"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."
....
Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.
Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.
Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.
...
apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Kok Bisa Gini?
...
Aroma siang terasa pengap, dan dipenuhi debu kasar yang beterbangan dari ban-ban truk tronton. Begitu jam dinding di pos kebersihan menunjukkan pukul dua siang, para pekerja seragam oranye mulai meletakkan sapu lidi mereka. Biasanya, ini adalah waktu bagi mereka untuk duduk melingkar di bawah rindangnya pohon beringin, merokok kretek sebentar, atau sekadar mengobrol ringan melontarkan candaan guna mengusir penat.
Namun hari ini, Tania Sae Ning mengambil keputusan yang berbeda.
Sebelum Marno sempat menyalakan korek apinya dan sebelum Bu Yuni sempat membuka wakul gorengan, Tania sudah merapikan peralatannya ke dalam gudang. Tanpa sepatah kata pun, tanpa memberikan lambaian atau memberi tahu ke mana tujuannya, dia melangkah pergi lebih dulu membelah keramaian trotoar.
"Loh, si Neng Tania kok buru-buru bener? Tumben langsung ngacir," gumam Lasmana sambil menepuk jidatnya.
"Palingan langsung pulang ke kontrakannya, Na. Badannya pasti capek," sahut Bu Yuni penuh maklum, sementara sepasang mata sipit Rangga terus menatap punggung kurus Tania yang perlahan mengecil di tikungan jalan dengan perasaan bersalah yang masih mengendap pekat di dadanya.
Mereka semua mengira Tania pulang untuk beristirahat di kamar petaknya yang sepi. Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Langkah kaki mantan ratu mafia itu justru menuntunnya menuju halte transportasi umum, membelah kemacetan kota dengan satu tujuan yang ganjil bagi dirinya sendiri, rumah sakit tempat ayah Rangga dirawat.
Perjalanan menembus jantung kota Jakarta terasa begitu lambat. Tania tiba di salah satu terminal Bus yang terletak tepat di seberang kompleks rumah sakit swasta tersebut. Udara di luar stasiun terasa membakar kulit, membuat kemeja flanel kebesaran yang dikenakan Tania terasa sedikit lembap oleh keringat.
Untuk mencapai lobi rumah sakit, Tania hanya perlu menyeberangi satu jalur jalan raya protokoler yang cukup lebar melalui fasilitas zebra cross. Di tangan kanannya, sebuah kantong plastik putih berisi beberapa wadah kecil buah-buahan yang sudah dihaluskan seperti pisang melumat dan pepaya lembut, terayun pelan seiring langkah kakinya.
Tania berhenti di tepi trotoar, bergabung dengan belasan pejalan kaki lainnya. Di atas tiang penyangga, lampu lalu lintas penyeberangan perlahan berubah warna menjadi merah dengan simbol orang berjalan, sementara lampu utama untuk kendaraan otomatis berganti menjadi Hijau.
Di saat yang bersamaan, dari arah tikungan flyover, dua buah mobil mewah hitam pekat bergerak melambat sebelum akhirnya berhenti total tepat di barisan paling depan garis marka jalan.
Mobil pertama adalah sedan mewah yang ditumpangi oleh Kapten Herry bersama Jessica Hwang Won di kursi belakang, dikendalikan oleh seorang sopir protokoler kepolisian. Sementara tepat di lajur sebelahnya, sebuah mobil SUV premium milik Wakil Komisaris Jenderal Han ayah Jessica ikut berhenti sejajar.
Takdir yang lambat dan kejam kembali menciptakan sebuah panggung bisu.
Tania melangkah maju di atas garis-garis putih zebra cross. Pandangannya lurus ke depan, tertuju pada pintu kaca otomatis lobi rumah sakit. Masker kain kumal masih menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan goresan merah tipis di sudut bibirnya akibat insiden tisu basah dan gelut sepihak semalam. Dia sama sekali tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri. Jiwa mafianya yang sedang mati rasa tidak mendeteksi adanya bahaya, membuatnya mengabaikan deretan mobil mewah yang mengantre di lajur aspal.
Hanya berjarak kurang dari empat meter di sebelah kanannya, di balik kaca mobil hitam searah yang tebal, Kapten Herry duduk menyandar dengan tangan yang bersedekap di dada. Pandangan mata jelaganya kosong, menatap lurus ke arah aspal jalanan di depannya. Di sampingnya, Jessica sedang sibuk memeriksa berkas pernikahan di ponsel pintarnya, sesekali mengeluhkan cuaca Jakarta yang menurutnya terlalu gerah.
Herry benar-benar tidak fokus. Pikirannya tersesat di dalam labirin obsesi gelap tentang Marysa, mencoba menyusun potongan informasi intelijen maritim yang dia bawa dari Seoul. Tekanan psikologis yang menghimpit warasnya membuat dia tidak memiliki energi untuk memperhatikan kerumunan orang yang sedang menyeberang jalan di depan moncong mobilnya.
