Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Serangan ke Desa Aster (Bagian 2)
Kabut tipis mulai menyelimuti gerbang utara Desa Aster.
Semua orang menahan napas.
Dari balik pepohonan, langkah kaki yang berat terdengar semakin jelas.
Dum... Dum... Dum...
Lalu muncullah sosok yang sangat dikenali Leon.
Alpha Dire Wolf.
Tubuhnya yang besar berdiri tegak di depan hutan, sementara sepasang mata emasnya menatap lurus ke arah Varok.
Namun...
Yang membuat semua orang terkejut bukanlah kemunculan sang Alpha.
Melainkan barisan di belakangnya.
Shadow Lynx berjalan keluar dari balik semak dengan langkah tenang. Di sisi lain, Moon Fox berekor tiga melompat ke atas sebuah batu besar. Puluhan monster lain yang sebelumnya bersembunyi ikut bermunculan.
Iron Deer.
Stone Bear.
Wind Falcon.
Semua monster yang biasanya saling bermusuhan kini berdiri dalam satu barisan.
Bukan untuk menyerang desa.
Melainkan menghadang Varok.
Leon menatap pemandangan itu dengan takjub.
"Mereka..."
"...semua Penjaga."
Lyra mengangguk pelan.
"Waktu yang kutakutkan akhirnya tiba."
Varok menghela napas panjang.
"Benar-benar merepotkan."
"Aku hanya ingin mengambil satu manusia."
"Tapi kalian selalu ikut campur."
Alpha Dire Wolf menggeram pelan.
Raungan itu mengguncang udara.
Seluruh monster di belakangnya langsung memasang posisi bertarung.
Varok tertawa kecil.
"Baiklah."
"Kalau begitu..."
"...bermain sebentar tidak masalah."
Ia mengepalkan tangan.
Energi Abyss hitam pekat mulai menyelimuti tubuhnya.
Tanah di bawah kakinya retak.
Udara menjadi semakin berat.
Bahkan beberapa pemburu muda mulai kesulitan bernapas.
Leon menggertakkan giginya.
"Tekanan ini..."
"...jauh lebih kuat daripada saat melawan Shadow Lynx."
Rowan melangkah ke samping Leon.
"Jangan bergerak."
"Pertarungan ini..."
"...bukan level kita."
Tanpa aba-aba, Alpha Dire Wolf menerjang lebih dulu.
BOOM!
Tanah meledak akibat kekuatan lompatannya.
Varok menyambutnya dengan satu pukulan.
DOOOONG!!
Benturan keduanya menghasilkan gelombang kejut yang menyapu pepohonan di sekitar gerbang.
Beberapa pohon kecil langsung tumbang.
Leon sampai harus menancapkan pedangnya ke tanah agar tidak terlempar.
Shadow Lynx memanfaatkan celah itu.
Tubuhnya menghilang.
Sesaat kemudian...
Sraaak!
Cakar tajamnya berhasil menggores bahu Varok.
Untuk pertama kalinya...
Darah hitam menetes ke tanah.
Varok melihat lukanya, lalu tersenyum.
"Bagus."
"Akhirnya ada yang bisa melukaiku."
Namun senyum itu hanya bertahan sesaat.
Moon Fox mengangkat ketiga ekornya.
Cahaya putih kebiruan berkumpul di ujung ekor.
Puluhan bola cahaya kecil melesat ke arah Varok.
Whoosh! Whoosh! Whoosh!
Ledakan demi ledakan memenuhi medan perang.
Asap mengepul tinggi.
Riven yang berdiri di samping Leon menelan ludah.
"Ini..."
"...benar-benar monster?"
Leon menggeleng pelan.
"Mereka lebih seperti..."
"...penjaga dunia."
Ketika asap mulai menghilang, sosok Varok kembali terlihat.
Jubah hitamnya telah robek.
Beberapa sisik di lengannya pecah.
Namun...
Ia masih berdiri.
"Hahaha..."
"Bagus."
"Sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini."
Tiba-tiba, Varok mengangkat kedua tangannya ke langit.
Energi Abyss mulai berputar membentuk pusaran hitam raksasa.
Langit yang tadinya cerah perlahan menggelap.
Petir hitam menyambar tanpa suara.
Lyra langsung berubah pucat.
"Tidak..."
"Dia tidak mungkin menggunakan teknik itu di sini."
Leon menoleh.
"Teknik apa?"
Lyra menggigit bibirnya.
"Kalau pusaran itu selesai terbentuk..."
"...seluruh Desa Aster akan lenyap."
Leon mengepalkan tangannya.
Ia sadar bahwa Rowan, Garrick, Orion, bahkan para Penjaga mungkin tidak mampu menghentikan serangan itu tepat waktu.
Saat itulah...
Kotak Warisan Penjaga di dalam tasnya mulai bergetar hebat.
Ding!
【Resonansi Penjaga Terdeteksi】
Syarat Terpenuhi.
Tiga Penjaga hadir di medan yang sama.
Sinkronisasi meningkat...
4% → 7%
Kotak hitam itu memancarkan cahaya keemasan yang menembus tas Leon.
Semua orang di medan perang menoleh ke arahnya.
Termasuk Varok.
Senyum di wajah prajurit Abyss itu perlahan menghilang.
"Itu..."
"...Kotak Warisan?"
Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai...
Nada suaranya dipenuhi keterkejutan.
Dan Leon mulai menyadari bahwa benda yang selama ini ia anggap hanya sebuah peninggalan ternyata memiliki arti yang jauh lebih besar.
Sebuah rahasia yang bahkan mampu membuat seorang prajurit Abyss kehilangan ketenangannya.
Bersambung...