NovelToon NovelToon
Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Sistem
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Laabki

Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.

​Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.

—————————

"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"

​Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.

​"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"

Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.

​"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ancaman di panti asuhan

Matahari pagi baru saja merangkak naik, menyebarkan cahaya hangat yang jatuh di atas jubah kebesaran Raja Arthur. Sang Raja berdiri tegak di balkon istana, memandangi taman luas yang terbentang di bawah sana. Berbagai tumbuhan langka tertata rapi menghiasi halaman, menjadi simbol kemakmuran dan kejayaan Castlewood.

​"Kau kembali membiarkan Cassia melakukan kunjungan kemanusiaan itu tanpa melibatkanku, Yang Mulia?"

​Suara Damian terdengar dari belakang. Pangeran mahkota itu menatap Raja Arthur dengan rahang mengeras, jelas menahan rasa kesal yang sejak tadi dipendamnya.

​"Aku memiliki tugas lain untukmu, Damian," jawab Arthur tenang tanpa menoleh.

Pria bernama lengkap ​Damian Charless Wood Meeraall itu mengembuskan napas berat. "Tapi kenapa aku tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan seperti ini?" nada suaranya mulai meninggi. "Apa Ayah sengaja ingin rakyat melihatku sebagai pangeran yang tidak peduli pada mereka?"

​Kali ini Raja Arthur perlahan membalikkan tubuhnya. Tatapan matanya yang menusuk langsung membuat Damian tepaku. "Aku ingin kau pergi ke barak militer dan melatih para prajurit baru."

​Damian mengernyitkan dahi. "Melatih prajurit baru?" Ia tampak tidak puas. "Bukankah tugas seperti itu bisa diserahkan pada anggota militer lain? Keselamatan Cassia di luar sana jauh lebih penting saat ini."

​Ia sedikit menunduk setelah mengatakan itu. "Maaf jika ucapanku terdengar lancang, Yang Mulia."

​"Aku tahu kau mengkhawatirkan adikmu," ujar Arthur pelan. "Dan aku juga setuju bahwa keselamatan Cassia sangat penting."

​Raja itu melangkah mendekati Damian. "Tapi seorang calon Raja tidak hanya belajar melindungi seseorang dengan pedang. Jika fondasi militer kita lemah, maka kerajaan ini akan runtuh perlahan dari dalam. Dalam hal ini, kau sebagai jenderal tertinggi militer adalah orang yang paling bertanggung jawab atas keamanan seisi negeri."

​Arthur menatap sang Pangeran dalam-dalam kemudian menepuk pelan rambut cokelat keemasan milik putranya tersebut. "Aku ingin kau belajar memimpin dari akar paling bawah. Mengenal para prajurit baru, mendengar keluhan mereka, dan memahami bagaimana seorang pemimpin membangun kepercayaan."

​Pangeran berusia dua puluh tujuh tahun itu semakin bungkam setelah mendengar kata-kata sang Raja.

​"Kau adalah calon Raja Castlewood berikutnya, Damian." Suara Arthur terdengar rendah namun penuh wibawa. "Bukan hanya pelindung di garis depan, tetapi juga penopang seluruh kerajaan."

​Damian mengepalkan tangannya pelan. Meskipun hatinya masih dipenuhi kecemasan terhadap Cassia, ia tahu perkataan ayahnya tidak salah. ​"Baiklah, Yang Mulia. Aku mengerti. Aku akan pergi ke barak militer."

Damian akhirnya menundukkan kepala dengan hormat.

​Arthur tersenyum kecil. "Itu baru putraku."

​Damian membalikkan tubuhnya perlahan, lalu berjalan meninggalkan balkon istana. Namun, sebelum benar-benar pergi, langkahnya sempat terhenti sejenak. "Tapi pastikan Cassia benar-benar aman."

​Setelah mengatakan itu, Damian melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi, sementara Raja Arthur hanya memandang nanar punggung putranya yang semakin menjauh.

...*******************...

Cassia bertepuk tangan dengan penuh semangat, mengiringi nyanyian anak-anak panti yang membawakan lagu kerajaan dengan nada yang terdengar berantakan. Senyum cerah di wajah sang Putri tidak memudar sama sekali, memancarkan kebahagiaan teramat tulus saat sepasang mata ungunya memperhatikan kepolosan mereka.

