maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Mendengar penuturan Hilda yang begitu tulus, otak cerdas Maizy mulai berputar cepat. maizy memang anak yang adaptif dan analitis mencoba mencerna situasi gila ini dari sudut pandang yang berbeda.
Kalau dipikir-pikir... jatuh dari lantai tiga atrium museum itu harusnya membuatku mati atau minimal koma, pikir Maizy dalam hati, menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar. Jangan-jangan... semua kemegahan abad ke-19 ini cuma kilas balik atau halusinasi otakku beberapa detik sebelum aku benar-benar mati menghantam lantai marmer?
Jika ini memang sebuah "panggung sandiwara" terakhir dari otaknya sebelum ajal menjemput, Maizy memutuskan untuk tidak mau meratapinya lagi. Rasa ketakutan dan bingungnya mendadak terkikis, digantikan oleh tekad baru yang cukup nekat: Kalau memang aku akan mati, setidaknya aku harus memanfaatkan sisa waktu di dunia ilusi ini untuk bersenang-senang! Aku harus menikmati fasilitas mewah ini!
Namun, sebelum bisa bersenang-senang menjadi nona muda bangsawan, Maizy tahu dia harus memahami aturan main dunia ini terlebih dahulu. Dia harus mengumpulkan informasi tanpa membuat dirinya dicap gila lagi atau diseret paksa oleh Cade yang menyebalkan itu.
Maizy mengubah ekspresi wajahnya dalam sekejap. Menggunakan kecerdasannya, dia menatap Hilda dengan pandangan mata yang sengaja dibuat sayu, polos, dan agak bersalah—seolah-olah kesadarannya baru saja pulih seutuhnya.
"Hilda..." panggil Maizy lembut, memotong celotehan comel pelayannya itu. "Maafkan aku ya soal yang di ruang sidang tadi. Kepalaku rasanya pening sekali... sepertinya aku baru saja mengalami mimpi buruk yang sangat aneh saat pingsan di hutan tadi."
Hilda langsung menghentikan gerakan tangannya, mendongak dengan mata berbinar penuh harap. "Mimpi buruk, Nona?"
"Iya," Maizy mengangguk pelan, memijat pelipisnya dengan akting yang sangat meyakinkan. "Aku bermimpi berada di tempat asing bernama Berlin modern, tahun 2026, dan punya Paman bernama Michael... Mimpi itu terasa begitu nyata sampai-sampai terbawa saat aku baru bangun tadi. Aku benar-benar mengira mimpi itu adalah kenyataan."
"Oh, Gott sei Dank! Jadi Nona hanya mengigau karena efek trauma?!" Hilda tampak luar biasa lega, hampir saja menjatuhkan kain kompresnya.
"Sepertinya begitu, Hilda. Tapi..." Maizy memasang wajah agak kebingungan yang natural, "efek mimpi buruk dan benturan di hutan itu membuat ingatanku yang asli masih sangat kabur dan tumpang tindih. Aku... aku bahkan kesulitan mengingat hal-hal mendasar tentang kerajaan ini, tentang diriku, dan... tentang Komandan Aldrich."
Maizy menjeda kalimatnya sejenak, memberikan senyuman tipis yang manis untuk memancing Hilda. "Bisakah kau menceritakan sedikit padaku? Anggap saja sebagai pancingan agar ingatanku bisa kembali. Dunia seperti apa yang kita tinggali sekarang? Dan siapa sebenarnya aku di istana ini?"
Hilda yang dasarnya comel dan sangat menyayangi Maizy jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sambil melanjutkan pekerjaannya mengobati luka Maizy, dia mulai bercerita dengan menggebu-gebu.
"Tentu saja, Nona Muda! Aduh, syukurlah jiwa Nona sudah kembali," bisik Hilda riang. "Nona berada di wilayah Kekaisaran Falkenhayn, pusat dari segala jalur perdagangan dan kekuatan militer terkuat di dataran ini! Dan Nona sendiri... Nona adalah putri tunggal dari mendiang Duke kekaisaran yang sangat dihormati, yang sekarang berada di bawah perlindungan langsung Yang Mulia Kaisar Harleyton."
Maizy mendengarkan dengan saksama, otaknya dengan cepat mencatat setiap detail faksi politik dan struktur dunia ini.
"Lalu... bagaimana dengan Komandan Aldrich?" tanya Maizy lagi, sengaja memancing informasi tentang pria berambut wolfcut yang sedari tadi bersikap sangat lembut padanya.
"Ah, Komandan Frederick Aldrich!" Hilda langsung tersenyum menggoda. "Dia adalah tangan kanan kepercayaan Kaisar, pemimpin divisi kavaleri hitam yang paling ditakuti musuh. Tapi di hadapan Nona? Dia itu seperti pelindung yang rela menyerahkan nyawanya kapan saja! Sebelum Nona kabur ke hutan karena menolak perjodohan politik kekaisaran itu... Komandan Aldrich adalah orang yang paling menentang keputusan istana demi melindungi keinginan Nona."
Maizy mengangguk-angguk paham. Perjodohan politik. Jadi itu alasan mengapa sosok "Maizy" di dunia ini sampai nekat kabur ke hutan terlarang.
