NovelToon NovelToon
KAISAR HANTU

KAISAR HANTU

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.

Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.

Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Namun, Lin Ye yang menjadi target dari serangan dahsyat itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri.

Ia tidak mencoba menghindar, melainkan hanya mengangkat tangan kanannya perlahan ke arah bilah energi emas yang sedang melesat menghampirinya.

Inti Yin Sempurna di dalam dantiannya berputar dengan satu putaran kecil yang sangat halus.

Seketika itu juga, sebuah pusaran energi hitam pekat meledak dari telapak tangan Lin Ye dan membentuk sebuah perisai bayangan raksasa di depannya.

Perisai bayangan itu tidak memancarkan cahaya apa pun, ia terlihat seperti sebuah lubang hitam yang siap menelan segala bentuk energi di alam semesta.

Suara benturan yang sangat memekakkan telinga terdengar saat bilah pedang emas milik Chu Zhen menghantam perisai bayangan Lin Ye.

Gelombang kejut dari benturan itu menyapu seluruh lorong gua, membuat bebatuan raksasa runtuh dan lantai bergetar seolah sedang dilanda gempa bumi dahsyat.

Namun, hal yang membuat Chu Zhen membelalakkan matanya dengan kengerian absolut bukanlah suara ledakan tersebut.

Bilah energi pedang kebanggaannya, serangan yang ia yakini bisa membelah tubuh kultivator iblis mana pun, sama sekali tidak mampu menembus perisai bayangan Lin Ye.

Bahkan, cahaya keemasan dari serangan itu perlahan mulai redup dan terhisap masuk ke dalam pusaran perisai tersebut, meleleh bagaikan salju yang jatuh ke dalam tungku api.

"B-bagaimana mungkin?!" gumam Chu Zhen dengan bibir yang gemetar, matanya tidak bisa mempercayai apa yang sedang dilihatnya.

"Ini sama sekali tidak masuk akal! Kultivasimu bahkan tidak memancarkan aura Inti Emas, bagaimana kau bisa menahan serangan penuh dariku dengan begitu mudah?!"

Lin Ye menurunkan tangan kanannya, dan perisai bayangan itu langsung memudar menghilang ke dalam udara seolah tidak pernah ada.

Pemuda berjubah hitam itu menepuk debu yang tidak terlihat dari bahunya dengan gerakan yang sangat elegan dan penuh dengan hinaan.

"Kekuatan Inti Emas milikmu memang lumayan untuk ukuran seorang manusia biasa, tapi di hadapan kesempurnaan energi kematian, kau tidak lebih dari seekor serangga yang menyedihkan."

"Kau terlalu bangga dengan kultivasi palsumu yang dibangun di atas darah orang lain, Chu Zhen."

Mendengar hinaan bertubi-tubi itu, Chu Zhen kembali mengaum marah dan bersiap untuk melepaskan jurus pedang pamungkasnya yang lebih mematikan.

"Jika satu tebasan tidak cukup untuk membunuhmu, aku akan menebasmu seribu kali hingga jiwamu hancur tak tersisa!" teriak Chu Zhen sambil mengangkat pedangnya kembali.

Namun, sebelum Chu Zhen sempat mengumpulkan energi spiritualnya, Lin Ye telah menjentikkan jarinya dengan sebuah suara letupan yang sangat renyah.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain pedang dengan orang tua renta sepertimu," ucap Lin Ye dengan nada bosan.

"Lagi pula, aku memiliki tamu yang sangat ingin menyapamu secara pribadi untuk membalas budi atas apa yang kau lakukan kepada mereka."

Bersamaan dengan jentikan jari tersebut, bayangan Lin Ye yang terpantul di lantai gua tiba-tiba meledak menjadi lautan darah kental yang sangat pekat.

Bau anyir darah yang ratusan kali lebih menyengat daripada Kolam Darah Spiritual Purba seketika memenuhi seluruh lorong gua, membuat napas Chu Zhen tersendat.

