Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Kilatan Bilah Sihir dan Senjata dari Kereta Dagang
Kapten perampok Gagak Merah itu menyipitkan matanya. Ucapannya yang penuh intimidasi tadi rupanya sama sekali tidak menggetarkan pemuda berjubah hitam di hadapannya. Alih-alih gemetar ketakutan seperti korban-korban mereka sebelumnya, pengawal tunggal bertudung misterius itu justru menantang mereka dengan ketenangan yang luar biasa dingin.
"Berani sekali kau menyombongkan diri di hadapan kami, Bocah!" geram sang kapten, giginya mengatup rapat menahan amarah yang mulai membakar dadanya. Ia mengangkat belati beranginnya tinggi-tinggi ke udara, memberikan isyarat tempur yang mutlak kepada seluruh anak buahnya. "Pasukan! Jangan beri mereka ampun! Potong-potong pemuda sombong ini menjadi serpihan daging!"
Secara serentak, lima orang perampok di barisan depan menarik pedang panjang mereka dari sarungnya. Namun, gaya bertarung mereka kali ini benar-benar berbeda dari musuh-musuh yang pernah Askara hadapi sebelumnya.
Monster Inferno Kong atau para bandit amatir di Desa Boa w biasanya merapalkan sihir murni dalam bentuk proyektil jarak jauh seperti bola api atau sambaran kilat yang melesat di udara. Serangan jenis itu sangat mudah dibaca, dihindari, dan diserap oleh telapak tangan Askara.
Namun, kelompok Gagak Merah ini bertarung dengan taktik kesatria tingkat tinggi. Mereka tidak menembakkan sihir mereka. Sebaliknya, mereka mengalirkan dan memadatkan energi mana murni secara konstan langsung ke bilah pedang mereka.
Syuuutt! Ctar!
Dua pedang di antaranya mendadak membara diselimuti api merah yang bergejolak, sementara tiga pedang lainnya memercikkan aliran listrik petir biru yang sangat pekat dan berisik. Dengan koordinasi yang sangat rapi dan terlatih, kelima perampok itu menerjang maju bersamaan. Mereka mengayunkan bilah-bilah besi tajam berselimut elemen tersebut dalam jarak dekat, menciptakan jaring-jaring tebasan yang mematikan.
"Mati kau!" teriak salah satu perampok bertopeng sembari menusukkan pedang apinya lurus ke arah dada Askara.
Askara mencoba menggunakan teknik andalannya. Ia mengulurkan telapak tangan kirinya, mencoba memotong jalur serangan dan menyerap energi sihir api yang menyelimuti bilah pedang tersebut. Namun, saat telapak tangannya hampir menyentuh energi membara itu, ia menyadari sebuah bahaya besar. Sihir api tersebut terikat kuat secara struktural pada besi pedang fisik musuh. Jika Askara memaksakan diri untuk menyerap energinya dalam posisi diam, bilah pedang besi yang tajam itu akan terus melaju dan menembus tangannya secara fisik.
Bahaya! batin Askara.
Dengan refleks fisik murninya yang ekstrem, Askara memiringkan tubuhnya ke kanan tepat pada pecahan detik terakhir. Bilah pedang api itu melesat hanya beberapa milimeter dari kain jubah hitamnya, menyemburkan hawa panas yang sempat membakar ujung rambutnya. Namun, serangan tidak berhenti di situ. Dua perampok berpedang petir langsung menyusul dari sisi kiri dan kanan, mengayunkan tebasan horizontal silang yang mengincar leher dan pinggang Askara.
Ctar! BLAAM!
Askara terpaksa melompat mundur secara brutal untuk menghindari kombinasi tebasan kilat tersebut. Hantaman energi petir yang meleset itu menghantam lantai jalan berbatu, meledakkan serpihan kerikil dan debu yang membubung tinggi ke udara. Belum sempat Askara menyeimbangkan posisi kakinya yang mendarat di tanah gersang, perampok keempat dan kelima sudah melompat dari atas, mengayunkan pedang mereka ke bawah dalam serangan vertikal ganda.
BUGH!
Askara menyilangkan kedua lengan tangannya yang dilapisi pelindung kulit ringan untuk menahan benturan fisik dari gagang pedang musuh, namun tekanan sihir elemen yang mengalir dari bilah tersebut tetap melemparkan tubuh tegapnya ke belakang.
