NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Reza

Alya menarik napas dalam-dalam. Ia melepas sepatunya, menaruh tas jinjing di rak dekat pintu, lalu berjalan menuju ruang tamu.

Reza berdiri di tengah ruangan. Kemeja putihnya masih rapi, rambutnya masih tertata, tapi matanya... matanya merah.

"Kamu dari mana?" Suara Reza keluar dingin, tapi ada getaran di dalamnya.

Alya berusaha tersenyum. "Jalan-jalan, Mas. Cuma ke mal sebentar."

"Jalan-jalan?" Reza mengulang kata itu dengan nada yang mengejek. "Kamu pikir aku bodoh?"

Alya menggeleng cepat. "Nggak, Mas. Sungguh, aku cuma—"

Tamparan itu datang tanpa peringatan.

Tangan Reza menghantam pipi kanan Alya dengan keras. Kepala Alya terpental ke samping, tubuhnya hampir jatuh jika tidak segera menahan diri pada sandaran sofa. Rasa panas menyebar dari pipinya ke seluruh wajah, dan untuk sesaat, pendengarannya berdengung.

Ia tidak percaya. Lagi. Reza memukulnya lagi.

"Aku sudah bilang! Aku sudah kasih kamu uang! Aku sudah tanggung hidupmu!" teriak Reza, suaranya membentak-bentak.

"Apa lagi yang kurang? Apa lagi yang kamu mau? Rumah ini? Mobil ini? ART? Uang saku? Semua sudah aku kasih!"

Alya menatap suaminya dengan mata yang basah. Bukan karena tamparan itu—tamparan itu memang sakit, tapi yang lebih sakit adalah kenyataan bahwa lagi-lagi ia menjadi sasaran amarah pria ini.

"Mas, aku cuma—"

"Cuma apa? Cuma mau keluar seenaknya? Cuma mau bergaul sama orang-orang di luar? Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku tidak dengar dari Aminah kalau kamu sering keluar?"

Alya menoleh sekilas ke arah dapur. Aminah berdiri di sana dengan wajah pucat, matanya menatap Alya dengan penuh rasa bersalah. Ia menggeleng pelan—bukan Aminah yang melapor. Tapi Reza punya caranya sendiri untuk tahu.

"Kamu ini istriku!" Reza melangkah mendekat, tubuh tingginya menaungi Alya yang masih berdiri terpaku.

"Istri itu tugasnya di rumah! Mengurus suami! Mengurus rumah! Bukan keluar sana-sini tanpa izin!"

"Izin? Mas, aku tidak tahu kalau aku harus—"

"Harus apa? Harus minta izin?" Reza menyelesaikan kalimat Alya dengan nada sarkastik.

"Iya! Harus minta izin! Karena semua yang kamu punya adalah pemberianku! Rumah ini, uang ini, hidupmu—semua dari aku! Dan kau tidak punya hak melakukan apa pun tanpa seizinku!"

Alya membeku. Ia menatap pria di hadapannya, pria yang beberapa malam yang lalu meminta maaf dengan lembut di sampingnya, yang mengaku lelah dan kesepian.

Pria yang sama kini berdiri di hadapannya dengan amarah yang menggebu-gebu, matanya merah karena sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Dia takut, pikir Alya tiba-tiba. Dia bukan marah karena aku keluar. Dia marah karena takut. Takut aku tahu tentang dia dan Gita. Takut hubungan mereka terbongkar. Takut bisnisnya, reputasinya, semua yang ia bangun hancur karena skandal.

Alya bisa melihatnya sekarang. Ketakutan di balik amarah itu. Tapi ia tidak punya kekuatan untuk melawan. Ia tidak punya daya untuk mengatakan apa pun. Yang bisa ia lakukan hanyalah menundukkan kepala, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

"Maaf, Mas," bisiknya, suara lirih dan hancur. "Aku salah. Aku tidak akan keluar lagi tanpa izin."

Reza masih berdiri di depannya, napasnya masih berat. Ia menatap Alya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara amarah yang belum reda dan sesuatu yang lain. Mungkin sedikit rasa bersalah. Tapi itu segera lenyap.

"Jangan ulangi lagi," ucapnya dingin. "Jika semua orang tahu, kolega-kolega ku di luar sana... bagaimana dengan bisnisku? Bagaimana dengan reputasiku? Istriku keluar sendiri tanpa pengawasan? Orang akan bicara. Bisnisku bisa terganggu. Kau mengerti?"

Alya mengangguk pelan, matanya tetap menunduk. Ia tidak mengerti hubungan antara ia keluar dan bisnis Reza. Tapi ia mengerti satu hal: Reza tidak peduli padanya. Yang ia peduli hanyalah citra dan Reputasi.

"Masuk kamar. Jangan keluar sampai aku bilang," perintah Reza.

