Dirga dan Asha..
Keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih saat duduk di bangku sekolah, Asha adalah cinta pertama Dirga begitu juga Dirga yang cinta pertama Asha.
Keduanya saling mencintai satu sama lain, bahkan mereka bermimpi untuk menikah suatu hari nanti.
Namun takdir berkata lain..
Orangtua Dirga menentang hubungan Asha dengan Dirga, meminta Asha untuk pergi dengan memberikan sejumlah uang kepada asha.
Asha pun pergi meninggalkan Dirga tanpa penjelasan yang jelas..
Lima tahun berlalu..
Asha kembali Ke Jakarta..
Asha berpikir semuanya sudah berubah, termasuk Dirga..
Namun takdir kembali mempertemukan Dirga dan Asha, bukan sepasang kekasih tapi Bos dan juga asisten pribadinya.
apakah mereka akan kembali bersatu ? atau justru sudah ada orang lain yang mengisi hidup mereka ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Pagi hari saat Asha turun dari kamarnya, ia mencium aroma gosong dari arah dapur
Asha pun segera berlari turun untuk mencari tau
Begitu sampai di dapur, Asha pun tidak bisa menahan tawanya
" Astaga Dirgaa, kamu ngapain ? "
Dirga yang sedang panik langsung menoleh ke belakang
" Sha.. "
Asha mendekati Dirga dan melihat penggorengan dan roti yang gosong diatasnya
" Kamu ngapain ? "
" Aku mau bikin roti yang biasa kamu buat, tapi... "
Asha tertawa..
" Pak Dirga lapar ? "
" Kenapa nggak bilang ke saya ? "
" Nggak saya.. "
Dirga menggantunh ucapannya
" Iyah saya lapar "
Asha menggeleng sambil tersenyum
" Yaudah Pak Dirga duduk aja, nanti biar saya yang buatkan ya "
" Nggak, saya mau liat kamu masak "
" Yaudah "
Asha pun mulai membuat sarapan untuk mereka berdua..
Ia mengambil beberapa helai roti, dan mengolesnya dengan selai coklat
Setelah itu ia memanggang dengan sedikit margarin di atas pan
" Loh nggak pakai minyak ? " tanya Dirga
" Ya nggak dong Pak Dirgantara "
Dirga tersenyum, mendengar Asha memangil namanya seperti itu membuat Dirga merasa senang
" Udah selesai deh " ucap Asha menunjukkan roti yang sudah jadi
" Kayaknya sudah cocok menjadi isri " ucap Dirga yang kemudian pergi dari dapur
Sedangkan Asha yang mendengar itu tak bisa menahan senyumnya
Bahkan saat ini jantungnya sudah berdebar dengan kencang
Asha meletakka roti itu diatas meja, tak lupa ia juga membuatkan teh hangat
" Selamat menikmati, Pak Dirga "
Saat Asha hendak pergi, Dirga menarik tangan Asha dengan cepat
" Tunggu "
Asha melirik pergelangan tangannya, Dirga yang menyadari langsung melepaskannya
" Ada apa Pak ? "
" Malam ini, kita makan malam di luar bisa ? "
Asha tersenyum
" Bukannya kita sering makan di luar ya Pak ? "
" Ohh ya iyah "
" Yaudah saya balik ke dapur lagi ya Pak "
Asha pun menghilang dari pandangan Dirga
" Dirga bodoh, kenapa susah banget sih ngomong "
" Ngasih minum gagal, masak gagal, bodoh bodoh "
Dirga berkata sendirian sambil memukul keningnya
....
Di kantor Asha mencoba fokus dengan pekerjaannya..
Namun ucapan ibu Dirga terus membayangi pikirannya
" Gue harus cerita ke Naufal "
Asha meraih ponselnya, dan mengirim pesan kepada sahabatnya itu
[Asha : Naufal..]
[Naufal : Ya, Sha kenapa ? ]
[Asha : Lo lagi sibuk nggak ? ]
[Naufal : Enggak, kenapa Sha ? ]
[Asha : Gue bisa telpon sekarang ? ]
[Naufal : Bisa Sha ]
Asha pun membawa ponselnya pergi dari ruangan dan mencari tempat yang aman
Diruangan Dirga masih memikirkan cara untuk kembali dekat dengan Asha
" Gagal gagal gagal semua gagal "
Disaat pikirannya sedang kacau..