Setelah luka di lututnya selesai diobati dan diperban rapi oleh Hilda, Maizy berdiri dari ranjang. Gaun sutra biru dongkernya berdesir anggun. "Hilda, bisakah kau panggilkan Komandan Aldrich masuk ke dalam? Aku ingin bicara langsung dengannya. Aku ingin meminta maaf karena sudah menyakiti hatinya di ruang sidang tadi."
"Tentu, Nona! Tentu saja! Beliau pasti akan sangat senang sampai rasanya ingin terbang!" Hilda buru-buru merapikan baskom air dan nampannya, lalu berjalan cepat keluar kamar dengan wajah berseri-seri.
Tidak butuh waktu lama, pintu ganda kamar Maizy kembali terbuka perlahan.
Frederick Aldrich melangkah masuk. Jubah mantel hitamnya yang kaku tampak bergerak pelan seiring langkah kakinya yang sengaja dibuat seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara bot baja yang berisik. Begitu matanya yang berwarna abu-abu menangkap sosok Maizy yang berdiri menunggunya, Frederick langsung menghentikan langkahnya di tengah ruangan.
Ada ketegangan yang sangat kentara di bahu tegap itu. Frederick menunduk sedikit, poninya yang agak panjang menutupi sorot matanya yang masih dirundung rasa bersalah dan ketakutan kalau-kalau Maizy akan mengusirnya lagi.
"Nona Muda Maizy..." suara bariton Frederick terdengar sangat rendah dan berhati-hati, seolah takut suaranya bisa memecahkan ketenangan kamar. "Hilda mengatakan kau ingin menemuiku. Apakah... ada hal buruk yang terjadi pada tubuhmu? Atau kau butuh sesuatu?"
Maizy menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan mentalnya untuk memulai sandiwara demi kelangsungan hidupnya—dan tentu saja, demi kesenangannya selama terjebak di dunia ilusi ini. Karena dia sama sekali tidak tahu bagaimana sifat asli "Nona Muda Maizy" di dunia ini, dia memutuskan untuk menggunakan strategi acak yang menurutnya paling aman dan menguntungkan menjadi gadis yang imut, ceria, banyak tingkah, dan sedikit manja.
Toh, mumpung jadi bangsawan kaya, kapan lagi bisa bertingkah semaunya? pikir Maizy, sementara di dalam hatinya dia tertawa puas memikirkan posisinya yang kini berada di atas angin.
Maizy langsung memasang senyum lebar yang sangat cerah hingga matanya menyipit manis. Dia melangkah mendekati Frederick dengan riang—sedikit melompat kecil meskipun lututnya masih agak perih—membuat gaun sutra biru dongkernya yang mewah mengembang dan berdesir heboh di lantai kamar.
"Frederick~!" seru Maizy dengan nada suara yang sengaja dibuat imut, manja, dan mendayu-dayu.
Tanpa ragu, Maizy langsung menyuruk maju dan meraih lengan kekar Frederick, menggelayutkan kedua tangannya di sana sambil mendongak menatap pria tegap itu di balik kacamata cadangannya. Dia bahkan mengerucutkan bibirnya sedikit dengan ekspresi merajuk yang menggemaskan.
"Maafkan aku ya soal yang di ruang sidang tadi! Aku itu cuma... emm, habis mimpi buruk yang seraaaam sekali sampai kepalaku pusing dan mengigau aneh! Kamu tidak marah kan padaku? Iya kan? Jangan dingin begitu dong wajahnya, aku jadi takut tahu!" oceh Maizy panjang lebar sambil sedikit mengguncang-guncang lengan zirah Frederick dengan banyak tingkah.
Mendapat serangan mendadak berupa pelukan lengan, suara manja, dan tingkah ceria yang luar biasa aktif dari Maizy, tubuh tegap Frederick seketika membeku total layaknya patung batu.
Deg.
Jantung sang Komandan Kavaleri Hitam itu berdegup sangat kencang, namun wajah tampannya justru mengekspresikan rasa syok dan kebingungan yang luar biasa. Manik mata abu-abunya membelalak lebar, menatap lurus ke arah Maizy yang sedang menggelayut manja di lengannya dengan pandangan yang benar-benar kaget dan tidak percaya.
Bagi Frederick, perubahan ini terlalu ekstrem. Sebab, sosok Nona Muda Maizy yang dia kenal dan dia puja selama bertahun-tahun adalah seorang putri bangsawan yang luar biasa kalem, anggun, bermartabat, dan bersuara lembut tipikal nona suci yang jarang menampakkan emosi meledak-ledak, apalagi bertingkah aktif dan menggelayut manja pada pria seperti ini di dalam kamar.
"M-Maizy...?"
Suara bariton Frederick yang biasanya terdengar mutlak dan berwibawa di medan perang, kini mendadak bergetar gugup dan patah-patah. Dia bahkan tidak berani menggerakkan lengannya karena takut menyenggol tubuh Maizy. Poni wolfcut-nya sedikit bergoyang saat dia menundukkan wajahnya yang mendadak memerah samar di bagian telinga, benar-benar mati kutu menghadapi sifat "baru" Maizy.
"Kau... kau yakin kepalamu tidak terbentur batu sangat keras di hutan?" bisik Frederick ragu namun teramat lembut, menatap lekat-lekat wajah ceria Maizy dengan campur aduk antara rasa senang karena tidak lagi ditolak, namun juga ngeri kalau-kalau racun hutan terlarang itu sudah merusak saraf kesopanan sang putri seutuhnya.