NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15- Ibu tiri

Lanjut....

Siang itu, toko bunga Alena dipenuhi pelanggan.

Aroma mawar, lily, dan baby’s breath bercampur menjadi satu, memenuhi udara yang hangat. Suara pintu yang terbuka dan tertutup silih berganti, diiringi langkah kaki dan percakapan pelanggan yang datang tanpa henti.

Semenjak tadi Alena berdiri di balik meja, dengan tangannya yang bergerak cepat merangkai bunga.

“Yang ini ditambah pita warna krem, ya, Kak,” ucap seorang pelanggan.

“Baik, tunggu sebentar,” jawab Alena dengan senyuman manis, meski peluh mulai terlihat di pelipisnya.

Di sisi lain, Bara sibuk memotong batang bunga dengan gerakan cekatan, rapi, dan tanpa banyak bicara.

Sementara itu, Max justru terlihat kewalahan. “Ini bunga apa lagi sih?!” gerutunya sambil memegang dua jenis bunga yang berbeda.

“Yang itu mawar, yang itu peony,” jawab Alena tanpa menoleh.

“Kelihatannya sama,” balas Max.

“Tidak sama,” sahut Bara dan Max pun mendecak kesal.

“Mas, ini bisa dibungkus sekarang?” tanya pelanggan lain.

“Iya—eh, tunggu, bentar!” jawab Max panik.

“Max, tolong fokus,” kata Alena seraya menghela napas.

“Ini gue fokus!” balas Max cepat, meski tangannya masih kikuk membungkus bunga.

Kesibukan itupun terus berlangsung hingga tiba-tiba…

kring!

Pintu toko terbuka, dan terdengar langkah seseorang masuk dengan sepatu haknya yang terdengar jelas menyentuh lantai.

Saat melihat orang yang baru datang itu, Bara langsung berhenti. Tangannya yang memegang gunting seketika membeku. Raut wajahnya seketika berubah, kosong, kaku dan tertunduk diam.

Seorang wanita paruh baya tengah berdiri di dekat pintu. Penampilannya rapi, elegan, dengan aura angkuh yang begitu terasa. Ketajaman matanya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada rangkaian bunga di meja, lalu ia tersenyum tipis.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” sapa Alena ramah, seperti biasanya.

Wanita itu pun menoleh. Tatapannya turun dari wajah Alena… ke bahu… hingga ke ujung kaki, seolah menilai dan mengukur semua tentang Alena yang kemudian ia tersenyum dengan lebar.

“Ah… jadi Anda pemilik toko ini?” tanyanya dan Alena pun mengangguk.

“Iya, benar.”

“Cantik sekali tempatnya,” ujar wanita itu sambil berjalan perlahan mendekati meja bunga. “Sederhana… tapi berkelas.”

“Terima kasih,” jawab Alena sopan.

Sementara itu di sudut ruangan, Bara masih diam membeku dan tidak bergerak sama sekali, bahkan suaranya tak terdengar lagi.

Max yang menyadari perubahan itu pun mengernyit, lalu bergantian melirik ke arah Bara dan wanita paruh baya tadi.

“Lo kenapa?” bisiknya.

Namun Bara tidak menjawab. Tatapannya hanya terpaku pada wanita itu. Wanita yang mulai menyentuh satu per satu bunga milik Alena.

“Hmm… mawar merah… klasik,” gumamnya. “Lily putih… elegan.”

Melihat pelanggannya itu tertarik, Alena pun segera mendekat.

“Kalau Anda butuh rekomendasi—”

“Tidak perlu,” potong wanita itu dengan halus. “Saya tau apa yang saya suka.”

Nada bicaranya terdengar lembut, namun terasa menekan. Ia terus memilih bunga, seolah sedang berada di galeri mahal.

Hingga beberapa menit berlalu wanita itu akhirnya berhenti di depan beberapa bunga.

“Yang ini saja,” katanya, sambil menunjuk beberapa bunga pilihannya.

“Baik, saya bungkuskan," jawab Alena.

Kemudian Alena mulai merangkai bunga dengan rapi. Tangannya bekerja cepat, meski ia masih sesekali melirik ke arah Bara yang… tidak seperti biasanya.

“Rapih,” komentar wanita tadi sambil memperhatikan kinerja Alena.

“Sudah biasa," jawab Alena seraya tersenyum ramah.

“Tentu saja,” balas wanita itu. “Orang yang membangun sesuatu dari bawah biasanya lebih teliti.”

Alena sedikit terdiam saat mendengar kalimat barusan,yang sepintas terdengar seperti pujian tapi juga seperti sindiran. Namun ia tidak menghiraukan dan terus melanjutkan.

Sementara itu, Bara akhirnya bergerak dan melangkah satu langkah. Namun ia berhenti lagi ketika tatapan wanita itu perlahan bergeser dan akhirnya bertemu dengan mata Bara.

“Bara.”

Satu kata keluar dari mulut wanita tadi. Spontan Max pun langsung menoleh cepat ke arah Bara.

“Lo kenal dia?” bisiknya.

Bara tidak menjawab pertanyaan Max tersebut, hingga akhirnya wanita itu melangkah mendekat padanya.

“Sudah lama tidak bertemu,” katanya.

“…Ibu,” ucap Bara seraya menunduk.

Alena yang mendengar itu pun langsung tertegun. “Ibu…?” gumamnya dalam hati.

“Oh…” gumam Max seraya mengangkat alisnya. Akhirnya ia mulai paham, kenapa ekspresi Bara langsung berubah.

“Kamu bekerja di sini?” tanya wanita tadi lagi sambil melirik sekitar.

“Tidak,” jawab Bara “Hanya membantu.”

“Membantu?” ulang wanita itu. “Menarik.”

Di tengah percakapan itu Alena datang dengan membawa rangkaian bunga yang sudah selesai. “Ini pesanannya, Bu.”

Wanita itu pun menerimanya, namun matanya masih tertuju pada Bara. “Kamu selalu punya cara mengejutkan saya,” katanya, yang membuat Bara semakin menunduk.

Wanita itu lalu mengeluarkan kartu.

“Berapa?”

Alena menyebutkan harga dan wanita itu pun langsung membayar tanpa ragu dan kembali menatap Alena.

“Tempat Anda… menarik,” katanya. “Saya mungkin akan kembali.”

Lalu, tatapannya beralih ke Bara. “Dan kamu… kita akan bicara nanti.”

Tanpa menunggu jawaban, wanita itu langsung berbalik dan melangkah keluar.

kring!

Pintu pun tertutup.

Dalam beberapa saat tidak ada percakapan antara Alena, Bara juga Max. Hingga akhirnya Max mendekat dan bergumam, “Gila… Aura emak lo serem juga.”

Bara melirik Max sejenak lalu menatap kembali punggung ibu tirinya yang memasuki mobil.

Alena menatap Bara dan melihat kekhawatiran di sorot matanya lalu bertanya, “Bara… kamu tidak apa-apa?."

Bara masih menatap pintu.

Lalu perlahan menarik napas dalam-dalam.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya.

Namun, tidak seperti yang di katakannya barusan. Sebenarnya ia sedang tidak baik-baik saja. Nyatanya tangannya masih sedikit gemetar.

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!