Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Aku baru menyadari bahwa selama ini aku hidup di tengah lingkungan para penjahat yang kejam, yang seolah dilindungi oleh hukum. Mereka memanfaatkan uang untuk membungkam segalanya, seolah dengan uang mereka bisa berbuat sesuka hati tanpa rasa takut.
Namun, ada sebuah rahasia pahit yang memaksaku untuk mengetahui semuanya ini.
25 tahun yang lalu
Brak… Decittt…
Terdengar suara keras saat sebuah mobil sedan mewah ditabrak oleh mobil Pajero di persimpangan jalan. Mobil itu terguling dan ringsek parah. Di dalamnya, ada seorang pria paruh baya yang sedang bergegas untuk menemui istrinya di rumah sakit—istrinya akan segera melahirkan anak pertama mereka. Dengan napas tersengal, pria itu memaksakan diri untuk keluar dari mobil yang sebentar lagi akan meledak.
Tak jauh dari sana, seorang lelaki mendekat, lalu berjongkok di hadapan pria yang sudah berlumuran darah dan terbatuk-batuk itu. Lelaki itu menatap wajah pria di hadapannya dengan senyum bengis, lalu meraih dagunya dan mendorongnya dengan kasar.
Pria yang sudah setengah sekarat itu menatapnya dengan pandangan lemah, menahan nyeri hebat di kepala, dada, dan perutnya.
“To… tolong aku…” rintihnya.
“Ck… Menolongmu?” ucap lelaki itu sambil menyalakan sebatang rokok.
“Ya… ya, tolong aku… bantu aku berdiri. Aku harus segera ke rumah sakit menemui istriku yang sedang melahirkan,” katanya sambil memegangi perutnya yang terasa perih.
“Ck, ck, ck… Jangan khawatir, Mas. Linda sudah melahirkan. Bayimu perempuan, cantik, dan sehat,” jelas lelaki itu tenang.
“A… apa? Sudah melahirkan?” tanyanya terbata-bata.
“Benar. Dan aku datang ke sini hanya untuk melihat kakakku sendiri sekarat di hadapanku,” jawab lelaki itu dingin.
“Cara bicaramu… seolah kau ingin aku mati,” desis pria itu.
“Memang itulah tujuanku. Supaya aku bisa menguasai seluruh hartamu dan mengambil alih perusahaan yang Ayah berikan padamu,” kata lelaki itu sambil menendang tubuh kakaknya hingga terguling.
“Akhh! Kurang ajar! Kau adikku sendiri… mengapa kau tega melakukan ini?” teriak pria itu menahan sakit dan kekecewaan.
“Kaulah yang tega, Mas! Kau, Ayah, dan Ibu selalu mengucilkanku! Kalian menganggapku bodoh, mengira aku tak mampu memajukan perusahaan keluarga. Kalianlah yang membuatku tumbuh menjadi monster dengan hati penuh kebencian!” balas lelaki itu tak kalah keras.
“Ayah dan Ibu tidak bermaksud begitu, Anthony. Mereka menyayangimu. Mereka bersikap tegas agar kau bisa mandiri dan membangun usahamu sendiri,” ucap Yuda sambil menggeleng pelan dengan senyum tipis yang penuh kepedihan.
“Cukup! Apa yang telah kalian perbuat padaku, pasti akan ada balasannya. Kau harus tahu, Ayah pun meninggal karena ulahku. Jika mereka benar-benar menyayangiku, seharusnya mereka berlaku adil padaku. Sekarang, tenanglah di alam sana, Kak Yuda Brata Anugerah. Jangan khawatirkan istri dan anakmu, mereka akan aku jaga dengan segenap jiwa dan raga,” ucap Anthony.
Setelah itu, Anthony berbalik dan pergi meninggalkan Yuda sendirian di tempat kejadian. Tak lama kemudian, Yuda menghembuskan napas terakhirnya.
Di rumah sakit, Linda yang baru saja melahirkan terus menanyakan keberadaan suaminya kepada ibu mertuanya. Ia merasa cemas karena sejak tadi ponsel Yuda tak bisa dihubungi sama sekali.
“Bu, kenapa Mas Yuda belum datang juga, ya? Padahal sudah hampir satu jam kami menunggu,” ucap Linda dengan nada khawatir.
