Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TENTANG MIMPI
Pagi kedua di Yogyakarta dimulai dengan udara yang lebih sejuk dibanding Jakarta. Kirana baru saja keluar dari lift hotel ketika mendapati Danendra sudah duduk di salah satu meja restoran dekat jendela. Secangkir kopi hitam mengepul di depannya, sementara beberapa lembar dokumen terbuka di samping piring sarapan.
Pemandangan itu membuat Kirana tersenyum kecil. Entah kenapa, beberapa hari terakhir ia semakin sering menemukan Danendra lebih dulu berada di tempat yang sama dengannya.
"Selamat pagi, Mas."
Danendra mengangkat kepala dari dokumennya. "Pagi."
Kirana menarik kursi di hadapan suaminya. Beberapa detik kemudian, pelayan datang mengantarkan teh hangat dan sepiring makanan yang sudah ia pesan sebelumnya. Danendra melirik piring tersebut sekilas.
"Kamu sarapan," ucap Danendra datar.
Kirana berkedip pelan. Ia baru teringat ucapan suaminya semalam di koridor kamar hotel. Mau tidak mau, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman murni. "Iya."
Danendra mengangguk puas. Seolah itu memang jawaban yang seharusnya ia terima dari istrinya. Kirana menahan tawa kecil agar tidak pecah di depan meja makan. Pria di hadapannya ini benar-benar unik jika sedang menunjukkan perhatian.
Agenda hari kedua berlangsung lebih ringan dibanding hari sebelumnya. Sebagian besar sesi diskusi utama sudah selesai. Yang tersisa hanya kunjungan ke salah satu kawasan cagar budaya yang sedang menjalani proses revitalisasi.
Menjelang siang, rombongan peserta berangkat menggunakan beberapa kendaraan yang sudah disediakan panitia. Kirana memilih duduk di dekat jendela kaca, sementara Danendra berada di kursi sebelahnya.
Di depan mereka, beberapa peserta lain sibuk mengobrol santai. Ada yang membahas perkembangan proyek yayasan, membicarakan kuliner khas Yogyakarta, bahkan ada yang sudah bersemangat menyusun daftar oleh-oleh bakpia. Sedangkan Kirana lebih memilih menikmati pemandangan di luar. Deretan bangunan tua berganti menjadi kawasan rindang yang lebih tenang.
Saat kendaraan berhenti sempurna, panitia langsung mengarahkan seluruh peserta menuju kompleks bangunan bersejarah yang menjadi lokasi kunjungan. Kirana mengikuti rombongan sambil sesekali membaca brosur panduan yang dibagikan staf. Namun tidak lama kemudian, langkah kakinya melambat. Perhatiannya tertuju pada Danendra.
Pria itu berdiri beberapa meter di depannya. Bukan sedang berbicara dengan peserta lain, bukan juga memeriksa ponsel kerjanya. Melainkan memperhatikan salah satu bangunan tua dengan sangat serius. Matanya menelusuri detail daun jendela kayu, pilar-pilar penyangga, hingga bagian struktur atap yang sedang diperbaiki. Seolah ia sedang melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh mata orang lain.
Kirana melangkah menghampirinya, berdiri di samping lengannya. "Kamu suka bangunan tua, Mas?"
Danendra menolehkan kepalanya sedikit. "Lumayan."
Jawaban singkat yang teramat khas. Namun beberapa menit berikutnya, Kirana mulai menyadari sesuatu yang baru. Setiap kali pemandu lapangan menjelaskan proses restorasi, Danendra selalu tahu banyak hal.
Pria itu mendadak menjelaskan panjang lebar mengenai jenis material kayu lama, teknik penguatan struktur fondasi, hingga perbedaan mendasar antara metode renovasi dan restorasi arsitektur. Bahkan beberapa kali pria itu menambahkan informasi teknis yang tidak tercantum dalam penjelasan lisan pemandu.
Kirana sempat tertegun mendengarnya. Selama satu tahun menikah, ia tidak pernah melihat Danendra berbicara sebanyak itu tentang sesuatu. Suara suaminya terdengar begitu hidup, mengalir tanpa jeda kaku yang biasanya selalu membatasi kalimatnya di rumah.
Kirana akhirnya menghentikan langkah kakinya tepat di depan sebuah pilar besar. "Kamu tahu banyak soal ini, Mas."
Danendra menatap lurus ke arah bangunan di hadapannya. Angin siang berembus pelan melewati halaman kompleks budaya tersebut, membuat kemejanya sedikit bergerak. "Dulu aku memang belajar itu."
"Arsitektur?" tanya Kirana penasaran.
Danendra mengangguk pendek. "Iya."
Kirana sempat terkejut, matanya berkedip pelan. Ia memang tahu Danendra lulusan dari universitas ternama. Namun selama ini ia tidak pernah benar-benar bertanya jurusan apa yang diambil suaminya saat kuliah dulu sebelum memegang Adipati Group.
