Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kursus Kilat Menjadi Pasangan Mesra
Malam sebelum hari H reuni tiba, ruang tamu kontrakan Arga dan Kinar berubah fungsi menjadi kelas akting dadakan. Di atas meja kopi, kertas Rules of Engagement mereka kemarin sudah digeser, digantikan oleh dua cangkir kopi hitam dan camilan keripik singkong yang mulai melempem.
Arga berdiri di tengah ruangan sambil bersedekap, menatap Kinar yang duduk di sofa dengan dahi berkerut. Cowok itu berdeham, meniru gaya seorang sutradara film profesional.
"Oke, Kinar. Besok kita bakal menghadapi interogasi tingkat dewa dari Maya dan Dika. Mata mereka itu lebih jeli daripada intel polsek. Kalau kita keliatan kaku dikit aja, habis kita diketawain sampai tujuh turunan," ujar Arga serius.
Kinar memutar bola matanya, lalu mengambil segenggam keripik. "Ya terus kita harus gimana? Masa gue harus gelayutan di lengan lo sepanjang acara? Yang ada gue malah pengen muntah, Ga."
"Ya gak usah se-ekstrem itu juga. Tapi minimal, panggilan kita gak boleh pakai 'Lo-Gue' lagi pas di depan mereka. Mulai detik ini, kita latihan panggil pakai sebutan yang agak... ya, sewajarnya pasutri lah," usul Arga, meski telinganya sendiri mendadak agak memerah.
Kinar langsung tersedak keripik singkong yang sedang dikunyahnya. Dia terbatuk-batuk kecil sebelum menatap Arga dengan pandangan ngeri. "Maksud lo... gue harus manggille 'Sayang' gitu? Najis banget, Arga! Lebih baik gue disuruh makan cabai rawit sekilo daripada harus manggil lo pakai kata itu!"
"Gue juga merinding, Kinar! Siapa juga yang mau dipanggil sayang sama macan tutul kaya lo," balas Arga gak mau kalah. "Gimana kalau yang agak kasual tapi tetep keliatan deket? Misalnya... Ay? Atau Mas?"
"Panggilan Mas gak cocok sama tampangan lo yang petakilan begini. Yang ada gue ngerasa lagi manggil abang tukang bakso seberang jalan," potong Kinar cepat, membuat Arga mendengus kesal. "Udah deh, pakai nama aja tapi nadanya dilembutin dikit. Terus di depan anak-anak, panggil 'Papa-Mama' aja buat bercandaan, biar mereka mikir kita emang lagi sengaja pamer."
Arga tampak menimbang-nimbang usulan itu, lalu mengangguk setuju. "Oke, sepakat. Masalah panggilan beres. Sekarang masalah kontak fisik. Besok pasti ada momen di mana kita harus duduk dempetan atau minimal jalan berdampingan. Sini, coba lo berdiri."
Kinar menghela napas panjang, meletakkan sisa keripiknya, lalu berdiri menghadapi Arga. Jarak mereka kini hanya tersisa sekitar setengah meter. Entah karena efek lampu ruang tamu yang agak temaram atau karena suasana yang mendadak sunyi, Kinar mendadak merasa atmosfer di antara mereka berubah menjadi canggung yang luar biasa.
Arga melangkah satu tindakan lebih dekat. Wangi sabun mandi pasca-kerjanya yang segar maskulin mendadak menyeruak ke indra penciuman Kinar. Cowok itu mengulurkan tangan kanannya, telapak tangannya terbuka di depan Kinar.
"Coba pegang tangan gue. Tapi jangan kaya lo mau ngajak panco. Pegang yang rileks, kaya cewek kalau lagi jalan sama cowoknya," perintah Arga, suaranya entah kenapa terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya.
Kinar menelan ludah. Jantungnya tiba-tiba melakukan gerakan akrobatik yang tidak wajar di dalam dadanya. Dengan ragu, dia mengulurkan tangannya, membiarkan jari-jarinya bertautan dengan jari-jari Arga. Telapak tangan Arga terasa besar, hangat, dan agak kasar di beberapa bagian karena hobi cowok itu yang suka bongkar-pasang mesin.
Mereka berdua terdiam selama beberapa detik. Hanya ada suara detak jam dinding kontrakan yang terdengar nyaring. Mata mereka saling bertatapan, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun bersahabat, Kinar menyadari kalau mata Arga ternyata punya binar yang cukup tegas dan... menyenangkan untuk dilihat.
"Gimana? Gak semenakutkan itu kan?" bisik Arga, memecah keheningan sambil memberikan remasan pelan pada jemari Kinar.
Kinar dengan cepat menarik tangannya kembali, wajahnya sudah terasa panas seperti disengat matahari siang bolong. Dia langsung berbalik badan, pura-pura sibuk merapikan bantal sofa yang sebenarnya sudah rapi.
"E-eh... iya, biasa aja kok! Tangan lo kasar banget, besok-besok pakai hand cream napa!" omel Kinar dengan nada tinggi yang dipaksakan, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya yang sudah berada di ambang batas aman.
Arga terkekeh pelan melihat reaksi salah tingkah sahabatnya itu. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, mencoba menutupi fakta bahwa telapak tangannya sendiri sebenarnya mendadak ikut berkeringat dingin.
"Ya udah, latihan malam ini selesai. Besok jam satu siang kita berangkat. Inget, Kinar, besok adalah panggung sandiwara terbesar dalam hidup kita. Jangan sampai lo merusak reputasi suami tampanmu ini," ujar Arga sambil berjalan menuju kamarnya di bagian belakang dengan langkah santai.
Begitu pintu kamar Arga tertutup, Kinar langsung menjatuhkan dirinya kembali ke sofa. Dia memegang dadanya yang masih berdegup kencang, menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja bersentuhan dengan tangan Arga.
"Duh, Gusti... kenapa jantung gue malah begini sih? Ini kan cuma si Arga! Arga yang pernah nangis gara-gara kemasukan semut di telinganya!" gumam Kinar frustrasi, merutuki hatinya yang mulai tidak bisa diajak bekerja sama.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/