Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Suzanne melangkah keluar dari toilet dengan setengah berlari kecil, sesekali menoleh ke belakang seolah-olah baru saja mendengar raungan makhluk horor dari dasar neraka.
Gaun blazernya yang rapi sedikit dikibaskan, mencoba mengusir sisa-sisa energi negatif dari gadis menor di dalam sana.
Suzanne memegangi dadanya yang naik turun, bukan karena takut, melainkan karena ia menahan tawa melihat bagaimana ekspresi syok sang aktris setelah mendengar balasannya yang kelewat jujur tadi.
Sementara itu, di dalam toilet, Aleonie Bethman benar-benar kehilangan seluruh akal sehatnya.
Raungannya menggila, bergema di antara dinding marmer mewah.
"Wanita sialan! Bekas! Berani-beraninya kau membual tentang Aiden-ku! Sialan! Sialan!" teriak Aleonie seperti orang kesetanan.
Gadis itu mengamuk, menendang tempat sampah, dan memaki dengan kata-kata yang teramat mesum, kasar, dan sama sekali tidak ada adab.
Ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya benar-benar menghancurkan citra "Artis Pelajar dan Anggun" yang selama ini diagungkan oleh netizen di media sosial.
Dan tanpa pernah Aleonie sadari, sebuah kamera ponsel dari balik celah ventilasi kecil toilet yang terhubung ke koridor luar sedang menyala.
Seorang paparazi magang yang awalnya berniat menguntit Aleonie untuk mendapatkan foto eksklusif, justru berhasil merekam video berdurasi dua menit yang sangat berharga.
Video itu tidak merekam gaya bercinta atau pertengkaran bolak-balik fisik, melainkan murni merekam bagaimana seorang Aleonie Bethman sedang kesetanan laksana orang gila akibat dilabrak dan diskakmat habis-habisan oleh kekasih asli dari Aiden Luther-Stone.
Rekaman mentah itu siap menjadi bom atom yang akan menghancurkan karier keartisannya besok pagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di luar koridor, Suzanne menarik napas dalam-dalam, menetralkan ekspresi wajahnya sebelum melangkah kembali masuk ke dalam ruangan VVIP Private Room Nomor Satu.
Aiden yang sejak tadi matanya terus tertuju pada pintu masuk, langsung tegak begitu melihat sosok wanitanya kembali.
Ia menarik kursi di sebelahnya dengan sigap saat Suzanne mendekat.
"Sudah selesai, Sayang? Kenapa lama sekali, hm?" tanya Aiden dengan nada suara yang melembut, sepasang mata elangnya meneliti setiap jengkal wajah Suzanne untuk memastikan tidak ada yang salah.
Suzanne mengangguk pelan sambil tersenyum manis, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
"Iya, sudah selesai. Toiletnya agak ramai tadi."
Aiden menggenggam jemari Suzanne di bawah meja, mengusapnya pelan.
Di seberang mereka, Dr. Nora Amelie yang baru saja meletakkan sendok garpunya, menatap Suzanne dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sangat serius namun dipenuhi binar kehangatan yang mendalam.
Atmosfer di dalam ruangan privat itu seketika berubah menjadi sakral.
Nora merogoh tas tangan Hermes miliknya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua yang teramat mewah.
Di depan mata Suzanne yang melebar terkejut, Nora membuka kotak tersebut, memamerkan sebutir cincin berlian berpotongan emerald-cut yang berkilau luar biasa di bawah pendar lampu kristal ruangan.
Nora menggeser kotak cincin itu tepat ke hadapan Suzanne, lalu meraih tangan kiri Suzanne dengan kedua tangannya.
"Suzanne, Sayang..." ucap Nora dengan suara yang bergetar penuh haru.
"Malam ini, setelah kebebasanmu kembali, Mommy berdiri di sini bukan hanya sebagai seorang ibu, tapi sebagai perwakilan dari seluruh dinasti Luther-Stone. Bisakah kau menerima lamaran putraku yang gila, posesif, dan penuh dengan kekurangan ini untuk menjadi bagian dari hidup kami?"