Alya berbalik, melangkah dengan kaki yang terasa berat menuju tangga. Ia tidak berlari. Ia tidak menangis. Ia hanya berjalan pelan, membawa tubuhnya yang terasa hampa menuju kamar di lantai atas.

Begitu pintu kamar tertutup, Alya membiarkan tubuhnya jatuh di sofa dekat jendela. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya mengalir. Bukan tangis histeris seperti malam itu. Tangis yang tenang. Tangis yang lelah.

Ia memeluk bantal sofa, menundukkan kepalanya, membiarkan air mata membasahi kain bantal itu.

Kenapa aku tidak bisa melawan? pikirnya. Kenapa aku selalu diam? Kenapa aku selalu takut?

Ia tahu jawabannya. Karena ia tidak punya apa-apa. Ia tidak punya uang. Tidak punya kekuatan. Tidak punya siapa pun. Ia tergantung pada Reza untuk semuanya. Dan Reza tahu itu. Itu sebabnya ia bisa semena-mena.

Tapi aku tidak akan selamanya begini, janjinya dalam hati, di sela-sela isak tangisnya. Aku akan kuliah. Aku akan mandiri. Aku akan punya kekuatan. Dan suatu hari nanti, tidak akan ada yang bisa menamparku lagi.

---

Sore harinya, Alya mendengar suara orang asing di lantai bawah.

Ia masih di kamar, berbaring di ranjang dengan mata yang sembab. Pukul empat lewat. Seharian ia tidak keluar kamar, tidak makan, hanya berbaring dan menatap langit-langit.

Suara-suara itu terdengar dari ruang keluarga. Suara pria, suara Reza, suara alat-alat yang digerakkan.

Alya turun dari ranjang, berjalan ke pintu, membukanya sedikit. Dari ujung lorong, ia bisa melihat ke bawah. Dua pria berseragam kerja sedang memasang sesuatu di sudut-sudut ruangan.

CCTV.

Mata Alya membesar. Ia melihat Reza berdiri di samping teknisi itu, memberi instruksi dengan suara tegas.

"Di sini satu, di lorong satu, di pintu depan satu, dan di garasi juga. Yang penting semua area luar dan akses keluar masuk terpantau."

"Baik, Pak. Untuk kamar tidur dan kamar mandi, Pak?" tanya salah satu teknisi.

Reza berpikir sejenak. "Tidak usah. Cukup area publik dan akses keluar."

Alya menutup pintu pelan-pelan, tubuhnya bersandar di balik pintu. Jantungnya berdebar keras. CCTV. Reza memasang CCTV di seluruh rumah. Untuk mengawasinya.

Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Amarah yang tertahan sejak siang mulai muncul ke permukaan. Tapi lagi-lagi, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia memasang CCTV karena takut aku keluar lagi. Karena takut aku ketemu orang. Karena takut rahasianya terbongkar.

Atau... ia memasang CCTV untuk memastikan aku tidak melakukan apa pun di belakangnya. Untuk memastikan aku tetap di dalam sangkar ini.

Ia teringat pada rencananya. Kuliah. Pergi ke kampus. Belajar. Bertemu orang-orang baru. Semua itu membutuhkan kebebasan untuk keluar rumah. Dan sekarang, dengan CCTV di mana-mana, dengan Reza yang melarangnya keluar tanpa izin, mimpinya terasa semakin jauh.

Alya berbaring di ranjang, memeluk guling di sampingnya. Air mata kembali mengalir, tapi kali ini ia tidak menangis karena tamparan atau karena ketakutan. Ia menangis karena frustrasi. Karena setiap kali ia mencoba meraih mimpinya, selalu ada yang menghalangi.

Kenapa hidupku begini? pikirnya. Kenapa aku harus terperangkap di sini? Kenapa aku tidak bisa memilih jalanku sendiri?

Di luar, suara-suara teknisi mulai mereda. Pemasangan CCTV selesai. Alya mendengar suara Reza membayar mereka, suara pintu tertutup, suara mobil meninggalkan halaman.

Kemudian keheningan.

Alya tahu, mulai sekarang, setiap gerakannya akan diawasi. Setiap langkahnya akan terekam. Rumah yang megah ini, yang seharusnya menjadi tempat tinggalnya, kini terasa seperti penjara yang sesungguhnya.

Jeruji tidak selalu terbuat dari besi. Kadang, jeruji terbuat dari kamera-kamera kecil di sudut ruangan, dari larangan-larangan yang tidak bisa dilawan, dari ketergantungan yang mengikat erat.

Alya memejamkan mata, membiarkan air mata mengering dengan sendirinya.

Di dalam dadanya, api kecil yang semalam menyala mulai redup. Tapi tidak padam. Ia hanya tertidur, menunggu waktu yang tepat untuk menyala kembali.

Dan Alya berjanji pada dirinya sendiri: ia akan menemukan cara. Cepat atau lambat, ia akan menemukan jalan keluar dari penjara ini.

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!