"Jadi sejak awal kamu memang ingin jadi arsitek?"
"Hm."
"Kupikir dari dulu kamu memang ingin meneruskan perusahaan Ayah."
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Danendra menyunggingkan senyum tipis. Sangat tipis. "Hampir semua orang berpikir begitu."
"Lalu kenyataannya?" tanya Kirana lembut, menuntut jawaban jujur.
Danendra mengalihkan pandangan matanya ke arah bangunan tua di depan mereka. Ke arah tembok batu yang sedang dipugar secara perlahan tanpa menghilangkan bentuk aslinya. "Aku ingin menjadi arsitek restorasi."
Kirana tertegun di posisinya. Ia benar-benar tidak menyangka. Arsitek restorasi, bukan pengusaha, bukan direktur utama, bukan pewaris konglomerasi korporasi besar, melainkan seseorang yang murni ingin menyelamatkan bangunan-bangunan tua dari kepunahan waktu.
"Itu... jauh sekali dari pekerjaanmu sekarang, Mas."
"Iya."
Nada suara Danendra tetap terdengar tenang. Namun entah kenapa, Kirana merasa ada sesuatu yang teramat sunyi di balik ketenangan suaminya.
"Kenapa tidak dilanjutkan?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Kirana tanpa sempat ia saring. Sesaat kemudian ia menyesalinya, khawatir itu terlalu pribadi dan kaku untuk dibahas.
Namun Danendra tidak terlihat terganggu atau memutus pembicaraan. Pria itu tetap menatap lurus ke arah bangunan di hadapannya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang lapang, baru kemudian ia menjawab pendek. "Karena Ayah sakit."
Kirana langsung terdiam, lidahnya kelu.
"Perusahaan membutuhkan penerus," sambung Danendra datar.
Selesai. Hanya itu alasan logisnya. Tidak ada penjelasan panjang yang mendramatisir keadaan, tidak ada keluhan nasib, tidak ada juga nada menyesal yang berlebihan. Namun justru karena ketegasan itulah, dada Kirana mendadak terasa sedikit sesak.
Ia tiba-tiba membayangkan sosok Danendra yang jauh lebih muda. Seseorang yang memiliki mimpi besar sendiri, lalu terpaksa melepaskannya begitu saja karena sebuah tuntutan keadaan keluarga. Dan sepanjang satu tahun pernikahan mereka, Kirana baru menyadari betapa ia sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.
"Apa kamu menyesal, Mas?" tanya Kirana pelan, suaranya melembut di tengah udara siang.
Danendra tampak terdiam sebentar, jemarinya mengetuk permukaan dokumen di tangannya secara perlahan. "Kadang."
Jawaban jujur tanpa tameng kemandirian itu membuat Kirana menolehkan kepalanya penuh.
"Kadang saat melihat bangunan tua seperti ini," lanjut Danendra pelan. "Atau saat melihat proyek restorasi sejarah yang dikerjakan dengan bagus." Pria itu mengembuskan napas pendek melalui hidung, menatap langit Yogyakarta yang cerah. "Tapi hidup tidak selalu memberi pilihan yang sesuai keinginan."
Untuk beberapa saat, mereka berdiri dalam keheningan di sudut halaman kompleks. Bukan sebuah keheningan yang canggung atau ingin saling menjauh, melainkan keheningan yang lahir karena masing-masing batin mereka sedang memikirkan sesuatu yang dalam.
"Kamu sendiri?" Suara bariton Danendra memecah sunyi, membuat Kirana kembali menoleh.
"Hm?"
"Kamu pasti juga punya mimpi yang belum tercapai sampai sekarang," ucap Danendra, menatap mata Kirana lurus.
Kirana tersenyum kecil, ia memilin ujung tali tas jinjingnya untuk meredam rasa salah tingkah fisiknya karena Danendra ternyata juga memperhatikannya. Ia memandang halaman luas di depan mereka. Sekelompok anak sekolah terlihat berjalan bersama guru mereka sambil mendengarkan penjelasan tentang sejarah masa lalu pilar bangunan. Pemandangan itu membuat hatinya hangat.
"Ada," jawab Kirana tulus.
"Apa?"
Kirana menarik napas pelan, mengumpulkan impian lamanya dalam kalimat sederhana. "Aku ingin punya rumah arsip."
Danendra memperhatikannya beberapa detik.
"Bukan sekadar tempat kaku untuk menyimpan dokumen kuno, Mas," lanjut Kirana, matanya mendadak menyala cerah penuh gairah saat menjelaskan. "Sebuah tempat yang nyaman dan bisa didatangi bebas oleh siapa saja. Anak-anak sekolah, mahasiswa, atau masyarakat umum."
Ia menyunggingkan senyum manisnya. "Mereka bisa membaca sejarah daerahnya sendiri secara menyenangkan, bisa melihat dokumen lama dengan mudah, dan bisa belajar tentang nilai budaya yang hampir hilang ditelan zaman."
