Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pelabuhan Tua
"Kalau kalian ingin melihatnya tetap hidup, datanglah ke pelabuhan tua sebelum matahari terbit." Sosok misterius dalam video itu berdiri di belakang kursi sebelum layar tiba-tiba menjadi gelap.
Tidak ada seorang pun yang berbicara setelah video tersebut berakhir, hanya suara hujan yang menghantam atap rumah tua dan sesekali disusul gemuruh petir dari kejauhan. Ketegangan yang sejak tadi memenuhi ruangan terasa semakin berat karena mereka sadar waktu yang dimiliki tidak banyak.
"Kita berangkat sekarang." Bintang menatap Viktor tanpa ragu.
"Itu yang mereka inginkan." Viktor mengusap wajahnya kasar. "Mereka sengaja memancing kita ke sana."
"Aku tidak peduli." Bintang mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan membiarkan mereka membunuh pria itu."
"Kalau ini jebakan?" tanya Rangga sambil mengangkat alis.
"Kalau ini jebakan, kita hadapi." Bintang menatapnya serius.
Leonard mengembuskan napas panjang, untuk pertama kalinya pria tua tersebut terlihat benar-benar kehilangan ketenangannya.
"Pelabuhan tua bukan tempat biasa." Leonard memijat pelipisnya. "Kalau mereka memilih tempat itu, berarti mereka ingin mengirim pesan."
"Pesan apa?" tanya Rania sambil menatapnya.
Leonard tidak langsung menjawab, tatapannya beralih ke luar jendela yang gelap sebelum kembali kepada mereka.
"Bahwa permainan ini sudah memasuki babak terakhir." Ia menggeleng pelan.
Suasana kembali hening, tidak ada yang menyukai jawaban itu tetapi tidak ada yang bisa membantahnya.
"Kau pernah ke sana?" tanya Bintang sambil menatap Viktor.
"Terlalu sering." Viktor mengangguk pelan.
"Apa yang ada di sana?"
"Kenangan buruk." Viktor tertawa hambar. "Dan terlalu banyak darah."
Rania merasakan bulu kuduknya meremang, semakin banyak mereka berbicara tentang pelabuhan tua itu, semakin besar perasaan tidak nyaman yang muncul di dalam dirinya. Tempat itu seolah memiliki hubungan langsung dengan masa lalu yang selama ini disembunyikan darinya.
"Aku ikut." Rania menatap semua orang secara bergantian.
"Tidak." Viktor langsung menggeleng.
"Aku tidak meminta izin." Rania menyilangkan tangan di dada.
"Rania..." Bintang mengembuskan napas panjang.
"Jangan mulai." Rania menatapnya tajam. "Kalau pria itu benar-benar saudara kembarku, aku berhak berada di sana."
Tidak ada yang langsung menjawab bahkan Bintang tidak bisa membantah kalimat tersebut.
"Dia benar." Damar mengangguk pelan. "Cepat atau lambat dia akan terlibat."
"Dan itulah yang selama ini berusaha kita hindari!" bentak Viktor sambil memukul meja.
Semua orang langsung menoleh, Viktor jarang kehilangan kendali karena itulah kemarahannya terasa jauh lebih mengejutkan.
"Aku sudah kehilangan terlalu banyak orang." Viktor mengembuskan napas berat. "Aku tidak akan kehilangan dia juga."
Rania terdiam, untuk pertama kalinya ia melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajah pria itu.
Waktu terus berjalan, hujan mulai mereda ketika mereka akhirnya meninggalkan rumah tua tersebut. Tiga mobil bergerak menembus jalanan yang sepi, lampu kendaraan memantul di aspal basah sementara suasana di dalam mobil terasa sama suramnya dengan malam di luar.
Rania duduk di kursi belakang bersama Bintang, tidak ada percakapan selama beberapa menit. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Kau baik-baik saja?" tanya Bintang sambil menoleh.
"Tidak." Rania menggeleng pelan.
"Akhirnya ada jawaban jujur." Bintang tersenyum tipis.
"Aku baru tahu mungkin aku punya saudara kembar." Rania mengembuskan napas panjang. "Bagaimana mungkin aku baik-baik saja?"
Bintang tidak langsung menjawab, ia memahami perasaan itu lebih dari siapa pun.
"Aku juga tidak baik-baik saja." Tatapannya beralih ke jalan di depan. "Pria itu mirip denganku, dan aku bahkan tidak tahu kenapa."
Rania menatapnya beberapa saat, ada banyak pertanyaan yang belum terjawab tetapi untuk pertama kalinya mereka berada dalam posisi yang sama. Sama-sama tersesat di tengah rahasia masa lalu.
