Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Ayam Geprek Cinta terus berjalan. Tidak langsung besar. Tidak tiba-tiba sukses. Tetapi cukup stabil untuk membuat Celsi mulai berani memikirkan sesuatu yang dulu terasa mustahil.
Cabang.
Ide itu awalnya terdengar terlalu besar untuk ukuran usaha yang baru beberapa bulan berdiri. Tapi semakin hari pelanggan bertambah. Pesanan online meningkat. Kursi mulai kurang. Dapur kecil mulai terasa sempit.
Wati bahkan mulai bercanda.
"Teh, kalau begini terus nanti saya naik jabatan jadi manajer ya."
Joko langsung menyahut.
"Kalau saya jadi kepala ayam aja cukup."
Mereka tertawa.
Dan Celsi yang biasanya hanya tersenyum tipis, sekarang mulai ikut tertawa lebih lama.
Malam itu dia membuka catatan. Hitung ulang pemasukan dan tabungan yang ada. Kemungkinan biaya sewa. Kalau tempat baru tidak terlalu besar, mungkin masih bisa. Akhirnya dia menghubungi nomor yang tertera di iklan ruko yang sempat dia simpan.
"Selamat malam, Pak. Ruko di jalan nasional apakah masih tersedia?"
Tak lama balasan dari pemilik ruko datang.
"Masih, Bu."
"Saya Celsi. Saya berminat untuk sewa ruko. Apa bisa survey lokasi dulu?"
"Bisa, Bu."
Setelah membuat janji masalah waktu. Celsi datang di hari berikutnya.
Siang itu, di area pertokoan yang sedang berkembang. Celsi datang lebih dulu. Dia memakai tunik sederhana dan celana bahan. Rambut diikat rapi. Membawa map berisi perhitungan usaha.
Tak lama seseorang datang. Lelaki tinggi, wajahnya ganteng, Cindo. Mirip-mirip Le min ho. Usianya skitar 28 tahun. Lelaki itu memeja abu-abu. Tatapannya tenang.
Dia mendekat sambil melihat layar ponselnya.
"Bu Celsi?"
Celsi berdiri.
"Iya."
Lelaki itu mengangguk.
"Saya Azka."
Mereka berjabat tangan.
"Oh, Pak Aska?" Celsi kaget, "Saya kira..." ia tersenyum canggung, "Udah bapak-bapak. Ternyata masih muda."
Aska tertawa ringan. "Enggak papa. Mau lihat sekarang rukonya?"
"Eh, iya, Ko. Boleh panggil Ko?"
Aska tertawa lagi, "Boleh. Senyamannya aja, Teh."
Azka mengajak melihat beberapa unit ruko.
Sepanjang berjalan, pembicaraan mereka sederhana.
Tentang luas tempat.
Harga sewa.
Potensi daerah.
Jam ramai.
Azka ternyata bukan pemilik satu ruko saja.
Dia pengusaha properti yang mengelola beberapa area komersial.
Yang membuat Celsi cukup nyaman adalah lelaki itu ramah dan tidak kurang ajar. Jauh dari kesan kaku.
"Mau buat usaha apa, Teh?"
"Kuliner, Ko."
"Hmmm... Di sini kalau kuliner udah ada beberapa."
"Kalau buat ayam geprek gimana ya, Ko?"
"Ayam geprek ya? Di sini belum ada sih," jawab Aska. "Baru buka pertama, Teh?"
"Enggak juga, sih, Ko. Ini baru mau buka cabang baru."
"Oh, sebelumnya buka di mana?"
"Di daerah jalan pahlawan, Ko."
"Jalan pahlawan? Kalau sama geprek Cinta mananya?"
"Ya itu."
Aska tercenung. "Teteh yang punya ayam geprek Cinta?"
"Hehehe, iya, Ko."
Aska tertawa kecil. "Ya Allah. Ternyata mau buka cabang di sini? Kalau itu mah pasti laris, Teh. Aku udah pernah beli juga di sini."
"Eh, iya, ya? Kok aku nggak tau ya? Biasanya kalau cowok ganteng gampang banget nyantol di kepala."
Aska tertawa lagi. "Kalau di sana, aku jarang banget ketemu Teteh. Biasanya sama teh Wati atau Aa' Joko."
"Ya ampun, sampai hapal sama mereka."
"Iya, dong. Favorit sama sambel matahnya. Enak banget. Gepreknya juga enak, tapi paling best sambal matahnya, Teh."
Celsi tertawa.
"Eh, kok jadi laper ya? Makan dulu yuk. Ngomongin sambel matah sama geprek malah jadi laper."
Celsi agak ragu.
"Aku yang traktir. Skalian kita lanjutin, banyak yang belum kita bahas. Karena yang mau sewa geprek favorit, nanti aku kasih diskon."
