NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Batas Mulai Menghilang.

Aku hanya bisa diam membeku. Tubuhku seolah mati rasa dan jantungku berdebar jauh lebih cepat dari biasanya.

Hwi Sol Oppa melepaskan dirinya perlahan.

Ia menatapku lekat-lekat.

Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Aneh.

Aku seakan tidak mampu menolak kedekatan itu dan hanya bisa terpaku di tempat.

Namun, ponselku berdering tepat pada saat itu.

Aku segera melihat layar ponsel.

"Eun Dam?"

Ternyata ia sudah berada di depan rumah.

"A-aku berangkat dulu. Eun Dam sudah menjemputku," kataku tergesa-gesa.

Oppa hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Hati-hati."

Aku segera keluar rumah.

Jantungku masih berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, entah karena kejutan ulang tahun tadi atau karena suasana yang masih terasa canggung.

Begitu sampai di depan rumah, Eun Dam menyapaku dengan senyum cerah.

"Selamat pagi, cantik."

"Selamat pagi," balasku.

Di sisi lain...

Hwi Sol duduk di sofa sambil mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi bersama Seolhwa.

Ia menyandarkan tubuhnya dan mengembuskan napas panjang.

"Aku sudah menahan diriku sejak lama untuk tidak melakukan itu padanya," gumamnya pelan.

Bayangan wajah Seolhwa terus memenuhi pikirannya.

***

Sesampainya di rumah sakit, Eun Dam ikut masuk sebentar untuk menjenguk Minseo.

Kondisi Minseo tampak jauh lebih baik dibandingkan kemarin.

Wajahnya memang masih pucat, tetapi setidaknya ia sudah bisa tersenyum dan berbicara dengan lebih leluasa.

Aku segera duduk di samping ranjangnya dan menggenggam tangannya erat.

"Aku sangat khawatir padamu. Maaf, ya. Kalau saja kamu tidak mengantarku pulang malam itu, mungkin kamu tidak akan—"

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Minseo langsung menempelkan telunjuknya ke bibirku.

"Hsst!"

Ia menggeleng pelan.

"Ini bukan salahmu, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."

Senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Lagi pula, aku baik-baik saja, bukan?"

Aku menatapnya beberapa saat sebelum kembali berbicara.

"Setelah pulang dari rumah sakit nanti, kamu harus menemui psikolog. Aku khawatir dengan kondisi mentalmu setelah kejadian ini."

"Hahaha!"

Minseo tertawa kecil.

"Ya! Apa aku selemah itu?"

Kemudian senyumnya perlahan memudar.

"Sejujurnya, malam itu aku memang sangat takut."

Tatapannya berubah serius.

"Tapi dibandingkan rasa takutku, aku jauh lebih membenci perbuatan pembunuh itu."

Aku terdiam mendengarnya.

"Kau tahu?" lanjut Minseo. "Tadi polisi datang menemuiku dan aku menceritakan semuanya."

Mataku langsung membesar.

"Aku juga melihat wajah pria itu dengan jelas."

"Benarkah?" tanyaku tidak percaya.

Minseo mengangguk cepat.

"Sebentar lagi polisi pasti akan menangkapnya."

Ia melirik ke arah pintu kamar rawat.

"Selama aku dirawat di sini, pihak kepolisian juga menempatkan petugas untuk menjagaku di luar."

Senyum hangat kembali terukir di wajahnya.

"Jadi kamu tidak perlu repot-repot menjagaku."

Aku mengembuskan napas lega.

Setidaknya sekarang Minseo berada dalam pengawasan yang aman.

"Oh, ya..."

Tiba-tiba Minseo menatapku lekat-lekat.

"Selamat ulang tahun, Seolhwa."

Aku sedikit terkejut.

"Maaf, ya. Aku belum bisa memberikanmu hadiah," ujarnya sambil menundukkan pandangan.

Hatiku langsung menghangat.

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

"Hadiah terbaik untukku adalah kesembuhanmu."

Aku tersenyum.

"Jadi cepatlah pulih."

Mata Minseo tampak berkaca-kaca.

Tanpa berkata apa-apa lagi, kami saling berpelukan erat.

"Terima kasih sudah menjadi sahabatku, Seolhwa," bisiknya pelan.

Aku memejamkan mata sejenak.

"Justru aku yang harus berterima kasih."

Pelukanku semakin erat.

"Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku, Minseo."

Seakan aku dan Minseo lupa akan kehadiran Eun Dam yang sejak tadi berdiri di sana dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Kami pun perlahan melepaskan pelukan.

"Kamu harus segera pergi. Apa kamu tidak melihat wajah kekasihmu yang sedang memandangimu dengan cemburu?" bisik Minseo sambil tersenyum jahil.

Aku langsung menoleh ke arah Eun Dam.

Pria itu memang sedang menatap ke arah kami dengan tatapan yang membuatku sulit menahan tawa.

"Minseo..." desisku pelan sambil memukul lengannya dengan gemas.

Minseo justru terkekeh kecil.

Tak lama kemudian, aku dan Eun Dam pun berpamitan dan meninggalkan ruang rawat Minseo.

Berjalan bersama Eun Dam di bawah udara pagi yang sejuk selalu terasa menyenangkan.

Sinar matahari yang hangat menyelinap di antara pepohonan, sementara angin pagi berembus lembut menyapu wajah kami.

Kami memutuskan untuk duduk sejenak di taman kecil yang berada di dekat rumah sakit.

Suasana pagi itu begitu tenang.

Untuk beberapa saat, kami hanya duduk berdampingan tanpa banyak bicara.

