Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Pagi yang sibuk ini jadi makin kacau buat Brant. Dia yang biasanya super disiplin ini sampai rela telat ke fakultasnya sendiri demi memastikan keadaan si mungil yang menghilang tanpa kabar.
Suara deru mesin Ninja Hijau milik Brant membelah area parkir Gedung Ekonomi. Wajahnya datar, tapi sorot matanya gelisah. Berkali-kali ia mengecek ponselnya—nihil. Luca tidak mengangkat telepon, bahkan pesan singkatnya pun hanya centang satu.
"Sial, telat gue," umpat Brant pelan sambil melangkah lebar menuju ruangan Luca.
Begitu masuk ke dalam ruangan, suasana yang tadinya tenang mendadak pecah.
"Gila, visualnya emang nggak ngotak pagi-pagi begini!"
"Ssst, lihat deh. Tampangnya itu loh ... tipe tipe cowok perfeksionis, dingin tapi bikin penasaran."
cewek-cewek di ruangan itu mendadak sibuk mencari perhatian; ada yang membenahi bedak yang sebenarnya masih rapi, hingga berpura-pura menanyakan detail jadwal pertandingan tim basket hanya demi bisa mengobrol dengannya. Namun, semua usaha itu sia-sia. Brant tetaplah Brant—sosok tak tersentuh yang tidak akan pernah memedulikan hal-hal sepele seperti itu. Matanya justru tertuju pada Rose yang lagi asyik benerin bulu matanya pakai kaca kecil.
Brant mendekat, aura dinginnya bikin teman yang duduk di samping Rose langsung minggir.
"Luca mana?" tanya Brant to the point.
Rose nurunin kacanya, natap Brant. "Belum dateng, kak. Tumben nanya? Biasanya juga nempel terus."
Brant nggak jawab, dia langsung balik badan keluar ninggalin Rose yang masih menatapnya bingung. Tapi di pintu, dia hampir tabrakan sama Vin yang baru masuk bawa buku tebal.
"Nyari Luca?" tanya Vin santai.
Brant berhenti. "Mana dia?"
"Nggak masuk. Dia sakit," jawab Vin singkat.
Brant mengernyit, baru mau nanya 'kok lo tahu?', Vin udah motong duluan. "Tadi pagi banget Mamanya yang nelfon gue. Katanya Luca demam, nggak bisa bangun."
Brant terdiam sejenak. Tanpa sepatah kata pun, dia langsung pergi dari ruangan yang masih ribut itu, mengabaikan teriakan-teriakan cewek yang manggil namanya.
Berbeda dengan Ekonomi,ruangan Bisnis pagi ini terasa sunyi. Brant masuk ke kelasnya dan melihat Clay sama Rey lagi mojok, asyik nonton film dari satu HP sambil ketawa-ketiwi konyol.
"Woi, baru nongol lo! Habis dari mana, Bos?"
seru Clay.
Baru saja Brant mau narik kursi buat gabung, ponselnya bergetar. Jack.
"Brant, ke ruang latihan sekarang! Rapat final buat lomba. Pertandingan sisa 3 hari lagi, kita nggak punya waktu!"
Brant mendengus, balik badan lagi. "Gue ada rapat," pamitnya singkat ke dua sahabatnya yang cuma bisa melongo.
Di ruang latihan, suasana serius. Semua pemain basket dan tim cheerleader sudah berkumpul melingkar. Jack memimpin rapat, menjelaskan teknis keberangkatan karena lomba kali ini diadakan di luar kota yang cukup jauh.Di sudut tim cheer, Vania—si pengganti Luca—duduk dengan anggun. Sejak Brant masuk ke ruangan, mata Vania nggak lepas dari sosok tinggi itu.
Begitu rapat bubar, Vania langsung bergerak cepat sebelum Brant sempat keluar pintu.
"Hai," sapa Vania dengan senyum manis yang sering bikin cowok-cowok kampus baper. "Kenalan dong? Kayaknya cuma lo doang anggota inti yang belum gue tahu namanya secara personal."
Brant berhenti, dan menatap Vania . Dia tahu cewek ini yang ganti posisi Luca.
"Brant," jawabnya singkat dan sopan. Ia nggak menjabat tangan Vania lebih dari sedetik. "Gue duluan."
Brant langsung melengos pergi. Tanpa memedulikan tatapan Vania—yang kini menatapnya penuh rasa penasaran karena sikap dinginnya yang terkesan menantang—Brant terus berjalan. Begitu mengantongi informasi tentang keberadaan Luca, isi kepala Brant langsung beralih ke urusan perut. Langkah kakinya kini terarah mantap menuju kantin.
•
Matahari sore itu masih menyengat, saat brant menyelesaikan kelas hari itu . Sampai sekarang ponselnya masih sepi dari kabar Luca. Pasti tuh bocah tidur terus gara- gara, sakit. pikirnya sambil berjalan menuju parkiran bareng Rey dan Clay.
"Tumben banget lo, Bos, bawa Ninja? Porsche lo lagi manja?" tanya Rey sambil masang helm.