Deg.
Jantung Suzanne berdegup kencang, matanya berkaca-kaca menatap cincin warisan keluarga Stone yang begitu indah di hadapannya.
Namun belum sempat Suzanne membuka mulut untuk menjawab, Nora kembali melanjutkan kalimatnya dengan senyuman miring yang penuh kemenangan.
"Namun... pernikahan kalian baru akan resmi digelar saat usia Aiden menginjak dua puluh lima tahun nanti. Sebelum itu, kalian hanya boleh bertunangan," kata Mommy Nora dengan nada santai yang mutlak.
Duarrr!!!
Bagai tersengat petir di siang bolong, Aiden Hayes Stone yang tadinya sedang tersenyum lebar menantikan jawaban Suzanne, seketika membeku sempurna.
Dunianya yang baru saja benderang mendadak runtuh berkeping-keping dalam satu detik.
Dua puluh lima tahun?!
Aiden menghitung dalam otaknya dengan panik. Umur dua puluh lima tahun itu masih tujuh tahun lagi!
Dirinya bahkan belum merayakan kelulusan high school-nya yang baru akan diumumkan minggu depan!
Tujuh tahun adalah waktu yang teramat lama dan menyiksa bagi seorang remaja pria yang sedang berada di puncak hormonnya.
Bagi Aiden, Suzanne adalah hidupnya, poros dari seluruh dunianya.
Dia sudah pernah merasakan bagaimana indahnya menyatu dengan tubuh wanita itu malam itu.
Lalu sekarang, bagaimana nasib ranjang remajanya yang bergejolak hebat setiap malam jika ia tidak lagi bisa menahannya selama tujuh tahun ke depan?!
Menatap Suzanne memakai kemejanya saja sudah membuatnya gila, bagaimana bisa ia menahan diri sampai usia dua puluh lima?!
"Mom! Kau pasti bercanda?!" protes Aiden langsung bangkit berdiri dari kursinya, wajah tampannya memerah padam karena rasa frustrasi yang luar biasa pekat.
"Dua puluh sembilan tahun untuk Anne dan dua puluh lima untukku?! Itu terlalu lama, Mom! Aku bisa gila!"
Nora menatap putranya dengan pandangan mengejek yang teramat puas. "Ini demi kebaikanmu, Aiden. Kau harus menyelesaikan kuliah bisnismu dulu di Harvard, memegang kendali perusahaan Daddy-mu, baru kau bisa menjadi suami yang matang untuk Suzanne. Lagipula, bukankah kau bilang kau pria yang sabar, hm?"
"Tidak untuk urusan ini, Mom!" raung Aiden frustrasi, urat-urat di lehernya menonjol tegang.
Pemuda paling angkuh di Chicago itu kini melangkah memutari meja, langsung menjatuhkan dirinya berlutut di samping kursi ibunya, memegang lengan jubah Nora dengan tatapan memohon yang teramat putus asa.
"Mom... aku mau menikahinya sekarang. Anne dan aku akan menikah segera setelah pengumuman kelulusan sekolahku minggu depan!" mohon Aiden dengan suara parau yang bergetar tanpa tahu malu lagi.
"Kumohon, Mom... aku benar-benar ingin menikahinya secepatnya. Aku tidak bisa menunggu sampai tujuh tahun lagi. Aku bersumpah akan tetap kuliah dan mengurus perusahaan dengan baik, tapi biarkan aku menikahinya sekarang, Mom!"
Suzanne yang melihat tingkat kepanikan dan kelakuan absurd berondong mesumnya yang sampai berlutut memohon urusan ranjang di depan ibunya, hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan tawa sekaligus rasa malu yang kembali membakar pipinya hingga memerah sempurna.
Sesi makan malam yang mewah itu seketika berubah menjadi panggung komedi atas keputusasaan seorang pewaris tunggal Stone yang tak sabar ingin meresmikan kepemilikannya di atas ranjang.
