NovelToon NovelToon
Kembalinya Dewa Kematian

Kembalinya Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:149.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.

Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.

Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyelesaikan Masalah Kecil

Long Aotian yang tadi masih berdiri dengan senyum ramah langsung menoleh. Wajahnya yang sempat terlihat menakutkan bagi para pendekar itu mendadak berubah sedikit canggung. Ia mengusap hidungnya.

“…aku memang hanya melihat mereka saja, Tuan Besar.”

Ia menunjuk ke arah kedua kelompok di depannya.

“Lihat… aku bahkan belum bergerak sedikit pun.”

Suasana mendadak menjadi semakin aneh. Orang-orang Kota Shui memandang pria itu dengan ekspresi sulit dijelaskan. Baru sekarang mereka benar-benar memperhatikan orang yang tadi berdiri di depan pintu penginapan itu.

Pria itu terlihat seperti pendekar paruh baya awal empat puluhan. Namun anehnya, saat berdiri di dekat pemuda yang baru keluar dari penginapan itu, perilakunya justru seperti seorang bawahan.

Lalu orang-orang nampak memandang pemuda itu. Semua mata tanpa sadar beralih ke Boqin Changing.

Sekilas, ia terlihat sangat muda. Paling berumur sekitar tujuh belas tahun.

Wajahnya tampan dan tenang. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di belakang punggung. Pakaiannya sederhana, tetapi entah kenapa memberi kesan mahal.

Yang paling aneh adalah auranya. Tidak menekan, tidak menunjukkan kekuatan, tetapi dari cara berdiri dan tatapan matanya muncul perasaan aneh. Perasaan seperti melihat seseorang yang memang terbiasa berada di atas.

Aura pemuda itu nampak seperti keturunan bangsawan besar. Aura seseorang yang terbiasa memberi perintah.

Orang-orang mulai bingung. Kenapa pria sekuat pria paruh baya itu memanggil pemuda ini dengan sebutan Tuan Besar? Bukan Tuan Muda?

Boqin Changing melirik sebentar ke arah orang-orang yang masih berlutut. Lalu berkata datar.

“Lepaskan mereka.”

Long Aotian langsung mengangguk.

“Baik, Tuan Besar.”

Ia mengangkat satu tangan. Lalu mengibaskannya ke depan dengan santai.

Wusss…

Tidak ada ledakan, tidak ada kilatan, namun dalam sekejap tekanan tak terlihat yang menyelimuti seluruh area menghilang.

Para pendekar dari Istana Teratai Putih dan Sekte Sembilan Mata Air langsung tersentak. Tubuh mereka yang tadi seperti tertindih gunung mendadak terasa ringan. Napas mereka kembali. Mulut mereka akhirnya bisa bergerak.

Beberapa orang langsung terbatuk keras.

“Uhuk!”

“Hah… hah…”

Seorang murid hampir roboh ke depan.

Tetua Sekte Sembilan Mata Air memegang dadanya. Wajahnya nampak pucat. Baru sekarang ia sadar jubahnya sudah basah oleh keringat.

Sementara Tetua Istana Teratai Putih diam beberapa saat sebelum perlahan menelan ludah. Tidak ada yang bicara. Karena mereka sadar, pria itu memang belum bergerak. Kalau tadi ia benar-benar berniat menyerang, mungkin mereka semua sudah mati.

Di sisi lain, para penduduk mulai ribut.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kenapa mereka tiba-tiba normal lagi?”

“Teknik apa tadi?”

“Siapa orang-orang itu?”

Namun ketegangan jelas belum benar-benar hilang.

Dua kelompok itu masih berdiri saling berhadapan. Masalah mereka belum selesai.

Saat itulah sesuatu terjadi,

Krekk.

Pintu penginapan terbuka lagi. Seseorang keluar sambil menggigit roti. Pria itu berjalan santai. Usianya terlihat mirip pria yang sebelumnya memberikan tekanan. Penampilannya seperti pria awal empat puluhan dengan wajahnya yang tenang dan sorot mata yang tajam.

Ia bahkan tidak melihat kedua kelompok itu. Hanya menggigit rotinya pelan. Lalu berkata dengan santai.

“Sepertinya suasana sudah tenang.”

Long Aotian berkedip.

“Benarkah?”

Pria itu mengangguk sambil makan.

“Kurasa begitu.”

Seketika suasana kembali sunyi. Semua orang langsung sadar. Pria ini sepertinya juga berbahaya.

Tidak ada yang tahu alasannya. Tapi hanya dari cara berjalan dan tatapannya, mereka tahu orang ini jelas tidak lebih lemah dari pria sebelumnya.

Kini seluruh tatapan tertuju pada tiga orang di depan penginapan. Seorang pemuda dengan dua pria paruh baya di sisinya. Tidak ada yang mengenali mereka, atau setidaknya hampir tidak ada.