Dari dalam lautan bayangan berdarah itu, sesosok raksasa yang mengenakan zirah logam berwarna merah karat perlahan bangkit berdiri.

Tubuh raksasa itu setinggi dua setengah meter, dipenuhi oleh urat-urat darah yang berdenyut liar dan helm besi yang hanya memiliki satu celah gelap di bagian mulutnya.

Aura kematian yang sangat brutal, penuh dengan dendam kesumat, dan keputusasaan purba langsung menekan udara di sekitar Chu Zhen hingga terasa seberat gunung besi.

Sosok itu adalah Jenderal Darah Kutukan, sang malaikat maut yang terlahir dari ribuan jenius yang dikhianati oleh Sekte Pedang Surgawi.

Jenderal mengerikan itu memegang sebuah pedang gergaji mesin raksasa di tangan kanannya, yang kini mulai berputar dengan suara deru yang sangat mengoyak telinga.

Darah kental memercik dari gigi-gigi gergaji yang berputar itu, setiap percikannya mengandung racun kebencian yang bisa melelehkan tulang.

Mata tua Chu Zhen melebar hingga batas maksimal saat ia merasakan fluktuasi energi yang dipancarkan oleh jenderal raksasa tersebut.

Ia mengenali aura tersebut, sebuah aura yang sangat familiar dan selalu menghantui mimpi-mimpi buruknya selama ratusan tahun terakhir.

"I-itu... itu adalah aura dari anak-anak yang aku korbankan di dasar kolam pusaka!" jerit Chu Zhen dengan suara yang melengking karena ketakutan yang sesungguhnya.

"Kau... kau mengubah tulang belulang mereka menjadi sesosok monster kutukan?!"

Lin Ye tersenyum lebar, memamerkan kepuasan yang sangat mendalam atas penderitaan mental musuh terbesarnya ini.

"Mereka tidak menjadi monster, Tetua Agung. Mereka hanya berevolusi menjadi wujud yang paling pantas untuk menuntut keadilan dari sekte munafikmu ini."

"Dan kau akan menjadi hidangan pertama yang akan memuaskan rasa lapar mereka yang tak berujung ini."

Lin Ye memberikan isyarat kecil dengan dagunya ke arah Jenderal Darah Kutukan, sebuah perintah mutlak yang tidak memerlukan kata-kata.

Jenderal Darah Kutukan itu menggeram rendah, suaranya terdengar seperti gabungan ribuan suara anak muda yang menjerit kesakitan karena darah mereka dikuras habis.

"Darah... kami menginginkan darahmu, Chu Zhen!" raung Jenderal itu sambil melesat maju dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal untuk ukuran tubuh raksasanya.

Lantai batu gua hancur berkeping-keping saat kaki berlapis zirah karat itu menghentak maju, menciptakan kawah-kawah kecil di setiap pijakannya.

Chu Zhen langsung terlempar dari kondisi syoknya dan secara refleks mengangkat Pedang Penghukum Matahari miliknya untuk menahan serangan buas tersebut.

Pedang gergaji berdarah milik sang jenderal berayun dari atas ke bawah, membawa kekuatan yang setara dengan tekanan pertengahan Alam Pembentukan Inti.

Suara benturan logam yang sangat dahsyat dan memekakkan telinga bergema saat kedua senjata spiritual tingkat tinggi itu saling beradu kekuatan di tengah lorong sempit.

Percikan api keemasan dan darah beracun menyembur ke segala arah, melelehkan dinding-dinding gua yang menjadi saksi bisu pertarungan epik tersebut.

Meskipun kultivasi Chu Zhen berada di puncak Alam Inti Emas, ia merasa kedua lengannya seketika mati rasa saat menahan kekuatan murni dari Jenderal Darah Kutukan.

Bukan hanya kekuatan fisiknya yang mengerikan, tetapi aura kebencian dari ribuan jiwa yang ada di dalam pedang gergaji itu terus menerus menyusup masuk ke dalam kesadaran Chu Zhen.

"Menyingkir dari hadapanku, monster menjijikkan!" raung Chu Zhen sambil mendorong pedangnya dengan seluruh tenaga yang ia miliki.