Melihat reaksi Aiden yang begitu putus asa hingga berlutut di lantai restoran, Nora tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya.
Ia menepuk bahu putranya dengan gemas.
"Berdirilah, Aiden. Kau ini pewaris tunggal Luther-Stone, kenapa mentalmu langsung tempe begitu mendengar kata tujuh tahun? Mommy hanya menguji seberapa besar nyalimu untuk berkomitmen."
Aiden segera bangkit, mengabaikan tatapan menggoda dari ibunya.
Fokusnya kini beralih sepenuhnya kepada Suzanne.
Pemuda itu melangkah lebar, lalu berlutut di hadapan kursi Suzanne. Ia meraih kedua tangan wanita itu, menggenggamnya dengan begitu erat laksana tidak ingin membiarkan Suzanne terlepas lagi ke dalam kegelapan yang pernah menimpanya.
"Anne," bisik Aiden, suaranya mendadak berubah menjadi teramat dalam, serak, dan sarat akan emosi yang tulus.
Sepasang mata elangnya yang biasanya sedingin es kini menatap Suzanne dengan binar pemujaan yang begitu hangat.
"Aku tidak peduli apa kata Mommy, dan aku tidak akan pernah menunggumu sampai usiaku dua puluh lima tahun. Bagiku, setiap detik yang kuhabiskan tanpa status legal bersamamu adalah siksaan."
Suzanne menatap wajah tampan di hadapannya.
Jantungnya berdesir hebat mendengar getaran cinta yang begitu nyata dari pemuda yang usianya jauh lebih muda darinya ini.
"Aiden..." lirih Suzanne, jemarinya bergerak membalas genggaman tangan Aiden.
"Aku tahu kau baru saja keluar dari neraka itu, Anne. Aku tahu kau mungkin masih takut untuk kembali mempercayai sebuah ikatan," lanjut Aiden, ia membawa punggung tangan Suzanne ke bibirnya, memberikan kecupan-kecupan lembut dan lama di sana.
"Tapi aku bersumpah demi sisa hidupku, aku bukan pria keparat itu. Bersamaku, kau tidak akan pernah perlu berlutut atau memohon. Aku yang akan berlutut di bawah kakimu, menjaga seluruh kebahagiaanmu, dan memastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyakitimu lagi."
Aiden melepaskan satu tangannya untuk mengambil kotak cincin berlian di atas meja, lalu mengeluarkan lingkaran perak bertahtakan berlian itu.
Dengan gerakan yang teramat lembut, ia menyematkan cincin tersebut ke jari manis tangan kiri Suzanne. Ukurannya begitu pas, berkilau indah membungkus jemari lentik sang wanita.
"Kau adalah rumahku, Suzanne Klatten. Sejak malam pertama aku melihatmu di apartemen kumuh itu, jiwaku sudah terkunci padamu," ucap Aiden dengan tatapan mata yang mengunci seluruh kesadaran Suzanne.
Ia mendekatkan wajahnya, menyatukan kening mereka hingga Suzanne bisa merasakan napas hangat Aiden yang memburu.
"Menikahlah denganku setelah kelulusanku minggu depan. Biarkan aku menjadi pria yang secara sah memelukmu setiap malam, menjagamu dari dinginnya dunia, dan mencintaimu sampai napas terakhirku berhenti. Mau, 'kan, Sayang?"
Air mata haru akhirnya menetes membasahi pipi Suzanne. Di depan ketulusan dan cinta yang begitu membara dari seorang Aiden Hayes Stone, seluruh benteng pertahanan dan trauma masa lalunya runtuh tak berbekas.
Suzanne mengangguk perlahan dengan senyuman paling indah.
"Iya, Aiden... aku mau," bisik Suzanne mutlak.
Aiden tersenyum lebar, sebuah seringai kemenangan yang teramat tampan terpancar di wajahnya.
Tanpa memedulikan keberadaan ibunya yang sedang tersenyum haru di seberang meja, Aiden langsung menarik tengkuk Suzanne, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang teramat dalam, posesif, dan penuh janji masa depan yang suci.