Sampai akhirnya, seorang murid muda dari Sekte Sembilan Mata Air tiba-tiba membeku. Matanya melebar. Ia menatap wajah Boqin Changing lagi, lalu lagi. Tubuhnya mulai gemetar.

“…tidak mungkin…”

Temannya menoleh.

“Ada apa?”

Murid itu menelan ludah. Ia mencoba mengingat. Wajah itu, penampilan itu, tatapan itu, dan tiba-tiba sesuatu terhubung.

Tubuhnya langsung bergetar hebat. Dengan suara gemetar ia menunjuk ke arah Boqin Changing.

“P… pemuda itu…”

Semua orang menoleh.

Murid itu hampir tersungkur ke belakang. Lalu berkata dengan suara yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat seluruh jalan mendengarnya.

“…itu Dewa Kematian…”

Ia menelan ludah.

“…Boqin Changing…”

Lalu matanya membesar. Ia melanjutkan dengan gemetar.

“Pelindung Kekaisaran Qin… dan orang yang diyakini paling kuat di kekaisaran ini…”

Seketika suasana meledak.

“Apa?!”

“Boqin Changing?!”

“Dewa Kematian?!”

“Yang membantai Kelompok Tengkorak Hitam itu?!”

“Yang dapat membunuh pendekar suci dengan sangat mudah?!”

Wajah para pendekar berubah. Tetua Istana Teratai Putih langsung membeku. Tetua Sekte Sembilan Mata Air langsung menarik napas dingin. Nama itu terlalu besar.

Beberapa penduduk Kota Shui bahkan langsung berlutut.

Bruk.

Bruk.

Bruk.

Beberapa orang menunduk. Karena mereka memang telah mendengar cerita tentang orang ini.

Pendekar yang mengubah banyak wilayah. Orang yang membuat kelompok aliran hitam meninggalkan Kekaisaran Qin. Orang yang sangat kuat dan dijuluki Dewa Kematian.

Sementara di tengah kegaduhan itu, Boqin Changing hanya berdiri tenang. Ia memandang orang-orang yang mulai berlutut. Lalu memandang para pendekar dari Kelompok Istana Teratai Putih dan Sekte Sembilan Mata Air.

Kemudian berkata datar.

“…bisakah kalian menyelesaikan masalah kalian tanpa keributan?”

Suasana yang tadi sudah sunyi kini terasa semakin berat. Orang-orang dari Istana Teratai Putih dan Sekte Sembilan Mata Air berdiri kaku di tempat mereka. Tidak ada yang berani berbicara lebih dulu.

Baru beberapa saat lalu mereka bersiap bertarung. Sekarang orang yang berdiri di depan mereka adalah Boqin Changing, Dewa Kematian dan Pelindung Kekaisaran Qin. Orang yang namanya bahkan lebih sering terdengar daripada nama sebagian pemimpin sekte.

Para murid mulai gemetar. Beberapa diam-diam menundukkan kepala lebih rendah.

Di sisi Sekte Sembilan Mata Air, seorang tetua akhirnya menarik napas panjang. Ia maju selangkah lalu menangkupkan tangan dengan hormat.

“Senior Chang..”

Ia berhenti sebentar.

Jelas ia nampak jauh lebih tua dari pemuda di depannya. Tetapi di dunia pendekar, usia bukan penentu. Yang kuat lebih dihormati.

Tetua itu melanjutkan dengan nada hati-hati.

“Kami akan segera menyelesaikan masalah ini.”

Boqin Changing tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergeser. Menuju Tetua Istana Teratai Putih.

Pria tua itu masih diam dengan wajahnya yang kusut. Tadi saat marah ia terlihat garang. Sekarang wajahnya pucat dan sedikit gemetar.

Boqin Changing memandangnya beberapa detik. Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. Namun itu jelas bukan senyuman.

Ia berkata pelan.

“…jadi para murid Sekte Sembilan Mata Air yang memprovokasimu…”

Ia berhenti.

“…sehingga kau menyerang mereka?”

Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi semua orang tahu, itu sindiran. Boqin Changing jelas sudah mendengar garis besar masalah mereka.

Tetua Istana Teratai Putih langsung merasa dingin di seluruh tubuh. Ia buru-buru maju.

Bruk.

Ia langsung memberi hormat.

“Senior Chang!”

Suaranya sedikit bergetar.

“Ini… ini murni kesalahanku!”

Ia buru-buru menunduk lebih dalam.

“Aku mabuk semalam…”

“Aku tidak bisa mengendalikan diri…”

“Aku menyerang tanpa berpikir panjang…”

Tetua itu menelan ludah.

“Aku bersedia memberikan kompensasi yang setimpal.”

Boqin Changing memandangnya sebentar.

Lalu menjawab singkat.

“Kalau begitu lakukanlah.”

Tetua Istana Teratai Putih langsung bergerak. Ia menggerakkan cincin ruangnya.

Wussh.

Satu peti kayu muncul. Lalu satu lagi.

