NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB V

Di Ruang Utama Markas

  Udara terasa berat dan dingin, seolah-olah suhu di sekitarnya turun drastis sejak langkah kaki Luna melangkah masuk kembali. Ia baru saja dibebaskan dari hukuman yang ia terima, namun gadis itu tak lagi sama seperti sebelumnya. Matanya yang dulu sedikit berkilau dengan kehangatan kini datar, tajam, dan tanpa ekspresi; setiap gerakannya memancarkan aura yang kuat, menekan siapa saja yang berdiri di dekatnya seolah-olah ada kekuatan besar yang terpendam di dalam tubuh mungilnya itu.

Luna menatap ke depan, suaranya dingin dan tenang, namun membawa ketegangan yang membuat napas orang di ruang itu tertahan. “Ayah, Paman… apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku sekarang ingin melatih pedangku, dan juga Aku ingin memiliki pedang sendiri, yang benar-benar milikku.” ucapnya tegas.

Pamannya tersenyum tipis, bukan senyum ramah, melainkan senyum yang memahami semangat keras kepala gadis itu. “Baiklah, Luna. Aku punya syarat. Jika kau bisa mengalahkanku dalam pertarungan ini, aku akan memberikanmu pedang yang terbuat dari baja terbaik, sesuai keinginanmu.”

Tanpa ragu sedikit pun, Luna mengangguk tegas. “Setuju.”

Namun Cheng, ayah angkatnya, segera melangkah maju, wajahnya tampak khawatir. Ia tahu betapa beratnya pertarungan yang akan Luna jalani ini, tubuhnya pasti masih lemah, tenaganya belum pulih sepenuhnya. “Luna, istirahatlah dulu. Kondisimu belum baik, kau tidak boleh memaksakan diri seperti ini.”

Tapi Luna hanya menepis perkataan itu dengan pandangan yang makin dingin. “Aku baik-baik saja, Aku ingin membuktikan diri, bahwa aku bisa melakukan apa pun yang aku inginkan, dan tidak ada hal yang perlu diperhatikan atau dikhawatirkan oleh siapa pun. Aku sanggup.”

Melihat tekad yang unggul dan tak bisa diubah itu, Cheng hanya diam, lalu mengangguk pelan. Ia tahu, sekali Luna menetapkan hati, tak ada yang bisa menghentikannya.

Pertarungan pun dimulai. Awalnya, gerakan Luna terlihat seimbang dan tajam, ia bergerak cepat, serangannya tepat sasaran, seolah tak ada kelemahan sedikit pun. Namun perlahan, napasnya mulai terengah-engah. Wajah yang sudah pucat kini makin memutih, keringat dingin mengalir deras di dahi dan lehernya, meski ia berusaha sekuat tenaga untuk terlihat kuat dan tak terkalahkan. Melawan orang dewasa yang berpengalaman tentu membutuhkan energi yang jauh lebih besar daripada yang dimilikinya saat itu, dan tak lama kemudian, ia mulai terdesak. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan menjadi makin sulit, hingga akhirnya ia jatuh terhuyung.

Namun Luna tidak menyerah. Bahkan saat kakinya gemetar dan rasanya ingin roboh seketika, ia bangkit kembali, menatap pamannya dengan pandangan yang penuh api, bukan api kemarahan biasa, tapi seolah-olah di hadapannya bukan pamannya sendiri, melainkan musuh terbesar yang paling ia benci, yang harus ia musnahkan dengan segala cara. Ia menyerang lagi, lagi, dan lagi, dengan sisa tenaga yang tersisa, tanpa peduli rasa sakit atau kelelahan yang merajai seluruh tubuhnya.

Pamannya menahan serangan demi serangan itu dengan hati-hati, perlahan mulai merasakan keteguhan yang tak tergoyahkan di dalam diri gadis itu. Lama mereka bertarung, sampai akhirnya pamannya menghentikan gerakannya dan mundur selangkah, mengangkat tangan tanda berhenti. Ia mengakui kekalahannya bukan karena ia kalah dalam kemampuan atau kekuatan, tapi karena ia tahu semangat dan keteguhan Luna jauh melampaui usia dan kemampuan fisiknya.

“Kau hebat, Luna,” ucapnya pelan, lalu ia melepaskan pedang yang selalu dibawanya, pedang kesayangannya yang telah menemaninya bertarung selama bertahun-tahun, dan menyodorkannya kepada gadis itu. “Ini milikmu sekarang.”

Luna menerimanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar, namun di wajah dinginnya itu, terbit senyum tipis, senyum yang dingin, namun penuh kepuasan dan kemenangan.

Cheng pun maju mendekat, mengeluarkan bungkusan kecil dari balik bajunya. Di dalamnya ada sebuah belati yang ia buat sendiri, dengan hati-hati dan teliti. Di gagang belati itu, terukir nama Luna dengan ukiran halus dan indah, tanda kasih sayang ayah yang tak pernah ia ungkapkan dengan kata-kata. “Ini juga milikmu.” Ucap Cheng.

Saat kedua senjata itu ada di tangan Luna, seluruh orang yang ada di area pertarungan pun berdiri tegak. Mereka semua tahu, saat ini, tak ada keraguan lagi. Luna adalah orang yang kelak akan menjadi penerus mereka, sosok yang akan memimpin dan membawa nama kelompok ini melangkah jauh.