Cassia duduk di atas kursi rotan sederhana yang diletakkan di tepi halaman utama panti asuhan. Di sisi kanan dan kiri, beberapa wanita pengurus panti asuhan berdiri sembari mengulas senyum ramah. Mereka sesekali ikut bertepuk tangan kecil, ikut bangga dengan anak-anak itu.

"Mereka sangat lucu, Amanda," bisik sang Putri kepada Amanda yang berdiri di sampingnya.

Amanda mengangguk pelan dengan seulas senyum hangat. "Mereka sudah berlatih sejak dua hari yang lalu, hanya karena mendengar kabar bahwa Anda akan datang berkunjung."

​"Benarkah?" Cassia mendongak, wajahnya mendadak berubah lesu. "Aku jadi merasa bersalah."

​Amanda mengernyitkan dahinya bingung. "Kenapa, Putri?"

​Cassia kembali melemparkan pandangannya ke arah anak-anak yang masih bernyanyi penuh semangat, meski beberapa lirik yang keluar dari mulut mereka terdengar keliru dan tidak selaras. "Karena ternyata, aku sendiri bahkan tidak hafal lagu kebangsaan itu sepenuhnya."

Amanda langsung menggigit bibir bawahnya demi mencegah tawa kecil yang nyaris lolos agar tidak mengganggu nyanyian anak-anak di hadapan mereka. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat kelakuan di luar prediksi dari sang Putri.

​"Kalau Pangeran Damian sampai mendengar pengakuan itu, beliau pasti akan memanggil guru musik terbaik ke istana malam ini juga," goda Amanda dengan nada berbisik.

​"Jangan sampai!" Cassia mendadak bergidik, memasang ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Aku lebih suka dihukum membersihkan kandang kuda seharian penuh, daripada harus duduk diam berjam-jam mendengarkan teori musik yang membosankan."

Amanda hanya bisa menggeleng pelan dengan senyum tipis yang tak lepas dari bibirnya, merasa maklum melihat aksi spontan sang Putri.

Suasana hangat itu perlahan melebur bersama riuh nyanyian anak-anak yang memenuhi halaman. Bangunan panti asuhan itu sendiri tidak terlalu besar. Dinding batu bata tuanya yang rapuh tampak kontras dengan hijaunya tanaman rambat yang menjalar estetis, sementara beberapa bagian atap kayunya tampak tidak beraturan, memperlihatkan bekas perbaikan darurat di sana-sini.

​Di setiap sudut halaman, jejak-jejak kehidupan terasa begitu hidup. Ada coretan kapur warna-warni hasil imajinasi anak-anak di lantainya, pot bunga kecil dari tanah liat buatan tangan, hingga gantungan kayu sederhana yang berjejer tidak rapi di dekat jendela. Tidak ada secuil pun kemewahan di tempat ini, tetapi suasananya jauh lebih menenangkan ketimbang keheningan dingin di balik tembok-tembok megah istana.

Panti Asuhan Esmeralda, nama itu terukir jelas di atas papan kayu besar yang menggantung di gerbang masuk.

Panti ini tidak dibangun menggunakan sepeser pun dana istana mapun perintah langsung dari Raja. Setiap jengkal bangunannya berdiri murni dari cucuran keringat serta kerja keras rakyat Castlewood sendiri. Mulai dari para pedagang kecil yang rela menyisihkan sekeping koin pendapatan mereka, pengrajin yang menyumbangkan potongan kayu terbaik, petani yang membagi hasil panen, hingga mantan prajurit yang mendonasikan sisa-sisa tenaga mereka. Semuanya bahu-membahu, mendirikan tempat bernaung bagi anak-anak terlantar itu sedikit demi sedikit dengan landasan menghormati sang Ratu.