Ia berhasil memukul mundur jenderal raksasa itu beberapa langkah ke belakang, namun Jenderal Darah Kutukan sama sekali tidak merasakan rasa sakit.

Monster itu kembali menerjang dengan lebih brutal, mengayunkan pedang gergajinya dari berbagai sudut yang mustahil untuk diprediksi.

Gigi-gigi gergaji yang berputar liar itu berhasil merobek jubah putih Chu Zhen, meninggalkan goresan dangkal di dada pria tua itu yang langsung menghitam akibat racun mayat.

Chu Zhen memuntahkan seteguk darah segar saat racun itu mencoba memasuki jalur meridiannya, memaksanya untuk membagi konsentrasinya demi menekan penyebaran racun.

Ia menyadari bahwa bertarung jarak dekat dengan manifestasi kebencian ini adalah sebuah kesalahan fatal yang akan menguras energinya hingga habis.

"Aku tidak boleh mati di sini! Jika aku kalah, keluarga Chu akan benar-benar musnah dari muka bumi!" batin Chu Zhen dengan kepanikan yang mulai menguasai akalnya.

Chu Zhen segera melakukan teknik pergerakan bayangan tingkat tinggi miliknya untuk menciptakan jarak yang aman antara dirinya dan Jenderal Darah Kutukan.

Ia melesat mundur ke arah mulut pintu batu yang telah hancur, berniat untuk melarikan diri ke udara terbuka di mana ia memiliki keuntungan ruang yang lebih luas.

Di saat yang sama, ia merogoh cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah jimat berwarna ungu yang memancarkan aura kuno yang sangat pekat.

Jimat ungu itu adalah Jimat Pemanggil Penjaga Sekte, sebuah artefak sekali pakai yang terhubung langsung dengan Pemimpin Sekte Jian Wuji di aula pertemuan.

"Jian Wuji! Bawa seluruh tetua formasi kemari sekarang juga! Kita berhadapan dengan bencana iblis yang mengancam fondasi sekte!" teriak Chu Zhen sambil menghancurkan jimat tersebut.

Seketika itu juga, seberkas cahaya ungu melesat menembus atap gua dan terbang lurus menuju arah Istana Awan Emas di kejauhan.

Lin Ye yang sejak tadi hanya berdiri santai menonton pertarungan tersebut dengan menyilangkan tangannya, hanya tersenyum tipis melihat upaya putus asa pria tua itu.

Ia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan sinyal bantuan tersebut, karena hal ini justru sejalan dengan rencana besar yang telah ia susun sejak awal.

Semakin banyak serangga yang datang berkumpul di satu tempat, akan semakin mudah baginya untuk membasmi mereka semua dalam satu serangan massal.

"Biarkan mereka datang, Chu Zhen," ucap Lin Ye dengan suara yang menggema ke seluruh lorong, nadanya sangat tenang dan tidak memancarkan kecemasan sedikit pun.

"Kumpulkan seluruh kekuatan yang bisa dibanggakan oleh sekte kecilmu ini, panggil setiap tetua dan murid inti yang kalian miliki."

"Karena malam ini, Puncak Awan Emas tidak akan menjadi tempat kalian berlindung, melainkan akan menjadi kuburan massal yang paling megah di seluruh Benua Awan Ilahi."

Lin Ye mengaktifkan pusaran di dalam dantiannya, bersiap untuk menunjukkan kekuatan sejati dari seorang Kaisar Dunia Bawah kepada dunia yang telah melupakannya.

Jenderal Darah Kutukan meraung panjang, menanggapi aura pembunuh tuannya dengan memutar pedang gergajinya semakin cepat, siap untuk membelah langit dan meminum lautan darah musuh-musuhnya.

1
rizky r
cerita menarik, balas dendam hantu
Lamia Dante
manarik
Lamia Dante
bagus ceritanya menarik, tidak berbelit belit, ayo balas demdam
Kalong Super
💪💪🤭
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
🥛
Lucy Sandy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!