Tubuh Askara terseret beberapa meter di atas tanah, jubah hitam misteriusnya dipenuhi oleh debu putih bukit kapur. Untuk pertama kalinya dalam perjalanannya sejak meninggalkan Kota Gada, Askara benar-benar dibuat terpojok dan kewalahan oleh gaya pertarungan taktis jarak dekat musuhnya.
"Hahaha! Lihat dia! Dia tidak bisa merapalkan sihir pertahanan sedikit pun!" seru perampok berpedang petir dengan nada puas, melihat pengawal misterius itu terus-menerus mundur menghindar. "Dia benar-benar seorang Nirmala! Tanpa pedang atau sihir pelindung, kau hanyalah samsak hidup bagi pedang-pedang sihir kami!"
Harun yang menyaksikan pemandangan itu dari atas kursi kemudi kereta kuda berteriak histeris, wajahnya dipenuhi keputusasaan yang mendalam. "Askara! Celaka... mereka terlalu cepat! Bertahanlah, Bocah!"
Askara bangkit berdiri dengan cepat, menyeka debu kapur di tudung jubahnya. Napasnya sedikit memburu, dan otaknya bekerja keras melakukan kalkulasi taktis. Sial, gaya bertarung mereka sangat merepotkan. Selama sirkulasi sihir mereka terikat pada senjata fisik, aku tidak bisa menyerapnya dengan mudah tanpa memiliki senjata untuk menangkis besi pedang mereka, pikir Askara dengan mata yang berkilat tajam memantau pergerakan musuh yang mulai menyusun formasi penyerangan kedua.
Di tengah situasi kritis itu, mata tajam Askara melirik ke arah muatan di dalam bak kereta kuda Harun. Kain terpal yang menutupi muatan tersebut sempat tersingkap akibat guncangan tadi, memperlihatkan beberapa peti kayu panjang yang terbuka.
Di dalam salah satu peti tersebut, berjejer rapi beberapa bilah pedang panjang baru terbuat dari besi tempa berkualitas tinggi—barang dagangan musim ini yang rencananya akan dijual Harun di pasar Kota Perbatasan.
Itu dia! Sebuah ide brilian melintas di kepala Askara.
"Tuan Harun! Lempar aku salah satu pedang di dalam petimu! Cepat!" teriak Askara memecah gemuruh angin bukit.
Harun tertegun sesaat, namun jiwa bertahannya langsung mengambil alih. Ia membalikkan badannya ke belakang dengan tergesa-gesa, meraba ke dalam peti kayu terdekat, dan menggenggam sebuah pedang panjang bermata ganda yang berkilau perak. Menggunakan seluruh tenaga dari lengan tambunnya, Harun melemparkan pedang tersebut melintasi udara menuju arah Askara.
"Tangkap ini, Askara! Ini besi baja terbaik dari pandai besi ibu kota!" seru Harun lantang.
Kapten perampok yang melihat hal itu langsung berteriak kepada anak buahnya, "Jangan biarkan dia mendapatkan senjata! Potong tangannya!"
Dua perampok terdekat melompat maju dengan pedang sihir mereka yang berkobar, berniat memotong jalur penerbangan pedang tersebut. Namun, kecepatan fisik murni Askara jauh di atas manusia biasa. Dengan satu hentakan kaki yang kuat menghancurkan permukaan tanah bawahnya, Askara melesat maju seperti bayangan hitam yang tak kasat mata. Tubuhnya meliuk melewati celah di antara dua tebasan perampok, dan tangan kanannya terjulur ke atas langit, menangkap gagang pedang perak yang berputar di udara dengan sangat presisi.
TAP!
Begitu jemari kasar Askara menggenggam erat gagang pedang baja tersebut, aura di sekeliling tubuhnya mendadak berubah secara drastis. Ia memutar pedang itu satu lingkaran penuh, menciptakan suara desingan besi yang tajam dan mantap.
"Kalian pikir... hanya kalian yang bisa mengalirkan sihir pada bilah senjata?" ucap Askara dengan nada suara yang teramat dingin, bergema penuh ancaman di antara dinding tebing batu.