Semua itu mereka lakukan demi mengenang satu sosok yang sangat mereka cintai. Ratu Esmeralda Charless Wood Meeraall

Semasa hidupnya, sang Ratu memang dikenal memiliki impian besar untuk membangun sebuah tempat bernaung yang ramah bagi anak-anak terlantar di seluruh penjuru Castlewood. Beliau pernah berkata bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tumbuh kesepian tanpa kehangatan kasih sayang dan tempat untuk pulang, karena sejatinya, setiap anak berhak atas masa depan yang layak.

Namun, sebelum impian mulia tersebut sempat mewujud, sebuah tragedi berdarah merenggut nyawa sang Ratu dengan tragis. Kematian memilukan Esmeralda menyisakan luka mendalam di hati seluruh rakyat.

Itulah mengapa, tepat satu tahun setelah kepergiannya, rakyat Castlewood bergerak serentak mendirikan tempat ini dengan peluh dan air mata atas nama sang Ratu.

Tempat ini berdiri bukan karena perintah dari istana, melainkan lahir dari cinta tulus dan rasa hormat yang abadi kepada sosok Ratu yang telah mengukir namanya begitu dalam di hati para rakyat.

Pandangan Cassia beralih pada papan kayu sederhana di gerbang masuk. Jemarinya tanpa sadar meremas pelan kain gaunnya saat sepasang mata ungunya membaca bait demi bait nama sang ibu yang terukir di sana.

"Aku selalu menyukai tempat ini..." gumamnya pelan.

Amanda tidak menimpali dengan kata-kata. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan pengertian, lalu menepuk pelan bahu sang Putri untuk menyalurkan kekuatan.

Tak jauh dari kerumunan, Zen berdiri tegak di bawah pohon besar yang tumbuh di sudut halaman. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, sepasang mata birunya yang tajam tak pernah sedetik pun berhenti menyapu sekeliling. Bahkan di tengah alunan lagu anak-anak yang penuh tawa, tubuhnya tetap menegang kaku, dengan jemari yang selalu siaga di atas gagang pedang yang menempel di pinggangnya.

Pertunjukan kecil itu akhirnya usai, ditutup dengan tepuk tangan meriah yang menggema di seluruh halaman. Sesaat kemudian, para pengasuh mulai membagikan roti dan susu hangat kiriman istana, memicu sorak kegirangan dari anak-anak yang langsung berebut dengan tertib.

​Melihat momen itu, Cassia spontan melompat turun dari kursi kayu yang didudukinya, tanpa sedikit pun menjaga etikanya sebagai seorang putri kerajaan. Sembari menebar senyum lebar, ia berlari kecil membawa keranjang rotinya untuk menghampiri anak-anak yang baru selesai bernyanyi. Cassia membaur begitu saja di tengah kerumunan anak-anak, membagikan roti manis bawaannya satu per satu sembari tertawa bersama seolah dirinya hanyalah teman sebaya mereka.

​"Putri! Putri! Lihat, aku buat gambar baru!"

​"Yang Mulia! Aku sekarang sudah bisa membaca!"

​"Kakakku bilang... rambut Putri cantik sekali, mirip emas!"

​Cassia terkekeh riang, meski ia mulai kewalahan menghadapi serbuan anak-anak kecil yang mengerubunginya. Mereka berebut menarik-narik ujung gaunnya dari berbagai arah, mendamba perhatian dari sosok putri yang begitu mereka idolakan.

​"Hei, pelan-pelan, biarkan aku duduk terlebih dahulu..." Cassia tertawa ceria. Ia sengaja menjatuhkan diri, berlutut di atas tanah agar bisa membawa anak-anak itu ke dalam pelukan hangatnya sekaligus.

Dari jarak aman, Amanda berdiri mengawasi dalam diam, sengaja memberi ruang agar sang Putri bisa berbaur dengan rakyatnya. Pemandangan hangat seperti itu memang selalu ia saksikan setiap kali Cassia menapakkan kaki di berbagai sudut Castlewood.

​Namun, begitu Amanda mengalihkan pandangannya dari Cassia, perhatiannya mendadak tersita oleh seorang anak perempuan yang duduk menyendiri di dekat pagar kayu tua di sudut halaman.

