Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.Takhta baru
Gemuruh sorakan puluhan ribu manusia di Colosseum Besi perlahan berubah menjadi dengung kekaguman yang sarat akan kengerian. Di tengah arena titanium yang tergores mendalam, Ren berdiri tegak sendirian. Angin malam Kota Odelia bertiup kencang, membawa aroma belerang dan sisa-sisa energi suci Leonidas yang kini menguap sia-sia.
Para diplomat dari berbagai kerajaan di kursi VIP terduduk kaku. Mereka tidak hanya melihat akhir dari sebuah turnamen; mereka baru saja menyaksikan runtuhnya doktrin bahwa darah bangsawan dan warisan suci tidak bisa tersentuh.
*Sret. Sret.*
Petugas medis berzirah lengkap bergegas mengevakuasi tubuh Leonidas yang tak sadarkan diri. Saat melewati Ren, mereka secara refleks menundukkan kepala, enggan menatap sepasang mata crimson milik pemuda itu.
Ren membalikkan badannya lambat, mengabaikan piala kristal berlapis emas yang mulai diangkat ke atas podium oleh panitia. Bagi otak cerdasnya, benda pajangan itu sama sekali tidak memiliki nilai. Kemenangan sesungguhnya adalah hak mutlak yang kini ia miliki atas wilayah perbatasan—dan jalan masuk tanpa batas ke Reruntuhan Kuno Gorgona.
### Penguasa di Balik Layar
Begitu melangkah masuk ke dalam lorong gelap pemain, sesosok bayangan langsung menyelimuti pergerakannya. Lyra muncul, tidak lagi dengan senyuman sinisnya yang biasa, melainkan tatapan tajam yang dipenuhi kepuasan mutlak.
"Sesuai perintahmu, Ren," Lyra berbisik, menyamakan langkah kakinya di samping Ren. "Begitu wasit meneriakkan namamu sebagai pemenang, unit logistik faksi bawah bergerak cepat. Kita sudah mengamankan dokumen hak kelola Gorgona dari tangan perwakilan diplomatik sebelum faksi bangsawan sempat mengajukan banding politik. Hak itu sekarang resmi atas namamu."
Ren menarik sudut bibirnya, sebuah *smug* dingin nan berbahaya terukir di wajah tampannya. "Bagus. Biarkan para tetua Ordo Perak menangis di ibu kota. Pada saat mereka menyadari apa yang hilang, Gorgona sudah sepenuhnya berada di bawah kendaliku."
**"Hahaha! Luar biasa, Ren! Jalur Mana suci si bodoh pirang tadi benar-benar mengalirkan esensi yang lezat saat pedangmu merobek zirahnya!"** Crimson berteriak girang di dalam benak Ren, membuat tato hitam di lengan bawahnya bergetar penuh gairah. **"Sekarang, dengan Gorgona di tangan kita, mari kita bangkitkan sisa-sisa pasukan darah kuno!"**
### Maklumat sang Master
Langkah kaki Ren berhenti di depan pintu ruang tunggu faksi bawah. Di dalam, belasan murid warga biasa sedang menunggunya dengan napas memburu dan mata yang berbinar penuh fanatisme.
Begitu Ren mendorong pintu terbuka, ruangan itu seketika hening. Tanpa komando, seluruh murid warga biasa langsung berlutut di atas lantai kayu, menundukkan kepala mereka sedalam mungkin di hadapan sang pemimpin baru.
"Ren... tidak, Master Ren," ucap salah satu murid senior dengan suara bergetar karena emosi yang meluap. "Kami siap mengikuti ke mana pun pedang Anda mengarah."
Ren berjalan melewati mereka, lalu duduk di kursi utama yang berada di ujung ruangan. Ia meluruskan kakinya, menopang dagunya dengan tangan kanan, sementara jubah hitamnya jatuh membungkus tubuhnya dengan anggun.
Di bawah temaram lampu uap mekanis ruangan, satu mata crimson Ren berkilat intens seutuhnya. Guratan energi streaks merah yang sangat tajam memotong kegelapan wajahnya, memancarkan aura absolut seorang penguasa sejati.
"Berdirilah," perintah Ren halus, namun suaranya memiliki tekanan kompresi murni yang membuat dada mereka bergetar. "Turnamen di Kota Baja ini hanyalah letupan kecil. Mulai besok, faksi bawah akademi tidak lagi menjadi bayangan. Kita adalah Ordo baru yang akan meremukkan fondasi Kekaisaran."
Ren menarik pedang besi standarnya, lalu menancapkannya tepat di tengah ruangan hingga memercikkan api dari lantai logam.
"Persiapkan diri kalian. Tujuan kita berikutnya... adalah mengklaim takhta yang sesungguhnya di Reruntuhan Gorgona."