Kemudian muncul botol pil. Kemudian beberapa bahan langka. Kemudian senjata. Barang-barang terus keluar. Semakin lama semakin banyak.

Orang-orang yang menonton mulai membelalak.

“Itu…”

“Bukankah itu terlalu banyak?”

“Dia serius memberikan sebanyak itu?”

Jumlah kompensasi itu sudah jauh melampaui biaya pengobatan dan biaya hidup seseorang untuk beberapa tahun ke depan.

Tetapi tetua itu tidak peduli. Karena sekarang harta tidak berarti baginya.

Di depannya berdiri orang yang bisa menghancurkan seluruh kelompok mereka kalau mau. Bahkan pengikutnya saja bisa menekan seorang pendekar suci tanpa bergerak sedikit pun. Apa arti beberapa peti harta?

Tetua Sekte Sembilan Mata Air juga tampak terkejut. Awalnya ia masih ingin berdebat. Namun melihat jumlah itu, ia langsung menarik napas.

Lalu menangkupkan tangan.

“Kami menerima.”

Tetua Istana Teratai Putih segera membungkuk.

“Aku meminta maaf.”

Tetua Sekte Sembilan Mata Air diam beberapa detik. Lalu mengangguk.

“…kami juga tidak ingin memperbesar masalah.”

Keduanya saling memberi hormat. Perselisihan yang tadi hampir berubah menjadi pertumpahan darah, selesai hanya dalam waktu singkat.

Para penduduk masih sulit percaya. Baru beberapa menit lalu mereka berpikir akan melihat pertarungan besar. Sekarang semuanya selesai. Penyebabnya bahkan belum melakukan apa-apa.

Setelah urusan selesai, kedua kelompok kembali membungkuk hormat ke arah Boqin Changing.

“Terima kasih Senior Chang.”

Boqin Changing mengangguk kecil.

“Kalian boleh pergi.”

Tidak lama kemudian kedua kelompok mulai pergi. Tidak ada yang berani ribut lagi. Bahkan langkah mereka terasa jauh lebih pelan daripada sebelumnya.

Setelah jalan mulai kembali kosong, Boqin Changing memandang ke arah Long Aotian dan Wu Xing. Ia berkata santai.

“Masalah kecil sudah selesai.”

Lalu ia berbalik.

“Ayo kita pergi ke sekteku.”

Long Aotian tersenyum.

“Baik, Tuan Besar.”

Wu Xing menggigit sisa rotinya.

“Akhirnya.”

Boqin Changing melangkah.

Wussh.

Tubuhnya terangkat dari tanah. Jubahnya bergerak tertiup angin. Long Aotian dan Wu Xing ikut naik ke udara. Tiga orang melayang tenang di atas jalan.

Para penduduk yang tadi masih berdiri langsung membelalak.

“Terbang…”

“Dia benar-benar terbang…”

“Tidak memakai pusaka?”

“Pendekar benar-benar bisa melakukan itu?”

Bagi para pendekar mungkin itu luar biasa. Namun bagi penduduk biasa, melihat manusia benar-benar terbang dengan mata kepala sendiri terasa seperti melihat legenda hidup.

Anak-anak menunjuk ke langit. Beberapa orang tua menangkupkan tangan. Sebagian bahkan berlutut lagi.

Sementara di atas, Boqin Changing memandang ke arah lokasi sektenya. Ke arah tempat yang sangat dikenalnya, Sekte Dua Pedang Petir. Tempat ia memulai segalanya.

Sudut bibirnya sedikit terangkat.

“…aku pulang.”

1
Iban Hakim
Wkwkwk pengen d ajak
Iban Hakim
Keren
budiman
satu mawar 🌹
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤣🤣🤣🙏
Zainal Arifin
sehebat apapun pencapaian seorg anak,ddepan org tuanya dia ttaplh seorg anak yg harus menghormati ortunya,itulah pesan dan pelajaran bagi kita....😍🤲🤲
Mahayabank
Mantap Lanjuuuut lagi.. 🔁👍💪💪✅
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁👀
Mahayabank
💪💪💪👍👍✅✅
Mahayabank
Makasih upnya 👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
Rinaldi Sigar
lnjut
Mahayabank: Lanjuuuuut 👍👍
total 1 replies
Baim Putra Kirana
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Raju
hadeeeeech.....
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍
Nanik S
Baru kejutan si Tuan muda menyerah 👍👍👍
Nanik S
Wkwkwkwkwk Tuan besar kalah sama Boqin Feng...🤣🤣🤣🤣
yayat
diracunin ayahnya untuk mancing n dpt ijin dr ibunya boqin ga berkutik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe ayoooo mancing mania 👍🤣
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hiburan 🌽🔥
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Wu Xing tepat untuk tetap diSekte, karena dia Ketua Sekte yang ikut Boqin Changing ke Kaisaran Qin. selain menjaga Sekte bisa juga melatih orang diSekte.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!