NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30: Pertempuran Terakhir di Lembah

Deru mesin mobil terdengar semakin keras, gemuruhnya mengguncang tanah lembah yang tenang. Puluhan kendaraan berwarna gelap melaju kencang, membawa ratusan orang bersenjata lengkap—pasukan inti Lingkaran Emas yang belum pernah dikerahkan sebelumnya. Di barisan paling depan, mobil mewah hitam mengangkut komandan pasukan itu, orang kepercayaan terdekat Pak Surya yang dikenal kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

Di sisi lain, pasukan Raga yang jumlahnya jauh lebih sedikit sudah bersiap di garis pertahanan. Mereka menempati posisi strategis di tepi jalan masuk desa, di balik pohon besar dan tembok batu, dengan tekad mati atau hidup. Raga berdiri di posisi paling depan, luka di punggungnya masih terbalut perban, namun tubuhnya tegap, matanya tajam bagai elang. Di tangannya, ia memegang senjata yang dulu pernah menjadi milik ayahnya, senjata yang menjadi saksi keadilan keluarga Ardiansyah di masa lalu.

“Teman-teman! Mereka datang dengan jumlah banyak, tapi mereka bertarung demi uang dan ketakutan. Kita bertarung demi nyawa orang yang kita cintai, demi kebenaran yang sudah lama terpendam! Jangan gentar! Pertahankan desa ini, pertahankan tempat perlindungan Lira, sampai tetes darah terakhir!” seru Raga dengan suara lantang, menggema di seluruh penjuru.

“HIDUP KEBENARAN!!!” jawab semua orang serentak, suara mereka bersatu menjadi satu kekuatan yang dahsyat.

Saat jarak antara kedua pasukan tinggal sekitar seratus meter, komandan pasukan musuh mengangkat tangannya tinggi, lalu menurunkannya dengan cepat.

“SERANG!!! HANCURKAN SEMUA!!!”

Suara ledakan dan benturan keras seketika memecah keheningan. Pasukan musuh menyerang dengan ganas, senjata mereka mengeluarkan suara yang memekakkan telinga, peluru beterbangan di udara, menghantam pepohonan dan batu dengan percikan api. Pasukan Raga membalas dengan gigih, mereka bertahan mati-matian, tidak membiarkan musuh maju selangkah pun.

Asap tebal segera menutupi medan pertempuran, bau mesiu dan tanah gosong memenuhi udara. Teriakan perintah, rintihan kesakitan, dan suara benturan besi saling bersahutan. Di setiap sudut jalan, di balik setiap perlindungan, terjadi pertarungan jarak dekat yang sengit. Darah mulai menetes membasahi tanah lembah yang dulu damai itu.

Raga bertarung paling depan, bergerak cepat, cekatan, dan berani. Ia tidak hanya memimpin, tapi juga menjadi tameng bagi orang-orangnya. Setiap kali ada anak buahnya yang terancam, Raga akan segera datang menolong, mengalahkan musuh dengan gerakan terlatih. Amarahnya yang membara karena kehilangan Pak Harun, karena penderitaan Lira, dan karena semua kejahatan yang ia saksikan selama bertahun-tahun, kini meluap menjadi kekuatan yang luar biasa.

Namun jumlah musuh terlalu banyak. Satu demi satu pertahanan mereka mulai didesak mundur. Pasukan Lingkaran Emas terus maju, mendesak mereka semakin dekat ke tengah desa, semakin dekat ke tempat persembunyian Lira.

Melihat keadaan semakin genting, Dani berlari mendekat ke arah Raga sambil menangkis serangan musuh.

“Tuan Muda! Kita tidak bisa bertahan lama di sini! Jumlah mereka sepuluh kali lipat dari kita! Kalau kita terus bertahan, kita akan habis semua!”

Raga mengertakkan gigi, menangkis serangan pisau yang mengarah ke dadanya, lalu menatap tajam ke arah barisan musuh. Ia tahu Dani benar, tapi ia tidak punya pilihan lain. Mundur berarti menyerahkan desa, menyerahkan semua orang yang percaya padanya, dan menyerahkan keselamatan Lira.

“Kita tidak boleh mundur, Dani! Di belakang sana ada nyawa orang-orang yang kita cintai! Kalau kita kalah, semuanya habis! Bertahanlah sedikit lagi! Bantuan dari pejabat dan pengacara yang kita hubungi pasti akan datang sebentar lagi!”

