Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMENANGAN YANG TERASA ASING
Sinar mentari pagi menerobos tirai sutra hitam kamar utama mansion Azrael, jatuh tepat di atas wajah Aurora/ Rae yang masih terlelap. Sisa-sisa kelelahan dari "pertempuran" semalam masih terasa di sekujur tubuhnya, namun saat kesadarannya perlahan merayap naik, satu hal yang langsung memenuhi pikirannya bukanlah kenyamanan ranjang empuk ini, melainkan keberhasilan Aletheia Protocol.
Rae membuka matanya. Tidak ada rasa takut, tunduk, atau pun kelembutan yang tersisa; yang ada hanyalah kilatan ambisi yang tajam, dingin, dan murni. Dia bangkit dengan posisi duduk, menyibak selimut sutra, dan membiarkan udara pagi yang dingin menyentuh kulitnya. Di permukaan kulit porselen-nya, terdapat tanda-tanda kemerahan, bekas "perang" kepemilikan yang Kaelen tinggalkan semalam. Rae menatap tanda itu tanpa ekspresi, lalu mengabaikannya. Baginya, itu hanyalah bekas luka kecil dari sebuah perang yang akhirnya—setidaknya menurut perhitungannya—ia menangkan.
Tangannya bergerak lincah meraih tablet kerjanya yang tergeletak di nakas. Jemari lentiknya menari di atas layar yang menyala, menampilkan antarmuka dashboard yang selama ini ia rancang dalam diam. Data-data yang tertera di sana adalah bukti nyata: kekaisaran bisnis Kaelen—Azrael Corps—berada dalam titik nadir. Sistem logistik pusat terkunci, server utama di Sektor Barat lumpuh, dan aset-aset ilegal di berbagai sektor bawah tanah telah dibekukan.
" Checkmate, Tuan Azrael," gumam Rae dengan senyum miring yang mematikan. Ada kepuasan aneh yang menjalar di dadanya, sebuah kemenangan yang selama ini ia impikan sejak hari pertama ia terkurung di mansion ini.
Di saat bersamaan, pintu kamar bergeser terbuka tanpa suara. Kaelen Azrael melangkah masuk. Pria itu tampak segar dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, membawa nampan berisi sarapan dengan wajah yang tampak setenang air di permukaan telaga. Sepasang mata merah mautnya yang selalu waspada tertuju pada Rae, mengamati setiap gerak-gerik istrinya yang tengah menatap tablet dengan tatapan penuh kemenangan.
Kaelen tidak tampak marah. Dia tidak tampak panik. Dia justru berjalan mendekat dengan langkah mantap yang berwibawa, lalu meletakkan nampan di meja samping ranjang.
"Bangun lebih awal, Sayang?" Kaelen bersuara, nada baritonnya rendah dan menggoda. "Kau terlihat cukup puas pagi ini. Apa mimpi indah semalam?"
Rae melempar tabletnya ke atas kasur dengan gerakan anggun namun menantang. Layarnya sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan grafik kehancuran sistem Azrael Corps. "Berhentilah bersandiwara, Kaelen. Lihatlah sendiri. Kerajaanmu hancur. Protokol yang kubuat telah melumpuhkan segalanya. Dan ini baru permulaan dari kehancuran mu."
Kaelen tidak langsung meraih tablet itu. Dia justru duduk di tepi ranjang, tepat di samping Rae, dan menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman, obsesi, dan sesuatu yang jauh lebih gelap.
"Aku melihatnya," sahut Kaelen tenang. "Dan sejujurnya, aku terkesan. Sangat terkesan."
"Hanya terkesan?" Rae memicingkan mata, merasa ada sesuatu yang janggal. Kecurigaan merayap di benaknya. "Aku melumpuhkan mu, Kaelen! Kerajaanmu sedang sekarat. Seharusnya kau marah, seharusnya kau mengamuk, atau setidaknya mencoba menghukum ku lagi seperti biasanya. Mengapa kau terlihat... begitu tenang?"
Kaelen tertawa rendah—suara yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Rae berdiri. Dia meraih jemari Rae dan mengecupnya, sebuah gestur yang sebenarnya intim namun bagi Rae terasa seperti peringatan. "Karena aku tahu, Rae. Aku tahu kau akan melakukannya. Siapa aku jika tidak bisa mengantisipasi setiap langkah kecil dari ratuku sendiri?"
"Jangan mencoba berbohong," balas Rae tajam, menarik tangannya. "Sistem mu tidak bisa ditembus oleh siapa pun. Tapi Aletheia Protocol melakukannya. Ini bukan antisipasi, Kaelen. Ini kekalahan telak mu. Akui saja."
"Mungkin benar," sahut Kaelen, berdiri dan mulai melonggarkan dasinya dengan gerakan lambat yang memikat. "Tapi bukankah menyenangkan melihatmu begitu bersemangat? Aku suka melihatmu menang, Rae. Aku suka melihatmu merasa memegang kendali. Itu membuat matamu berkilat jauh lebih indah daripada saat kau ketakutan atau melawan. Bagiku, tidak ada kemenangan yang lebih manis daripada melihatmu merasa telah memenangkan ku."