"Apa kau takut?" tanyanya pelan.
"Setiap orang takut." Bintang tertawa kecil.
"Kau tidak terlihat seperti itu."
"Aku hanya tidak menunjukkannya." Bintang mengangkat bahu.
Pelabuhan tua akhirnya terlihat dari kejauhan, deretan gudang tua berdiri seperti bayangan hitam di bawah langit malam dan beberapa lampu yang masih berfungsi berkedip-kedip redup menciptakan suasana yang terasa lebih menyeramkan. Mobil berhenti sekitar dua ratus meter dari lokasi.
"Kita lanjut jalan kaki." Viktor membuka pintu.
Semua orang segera turun, angin laut menerpa wajah mereka. Aroma garam bercampur karat memenuhi udara.
"Aku benci tempat ini." Leonard memandang deretan gudang di depan mereka.
"Itu pertama kalinya aku setuju denganmu." Damar mengangguk pelan.
Bintang memperhatikan sekitar. Tempat itu terlalu sunyi, tidak ada suara kapal, tidak ada pekerja bahkan suara ombak pun terdengar jauh.
"Mereka sudah menunggu." Rangga memegang pistol di pinggangnya.
"Kita juga tahu itu." Bintang melangkah maju.
Mereka berjalan melewati beberapa kontainer tua sebelum akhirnya sampai di depan gudang terbesar di kawasan tersebut.
Pintu besi gudang itu terbuka sedikit seolah sengaja dibiarkan seperti itu.
"Terlalu mudah." Viktor mengerutkan kening.
"Karena mereka ingin kita masuk." Leonard menatap pintu itu tanpa berkedip.
Suasana kembali hening, semua orang memahami risikonya namun tidak ada jalan untuk mundur.
"Kita masuk." Bintang mendorong pintu gudang.
Bagian dalam gudang gelap dan dingin, hanya beberapa lampu tua yang masih menyala redup di langit-langit dan bayangan panjang terbentuk di setiap sudut ruangan.
"Di mana mereka?" tanya Rania sambil memperhatikan sekeliling.
Tidak ada jawaban, yang terdengar hanya gema langkah kaki mereka sendiri.
Kemudian suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar dari kegelapan, semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara dan seseorang melangkah keluar dari balik bayangan dengan senyum tipis di wajahnya.
"Akhirnya kalian datang." Pria itu memasukkan kedua tangannya ke saku.
Bintang menyipitkan mata, pria itu masih muda. Usianya mungkin tidak lebih dari tiga puluh tahun, pakaiannya rapi dan wajahnya terlihat tenang namun bukan itu yang membuat seluruh ruangan membeku melainkan reaksi Viktor, wajah pria itu langsung pucat.
"Kau..." Viktor mundur satu langkah.
"Sudah lama sekali, Viktor." Pria muda itu tersenyum semakin lebar.
Rania memperhatikan mereka bergantian, jelas mereka saling mengenal.
"Siapa dia?" tanyanya sambil menatap Viktor.
Tidak ada jawaban, Viktor masih menatap pria itu seolah sedang melihat sesuatu yang mustahil.
"Aku bertanya, siapa dia?" ulang Rania lebih keras.
"Dia tidak mungkin ada di sini." Viktor menelan ludah.
Pria muda itu tertawa kecil.
"Sayangnya aku ada." Ia melangkah semakin dekat. "Dan aku membawa sesuatu yang kalian cari."
Jantung Bintang langsung berdegup lebih cepat.
"Di mana pria itu?" tanyanya sambil mengepalkan tangan.
Pria muda tersebut tersenyum tipis.
"Tenang." Tatapannya beralih kepada Rania. "Kalian akan bertemu dengannya."
"Siapa kau?" bentak Bintang.
Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka, senyum di wajahnya perlahan menghilang sebelum akhirnya ia menatap Viktor lurus.
"Kau belum memberi tahu mereka?" tanyanya dengan nada mengejek.
Viktor memejamkan mata sesaat, sedangkan Leonard langsung memaki pelan karena mereka semua mengenali pria itu dan mereka semua percaya bahwa pria itu sudah mati bertahun-tahun yang lalu.
"Apa?!" seru Rania sambil membelalak.
Pria muda itu kembali tersenyum.
"Perkenalkan." Ia membungkukkan badan sedikit. "Namaku Arga."
Suasana langsung membeku ketika Viktor mengangkat kepalanya perlahan.
"Mustahil..." bisiknya.
Karena Arga adalah nama orang yang selama ini diyakini sebagai orang pertama yang tewas dalam kebakaran dua puluh lima tahun lalu.