“Ibu juga tidak tahu, Lin. Padahal sudah berkali-kali Ibu telepon, tapi ponselnya selalu tidak aktif,” jawab ibu mertuanya.
“Duh, Mas Yuda… kemana sih dia sebenarnya?” gumam Linda lirih.
“Sudahlah, kita tunggu saja. Jangan terlalu banyak berpikir, kasihan bayimu nanti. Jika ibunya banyak pikiran, takutnya air susunya tidak lancar,” nasihat ibu mertuanya. Linda pun mengangguk pelan mencoba menenangkan diri.
Tak lama kemudian, Anthony tiba. Ia sengaja mengubah raut wajahnya terlihat sangat sedih dan terpukul agar tak ada seorang pun yang curiga padanya.
Tok… tok… tok…
Pintu ruangan diketuk, lalu Anthony masuk dengan wajah yang dibuat-buat tampak berduka.
“Bu, maaf jika aku datang terlambat…”
Melihat Anthony muncul, ibunya segera menengok ke belakang, mencari sosok putra sulungnya. Namun sosok yang dicari tak kunjung terlihat. Wanita itu pun menatap tajam ke arah Anthony.
“Di mana kakakmu, Anton? Kenapa justru kau yang datang?” tanya ibunya dengan nada tegang.
Anthony menghela napas panjang seolah menahan kesedihan, lalu berkata, “Mas Yuda mengalami kecelakaan lalu lintas, Bu. Mobilnya terbakar dan meledak… Beliau meninggal di tempat kejadian.”
Kabar itu membuat Linda terkejut hingga ponsel di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Begitu pula dengan ibu mertuanya, yang seketika lemas dan hampir terjatuh—namun Anthony sengaja tak berusaha menahan tubuh ibunya itu.
“Tidak… tidak mungkin! Mas Yuda tidak mungkin meninggal dunia!” Linda menggeleng kuat, lalu menangis histeris.
“Kau berbohong, bukan, Anton?” tanya ibunya di sela-sela isak tangis.
“Untuk apa aku berbohong, Bu? Jika kalian tidak percaya, silakan datang dan melihat jenazahnya sendiri di ruang penyimpanan jenazah,” jawab Anthony dingin. Tanpa menunggu jawaban lagi, ia berbalik pergi tanpa pamit sedikit pun pada istri kakaknya maupun ibunya sendiri.
Di ruang jenazah, Linda dan ibu mertuanya melihat langsung jenazah Yuda yang tubuhnya sebagian hangus terbakar. Linda menangis sejadi-jadinya melihat kondisi suaminya, begitu pula dengan ibu mertuanya yang hancur hatinya kehilangan putra tercinta dengan cara yang begitu tragis.
Pihak kepolisian pun telah melakukan penyelidikan. Hasilnya menyatakan bahwa kecelakaan itu murni disebabkan oleh kelalaian Yuda saat mengemudi. Mobil meledak akibat pertemuan tiga unsur pemicu kebakaran: bahan bakar yang bocor, suhu panas tinggi dari mesin dan gesekan logam, serta keberadaan oksigen di udara.
Jenazah Yuda segera dimakamkan pada malam itu juga. Setelah pemakaman, Linda kembali ke rumah. Namun di sana, ia tidak diizinkan tidur di kamar lamanya. Bahkan ibu mertuanya pun tak berhak ikut campur atau membela Linda, karena ia berada di bawah ancaman keras dari Anthony. Tak berdaya, wanita tua itu akhirnya memilih diam dan menuruti kemauan putranya.
Linda dibawa dan dikurung di ruang bawah tanah. Di sana telah disiapkan sebuah kamar khusus untuknya, yang sengaja disiapkan oleh Anthony bersama istrinya. Sedangkan bayi mungil yang baru dilahirkan Linda, diambil dan diasuh oleh Anthony dan istrinya sendiri. Meskipun awalnya istri Anthony menolak keras, ia akhirnya terpaksa menuruti perintah suaminya karena berbagai ancaman yang dilontarkan padanya.
Sementara itu, seluruh harta warisan dan hak kepemilikan perusahaan peninggalan Yuda jatuh sepenuhnya ke tangan Anthony. Ibunya sendiri hanya bisa diam dan tak mampu berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan.
Lalu, bagaimana nasib bayi perempuan Linda selanjutnya? Ikuti terus kelanjutan kisahnya.
Bersambung