Namun waktu terasa berjalan begitu lambat, sementara serangan musuh semakin ganas. Pasukan Raga semakin sedikit, banyak yang terluka parah, dan kekuatan mereka mulai menipis.

Di tempat persembunyian, di dalam gua yang dalam dan gelap, Lira duduk gelisah di sudut ruangan. Suara ledakan dan benturan terdengar samar namun jelas, membuat jantungnya berdegup kencang setiap kali terdengar suara yang lebih keras dari biasanya. Ia ingin sekali berlari keluar, ingin sekali membantu Raga, ingin ada di sisi suaminya, tapi ia tahu ia hanya akan menjadi beban.

Ia memegang dadanya erat, doa terus-menerus ia ucapkan dalam hati, air mata menetes pelan di pipinya.

Raga… Bertahanlah… Aku mohon… Jangan apa-apa… Aku tidak bisa hidup tanpamu…

Di luar sana, situasi semakin kritis. Sebuah peluru melesat cepat dan mengenai bahu Raga, membuat tubuhnya tersentak mundur, darah segar seketika membasahi lengan bajunya. Raga meringis kesakitan, namun ia tidak berhenti, ia hanya menggigit bibirnya keras, menahan rasa sakit, dan terus bertarung dengan satu tangan yang masih kuat.

“TUAN MUDA!!!” teriak Dani kaget, ingin segera mendekat tapi terhalang oleh sekelompok musuh.

Komandan musuh melihat keadaan itu, senyum kejam muncul di bibirnya. Ia segera mengarahkan senjatanya tepat ke arah dada Raga yang terbuka.

“Permainanmu sudah selesai, Raga Ardiansyah! Sekarang kau akan ikut ayahmu ke neraka!”

Saat itu juga, tepat saat ia hendak menarik pelatuk, tiba-tiba terdengar suara deru mesin besar dari arah jalan belakang desa, diikuti suara sirine panjang yang menggelegar. Ratusan kendaraan bermotor dan mobil polisi, disertai kendaraan militer, melaju masuk ke medan pertempuran dengan kecepatan tinggi.

Suara pengereman keras terdengar bersahutan, dan ribuan orang berseragam keluar, mengepung seluruh pasukan Lingkaran Emas dari belakang.

“BERHENTI!!! KALIAN SUDAH DIKEPUNG!!! TURUNKAN SENJATA!!!” teriak komandan pasukan bantuan dengan suara keras, disertai suara tembakan peringatan ke udara.

Pasukan Lingkaran Emas seketika panik luar biasa. Mereka tidak menyangka akan ada pasukan pemerintah yang datang secepat itu. Mereka kira Raga sendirian, mereka kira tidak ada yang berani membantu. Kebingungan melanda barisan mereka, serangan mereka terhenti seketika, dan sebagian besar mulai melempar senjata, takut dan bingung.

Komandan musuh itu pucat pasi, tangannya gemetar, senjatanya jatuh dari genggamannya. Ia tahu, semuanya sudah berakhir. Rencana Pak Surya gagal total, dan mereka sudah terjebak dalam perangkap yang tidak bisa mereka lari.

Raga tersenyum lemah di tengah rasa sakitnya, napasnya tersengal lega. Bantuan datang tepat pada waktunya. Semua usaha, semua bukti yang ia kumpulkan, akhirnya membuahkan hasil. Orang-orang yang dulu takut, akhirnya berani berdiri di sisi kebenaran.

Pasukan polisi dan militer segera menangkap semua anggota Lingkaran Emas yang menyerah, sementara mereka yang mencoba melawan segera dilumpuhkan dan ditangkap hidup-hidup. Komandan musuh itu ditangkap dengan tangan terikat kuat, wajahnya penuh keputusasaan dan ketakutan.

Medan pertempuran perlahan menjadi tenang. Suara senjata berhenti, digantikan suara perintah pengamanan dan rintihan orang terluka. Asap mulai menghilang, matahari sore yang kemerahan kembali bersinar menyinari tanah lembah yang penuh bekas pertempuran itu.

Raga yang tubuhnya sudah tidak bertenaga lagi, akhirnya jatuh berlutut di tanah, darah dari lukanya terus mengalir. Dani dan orang-orangnya segera berlari mendekat, menopang tubuh tuannya dengan cemas.