​Usianya mungkin baru menginjak enam tahun. Kulitnya tampak sedikit legam terbakar matahari, sementara rambut cokelat mudanya dibiarkan mencuat acak-acakan seolah tidak pernah disentuh sisir dengan benar. Berbeda dengan anak-anak lain yang berebut susu serta roti, anak itu justru terdiam dengan kedua tangan kecil yang mendekap erat sebuah gulungan kertas lusuh di dada.

​"Ada yang aneh?" tanya Zen tiba-tiba dengan suara datar yang terdengar tepat di samping Amanda.

​Amanda sedikit terperanjat. Ia bahkan tidak mendengar deru langkah kaki pria itu yang tahu-tahu sudah berdiri tegap di dekatnya.

​"Itu," Amanda mengedikkan dagu samar, tanpa sedetik pun melepaskan pandangannya dari anak perempuan di sudut halaman. "Dia terus menyendiri sejak tadi."

​Zen mengikuti arah pandang Amanda. Sepasang mata birunya memperhatikan anak itu selama beberapa detik, menganalisis gerak-gerik sang bocah tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

​"Lalu?" tanya Zen.

​Amanda mendelik sekilas, lalu mendengus pelan mendengar tanggapan dingin itu. "Tidak biasanya ada anak sekecil itu yang memilih mengasingkan diri, disaat makanan dibagikan."

Zen kembali mengarahkan tatapannya pada gadis kecil di sudut halaman. Kali ini, sepasang mata birunya menyipit samar, sorot matanya menajam seolah sedang membedah motif di balik pengasingan sang bocah.

​Sadar pria di sampingnya mulai menganalisis situasi dengan cara yang terlalu serius, Amanda memilih bertindak. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah maju membelah halaman, mendekati anak perempuan itu. Di belakangnya, Zen langsung mengikutinya. Menjaga jarak ideal yang tetap memungkinkannya memantau setiap jengkal pergerakan di sekitar mereka.

​"Hei, kenapa duduk sendirian di sini?" tanya Amanda dengan lembut setelah berjongkok tepat di hadapan anak itu.

​Gadis kecil itu mendongak pelan. Namun, begitu matanya menangkap sosok Amanda, lalu beralih pada figur jangkung Zen yang berdiri kokoh bak dinding batu di belakangnya, tubuh kecilnya seketika menegang. Dengan cepat, ia kembali menundukkan kepala dalam-dalam.

​"A-aku, hanya malu..." jawabnya, nyaris berupa bisikan lirih.

​"Malu?" ulang Amanda dengan nada selembut mungkin, berusaha mencairkan ketegangan.

​Anak itu mengangguk kecil tanpa berani mengangkat wajah. Sepasang mata Amanda kemudian turun, memperhatikan gulungan kertas yang sejak tadi dipeluk erat-erat oleh sang bocah.

​"Apa yang sedang kaupegang itu?" tanyanya lembut, sembari mengulurkan tangan perlahan. "Boleh aku lihat?"

​Di luar dugaan, anak itu menggelengkan kepalanya dengan kasar. Jemari kecilnya meremas gulungan kertas lusuh itu semakin erat, begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "A-Aku..." Bibir mungilnya mulai gemetar hebat. "Aku tidak boleh memberitahukannya pada siapa pun."

​Amanda mengerutkan dahi, insting kewaspadaannya mulai terusik.

​"Kenapa?" tanyanya perlahan, menjaga agar suaranya tetap terdengar menenangkan. "Jangan takut, tidak ada yang akan memarahimu di sini."

​Anak itu menunduk semakin dalam, menyembunyikan wajahnya di antara lutut yang tertekuk. Bahunya mulai berguncang kecil.

​"Aku... disuruh," lirihnya, suaranya teredam.

​"Disuruh oleh siapa?"

​Pertanyaan itu meluncur dari mulut Zen. Nada suaranya yang berat dan dingin seketika membuat anak perempuan itu terlonjak ketakutan. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh satu per satu.

​"Aku, aku tidak tahu namanya," jawabnya terbata-bata di sela tangis, buru-buru mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan yang gemetar. "Orang asing itu bilang, kalau aku ingin punya keluarga, aku harus menuruti perintahnya."