"Gue bangun telat tadi. Kalau bawa mobil, macetnya bisa bikin gue baru sampe kampus pas bubar," jawab Brant pendek sambil masukin kunci motor.
Baru saja mesin mau dinyalakan, suara lembut manggil nama Brant.
"Brant! Tunggu!"
Itu Vania. Dia lari-lari kecil nyamperin mereka. Clay sama Rey langsung tegak berdiri, mata mereka berbinar kayak dapet kupon makan gratis setahun.
Menyadari Brant tidak sendirian karena ada dua cowok lain di tempat itu, Vania langsung memanfaatkan momen tersebut untuk melangkah maju dan memperkenalkan dirinya dengan percaya diri.
"Hai, kenalin gue Vania. Dari tim cheer," ucap Vania sambil tersenyum sopan.
"Gila... aslinya lebih bening daripada di foto!" bisik Rey ke Clay, lalu dia langsung nyodorin tangan. "Gue Rey, ini Clay. Teman curhatnya Brant kalau lagi galau. Salam kenal ya, cantik!"
Vania cuma ketawa manis, bikin dua jomblo itu makin terpesona. Tapi Brant? Dia cuma natap datar, tangannya udah siap di gas motor.
"Brant, boleh numpang nggak?" tanya Vania agak ragu. "Gue mau ke toko buku di jalan depan. Katanya searah sama jalan balik lo ya?"
"Eh, sama gue aja Van! Gue bawa mobil, adem, ada AC, bisa sekalian mampir makan!" seru Clay gercep.
"Gue juga mau ke toko buku kok, bareng gue aja sini!" timpal Rey nggak mau kalah.
Vania kelihatan bingung dan nggak nyaman diperebutkan begitu. Dia ngelirik Brant lagi, seolah minta tolong. Brant yang emang pengen buru-buru cabut akhirnya mendengus.
"Naik," ucap Brant singkat ke Vania. "Gue duluan ya," pamitnya ke Clay dan Rey yang cuma bisa melongo patah hati.
Di sepanjang jalan, Brant bawa motornya cukup kencang. Dia emang lagi buru-buru, tapi dia nggak sadar kalau Vania ketakutan sampai refleks megang pinggang Brant kencang banget buat pegangan.
Begitu sampai di depan toko buku, Vania turun dengan napas agak tersengal. Mukanya agak pucat.
"lo bawa motor kayak lagi dikejar setan, Brant," ucap Vania sambil benerin rambutnya yang berantakan.
Brant baru sadar kalau dia tadi egois. Dia ngelihat Vania sebentar. "Sorry. Gue lagi buru-buru. Maaf kalau bikin lo takut."
"Nggak apa-apa. Makasih ya tumpangannya," balas Vania.
Tanpa nunggu balasan lagi, Brant langsung narik gas Ninja-nya lebih kencang dari sebelumnya.
Begitu sampai di depan pagar rumah Luca, Brant bertemu dengan Lea yang baru saja tiba sambil menenteng plastik berisi bakso.
"Eh, Kak Brant dateng? Tuh si Luca, sakit tapi mintanya bakso kayak orang ngidam," cerocos Lea sambil melirik tangan Brant yang kosong.
"Dih, jenguk orang sakit kok nggak bawa apa-apa? Mana buahnya? Mana rotinya?"
Brant terdiam, wajahnya mendadak kikuk. Dia terlalu kencang bawa motor sampai lupa mampir beli buah. "Tadi buru-buru. Nanti gue pesenin online apa yang dia mau," jawabnya berusaha membela diri.
Brant pun masuk. Rumah terasa sunyi. Dengan langkah sepelan mungkin, ia menaiki tangga ke lantai dua dan membuka pintu kamar Luca. Brant sudah membayangkan bakal melihat Luca lemas tak berdaya. Tapi ternyata...
Luca lagi duduk bersandar di bantal, laptop menyala, dan dia tertawa terpingkal-pingkal menonton drama komedi.
"E-eh? Kak Brant?!" Luca kaget setengah mati sampai hampir menjatuhkan laptopnya.
Pas banget Lea masuk bawa mangkuk bakso.lea menaruh baksonya di meja,melirik mereka berdua, dia lalu langsung keluar.
Melihat wajah Brant yang gelap, Luca langsung sadar dia dalam masalah.
"Anu... Kak... jangan marah dulu! Aku lupa charge HP dari semalam, terus karena meriang aku malas gerak, jadi HP-nya mati total," ucap Luca sambil nyengir maksa.
Brant masih berdiri diam, menatap Luca tajam. Setelah helaan napas panjang, dia mendekat.
"Masih demam?" tanya Brant datar.
Luca menggeleng cepat. "Nggak!"
"Apa lagi yang sakit?"
"Udah baikan kok, beneran!"
Brant duduk di pinggir ranjang. Tanpa aba-aba, dia mencondongkan tubuh dan menempelkan bibirnya di kening Luca untuk mengecek suhu tubuh. Luca langsung mematung, pipinya mendadak lebih merah dari pada saat dia demam semalam.