“Tuan Muda! Tuan Muda! Tahan sebentar! Bantuan medis sudah ada!”

“Tidak apa-apa… Aku baik-baik saja…” bisik Raga lemah, namun matanya terus menatap ke arah jalan menuju gua persembunyian. “Lira… Bagaimana dengan Lira? Cepat panggil dia… Katakan padanya… Kita menang…”

Dani mengangguk cepat, lalu segera mengirim orang untuk menjemput Lira.

Beberapa menit kemudian, Lira berlari keluar dari balik bukit, rambutnya berantakan, wajahnya penuh ketakutan dan cemas. Begitu melihat sosok Raga yang berlumuran darah dan terbaring ditopang orang, ia menjerit pelan, lalu berlari sekuat tenaga mendekat.

“RAGA!!!”

Lira jatuh berlutut di samping tubuh suaminya, memeluk kepala Raga erat di dadanya, air matanya mengalir deras tanpa henti.

“Kamu terluka lagi… Kenapa kamu selalu terluka demi aku… Sakit sekali melihatmu begini…” isaknya penuh kepedihan, tangannya gemetar mengusap wajah Raga yang pucat.

Raga membuka matanya perlahan, melihat wajah Lira yang ada tepat di atasnya, melihat air mata dan rasa khawatir di mata itu. Ia tersenyum lemah, lalu mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh pipi istrinya dengan lembut.

“Jangan menangis, sayang… Lihat… Kita menang… Kita selamat… Tidak ada lagi orang yang mengejar kita… Tidak ada lagi ancaman… Kita bebas, Lira… Kita akhirnya bebas…”

Lira mengangguk kuat, menangis sambil tersenyum bahagia, mencium telapak tangan Raga yang ada di pipinya.

“Iya… Kita menang… Kita selamat… Terima kasih, Raga… Terima kasih sudah bertahan… Terima kasih sudah berjuang sampai akhir…”

Di kejauhan, di tengah kerumunan orang yang bersorak gembira karena kejahatan besar akhirnya dijatuhkan, Raga dan Lira duduk diam berpelukan, saling memeluk erat di tengah tanah yang masih berbau mesiu. Luka di tubuh mereka, rasa sakit di hati mereka, semua itu akhirnya terbayar lunas dengan kemenangan yang manis ini.

Namun Raga tahu, satu hal lagi yang harus diselesaikan sampai tuntas.

Pak Surya.

Dia adalah otak dari semua kejahatan ini, orang yang bertanggung jawab atas kematian ayah dan ibu Raga, atas kecelakaan yang menimpa mereka, atas kematian Pak Harun, dan atas semua penderitaan yang mereka alami selama bertahun-tahun. Selama orang itu masih bebas, keamanan mereka belum sepenuhnya terjamin.

“Lira… Kita belum selesai sepenuhnya,” bisik Raga pelan di telinga istrinya. “Pak Surya masih bebas. Dia yang memulai semuanya, dan dia yang harus mengakhiri semuanya dengan pertanggungjawaban atas semua dosanya.”

Lira menatap mata Raga lama, lalu perlahan mengangguk dengan tatapan tegas.

“Aku tahu. Aku akan ikut kamu. Kita akan datang ke hadapannya, kita akan buktikan semua kejahatannya, dan kita pastikan dia mendapat hukuman yang setimpal. Demi ayah ibumu, demi Pak Harun, demi semua orang yang dia sakiti.”

Raga mengangguk, rasa sakit di tubuhnya seolah hilang digantikan tekad yang kuat. Ia mengeratkan pelukan pada Lira.

“Terima kasih… Terima kasih sudah selalu ada di sisiku. Bersamamu, aku berani menghadapi apa saja.”

Matahari mulai terbenam sepenuhnya, meninggalkan langit berwarna merah keemasan yang indah di ufuk barat. Di lembah itu, di tempat yang dulu menjadi saksi ketakutan dan bahaya, kini menjadi saksi kemenangan cinta dan kebenaran yang tidak pernah kalah, meski diuji dengan penderitaan yang begitu panjang.

Dan esok hari, mereka akan berangkat ke kota besar, ke markas pusat kekuasaan Lingkaran Emas, untuk menghadapi musuh terakhir dan terbesar mereka, untuk menutup babak kelam ini selamanya.

 

(Bersambung ke Episode 31)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!