Amanda dan Zen saling melempar pandang selama sepersekian detik. Detak jantung Amanda mendadak berpacu tak keruan, memompa rasa cemas yang seketika menjalar ke sekujur tubuhnya. Isyarat dari mata biru Zen seolah membenarkan firasat terburuknya, bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

​"Apa perintah orang itu kepadamu?" tanya Amanda berusaha tetap tenang agar anak itu tidak semakin ketakutan.

​Gadis kecil itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan tangis, sebelum akhirnya mengulurkan gulungan kertas lusuh itu dengan tangan yang gemetar hebat. "I-Ini,"

​Tepat saat jemari Amanda bergerak hendak meraihnya, Zen bertindak lebih cepat. Pria itu langsung menyambar gulungan tersebut, merebutnya dengan tangkas sebelum sempat disentuh oleh Amanda.

​Dengan gerakan terburu-buru, Zen membuka gulungan kertas itu. ​Dan di detik itu juga, sepasang manik biru sang ksatria menyipit tajam. Sorot matanya membeku begitu melihat apa yang tersembunyi di balik lapisan kertas bergambar coretan polos anak-anak tersebut.

​Sebuah belati berukuran pendek dengan gagang berwarna hitam. Bilahnya cukup tajam untuk merenggut nyawa seseorang dalam sekali tancap.

​Amanda membelalak. Refleks, langsung berdiri.

"Ini—,"

​"Jangan bersuara, Amanda," sela Zen cepat. Sebelah tangannya memegang lengan Amanda dengan pelan, menahan wanita itu sebelum suara terkejutnya memecah ketenangan panti.

Amanda melihat ​raut wajah Zen berubah total.

​Jika sebelumnya ia hanya tampak seperti ksatria dingin yang kaku, kini aura di sekitar tubuhnya mendadak menggelap, jauh lebih suram dan berbahaya dari biasanya. Zen merendahkan tubuhnya, berjongkok tepat di depan anak perempuan itu, lalu mengunci sepasang matanya dengan tatapan mengintimidasi.

"Dia menyuruhmu melakukan apa dengan benda ini?"

​Tubuh anak perempuan itu berguncang semakin hebat. "A-Aku disuruh..." Isakannya akhirnya pecah, "Menusuk Putri Cassia."

​Amanda langsung membeku mendengar pengakuan tersebut dengan mata melebar. Sementara di sisi lain, sepasang manik Zen menyipit hingga membentuk garis tipis di kelopaknya. Ksatria itu mengepalkan kedua tangannya. Seseorang telah memanfaatkan kepolosan seorang anak kecil untuk menghabisi Cassia. Jika sang dalang cukup bernyali merancang rencana sekeji ini, maka kemungkinan besar bajingan itu masih berada di sekitar panti asuhan untuk mengawasi jalannya eksekusi.

​Menyadari bahaya tersebut, Zen langsung berdiri tegak.

​"Amanda," panggilnya. "Bawa anak ini ke tempat aman. Kunci pintunya, dan jangan biarkan siapa pun mendekat."

​"Lalu, kau mau ke mana?" tanya Amanda, memendam cemas.

​Zen menoleh sekilas ke arah halaman utama panti asuhan. Di sana, di bawah hangatnya pancaran mentari, Cassia masih tertawa lepas bersama anak-anak panti. Gadis itu begitu ceria tanpa tahu seseorang sedang mengincar nyawanya.

​"Aku harus mencari pelaku utamanya." Zen meraba gagang pedangnya. "Aku yakin, orang yang menyuruh anak ini masih berada di tempat ini."

Tanpa menunggu jawaban Amanda, Zen langsung berbalik. Langkah kakinya yang lebar bergerak kembali menuju halaman utama. Bagi Zen, siapa pun di tempat ini bisa jadi adalah pembunuh yang sedang mengincar Cassia. Para pengasuh panti yang tampak sibuk, para pelayan istana yang mengurus logistik, para prajurit kerajaan yang berjaga di gerbang, bahkan rakyat yang sejak tadi melempar senyum ramah sekalipun.

1
archenis
Lumayan juga ini. 👍
Laabki: makasih banyak kak, semoga menghibur ya ceritanya🙏
total 1 replies
Laabki
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!