Ponsel Dirga mendapatkan panggilan masuk dari ibunya
" Apalagi sih Mamah ini "
Dirga pun langsung mengangkatnya
" Ya, kenapa Mah ? "
" Siang ini kerumah, Mamah tunggu "
" Ada apalagi sih Mah "
" Kamu kerumah siang, atau Mamah ke kantor kamu sore ini "
Belum sempat Dirga menjawab, panggilan itu sudah berakhir
" Nggak, Mamah nggak boleh kesini. "
Dirga pun dengan terpaksa akan menemu Mamahnya dirumahnya nanti
Asha yang sudah selesai menghubungi Naufal pun memilih untuk kembali keruangannya
Saat ia hendak masuk, ia melihat Dirga yang keluar dari ruangannya
" Pak Dirga, mau kemana ? "
Tanya Asha
" Saya ada urusan sebentar "
Dirga pun langsung pergi begitu saja
Asha pun tak merasa ada yang aneh, akhirnya ia langsung memilih masuk kedalam ruangan
Dirga langsung pergi kerumah sang Mamah..
Sepanjang jalan ia memikirkan cara menolak perjodohan orangtuanya itu
Perjalanan dari kantor menuju rumah sang Mamamh memakan waktu empat puluh lima menit
Begitu Dirga sampai, ia pun langsung menemui Mamahnya di taman belakang tempat sang Mamah menghabiskan waktu
" Mah.. " panggil Dirga singkat
Sang Mamah yang sedang menyiram tanaman langsung menghampiri putranya
" Dirga.. "
" Kamu ini susah sekali disuruh pulang "
" Dirga sibuk Mah "
" Ayo masuk, ada yang mau mamah bicarain sama kamu "
Dirga pun mengangguk..
Ia mengikuti Mamahnya masuk kedalam..
" Duduk "
" Mamah mau ngomong apa ? Kalau mamah mau jodohin Dirga lagi, mending Dirga balik "
Sang Mamah tersenyum
" Kamu pikir Mamah nggak tau kalau perempuan itu sekarang menjadi sekretaris kamu, Dirga "
Dirga menelan salivanya kasar
" Kamu itu bodoh ya Dirga "
" Berapa kali Mamah bilang, kalau dia itu bukan wanita baik-baik Dirga "
Dirga menghela nafasnya
" Mah.. mungkin dia punya alasan kenapa dia dulu pergi Mah "
" Alasannya apa ? sekarang Mamah tanya, apa dia bilang alasan pergi dulu apa ? "
" Belum "
Sang Mamah tersenyum..
Kemudian ia mengeluarkan salinan cek yang sama persis dengan milik Asha
" Apa ini Mah "
" Kamu lihat tahunnya "
Dirga membaca cek itu, tahun itu persis dimana tahun Asha pergi meninggalkan dirinya
" Maksudnya ini apa Mah ? "
" Kalau dia memang cinta sama kamu, mana mungkin dia mengambil uang ini dan pergi meninggalkan kamu Dirga "
" Demi uang ini, Dia itu ninggalin kamu Dirga "
Dirga tersenyum pahit
" Mah.. Asha bukan orang kayak gitu Mah "
" Asha itu cinta sama Dirga Mah "
Tak sampai disitu, sang Mamah menunjukkan rekaman cctv yang sengaja ia ambil tujuh tahun lalu
" Kalau cek ini belum bikin kamu yakin, bagaimana dengan vidio tujuh tahun lalu ini "
Dirga menonton vidio itu..
Dalam vidio itu Asha menerima cek itu dan memasukkannya kedala dompet miliknya
" Kamu masih bilang dia perempuan baik baik, Dirga ? "
" Masih kurang bukti yang mamah kasih ke kamu ? "'
Tangan Dirga gemetar memegang ponsel milik sang Mamah
Dirga tidak ingin percaya, tapi rekaman itu menunjukan semuanya
" Jadi kamu masih cinta dengan perempuan licik seperti dia, Dirga ? "
" Dia kembali karena harta kamu, bukan karena dia cinta sama kamu Dirga "
Tangan Dirga mengepal dengan kencang..
Bagaimana bisa, selama ini Dirga selalu percaya dengan Asha..
Tapi justru keberanan pahit yang harus Dirga terima
" Jadi ini alasan tujuh tahun yang lalu, kamu pergi Sha.. "