Semakin lama Kirana berbicara, sorot matanya tampak semakin hidup dan bersinar terang. Danendra memperhatikan seluruh perubahan ekspresi wajah istrinya itu dalam diam yang fokus. Untuk pertama kalinya, ia melihat Kirana berbicara tentang sesuatu yang benar-benar perempuan itu cintai dengan segenap jiwanya; bukan murni karena laporan yayasan, bukan tuntutan pekerjaan, bukan pula kewajiban formalitas kerja. Melainkan sebuah mimpi yang jujur.
"Aku sudah memikirkannya sejak lama," lanjut Kirana, suaranya merendah pelan. "Tapi sampai sekarang belum bisa terwujud."
"Kenapa?" tanya Danendra taktis.
Kirana terkekeh kecil, merapikan anak rambutnya yang lepas ditiup angin. "Karena kenyataannya tidak semudah itu, Mas. Membangunnya butuh modal yang sangat besar."
Danendra mengangguk pelan. Ia memahami jawaban tersebut lebih dari siapa pun di dunia ini. "Tanah mahal, dana operasional tinggi, dan pengelolaan arsip juga membutuhkan biaya yang tidak murah."
Kirana tersenyum pasrah. "Tepat sekali, Mas. Makanya masih kusimpan sendiri."
Beberapa saat kemudian, mereka kembali berjalan beriringan mengikuti langkah rombongan peserta menuju pintu keluar. Lalu, tanpa ada peringatan atau aba-aba sebelumnya, Danendra membuka suara dengan nada lempeng.
"Itu mimpi yang bagus."
Langkah kaki Kirana mendadak terhenti di atas jalan setapak. Ia menolehkan kepalanya cepat. Namun Danendra tetap berjalan lurus ke depan dengan postur tegapnya, seolah pria itu sama sekali tidak menyadari dampak emosional dari kalimat sederhana yang baru saja ia ache temukan.
Bagi Kirana, kalimat pendek itu terasa jauh lebih berharga daripada untaian pujian panjang yang biasa ia dengar dari forum panitia besar. Karena ia tahu betul Danendra bukan tipe pria yang mudah memberikan penilaian manis jika tidak sesuai fakta draf kepalanya. Jika Danendra mengatakan sesuatu itu bagus, berarti pria itu benar-benar mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Hal kecil itu sukses membuat dada Kirana terasa hangat sepanjang sisa siang tersebut.
Perjalanan pulang menggunakan kendaraan menuju hotel berlangsung menjelang sore hari. Kali ini suasana di dalam mobil jemputan jauh lebih tenang. Sebagian peserta rapat tertidur karena kelelahan, sementara sebagian lainnya sibuk memainkan ponsel masing-masing dalam diam.
Kirana duduk bersandar di dekat jendela seperti sebelumnya, menikmati sapuan cahaya matahari sore yang mulai menguning. Namun, pikirannya masih tertinggal pada percakapan jujur di halaman cagar budaya siang tadi.
Selama ini Kirana mengira ia cukup mengenal Danendra. Ternyata tidak. Masih ada begitu banyak hal esensial yang tidak pernah ia ketahui tentang suaminya sendiri. Tentang mimpi masa muda yang pernah dikubur dalam-dalam, tentang pilihan hidup yang tidak pernah benar-benar pria itu inginkan sejak awal, dan tentang sisi lain manusiawi yang selama ini tersembunyi rapat di balik topeng kaku seorang direktur utama Adipati Group.
Di samping tempat duduknya, Danendra juga sedang membuang tatapannya memandang keluar jendela kaca mobil. Fokus pikirannya saat itu tidak jauh berbeda dengan apa yang berputar di kepala istrinya.
Selama ini, ia selalu melihat Kirana murni sebagai sesosok perempuan yang bertanggung jawab, penurut, dan berdedikasi tinggi pada pekerjaan yayasannya. Namun baru hari ini, di bawah hembusan angin Yogyakarta, ia mengetahui bahwa di balik semua kesibukan domestik mereka, Kirana menyimpan sebuah mimpi indah yang terus dijaga diam-diam di dalam hatinya. Sebuah mimpi yang mungkin belum tercapai karena benturan realita, namun tidak pernah benar-benar perempuan itu lepaskan begitu saja.
Dan entah kenapa, sore itu Danendra mendapati dirinya berharap impian rumah arsip milik Kirana suatu hari benar-benar terwujud.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota Yogyakarta yang mulai diselimuti oleh cahaya senja kemerahan. Sementara tanpa pernah mereka sadari sepenuhnya sepanjang jalan menuju hotel, percakapan sederhana tentang mimpi siang itu telah berhasil membuat mereka mengenal satu sama lain sedikit lebih dalam daripada hari-hari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, Kirana merasa ada bagian dari Danendra yang benar-benar ia kenal hari ini.