnya mulai menghilang, tatapannya berubah lembut.

Dimas menangis semakin keras.

"Maafkan keluargaku..." katanya sambil menundukkan kepala. Bahunya terus bergetar.

Kuntilanak Hitam mengangguk perlahan.

"Aku memaafkanmu..." bisiknya lirih. Air mata terakhir jatuh dari matanya.

Perlahan tubuhnya berubah menjadi cahaya putih. Arwah-arwah korban satu per satu ikut menghilang. Sebelum lenyap, mereka tersenyum.

"Terima kasih..." ucap mereka bersamaan. Wajah-wajah mereka kini tampak damai.

Seluruh rumah tua tiba-tiba berguncang hebat.

Raka berteriak.

"Kita harus keluar sekarang!" teriaknya panik. Wajahnya dipenuhi kepanikan, napasnya memburu.

Mereka bertiga berlari sekuat tenaga. Tangga mulai runtuh. Dinding retak. Kayu-kayu tua berjatuhan.

Saat mereka berhasil keluar...

BRAAAK!

Rumah tua itu ambruk seluruhnya. Debu tebal memenuhi udara. Mereka bertiga jatuh terduduk di halaman.

Matahari mulai terbit. Suasana terasa hangat.

Dimas memandang puing-puing rumah itu.

"Semuanya sudah berakhir..." bisiknya lirih. Wajahnya masih dipenuhi kesedihan, tetapi kini ada sedikit kelegaan.

Namun...

Raka membuka kamera yang sejak tadi ia bawa. Ia ingin memastikan semua rekaman masih ada.

Layar kamera menyala. Rekaman terakhir memperlihatkan mereka bertiga berlari keluar rumah.

Tiba-tiba muncul satu sosok perempuan bergaun hitam berdiri tepat di belakang Dimas.

Perempuan itu tersenyum. Lalu berbisik pelan.

"Aku memang memaafkanmu..." ucaplirih. "Tapi... tidak semua arwah di rumah itu sudah pergi."

Layar kamera mendadak dipenuhi gangguan. Sebelum mati total, terdengar suara tawa perempuan yang sangat pelan.

"Hihihihihihi..."

Mereka bertiga saling berpandangan dengan wajah membeku.

Di belakang mereka... Di atas puing-puing rumah tua...

Sesosok perempuan berambut panjang berdiri diam sambil menatap mereka tanpa berkedip.

Dan sejak hari itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati bekas Rumah Tua Bukit Larangan lagi, karena setiap malam Jumat Kliwon masih terdengar suara tangisan perempuan yang memanggil nama orang-orang yang lewat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!