Bersorak-sorai, suara mereka bergema memenuhi seluruh area pertarungan itu: “Luna! Luna! Luna!”

Nama itu bergema berulang kali, menyatu dengan aura dingin dan kuat yang kini sepenuhnya milik Luna, yang berdiri tegak memegang senjatanya, matanya menatap ke depan siap untuk langkah selanjutnya dalam jalan yang ia pilih sendiri.

Sepanjang hari, tak ada waktu yang terbuang sia-sia bagi Luna. Sejak matahari baru saja mengintip di ufuk timur hingga langit berubah menjadi gelap, ia selalu terlihat sibuk mengasah kemampuannya. Ia berlatih pedang, mempertajam gerakan, melatih ketangkasan dan kekuatan dengan ketekunan yang jarang dimiliki orang lain seumurnya.

Cheng, ayah angkatnya, selalu memperhatikan dari kejauhan, hati bangganya makin bertambah setiap kali melihat betapa tangguh dan pantang menyerahnya gadis itu. Namun Cheng sadar satu hal, kekuatan fisik dan ilmu bela diri saja belum cukup untuk membuat seseorang menjadi pemimpin yang hebat dan mampu bertahan hidup di dunia yang keras ini.

Suatu pagi, saat Luna baru saja selesai berlatih, Cheng memanggilnya mendekat.

“Luna, kemari sebentar,” panggilnya lembut namun tegas. “Kau sudah sangat hebat dalam bertarung, tapi ketahuilah, kekuatan saja belum cukup. Kau harus bisa membaca, menulis, dan memahami banyak hal lain agar tidak mudah tertipu, bisa menyusun rencana, dan membaca situasi dengan benar. Mulai besok, setiap pagi sebelum latihan pedang, aku akan mengajarimu hal-hal itu.”

Luna menatap ayahnya, lalu mengangguk patuh. Ia tak pernah menolak apa pun yang bisa membuatnya menjadi lebih kuat dan lebih mampu. Dan ternyata, ia memang memiliki bakat yang luar biasa. Otaknya tajam dan cerdas, apa pun yang diajarkan Cheng, bisa ia tangkap dan kuasai dalam waktu yang sangat singkat. Tak butuh waktu lama, ia sudah lancar membaca berbagai tulisan dan pandai menulis, sama mahirnya seperti saat ia memegang pedang.

10 Tahun Kemudian...

  Waktu berlalu begitu cepat, seolah-olah hanya lewat dalam sekejap mata. Kini, Luna bukan lagi gadis kecil lagi. Ia kini telah tumbuh menjadi wanita muda yang dewasa, tegap, dan memancarkan pesona yang unik. Di area latihan yang luas, ia tengah berhadapan dengan beberapa anggota kelompok lainnya, menguji kemampuan mereka sekaligus mengasah dirinya sendiri. Selama sepuluh tahun ini, ia tidak hanya berlatih di dalam markas. Ia pun sering ikut turun ke jalan, terlibat dalam berbagai perampokan, pencurian, dan aksi penyerangan. Pengalaman nyata itu membuatnya menjadi jauh lebih cekatan, cerdik, dan sangat ahli dalam merencanakan serta melaksanakan setiap misi tanpa kesalahan berarti.

Secara fisik, Luna tumbuh menjadi sosok yang sangat cantik. Rambut hitamnya panjang dan halus, namun selalu ia ikat rapi di belakang kepala, bergaya seperti laki-laki agar tak mengganggu saat bergerak atau bertarung. Kulitnya putih bersih, dan saat ia tanpa sadar tersenyum tipis, lesung pipi di kedua sisi wajahnya akan muncul, menambah pesona kecantikannya yang alami. Namun, siapa pun yang menatap matanya akan seketika melupakan keindahan wajah itu. Di balik mata indah itu, tersimpan tatapan yang sedingin es, tajam dan kosong, seolah tak ada hal yang bisa membuatnya terharu atau ragu. Aura dingin dan mengintimidasi itu menutupi seluruh kecantikannya, membuat orang lain merasa segan dan takut untuk mendekat sembarangan.

“Luna!” suara Cheng terdengar memanggil dari pinggir lapangan.

Luna segera menghentikan gerakannya, memberi isyarat singkat pada rekan latihannya, lalu berjalan menghampiri ayahnya dengan langkah tegap dan tenang. “Ada apa, Ayah?”

Cheng menatap putri angkatnya dengan pandangan penuh keyakinan, lalu berbicara dengan nada serius. “Aku punya tugas besar untukmu. Ada seorang saudagar yang sangat kaya raya, ia akan melakukan perjalanan jauh membawa seluruh harta kekayaannya. Ini adalah kesempatan emas. Kau yang akan memimpin kelompok untuk melakukan perampokan ini. Semuanya harus berjalan lancar, dan seluruh harta harus kita dapatkan.”

Wajah Luna tak berubah sedikit pun, tak ada tanda ragu atau gugup. Ia hanya mengangguk perlahan, lalu menjawab dengan nada datar dan percaya diri. “Baik, Ayah. Itu hal yang sangat mudah bagiku. Aku akan melakukannya dengan sempurna.”

Benar menurutnya, ia merasa misi ini hanya seperti tugas biasa yang bisa diselesaikannya dengan mudah. Namun ia sama sekali tidak tahu, bahwa perjalanan dan perampokan yang satu ini akan menjadi titik balik dalam kehidupannya yang akan terjadi di masa depan nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!