Tania terus melangkah, langkah-langkah kakinya yang anggun namun kaku bergerak mantap di atas aspal. Di saat yang sama, Herry hanya mengembuskan napas pendek melirik arloji peraknya, tanpa pernah memalingkan wajah ke arah luar jendela.
Mereka berdua sama-sama tidak menyadari. Mantan ratu mafia dan kapten polisi elit itu melewatkan satu sama lain dalam jarak sedekat embusan napas, dipisahkan hanya oleh selembar kaca mobil dan lapisan kebohongan takdir yang belum siap untuk disingkap.
Tepat ketika kaki Tania menginjak trotoar seberang menuju lobi rumah sakit, lampu lalu lintas berganti menjadi hijau. Sopir mobil Herry menginjak pedal gas, membuat roda kendaraan itu melaju kembali membelah jalur protokoler, membawa Herry menjauh menuju penginapan, sementara Tania berjalan masuk ke dalam dinginnya gedung rumah sakit.
...
Cklek.
Pintu kamar perawatan kelas VIP itu terbuka dengan suara desis yang sangat pelan. Tania melangkah masuk, menutup kembali pintu kayu tebal itu di belakang punggungnya. Suasana di dalam ruangan terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara dengung halus dari mesin pendingin ruangan dan ritme konstan dari monitor jantung yang terpasang di sudut tempat tidur.
Di atas ranjang putih yang bersih, ayah Rangga berbaring dengan tubuhnya yang kurus kering. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan separuh wajahnya yang lumpuh tampak sedikit lebih rileks dibandingkan saat berada di rumah semen gang buntu kemarin.
Tania berjalan mendekat, menaruh kantong plastik berisi buah-buahan halus di atas meja nakas. Entahlah, di dalam logikanya yang dingin, tidak ada alasan mendasar kenapa dia harus repot-repot membeli buah-buahan ini lalu menghaluskannya sendiri di kontrakan. Di dunia bawah tanah klan Baekje, tidak ada tempat untuk tindakan sentimental seperti ini. Namun, ada dorongan emosional yang tak kasat mata yang memaksa tangan Marysa untuk melakukannya. Dia ingin melakukan ini. Sederhana, tanpa motif tersembunyi.
Tania menarik sebuah kursi besi, lalu duduk di samping tempat tidur. Dia melepas masker kainnya, membiarkan wajah porselennya yang pucat terekspos utuh di dalam keremangan kamar.
Dengan sepasang mata kelam yang sedingin es, Tania mulai memandangi wajah pria tua yang terpejam itu. Dia menatap setiap kerutan dalam di dahi sang ayah, tangan yang keriput dan kaku, serta dada yang kembang kempis dengan lemah. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa tersentil yang sangat halus namun menyakitkan. Melihat pria tua ini berjuang melawan sisa hidupnya setelah dikhianati oleh istrinya sendiri, mengingatkan Tania pada kehampaan jiwanya yang juga hancur akibat pengkhianatan di masa lalu.
Tania terus memandangi wajah itu dalam keheningan yang panjang, tenggelam begitu dalam ke dalam lamunannya sendiri sampai-sampai dia tidak menyadari jika pintu kamar di belakangnya perlahan terbuka.
Rangga melangkah masuk dengan menjinjing sebuah kresek kecil berisi air mineral. Pria jangkung itu seketika menghentikan langkah kaki dengan sandal swalow di atas lantai vinyl. Matanya yang sipit membelalak lebar, tubuhnya mendadak kaku karena terkejut melihat sosok yang sedang duduk di samping ranjang ayahnya.
Neng Tania? batin Rangga menjerit, suaranya tercekat di tenggorokan.
Hati pria playboy pasar itu mendadak bergetar hebat, ternyuh oleh pemandangan visual di hadapannya. Siapa yang tidak akan luluh melihat pemandangan seperti ini? Seorang wanita asing yang baru dia kenal beberapa hari, yang terkenal sangat kaku, dingin, jarang bicara, namun memiliki paras yang luar biasa cantik dan manis, tiba-tiba saja berada di sini. Wanita yang telah menyelamatkan nyawa ayahnya dari kematian, kini duduk diam dengan tulus memandangi sang ayah sembari membawakan wadah-wadah kecil berisi makanan lembut.
Rangga menelan ludah perlahan, merasakan getaran emosi yang begitu pekat merayap di dadanya. Menurut logikanya, Tania adalah sosok yang sangat aneh, penuh misteri, namun di saat yang sama... terasa begitu manis dan menenangkan jiwanya yang liar.
Eh?! Ada apa dengan diriku? Rangga membatin panik, merasakan semburat panas mendadak menjalar naik membakar kedua pipinya hingga memerah padam. Dia buru-buru menggelengkan kepala, mencoba mengusir debaran jantungnya yang mendadak berdegup dengan ritme yang terlalu kencang untuk sekadar hubungan pertemanan biasa.
"Kok bisa!?"
...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian 😘