Para perampok itu menghentikan langkah mereka sejenak, mengernyitkan kening dengan bingung di balik topeng mereka. "Apa maksudmu, Bocah? Tubuhmu bahkan tidak memiliki sirkulasi mana dasar! Jangan menggertak kami!" cemooh sang kapten perampok dari barisan belakang.
Askara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memejamkan matanya selama satu ketukan jantung, memfokuskan seluruh perhatian mentalnya ke dalam wadah raksasa di dalam dadanya. Di dalam sana, terdapat tumpukan energi sihir yang melimpah ruah—sisa sihir api dari para kroco bandit, sihir petir biru dari Pemimpin Bandit kemarin, dan sihir hitam pekat misterius milik monster penjaga dungeon. Selama ini, ia hanya memuntahkan energi tersebut dalam bentuk gelombang mentah melaui telapak tangannya. Namun kini, ia mencoba mengalirkannya keluar melalui perantara senjata besi di genggamannya.
Alirkan... dan gabungkan.
ZRRAAAKKK! BOOM!
Sebuah fenomena magis yang mengerikan mendadak meledak di depan mata seluruh kelompok Gagak Merah. Pedang perak di tangan Askara berguncang hebat. Dari pangkal gagangnya, aliran listrik petir biru yang sangat pekat menjalar cepat membungkus seluruh bilah besi, mengeluarkan suara deritan listrik yang memekakkan telinga. Tidak berhenti sampai di situ, di atas lapisan petir tersebut, kobaran api merah murni dari Inferno Kong mendadak menyembur keluar, berputar membakar udara sekitarnya. Dan yang paling mengerikan, seberkas aura hitam pekat—sihir kutukan kegelapan—merayap di sepanjang mata pedang, memberikan pendaran warna ungu kehitaman yang memancarkan hawa kematian mutlak.
Tiga jenis sihir elemen yang berbeda terkompresi dan mengalir bersamaan di atas satu bilah pedang baja yang sama.
Pedang itu kini tidak lagi terlihat seperti senjata biasa; benda itu telah bertransformasi menjadi pedang kehancuran magis yang sangat tidak stabil, memancarkan tekanan angin kencang yang membuat jubah hitam Askara berkibar brutal ke belakang.
Harun terbelalak hingga matanya hampir melompat keluar dari kelopak matanya, mulutnya menganga lebar tanpa sanggup mengeluarkan suara sedikit pun. "T-tiga... tiga elemen sihir pada satu pedang? Dewa perdagangan... apa yang sebenarnya sedang kulihat ini?!" gumam Harun dengan tubuh yang bergetar hebat karena syok yang teramat sangat.
Seluruh anggota kelompok perampok Gagak Merah, termasuk sang kapten yang sarat akan pengalaman bertarung, seketika membeku di tempat mereka berdiri. Arogansi dan rasa percaya diri yang tinggi di wajah mereka menguap tanpa sisa dalam hitungan detik, digantikan oleh rasa takut primitif yang mendalam yang berteriak kencang di dalam sanubari mereka.
Mereka tahu betul aturan dasar sihir: menggabungkan dua elemen pada satu senjata adalah keahlian tingkat Master Kesatria Kerajaan yang membutuhkan kontrol mana yang legendaris. Namun pemuda di hadapan mereka ini, yang tidak memiliki hawa mana dasar sama sekali, justru mengalirkan tiga elemen sekaligus dengan tekanan energi yang sanggup meremukkan mental mereka.
"Si... siapa sebenarnya kau ini?!" teriak kapten perampok dengan suara yang bergetar hebat, langkah kakinya secara refleks mundur dua langkah ke belakang. "Kekuatan macam apa itu?!"
Askara membuka sepasang mata hitamnya yang kini berkilat dingin di balik kegelapan tudung jubah misteriusnya. Ia menegakkan posisi pedang tiga elemennya di depan dada, mengambil kuda-kuda menyerang yang sempurna. Keunggulan pertempuran kini telah berbalik sepenuhnya ke tangan sang Nirmala.
"Aku sudah katakan pada kalian sejak awal," ucap Askara dengan nada suara yang teramat tenang namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Jika kalian ingin mengambil barang berharga kami, kalian harus menanggung harganya dengan nyawa kalian sendiri. Mari kita mulai putaran kedua."