"Iya, sudah turun," gumam Brant pelan.
"Kakak bawa motor ya? Aku hafal suara Ninja Kakak," ucap Luca ceria. Ia segera menutup laptopnya dan meletakan di sampingnya.
"Ayo dong, naik motor bentar! Aku pengen beli puding di gang sebelah, tenggorokan aku pahit banget, butuh yang manis!"
"Nggak ada naik motor," potong Brant tegas.
"Nanti kalau sudah sembuh total, gue jemput ke kampus pake motor.
Luca bersandar di bahu Brant sambil melihat helm Ninja milik Brant yang tergeletak di kursi.
"Kak... kalau motornya aku yang bawa, boleh nggak?" tanya Luca pelan, melirik Brant dengan tatapan memohon.
Brant cuma menatapnya datar, lalu mengusap rambut Luca yang sedikit berantakan. "Nggak. lemes gitu, mau bawa motor seberat itu? Yang ada malah motornya yang bawa lo."
Luca tersenyum sedih, bahunya merosot. "Iya sih... Mama juga belum kasih izin sama sekali. Aku kangen banget tahu, Kak, rasanya kena angin di jalan pake motor sendiri."
Brant terdiam sejenak. Dia tahu betapa Luca menyukai kebebasannya di atas motor, tapi keselamatannya jauh lebih penting bagi Brant.
"Sembuh dulu. Nanti gue yang ngomong ke
Mama lo."
Suasana mendadak hening sampai Brant berdeham,menyampaikan kabar tentang jadwal tim basketnya.
"Ca... tiga hari lagi gue berangkat. Lomba basket sama tim cheer di luar kota."
Senyum Luca langsung hilang. Dia menatap Brant dengan wajah yang tiba-tiba mendung.
"Tiga hari lagi? Berapa lama di sana?"
"Mungkin empat atau lima hari kalau masuk final," jawab Brant pelan.
"Lama banget..." bisik Luca, matanya mulai sedih—tipikal Luca kalau sudah urusan ditinggal Brant. "Aku boleh ikut nggak? Aku bisa jadi penonton bayaran atau apa deh, yang penting ikut!"
"Nggak boleh, Luca," suara Brant terdengar tegas namun ada nada penyesalan di sana. "Lo baru sembuh. Lo harus masuk kampus, jangan bolos lagi. Lagian di sana bakal sibuk parah, gue nggak bisa jagain lo terus."
Luca memalingkan wajahnya, memeluk gulingnya erat-erat. "Berarti aku ditinggal ni? Terus Kakak di sana sama si Vania-Vania itu?"
Brant menghela napas, ia menarik tubuh Luca agar kembali menghadapnya. "Gue di sana buat tanding, bukan buat main sama dia. Lo di rumah, minum obat, kuliah yang bener. Pas gue balik, gue bakal jemput lo pake motor. Janji."
Luca cuma bisa mendengus, tapi akhirnya mengangguk pelan meskipun hatinya terasa berat. Perpisahan beberapa hari saja sudah terasa seperti selamanya bagi dia.
Tak lama kemudian, mamanya Luca pulang lebih awal. Beliau membawakan banyak makanan karena tahu Brant ada di rumah waktu menelpon Lea tadi. Beliau langsung menyuruh Lea untuk memanggil Luca dan Brant untuk turun ke ruang makan, agar bisa segera makan malam bersama.
Suasana meja makan malam itu terasa sangat hangat, memancarkan kedekatakan layaknya sebuah keluarga.
"Gimana kabar papa sama mama kamu, Brant? Sehat?" tanya ibu Lana sambil menyendokkan nasi.
Brant tersenyum sopan—senyum yang jarang dilihat orang lain. "Sehat, Tante. Masih sibuk seperti biasa."
"Ayahmu memang seorang pekerja keras. Dari dulu waktu masih sekolah, dia juga terkenal pintar," ujar ibu Lana hangat. Wanita itu mulai sedikit bernostalgia, menceritakan masa lalu karena Tuan Lodrik—ayah Brant—ternyata adalah teman sekolahnya dulu.
Makan malam itu di penuhi dengan perbincangan yang ringan dan hangat.salah satunya tentang Luca yang manja kalau sakit. Sementara Luca hanya duduk sambil mengunyah potongan buah, merasa kenyang karena baksonya tadi sudah habis separuh. Brant mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali melirik Luca yang mulai menguap.
Begitu jam menunjukkan pukul sembilan, Brant pamit pulang karena Luca sudah mulai teler akibat efek obat yang di minumnya tadi.
"Makasih ya sudah jenguk Luca, Brant. Hati-hati bawa motornya," ucap ibu Lana sambil mengantar Brant sampai ke pagar depan.
Brant mengangguk, memakai helmnya, dan melirik ke arah jendela kamar Luca yang lampunya sudah mulai redup. Ia lalu perlahan membawa motornya keluar gang kompleks hingga mencapai jalan raya, di mana ia langsung memacu Ninja-nya dengan kecepatan tinggi.