Celsi mengangguk setuju juga. Karena memang pembahasan mereka belum selesai. Tak jauh dari ruko memang ada resto. Mereka masuk dan mencari kursi yang strategis.
"Di sana aja," ajak Aska menunjuk salah satu kursi dekat jendela.
Mereka melangkah berdampingan. Tiba-tiba...
"Celsi?"
Mata Celsi membulat, tidak pernah dia sangka dunia sesempit ini . Ya, pria itu berdiri di sisi lorong kanannya. Bersama wanita yang kini jadi istrinya.
Rangga dan Vena.
Perut wanita itu sudah sangat besar. Mungkin tinggal nunggu hari lahir saja.
"Enggak nyangka ketemu di sini."
Celsi mencoba abaikan, dia mau lanjut jalan, tapi tertahan oleh ucapan Rangga.
"Siapa dia? Kita belum lama pisah, tapi kamu udah sama cowok baru."
Celsi memejamkan matanya, menahan rasa marah di dadanya. Celsi diam beberapa detik.
Lalu entah kenapa dadanya panas. Ia tidak ingin terlihat kalah. Tidak ingin terlihat sendirian. Tidak ingin terlihat seperti orang yang ditinggalkan. Tanpa pikir panjang, ia memepetkan tubuh ke arah Aska dan merangkul lengannya.
Azka langsung kaku, dia bahkan langsung menoleh ke arah Celsi.
Celsi tersenyum. "Iya. Ini Calon suamiku."
Aska terdiam. Tiba-tiba saja dia dilibatkan, tapi dia tetap diam sambil melihat situasi.
"Calon suami?"
"Wah, selamat ya, Kak. Berarti Kak Celsi udah move on."
"Iya, Alhamdulillah. Tanpa merebut milik sepupu sendiri, dengan cara yang..." sambar Celsi sambil melirik ke perut Vena. "...hina."
Vena mengepalkan tangannya, wajahnya langsung gelap menahan marah.
"Setidaknya, dia subur," Rangga menimpali, seolah sedang menjaga istrinya dari rasa malu dan marah.
Rangga berganti pada Aska. "Kamu calon suaminya? Sebaiknya kamu pikir-pikir dulu. Aku mantan suaminya. Kami sudah menikah tiga tahun. Tapi, baru tau kalau dia mandul. Sekarang, aku udah nikah sama orang yang tepat, dan bentar lagi bakal jadi ayah."
"Begitu ya?" Aska mengangguk.
Celsi merasa hatinya memburuk seketika. Ia sedikit menyesal sudah melibatkan Aska hanya untuk memenuhi rasa tak ingin terlihat kalahnya. Sedangkan Rangga terlihat cukup puas merasa telah berhasil mempengaruhi lelaki yang bersama mantan istrinya itu.
Aska menarik tangannya, hal yang kini membuat Celsi makin menyesal. Pikirannya terus berputar dia akan semakin malu, bagaimana kalau Aska mengaku mereka tak punya hubungan? Bagaimana jika Aska tak jadi menyewakan rukonya? Harusnya, tadi dia tak asal mengakui dan merangkul pria itu.
"Setiap orang punya tujuan dalam pernikahannya."
Namun, lelaki itu justru merangkul bahu Celsi. Sampai wanita cantik itu terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Aku duda. Aku juga sudah punya anak. Jadi tujuanku menikah bukan lagi tentang anak. Celsi pintar, dia juga cantik, aku pun yakin dia bakal jadi seorang pengusaha kuliner yang sukses. Ummm, kamu mantan suaminya? Terima kasih ya, udah menceraikan Celsi. Kamu pasti sangat kesal sekarang karena melihat Celsi sudah move on. Sampai-sampai mempengaruhi calon suaminya. Tapi, itu nggak ngaruh sama aku."
Rangga mengepalkan tangannya, egonya jelas telah disenggol. Dia memang yang menghianati, tapi dia juga yang kini malah merasa sakit melihat ada lelaki yang bisa menerima wanita itu jauh lebih dari dirinya.
Rangga tertawa pelan. "Yakin Celsi bakal jadi pengusaha sukses? Kamu pasti mokondo ya?"
Ia melihat dengan pandangan merendahkan, dari atas ke bawah. "Cuma ngandelin tampang dan tubuh tinggi saja. Tapi... Numpang hidup sama Celsi."
"Mas Rangga!"
Celsi bisa terima jika dia yang dihina, tapi lelaki yang baru saja dia temui ini? Dia tak akan tinggal diam.
"Kamu keterlaluan! Kita udah nggak ada hubungan apapun! jadi nggak usah ngurusin! urusin aja istrimu yang lagi hamil itu."
Celsi lalu berbalik, "Ko, kita cari tempat makan lain aja."