"Bisakah aku meminjam waktumu malam nanti?" tanya Eun Dam tiba-tiba.

Aku menoleh ke arahnya.

"Tentu saja."

Aku tersenyum lebar.

"Kamu mau memberiku kejutan, ya?"

Eun Dam tertawa pelan mendengar jawabanku.

Kemudian ia mengangguk.

"Iya."

Tatapannya melembut saat menatapku.

"Kejutan yang tidak akan pernah kamu lupakan, Seolhwa."

Jantungku berdebar pelan.

Eun Dam mengangkat tangannya lalu mengusap pipiku dengan lembut.

Aku hanya bisa tersenyum.

"Kalau begitu, aku jadi tidak sabar menantikannya."

Eun Dam bangkit dari tempat duduknya.

"Ayo. Aku antar kamu ke bakery."

Katanya sambil menggenggam tanganku.

Aku pun berdiri dan mengikuti langkahnya.

Namun, rasa penasaran terus memenuhi pikiranku.

Kira-kira kejutan apa yang sedang ia siapkan?

Entahlah.

Yang jelas, aku sudah tidak sabar menunggu malam tiba.

***

Malam pun tiba.

Aku berdiri di depan cermin sambil memutar tubuh beberapa kali.

Mini dress merah dan sepasang heels sudah kukenakan. Rambut hitam panjangku sengaja dicurly ringan di bagian bawah. Sebuah tas kecil juga sudah kujinjing di tangan.

Aku menatap pantulan diriku sendiri.

Entah mengapa, malam ini aku merasa sedikit gugup.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan di pintu membuat lamunanku buyar.

Aku langsung tahu siapa orang yang berada di balik pintu itu.

Dengan perasaan yang masih canggung setelah kejadian pagi tadi, aku berusaha bersikap setenang mungkin.

"Seolhwa... bolehkah Oppa masuk?" tanyanya dari luar.

"Iya, Oppa. Masuk saja," sahutku.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Hwi Sol Oppa melangkah masuk.

Tatapannya langsung tertuju padaku.

Dari ujung kepala hingga kaki.

Sejenak ia hanya diam.

"Cantik."

Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya.

Entah mengapa, membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Aku memilih diam dan tidak menanggapi ucapannya.

Hwi Sol Oppa berjalan mendekat lalu menarik pelan tanganku.

Ia mengajakku duduk di tepi ranjang.

Tidak ada yang berbicara.

Keheningan membentang di antara kami.

Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Beberapa saat kemudian, Hwi Sol Oppa akhirnya membuka suara.

"Maaf."

Aku menoleh ke arahnya.

"Tidak seharusnya Oppa bersikap seperti itu pagi tadi."

Suaranya terdengar rendah.

"Aku sudah berusaha menahannya. Tapi aku tidak bisa."

Aku menundukkan pandangan.

Lalu menggeleng pelan.

"Apakah kejadian tadi pagi membuatmu tidak nyaman berbicara dengan Oppa sekarang?" tanyanya lagi.

Aku menggigit bibir bawahku gugup.

Kemudian mengangguk pelan.

"I-iya... sedikit, Oppa."

Hwi Sol Oppa tersenyum tipis.

Namun senyum itu terlihat begitu pahit.

"Kalau begitu..."

Ia menarik napas panjang.

"Apa Oppa harus pindah rumah agar kamu bisa merasa nyaman?"

Aku langsung mengangkat kepala.

"Tidak!"

Jawabanku keluar lebih cepat dari yang kuduga.

Aku spontan menggenggam tangannya.

"Aku tidak ingin jauh dari Oppa."

Suaraku terdengar pelan.

Namun cukup jelas untuk membuatnya terdiam.

"J-jangan pergi..."

lirihku.

Tatapan Hwi Sol Oppa berubah.

Matanya menatapku begitu dalam hingga membuatku sulit mengalihkan pandangan.

Ada kesedihan yang selama ini tidak pernah kulihat di sana.

"Mengapa bukan Oppa yang kamu cintai, Seolhwa?"

Suaranya terdengar nyaris seperti bisikan.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Pertanyaan itu membuatku membeku.

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Tidak ada satu kata pun yang mampu keluar dari bibirku.

Hwi Sol Oppa hanya tersenyum tipis melihat kebisuanku.

Senyum yang justru terasa menyakitkan.

Perlahan ia melepaskan tanganku.

Lalu berdiri dari tempat duduknya.

"Nikmatilah kencanmu dengan Eun Dam."

Ia berusaha terdengar biasa saja.

"Semoga berjalan lancar."

Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan melangkah menuju pintu.

"Oppa..."

Aku memanggilnya pelan.

Namun ia tidak berhenti.

Pintu kamar tertutup perlahan.

Meninggalkan aku sendirian bersama perasaan yang tiba-tiba terasa begitu sesak.

Entah mengapa, sejak mengetahui kenyataan bahwa aku bukanlah adik kandung Oppa dan bahwa selama ini Oppa menyimpan perasaan cinta kepadaku, aku jadi lebih berhati-hati dalam menjaga batasan fisik dengannya.

Berbeda dengan dulu.

Saat kami masih menganggap hubungan kami tak lebih dari sekadar kakak dan adik, sentuhan-sentuhan kecil terasa begitu biasa. Namun sekarang, semuanya terasa berbeda.

Mungkin karena kami sudah tumbuh dewasa.

Mungkin juga karena kami kini memahami bahwa perasaan cinta terkadang tidak datang melalui hal-hal besar. Terkadang, ia tumbuh diam-diam dari perhatian sederhana, tatapan yang terlalu lama, atau bahkan sentuhan ringan yang awalnya tidak memiliki makna apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!