Tiba-tiba, Kaelen mencengkeram dagu Rae, memaksanya mendongak untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata merah maut miliknya. Tensi di kamar itu meningkat drastis, memanas dalam hitungan detik. Kaelen mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan, dan Rae bisa merasakan aroma maskulin yang memabukkan dari tubuh suaminya.
"Tapi ingat satu hal," bisik Kaelen, suaranya sedingin es namun setajam pisau. "Kemenangan ini... apakah kau yakin ini benar-benar hasil kerjamu sendiri? Atau kau hanya pion yang sedang berjalan di atas papan catur yang memang sudah aku desain untukmu?"
Rae membalas tatapan itu dengan keberanian yang tak terbendung. "Cukup omong kosongmu, Kaelen. Jika kau pikir kau bisa memanipulasiku dengan kata-kata manis atau teori konspirasi ini, kau salah besar. Aku meretas sistemmu, dan sistem itu tumbang. Itu faktanya."
Tanpa peringatan, Rae melompat turun dari ranjang, mencoba mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Namun, Kaelen jauh lebih cepat. Dalam sekejap, dia sudah menyudutkan Rae ke dinding, mengurungnya dengan kedua lengan kekarnya yang kokoh. Tubuh mereka saling berhimpitan, napas mereka beradu, menciptakan atmosfer yang sangat sesak.
"Kau ingin bermain, bukan?" tantang Kaelen, senyum miringnya makin lebar. "Lumpuhkan aku lebih dalam lagi. Hancurkan hidupku sampai aku tidak punya apa-apa lagi selain dirimu. Lakukan, Rae. Aku menantang mu."
"Kau benar-benar gila," desis Rae.
"Aku memang gila. Dan kau penyebabnya." Kaelen mulai mencium leher Rae, tanda pemilikannya semakin jelas, seolah ingin menegaskan bahwa meskipun sistemnya hancur, Rae tetap miliknya.
Namun, di tengah aksi fisik yang intens itu, tablet Rae kembali berbunyi. Bip. Sebuah notifikasi masuk, dan kali ini bukan dari program buatannya. Sebuah pesan terenkripsi dari sumber tak dikenal yang meretas ke dalam Aletheia Protocol.
Rae membelalak. Matanya beralih ke tablet. Seseorang sedang melakukan counter-attack. Seseorang yang tahu persis cara kerja sistemnya. Bukan Kaelen, tapi pihak lain. Ekspresi Rae berubah total. Kaelen yang menyadari perubahan suasana hati istrinya langsung melepaskan cengkeramannya dan menatap layar tablet tersebut. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh raut wajah serius yang jarang terlihat, raut wajah seorang penguasa yang sedang menghadapi ancaman nyata.
"Ternyata," Kaelen berkata dengan nada dingin yang mengintimidasi, "ada tikus lain yang ikut masuk ke rumah kita."
Rae merasakan ada yang tidak beres. Jika Kaelen sengaja mengalah, lalu siapa pihak ketiga ini? Mengapa mereka menyerang sistemnya di saat yang bersamaan?
"Apakah ini bagian dari rencanamu juga, Kaelen?" tanya Rae, suaranya kini penuh kewaspadaan, bukan lagi kemarahan.
Kaelen terdiam, matanya menatap tajam ke arah tablet, menelusuri jejak digital yang ditinggalkan si penyerang. "Bukan. Ini... ini tidak ada dalam skenario."
Keangkuhan Rae perlahan memudar, digantikan dengan naluri bertahan hidup yang sudah lama terasah. Kemenangan yang ia kira adalah miliknya, kini berubah menjadi ancaman baru yang bahkan Kaelen pun tidak duga. Sang Raja Mafia dan sang Ratu Hacker kini harus berdiri di sisi yang sama, karena musuh di depan mereka jauh lebih berbahaya daripada permainan manipulasi yang mereka mainkan satu sama lain.
"Bersiaplah, Rae," ujar Kaelen, suaranya kembali menjadi komandan yang kejam. "Badai yang sebenarnya baru saja dimulai."
Di balik dinding kamar yang mewah, di luar jangkauan deteksi mereka, sebuah aliansi tersembunyi sedang bergerak. Mereka tidak peduli dengan ego Kaelen atau ambisi Rae. Tujuan mereka hanya satu: menghancurkan keduanya.
Rae menatap Kaelen. Untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka yang penuh paksaan, dia tidak melihat musuh, melainkan rekan dalam perang yang tidak direncanakan. Kemenangan semu yang manis itu kini terasa pahit, tertelan oleh realita bahwa di dunia bawah tanah ini, tak ada yang benar-benar memegang kendali sepenuhnya. Kaelen bukan lagi lawan bicaranya, dia adalah perisai sekaligus ancaman yang kini harus dia hadapi bersama.